DERUAN BATIN (cerpen BaDai , bagas cindai idola cilik )



DERUAN BATIN

Tokoh
Cindai islamadina
Bagas rahman
Adinda hapsari


" Cindai ,, sudah kau rajut jaring ikan itu ?" teriak ibuku dari dapur

" ini lagi cindai kerjakan bu " jawabku , aku sedang! memprosesnya , jaring yang akan di pakai ayah menangkap ikan untuk memenuhi kebutuhan kami.

Aku Cindai Islamadina orang tuaku memanggil ku Cindai , ayah ku seorang pelaut setiap hari ia harus mengarungi lautan untuk menjala ikan. karena itulah satu satunya mata pencaharian ayah setelah terkena PHK 2 tahun yang lalu. beruntung ayah memiliki teman seorang pelaut yang mau mengajari ayah cara mencari ikan. sehingga kami dapat menyambung hidup walau serba pas pasan.

semenjak kejadian PHK terhadap ayah sikap ibu berubah drastis. ibu yang dulu baik dan patuh pada ayah kini menjadi pembangkang ! kami begitu shok dengan perubahan sikap ibu namun dengan berjalannya waktu Kami dapat menerima sikap dingin ibu.

" Ibu ,, ada apa dengan dirimu?
cahaya hangat wajah mu berubah dingin pancaran wajahmu
apa yang terjadi ibu ?
dosaku pada ibu ?
dosa ayah pada ibu ?
dosa Adinda pada ibu ?
bicaralah ibu agar ku tahu dan ku ubah "

kalimat yang ku tulis di buku diary kecil pemberian ayah 2 tahun yang lalu

***

Jam menunjuk angka 8 hari ini hari minggu. ibu keluar membawa bekal untuk ayah melaut

" yah cepatlah kau berangkat! supaya banyak dapat ikan! " seru ibu nadanya tinggi

" iya bu sedikit lagi jaringnya siap! " jawab ayah aku semakin cepat merajut jaring ini melihat kondisi ibu yang tak ramah

" Cindai kamu malas sekali ! sudah ibu bilang cepat kerjakan kau masih main main dengan dinda ! kau juga dinda ! sudah tau kakak mu harus kerja masih kau ajak main! " ibu menggebu gebu entah apa yang merasuki pikirannya kalimatnya menukik tajam di hatiku, kasihan dek dinda!

" ibu jangan salahkan anak anak! sudahlah semua pasti selesai dan rejeki tidak akan tertukar bu ! " kata ayah , ucapan ayah tak pernah mengecewakan terlebih menenangkan.

" alahh !! sudah tau ayah harus berankat pagi kenapa jam segini belum juga siap? "

" sama saja malasnya orang orang ini ! kapan ekonomi kita mau berubah kalo manusianya seperti ini? " ibu masii berargumen !

" cukup ibu! " bentak ayah
sebelum ayah benar benar marah aku telah menyelesaikan rajutanya

" ayah sudah selesai ! " ucapku

ayah buru buru mengambil jaring lalu meninggalkan kami dengan salam

" Assalamualaikum "

" Waalaikumsalam "


Hari minggu selalu menjadi hari kelabu bagiku. karena full day aku dirumah , setiap melihatku dan dinda ibuterlihat lesu dan pelampiasannya adalah marah !

" Dinda buatkan ibu teh hangat cepat ya! " perintah ibu dinda segera membuatnya saat akan memberikan pada ibu kaki dinda tersandung dan gelasnya pecah
Dinda buru buru memungut serpihan gelas itu

" Dinda !! begitu saja kau tidak bisa? apa bisa mu dinda? hidup ibu sudah susah jangan di tambah susah lagi dinda!! " pekik ibu emosi
Dinda menangis memeluk ku erat. akupun tak bisa menahan haru !

" orang orang di rumah ini sama saja tak ada gunanya! " kembali ibu berujar aku tidak tahan lagi ibu keterlaluan!

" cukup ibu !! cindai sama dinda cape ! ibu hanya marah marah saja ! ada apa dengan ibu ? kemana ibu yang dulu sabar? ibu yang dulu sayang pada kami? kami rindu ibu yang dulu ! " tangis ku dan dinda memuncak bukan maksudku durhaka aku sudah tak kuat dengan sikap ibu !

" Oh ibu yang salah? cindai kamu sekarang berani pada ibu ! hey cindai kamu jangan meniru ayah mu mengkritik kerjaan bawahannya dulu karena sekarang ayahmu hanya pelaut miskin yang tak punya kekuasaan! "

" Ibu !! "

" apa? benarkan ucapan ibu ! apa yang bisa kamu banggain dari ayah mu ? gak ada cindai !! "

tak sanggup lagi ku mendengar kalimat ibu , aku pergi, rumah sepert neraka dunia bagiku . aku mendengar tangis dinda yang histeris memanggilku!

***

pantai selalu indah dan nyaman. Anginnya berhembus damai menenangkan. ombak kecil seakan berkejaran. aku menenangkan hatiku di tempat ini dan selalu hatiku bisa tenang.


" kesakitan ini muncul lagi
diantara deruan ombak menerpa karang
butir debu terhanyut tenggelam di lautan
air tak berperasaan menabrakkan dirinya pada karang diam tak gentar
seakan belum puas sebelum karang hancur berkepingan

angin laut berkawan ombak
menambah deru bising suara laut
karang kesakitan
tak ada yang peduli
ia menunggu
menunggu air surut
angin berhenti ngebut "
itu suara hatiku tentang deruan hati yang pahit


" hai ndai " sapa seorang lelaki sebaya dengan ku

" Bagas ! " dia sahabatku , ayahnyalau yang mengajak ayahku melaut

" ngapain ndai?"

" liat pantai aja, kamu? "

" sama sih , kamu kayaknya badmood gitu ndai?"

" ha? masak? " aku tak menyangka bagas bisa merasakan kegundahanku

"Iya emang ada apa sih? "

" gapapa gas sedikit cape aja " aku mengelak

" oh bener? aku bisa loh ndai ngerasain kalo kamu lagi sedih " ucap bagas mengagetkan ku! aku pikir dia berkata begitu karena melihat wajah ku yang murung

" Ah kamu sok tau gas! "

" ndai tau lagu pok ame ame?"

" itukan lagu anak anak! "

" iya, ayo nyanyiin"

" gak ah apaan! "

"ah cindai gitu!"

"iya deh , pok ame ame belalang kupu kupu siang makan nasi kalo malam minum susu! puas?"

" ih salah ,, :p "

" bener kok!! "

" salah! yang bener, pok ame ame belalang
kupukupu cindai anakt manis mau gak jadi pacar ku? " kata bagas lagi lagi membuat jantungku maraton! bagas tertawa tak ada keseriusanpada wajahnya

" gimana cindai ? mau gak jadi pacar bagas? " ucap bagas lagi ia tertawa lebar ! ish dia tak tau apa jantung ku hampir geser karnanya?

" ah bagas rese banget lo ! " aku pukul pundak bagas sembari tertawa puas dengan bagas ! dalam hati aku senang dengan adanya bagas yang selalu riang dan setia menghibur laraku ,, terimakasih bagas !


***

Kamar yang lusuh ! beda dengan kamar ku 2 tahun yang lalu , kasur empuk lampu terang dan AC !! nyaman, tak mengapa begini pun aku sudah bahagia.

" Sahabat itu monster! ia bisa berubah ubah ! menjadi manis saat ku sedih
dia menghiburku !
menjadi galak untuk membelaku saat aku dihina saat aku dikasari
menjadi udara saat aku sesak menghadapi hidup
menjadi pintu saat aku butuh jalan keluar !
itulah sahabat ,
dia bagas sahabat yang pelan pelan menjadi sosok permata Di hatiku ! "
ku tutup diary kecil itu lalu ku simpan baik baik.


***


Pagi yang tak bersahabat ! mendung memenuhi langit kotaku, ayah tetap berlayar tak perduli mendung yang mencoba menghalang. aku berangkat sekolah menggunakan motor milik ayah

" Cindai habis sekolah cepat pulang ya " pesan ibu padaku suaranya sangat rendah aku bahagia sekali

" iya bu , cindai dan dinda berangkat dulu ! " aku mencium telapak tangan ibu

" Assalamualaikum "

"Waalaikumsalam " tak menyangka kejadian ini terulang kembali ! aku skeptics seketika, rindu kehangatan kasih ibu apakah mendung telah mendinginkan hati ibu yang selama ini membara? entahlah! semoga ibu seperti ini selamanya. dinda memeluk ibu erat mungkin rasa di hatinya telewat haru dariku , aku melakukan hal yang sama! kami berpelukan! sendu kawan duniaku terasa kembali ,

" sudah nak! kalian berangkat ya, takut telat " kata ibu masih lembut

***


Setengah 2 aku sudah sampai di rumah , aku memang ingin cepat pulang karena sikap ibu yang manis pada kami. Namun BaDai itu terasa lagi , aku melihat ayah dan ibu bertengkar lagi! dinda menangis lagi , dia menghampiriku memeluk ku erat mengisyaratkan hatinya yang rapuh butuh pegangan !

" kakak! "

" ada apa lagi? " aku bertanya pelan

" ayah pulang hanya membawa sedikit ikan, ibu marah kak! " ucap dinda sesekali batuk , Kami tak dapat berbuat apa apa , hanya tangis kepedihan yang berteman.

" cindai antar ibu ke pasar ikan! " titah ibu aku segera melakukannya.

sehabis menjual ikan kami hendak pulang, namun 2 orang lelaki besar mencegat ibu. aku segera menghampiri ibu bermaksud melawan , ku pukul seorang lelaki dengan bag ikan milik ibu namun tak berefek apapun untuknya , lelaki kekar itu menoleh padaku

" rupanya ada semut kecil ingin main main! " ucapnya padaku

" cindai pergi!! " seru ibu masih berusaha mempertahankan uangnya! aku pukul lagi orang itu tak ku hiraukan pesan ibu , tapi dengan sekali dorongan di badanku dunia terasa gelap! sempat ku dengar jerit suara ibu menyebut namaku

" CINDAI "

lelaki itu mendorongku ke trotoar badanku di tubruk truk yang melaju kencang, ! semua gelap.


***


" Cindai.... Cindai..... jangan tinggalkan ibu nak! bangun cindai! ibu janji tak kan memarahimu! ibu akan berubah cindai... bangun anak ku... "

duka mendalam atas kepergian cindai . begitu kental tangis keluarga cindai kehilangan. Namun inilah takdir ! manusia hanya menjalankan dan pasrah

saat TPU terlihat sepi seorang lelaki menghampiri makam cindai, wajahnya cerianya hilang di telan keadaan. dia bagas yang menjadi monster untuk cindai. ia menangis bukan karena cengeng atau lemah tapi ia sudah tak kuat lagi menahan haru yang membuncah di dadanya pertahanannya roboh matanya mengeluarkan cairan pertanda kesakitan hatinya

" Ndai...... kamu mau jadi pacar bagas? ayo nyanyi ndai...... kamu mau kan? "
kini hanya haru dan lara yang tersisa. sakit kehilangan menjadi teman sejati.

REGARD :DIFFEREMCE MAKE US TOGETHER






Komentar