hai readers ? *emangnyapunyareaders?* hahah yaa gatau lah ya kali aja ada yang nungguin nih cerbung gajelas dari penulis gajelas juga :") ,, di blog emang gak laku sih :'( tapi insyaallah laku di temen temen ICL :D ({}) ,, AHH gausah banyak cincong kali yah? sok atuh dibaca aja yah :) ,, semoga bisa menanbah ilmu agamanya ;) *lupreaders*
Part 2
♥CAHAYA DARI ALYSSA♥
character in Story
Alyssa Saufika
Sivia Azizah
Debo Arianto
Bagas Rahman
Ashilla Zahrantiara
Cakka Nuraga
Tempat yang selalu menjadi favorite saat istirahat adalah kantin sekolah. Tak ada yang bisa menandingi padatnya siswa di kantin saat jam istirahat begini, tiap pemilik perut berlomba lomba memenuhi panggilan perut yang menjadi hajat hidup mereka.
Tiga pasang kaki ini berjalan dengan terburu buru seperti mentargetkan sesuatu yang harus dicapai sesegera mungkin.
" Vi ! Gue mau ke kelas Cakka dulu " ucap gadis berbehel yang berada di samping Alyssa
" duh ribet amat lo shil? Udah mau penuh tuh kantinnya " rajuk sivia
" iih yaudah kalian berangkat duluan sana. " ucap shilla si gadis berbehel tadi.
" yaudah yuk Lyssa !" Ajak Sivia penuh semangat. Mereka berdua kembali memacu langkah kaki supaya lebih cepat lagi
" emang harus cepat ya Vi ?" Tanya Alyssa di sela langkah cepat kaki mereka.
" Alyssa, kalo gak cepat kita gak bakal kebagian meja, dan yang paling penting gw takut gak kebagian Bakso bakar yang sedap itu lohh " jawab sivia langkahnya semakin cepat saja. Hingga dua lelaki menyalipnya dari samping
"Haiii Via cepat loh, bakso bakarnya kita sikat !" Seru Bagas, Sivia dan Bagas sama sama penyuka bakso bakar tak jarang mereka berebut bakso yang tinggal satu porsi.
"Oyyy gw kejar lo !" Seru sivia berlari mengejar Bagas dan debo yang sudah jauh di depan
"Via" lirih alyssa dengan terpaksa ia kejar sivia yang tengah berlarian dengan bagas dan debo.
Dan yups! Mereka berempat berada diurutan paling depan belum banyak murid berdatangan.
"Alyssa mau pesan apa ?" Tanya via ia sudah memegang kartu berisikan menu yang tersedia di kantin.
"Samain aja via" jawabnya. Lalu mereka beranjak mencari tempat duduk, via menuju tempat duduk yang satu meja dengan Bagas dan Debo di depan mereka masih ada bangku yang kosong, karena tiap meja dikantin memang berisikan empat kursi
"Via duduk dimana?" Cegat alyssa melihat Via mengarah ke meja Bagas dan Debo.
"Disitu bareng duo rusuh"
"Kita duduk disana aja yuk" ajak Alyssa mengarah pada kursi paling pojok belakang
"Waduh kok dipojokan sih Lyssa? Entar ada setannya loh, haha"
"Malah kalau duduk disitu banyak setannya Via"
"Haha iya bener kok lo tau bagas sama debo udah kayak setan rusuh!" Kata Via rupanya ia tak mengerti arah pembicaraan Alyssa. Mereka duduk di tempat yang Alyssa maksud.
"Via! Duduk mana sih lo? Gak lomba makan sama gw?" Seru bagas dari mejanya
"Lain kali ya bro, gw mau makan bakso gw dengan khidmat nih" ucap Via dengan cengiran khas Via.
"Gaya banget Lo Vi " seru bagas keduanya tertawa bersama. Terlebih sivia ia selalu lepas saat tertawa tak mempedulikan telinga orang orang yang risih mendengar tawanya. Alyssa belum berani menegur baru beberapa jam mereka bertemu belum tepat untuk Alyssa yang pendiam mengutarakan apa yang ia ketahui dan ia pikirkan.
Pesanan datang, dengan tidak sabar Via melahap bakso di depannya dengan nafsu makan tinggi sedang Alyssa masih menunduk.
"Alyssa ngapain? Baca mantra?" Kata Via diiringi seringai jahil
"Baca doa" jawab Alyssa
Mendengar itu Via jadi menelan berat baksonya, ia sadar ia tak baca doa makan. Hampir tak pernah ia baca doa itu doa yang semasa kecil selalu diingatkan oleh kedua orang tuanya tiap kali ia hendak makan harus membaca doa supaya berkah dan tidak dibarengi setan. Setidaknya berdoa karena telah diberikan rezeki yang nikmat oleh ALLAH swt.
Banyak orang yang mampu makan dengan nyamannya tapi ia lupa dari mana datangnya rezeki yang ia makan, kadang lupa untuk bersyukur dan selalu merasa kurang. Ia lirik Alyssa yang tengah malahap baksonya dengan pelan dan santai tak seperti dirinya yang begitu tergesa gesa. Sebelum kembali melanjutkan makannya ia sempatkan membaca doa itu dalam hatinya, Via berjanji akan selalu ingat untuk membaca doa sebelum makan. Terkadang hal kecil terlupakan padahal hal kecil itu begitu penting maknanya terkalahkan dengan nafsu yang besar di setiap dada dan pikiran manusia.
"Viaa !! Gw udah nih " seru bagas dari bangkunya yang berjarak 5 bangku dari tempat Via duduk
"Gak kaget, elu mah penggiling rusak gas!" Jawab Via tentu dengan teriak.
"Kayak lo enggak aja piak "
"Gak baca doa tu "
"Emang lo baca "
"Bacalah. Makanya tobat gas"
Tak tahan dengan percakapan mereka Debo berucap "Viaa lu duduknya jauh amat sih. Disini aja kali" debo gregetan dengan cara mereka berkomunikasi harus teriak teriak! Ini kan kantin tempat umum banyak orang singgah. Memang sih Sivia dan Bagas adalah tipe orang yang cuek pada respon orang sekitar mereka masa bodo pada telinga orang yang mendengar bahkan mereka tak malu jika menjadi sorotan tiap pasang mata.
"Apa lo deb! Bilang aja gak mau jauh dari gw, sorry aja ya. Gw udah ada yang punya" tandas Sivia
"Hih najis lo via" ucap debo sambil bergidik ngeri. Di respon tawa oleh bagas dan Via
"Bukannya apa apa Vi, tapi malu dilihat orang, emang dasar kadar malu kalian tuh minim" ucap debo lagi terkesan menghina tapi sungguh tak ada niat untuk menghina dihatinya, Bagas dan Viapun tak merasa di hina karena memang tipe bercandaan mereka terlihat frontal dan nusuk. Mungkin karena terlalu akrabnya mereka.
Ditempat duduknya sana Via kembali tertawa puas disusul oleh Bagas yang ada disamping Debo, mereka mentertawakan debo!
"Eh debu ! Emang gak sadar lo dari tadi treak treak!" Kata Via, debo melongo, Via benar jatuh sudah image pemimpin yang berwibawa di diri debo gara gara kedua temannya yang sering ia tuduh 'sedikit geser'
"Haduh turun nih nilai jual gw sebagai cowok berwibawa " keluh debo menunduk menyembunyikan wajahnya ia lirik teman teman disekitarnya mereka tersenyum tak jelas ke arah debo.
"Yaelah bro udah gak usah jaim, keluarin aja aslinya" kata bagas santai
"Sialan lo, emang elo slengean macam Via tuh"
Alyssa hanya mendengarkan ketiga temannya berbicara sungguh ia tak suka diposisi ini ia berada ditempat berpenghuni lelaki dan perempuan bercampur baur, tapi ia luruskan hatinya dengan berfikir logis ini adalah tempat umum boleh laki laki dan perempuan bertemu dan berkomunikasi yang sewajarnya tampa ada unsur masalah pribadi. Ia mencoba membiasakan dirinya karena memang disini hari harinya akan berjalan.
Dari arah pintu masuk terlihat dua sejoli berjalan bergandengan tangan layaknya pasangan orang pacar, mereka adalah Shilla dan Cakka hubunggan mereka terjalin baru seminggu yang lalu, dengan begitu beraninya Cakka mengungkapkan isi hatinya kepada Shilla di depan murid murid sekolah tepat pada hari ulang tahun Shilla yang ke tujuh belas, tak kuasa dengan keaadaan Shilla pun memberi jawaban terindah untuk Cakka yang konon jawaban itu telah membuat hancur hati para lelaki yang selama ini mengincar Shilla untuk dijadikan pacar, dan hati para gadis yang mengharapkan Cakka. Keduanya memang memiliki wajah yang subhanallah Eloknya, banyak yang mengatakan mereka adalah pasangan yang serasi, Cantik dan Tampan.
Mereka berhenti di meja Debo dan Bagas
"Tau deh pasangan baru, nemvel mulu kayak sepatu sama kaki" kata Bagas wajahnya terlihat masam
"Cielah yang jomblo akut iri gitu" jawab Shilla balik meledek Bagas dan membuat bagas panas karena mendengar harga dirinya diremehkan gara gara tak memiliki kekasih, padahal bukan karena ia tak laku dikalangan cewek cewek tapi karena tak ada yang mau padanya? Tidak tidak. Bagas tengah menunggu seseorang membuka hati padanya dan yang paling penting Bagas tengah menunggu keberaniannya muncul untuk menyatakan perasaan pada gadis itu, gadis yang istimewa gadis yang berbeda dengan dirinya, ada satu benteng kokoh yang selalu mengurungkan niat yang lama ia pendam.
"Ee sembarangan, lo gak tau ha? Charice aja meleleh ngeliat gw!" Ucap bagas dengan mantapnya ia berbicara seolah itu sungguhan.
"Es batu kali meleleh, udah ah ngomong sama elu gak ada selesai selesainya, Via sama Alyssa mana?"
"Tuh mojok" jawab Bagas sambil menoleh kearah Via dan Alyssa.
"Waduh, yaudah bye JoKut ! Jomblo Akut" kata Shilla buru buru ia menarik lengan Cakka, takut Bagas bersikap anarkis padanya karena telah mengolok Bagas.
"Via tumben amat ambil pojokan biasanya kan lo di depan biar enak nambah baksonya" sapa Shilla setelah sampai di depan meja Via dan Alyssa.
"Hih Shilla mah, soalnya didepan banyak setannya Shil, ya kan Lyss?" Jawab Via
Alyssa yang sedari tadi menikmati baksoya kini beralih melihat siapa yang diajak bicara oleh Via.
Sontak Alyssa kaget, kuah dimulutnya tertelan ke jalan yang salah, kini hidung bagian dalam Alyssa terasa panas, segera Via menyodorkan teh pada Alyssa. Alyssa menunduk dalam ia tak berani melihat Shilla yang bergelayut mesra pada lelaki yang dirangkulnya,
"Kenapa sih Lys?" Tanya Via
Alyssa tak menjawab.
"Sayang kamu mau pesan apa?" Tanya Cakka
"Samaain deh sayang" jawab Shilla
"Yaudah aku pesan dulu ya?" Ucap Cakka sembari mengangkat kedua tangan shilla yang ia genggam seolah akan berpisah lama, genggaman itu semakin kuat dan akhirnya terlepas dan Cakka memesan makanan. Shilla menyeret dua kursi kemudian duduk di depan Alyssa.
"Oiya Al kenalin tadi itu pacar gw namanya Cakka anak XI IPA 2 , ganteng kan" ucap Shilla memperkenalkan Cakka pada Alyssa. Alyssa hanya tersenyum.
Tak butuh waktu lama Cakka datang membawa pesanan Shilla dan dirinya.
"Selamat makan" ucap Shilla
Ketiganya melahap makanannya dengan semangat, beda dengan Alyssa yang tengah gusar berada diantara mereka hatinya tak tenang.
"Sayang mau bakso? Yang ini gak pedes" kata Cakka sambil memprlihat sepotong bakso yang menancap di garpunya,
"Boleh" jawab Shilla, segera Cakka menyuapi Shilla dengan mesranya.
"Tau deh kantin cuma milik berdua yang lain ngontrak woy ngontrak" kata Via wajahnya terlihat jengkel
"Iri ya Vi?" Tanya Shilla
"Hih ogah" kata Via sembari memalingkan wajahnya kesamping,
"Via aku ke toilet" kata Alyssa ia nampak begitu tergesa gesa.
"Mau gw temenin Lyss?"
Alyssa hanya menggeleng dengan tergesa gesa ia meninggalkan kantin yang membuatnya sulit bernafas itu.
"Alyssa! Lyss!! Emang dia tau jalan ke toilet?" Tanya Via pada orang yang ada di depannya, serempak Cakka Shilla mengangkat bahu pertanda mereka tak tau jawaban atas pertanyaan Via.
****
Alyssa berlari entah kemana kaki akan membawanya ia tak mengenal tempat ini, ia hanya ingin keluar dari kegelisahan yang menekan batinnya. Banyak pasang mata melihat alyssa heran penampilan Alyssa yang tak ada duanya itu begitu menyita perhatian, Alyssa terus berlari hingga sampai ditaman,ia cari tempat yang tak terjangkau mata memandang, ia duduk dibalik pohon cemara yang menjulang tinggi, suasana disana teduh dan sejuk sedikit menetralisir sesak yang Alyssa rasa, ia menangis ia cabuti rumput rumput tak berdosa di depannya.
"Kenapa aku harus dipindah ke tempat ini? Aku tak suka tempat ini, dengan mudahnya mereka berkhalwat, dengan mudah mereka mengumbar kemesraan dengan orang yang bukan mahromnya! Apa dengan ikatan pacaran mereka sah? Islam mana yang mengajarkan seperti itu? Bahkan mereka tidak malu bermesraan di depan umum! Astagfirullahaladzim Astagfirullahaladzim" terluapkan sudah gemuruh dihatinya walau hanya pada pohon dan rumput yang tak mengerti setidaknya ia lega telah meluapkan semuanya.
Kriiiiiiiiiinnnnngggggg !!
Suara deringan itu menyadarkan Alyssa untuk segera masuk kelas, ia sadar ia tengah berada di tempat yang tak pernah ia datangi sebelumnya, ia perhatikan sekelilingnya kemana ia harus melangkah? Dimana letak kelasnya? Dia tak tahu. Ia berjalan kearah dimana tadi ia berlari hingga di bentangkan tiga kemungkinan kanan kiri lurus ? Ia sudah tak ingat lagi terlebih ia berlari dengan menunduk tak mengamati sekelilingnya.
"Astagfirullah ini dimana? Ada pak satpam gak ya?" Alyssa gelisah yang tadinya banyak siswa berlalu lalang kini lenyap tak tersisa tertib sekali murid disini.
Dengan ragu Alyssa melangkkah ke arah kanan ia telusuri lorong disana sejauh ini tak ia temukan kelas bertulis XI IPA 1 , hanya berjejer bangunan bertulis Lab IPA disana yang terdiri dari 3 ruangan. Lelah ia putuskan untuk berhenti dan duduk di kursi yang tersedia di depan Laboratorium Kimia.
Di kantin sana Via Shilla dan Cakka tengah menunggu Alyssa hingga datang guru penertip kantin mengusir mereka karena sudah waktunya jam pelajaran. Ketiganya berjalan pelan menuju kelas.
"Alyssa kemana sih? Apa dia kesasar? Sekolah kita kan sehektar setengah" kata Via wajahnya terlihat kebingungan.
"Masa ia selama ini? Gw rasa dia udah ada dikelas deh" ucap Cakka dan itu dijadikan kesimpulan oleh mereka.
Saat dijalan mereka berpapasan dengan Debo yang tengah membawa tumpukan buku dia baru keluar dari ruang guru.
"Ciye ketua kelas kita tanggung jawab sekali" goda Via
"Gak usah sok asik lo Vi, eh si murid baru mana?" Kata debo
"Gak tau, bisa jadi dia kesasar bisa jadi dia udah nyampek kelas" jawab Via
"Terus kalian mau kemana?"
"Masuk kelas lah, lo gak denger bell?"
Debo merenung sejenak
"Via yang cantik, gw boleh titip buku buku ini kekelas? Tiba tiba gw kebelet uyy" ucap Debo serta merta menyodorkan tumpukan buku itu ke tangan Via, hingga Via kelimpungan memegangnya.
"Debo! Ih baru juga dipuji! Gak tanggung jawab ih" maki Via namun Debo sudah melejit ke arah kamar mandi
"Yang, bantuin Via kek" suruh Shilla pada Cakka
"Iyaa Ayank aku mana tega liat cewek kesusahan gini" jawab Cakka lalu mengambil separuh dari tuumpukan buku yang Via bawa. Via masih membagi dua lagi tumpukan buku itu dengan Shilla.
****
Debo menyusuri lorong demi lorong kelas ia tak benar benar ke kamar mandi, tujuan yang sebenarnya adalah mencari Alyssa karena ia yakin Alyssa masih diluar! Debo juga harus berhati hati jangan sampai dia ketahuan guru piket pentertib. jika sampai ke pergok guru ini sudah pasti nasib murid itu akan berakhir dilapangan bendera ! Seketika handphonenya dirasa bergetar disaku bajunya, ia cari tempat aman untuk membuka pesan yang masuk.
`deb! Tolong cariin Alyssa ya? Lo kan ada diluar, dia belum ada dikelas! Kalo gw keluar lagi gak mungkin! Pak Reza udah ada dikelas, kalo pun elu telat masuk pak Reza pasti percaya sama Alasan alasan boong lo! Please deb kasihan Alyssa :( `
Itu pesan singkat dari Sivia, ia sudah menyangka Alyssa masih diluar. "Tuhkan apa gw bilang, Via kan ceroboh alyssa ditinggal gitu. Eh tumben feeling gw bener?"
Ia lanjutkan mencari Alyssa, langkahnya membawa ke gedung Laboratorium ia telusuri gedung itu hingga ia temukan seorang yang ia Cari. Alyssa!
"Itu dia tuh si kerudung lebar? Eh alyssa maksudnya" kata Debo berucap sendiri ia dekati Alyssa yang tengah duduk menunduk, kerudung panjangnya menutupi sebagian tubuhnya.
"Woyy!" Seru Debo sungguh mengagetkan Alyssa, buru buru gadis ini menyeka air matanya, melihat mata sembab itu sontak membuat Debo tertawa bukannya ikut prihatin. Debo menyimpulkan Alyssa menangis karena kesasar! Padahal tidak.
Tawa itu membuat Alyssa memalingkan wajahnya untuk menyeka air matanya sampai benar benar habis kesat.
"Jadi lo nangis gara gara gak bisa balik ke kelas?" Tanya Debo masih dengan tawa jahilnya.
"Enggak" jawab Alyssa pendek, ia beranjak dari duduk berjalan melewati debo.
"Eeh mau kemana? Jangan bikin gw pusing nyari lo lagi ya" cegat Debo, Alyssa berhenti sejenak.
"Suara lo limit ya?" Tanya Debo lagi, Alyssa hanya diam menunduk.
"Uuuhhh!! Yaudah yuk ikutin gw" ajak Debo
Ia berjalan di depan menuju arah kelas. Alyssa mengekor dari belakang sekitar satu meter jarak mereka.
"Bisa gak sih lo jalan disamping gw? Entar kalo lo ilang gw repot lagi, pake jauh jauhan pula" ucap debo sambil melihat Alyssa di belakang, Alyssa selalu menunduk menyembunyikan sorot matanya.
"Samping gw nih!" Suruh Debo ia terlihat kesal
"Gak usah" jawab Alyssa
"Kenapa?"
Tak ada jawaban dari Alyssa
"Lo kayaknya ilfeel gitu sama gw? Jawab donk gw nanya nih!" Kata Debo sungguh kesal atas respon dari Alyssa yang seolah acuh
"Kalau aku disamping kamu sangat tidak pantas kita berjalan berdampingan tampa ikatan apapun. Jika aku berjalan di depanmu sungguh tidak sopan seorang perempuan memimpin lelaki, serta untuk menjaga pandanganmu dari hal yang tak seharusnya dilihat, seperti bentuk tubuh dan bagian lain. Jika aku berada dibelakang insyaallah menjaga semuanya. Dan biasa aja gak ilfeel " jawab Alyssa panjang lebar dengan tetap menundukkan pandangan.
Debo ternganga mendengar jawaban Alyssa hatinya takjub sedetail itu pemikiran Alyssa tentang suatu hal. Kini ia paham mengapa Alyssa tak mau berjalan berdampingan dengannya. Rupanya ia begitu menjaga kesopanan dirinya dengan orang lain.
Mendapati Debo yang bengong tak bergerak Alyssa langsung berjalan mendahuluinya tak memperdulikan debo. Debo sadar kemudian mengejar Alyssa dan berjalan di depan Alyssa.
Part 2
♥CAHAYA DARI ALYSSA♥
character in Story
Alyssa Saufika
Sivia Azizah
Debo Arianto
Bagas Rahman
Ashilla Zahrantiara
Cakka Nuraga
Tempat yang selalu menjadi favorite saat istirahat adalah kantin sekolah. Tak ada yang bisa menandingi padatnya siswa di kantin saat jam istirahat begini, tiap pemilik perut berlomba lomba memenuhi panggilan perut yang menjadi hajat hidup mereka.
Tiga pasang kaki ini berjalan dengan terburu buru seperti mentargetkan sesuatu yang harus dicapai sesegera mungkin.
" Vi ! Gue mau ke kelas Cakka dulu " ucap gadis berbehel yang berada di samping Alyssa
" duh ribet amat lo shil? Udah mau penuh tuh kantinnya " rajuk sivia
" iih yaudah kalian berangkat duluan sana. " ucap shilla si gadis berbehel tadi.
" yaudah yuk Lyssa !" Ajak Sivia penuh semangat. Mereka berdua kembali memacu langkah kaki supaya lebih cepat lagi
" emang harus cepat ya Vi ?" Tanya Alyssa di sela langkah cepat kaki mereka.
" Alyssa, kalo gak cepat kita gak bakal kebagian meja, dan yang paling penting gw takut gak kebagian Bakso bakar yang sedap itu lohh " jawab sivia langkahnya semakin cepat saja. Hingga dua lelaki menyalipnya dari samping
"Haiii Via cepat loh, bakso bakarnya kita sikat !" Seru Bagas, Sivia dan Bagas sama sama penyuka bakso bakar tak jarang mereka berebut bakso yang tinggal satu porsi.
"Oyyy gw kejar lo !" Seru sivia berlari mengejar Bagas dan debo yang sudah jauh di depan
"Via" lirih alyssa dengan terpaksa ia kejar sivia yang tengah berlarian dengan bagas dan debo.
Dan yups! Mereka berempat berada diurutan paling depan belum banyak murid berdatangan.
"Alyssa mau pesan apa ?" Tanya via ia sudah memegang kartu berisikan menu yang tersedia di kantin.
"Samain aja via" jawabnya. Lalu mereka beranjak mencari tempat duduk, via menuju tempat duduk yang satu meja dengan Bagas dan Debo di depan mereka masih ada bangku yang kosong, karena tiap meja dikantin memang berisikan empat kursi
"Via duduk dimana?" Cegat alyssa melihat Via mengarah ke meja Bagas dan Debo.
"Disitu bareng duo rusuh"
"Kita duduk disana aja yuk" ajak Alyssa mengarah pada kursi paling pojok belakang
"Waduh kok dipojokan sih Lyssa? Entar ada setannya loh, haha"
"Malah kalau duduk disitu banyak setannya Via"
"Haha iya bener kok lo tau bagas sama debo udah kayak setan rusuh!" Kata Via rupanya ia tak mengerti arah pembicaraan Alyssa. Mereka duduk di tempat yang Alyssa maksud.
"Via! Duduk mana sih lo? Gak lomba makan sama gw?" Seru bagas dari mejanya
"Lain kali ya bro, gw mau makan bakso gw dengan khidmat nih" ucap Via dengan cengiran khas Via.
"Gaya banget Lo Vi " seru bagas keduanya tertawa bersama. Terlebih sivia ia selalu lepas saat tertawa tak mempedulikan telinga orang orang yang risih mendengar tawanya. Alyssa belum berani menegur baru beberapa jam mereka bertemu belum tepat untuk Alyssa yang pendiam mengutarakan apa yang ia ketahui dan ia pikirkan.
Pesanan datang, dengan tidak sabar Via melahap bakso di depannya dengan nafsu makan tinggi sedang Alyssa masih menunduk.
"Alyssa ngapain? Baca mantra?" Kata Via diiringi seringai jahil
"Baca doa" jawab Alyssa
Mendengar itu Via jadi menelan berat baksonya, ia sadar ia tak baca doa makan. Hampir tak pernah ia baca doa itu doa yang semasa kecil selalu diingatkan oleh kedua orang tuanya tiap kali ia hendak makan harus membaca doa supaya berkah dan tidak dibarengi setan. Setidaknya berdoa karena telah diberikan rezeki yang nikmat oleh ALLAH swt.
Banyak orang yang mampu makan dengan nyamannya tapi ia lupa dari mana datangnya rezeki yang ia makan, kadang lupa untuk bersyukur dan selalu merasa kurang. Ia lirik Alyssa yang tengah malahap baksonya dengan pelan dan santai tak seperti dirinya yang begitu tergesa gesa. Sebelum kembali melanjutkan makannya ia sempatkan membaca doa itu dalam hatinya, Via berjanji akan selalu ingat untuk membaca doa sebelum makan. Terkadang hal kecil terlupakan padahal hal kecil itu begitu penting maknanya terkalahkan dengan nafsu yang besar di setiap dada dan pikiran manusia.
"Viaa !! Gw udah nih " seru bagas dari bangkunya yang berjarak 5 bangku dari tempat Via duduk
"Gak kaget, elu mah penggiling rusak gas!" Jawab Via tentu dengan teriak.
"Kayak lo enggak aja piak "
"Gak baca doa tu "
"Emang lo baca "
"Bacalah. Makanya tobat gas"
Tak tahan dengan percakapan mereka Debo berucap "Viaa lu duduknya jauh amat sih. Disini aja kali" debo gregetan dengan cara mereka berkomunikasi harus teriak teriak! Ini kan kantin tempat umum banyak orang singgah. Memang sih Sivia dan Bagas adalah tipe orang yang cuek pada respon orang sekitar mereka masa bodo pada telinga orang yang mendengar bahkan mereka tak malu jika menjadi sorotan tiap pasang mata.
"Apa lo deb! Bilang aja gak mau jauh dari gw, sorry aja ya. Gw udah ada yang punya" tandas Sivia
"Hih najis lo via" ucap debo sambil bergidik ngeri. Di respon tawa oleh bagas dan Via
"Bukannya apa apa Vi, tapi malu dilihat orang, emang dasar kadar malu kalian tuh minim" ucap debo lagi terkesan menghina tapi sungguh tak ada niat untuk menghina dihatinya, Bagas dan Viapun tak merasa di hina karena memang tipe bercandaan mereka terlihat frontal dan nusuk. Mungkin karena terlalu akrabnya mereka.
Ditempat duduknya sana Via kembali tertawa puas disusul oleh Bagas yang ada disamping Debo, mereka mentertawakan debo!
"Eh debu ! Emang gak sadar lo dari tadi treak treak!" Kata Via, debo melongo, Via benar jatuh sudah image pemimpin yang berwibawa di diri debo gara gara kedua temannya yang sering ia tuduh 'sedikit geser'
"Haduh turun nih nilai jual gw sebagai cowok berwibawa " keluh debo menunduk menyembunyikan wajahnya ia lirik teman teman disekitarnya mereka tersenyum tak jelas ke arah debo.
"Yaelah bro udah gak usah jaim, keluarin aja aslinya" kata bagas santai
"Sialan lo, emang elo slengean macam Via tuh"
Alyssa hanya mendengarkan ketiga temannya berbicara sungguh ia tak suka diposisi ini ia berada ditempat berpenghuni lelaki dan perempuan bercampur baur, tapi ia luruskan hatinya dengan berfikir logis ini adalah tempat umum boleh laki laki dan perempuan bertemu dan berkomunikasi yang sewajarnya tampa ada unsur masalah pribadi. Ia mencoba membiasakan dirinya karena memang disini hari harinya akan berjalan.
Dari arah pintu masuk terlihat dua sejoli berjalan bergandengan tangan layaknya pasangan orang pacar, mereka adalah Shilla dan Cakka hubunggan mereka terjalin baru seminggu yang lalu, dengan begitu beraninya Cakka mengungkapkan isi hatinya kepada Shilla di depan murid murid sekolah tepat pada hari ulang tahun Shilla yang ke tujuh belas, tak kuasa dengan keaadaan Shilla pun memberi jawaban terindah untuk Cakka yang konon jawaban itu telah membuat hancur hati para lelaki yang selama ini mengincar Shilla untuk dijadikan pacar, dan hati para gadis yang mengharapkan Cakka. Keduanya memang memiliki wajah yang subhanallah Eloknya, banyak yang mengatakan mereka adalah pasangan yang serasi, Cantik dan Tampan.
Mereka berhenti di meja Debo dan Bagas
"Tau deh pasangan baru, nemvel mulu kayak sepatu sama kaki" kata Bagas wajahnya terlihat masam
"Cielah yang jomblo akut iri gitu" jawab Shilla balik meledek Bagas dan membuat bagas panas karena mendengar harga dirinya diremehkan gara gara tak memiliki kekasih, padahal bukan karena ia tak laku dikalangan cewek cewek tapi karena tak ada yang mau padanya? Tidak tidak. Bagas tengah menunggu seseorang membuka hati padanya dan yang paling penting Bagas tengah menunggu keberaniannya muncul untuk menyatakan perasaan pada gadis itu, gadis yang istimewa gadis yang berbeda dengan dirinya, ada satu benteng kokoh yang selalu mengurungkan niat yang lama ia pendam.
"Ee sembarangan, lo gak tau ha? Charice aja meleleh ngeliat gw!" Ucap bagas dengan mantapnya ia berbicara seolah itu sungguhan.
"Es batu kali meleleh, udah ah ngomong sama elu gak ada selesai selesainya, Via sama Alyssa mana?"
"Tuh mojok" jawab Bagas sambil menoleh kearah Via dan Alyssa.
"Waduh, yaudah bye JoKut ! Jomblo Akut" kata Shilla buru buru ia menarik lengan Cakka, takut Bagas bersikap anarkis padanya karena telah mengolok Bagas.
"Via tumben amat ambil pojokan biasanya kan lo di depan biar enak nambah baksonya" sapa Shilla setelah sampai di depan meja Via dan Alyssa.
"Hih Shilla mah, soalnya didepan banyak setannya Shil, ya kan Lyss?" Jawab Via
Alyssa yang sedari tadi menikmati baksoya kini beralih melihat siapa yang diajak bicara oleh Via.
Sontak Alyssa kaget, kuah dimulutnya tertelan ke jalan yang salah, kini hidung bagian dalam Alyssa terasa panas, segera Via menyodorkan teh pada Alyssa. Alyssa menunduk dalam ia tak berani melihat Shilla yang bergelayut mesra pada lelaki yang dirangkulnya,
"Kenapa sih Lys?" Tanya Via
Alyssa tak menjawab.
"Sayang kamu mau pesan apa?" Tanya Cakka
"Samaain deh sayang" jawab Shilla
"Yaudah aku pesan dulu ya?" Ucap Cakka sembari mengangkat kedua tangan shilla yang ia genggam seolah akan berpisah lama, genggaman itu semakin kuat dan akhirnya terlepas dan Cakka memesan makanan. Shilla menyeret dua kursi kemudian duduk di depan Alyssa.
"Oiya Al kenalin tadi itu pacar gw namanya Cakka anak XI IPA 2 , ganteng kan" ucap Shilla memperkenalkan Cakka pada Alyssa. Alyssa hanya tersenyum.
Tak butuh waktu lama Cakka datang membawa pesanan Shilla dan dirinya.
"Selamat makan" ucap Shilla
Ketiganya melahap makanannya dengan semangat, beda dengan Alyssa yang tengah gusar berada diantara mereka hatinya tak tenang.
"Sayang mau bakso? Yang ini gak pedes" kata Cakka sambil memprlihat sepotong bakso yang menancap di garpunya,
"Boleh" jawab Shilla, segera Cakka menyuapi Shilla dengan mesranya.
"Tau deh kantin cuma milik berdua yang lain ngontrak woy ngontrak" kata Via wajahnya terlihat jengkel
"Iri ya Vi?" Tanya Shilla
"Hih ogah" kata Via sembari memalingkan wajahnya kesamping,
"Via aku ke toilet" kata Alyssa ia nampak begitu tergesa gesa.
"Mau gw temenin Lyss?"
Alyssa hanya menggeleng dengan tergesa gesa ia meninggalkan kantin yang membuatnya sulit bernafas itu.
"Alyssa! Lyss!! Emang dia tau jalan ke toilet?" Tanya Via pada orang yang ada di depannya, serempak Cakka Shilla mengangkat bahu pertanda mereka tak tau jawaban atas pertanyaan Via.
****
Alyssa berlari entah kemana kaki akan membawanya ia tak mengenal tempat ini, ia hanya ingin keluar dari kegelisahan yang menekan batinnya. Banyak pasang mata melihat alyssa heran penampilan Alyssa yang tak ada duanya itu begitu menyita perhatian, Alyssa terus berlari hingga sampai ditaman,ia cari tempat yang tak terjangkau mata memandang, ia duduk dibalik pohon cemara yang menjulang tinggi, suasana disana teduh dan sejuk sedikit menetralisir sesak yang Alyssa rasa, ia menangis ia cabuti rumput rumput tak berdosa di depannya.
"Kenapa aku harus dipindah ke tempat ini? Aku tak suka tempat ini, dengan mudahnya mereka berkhalwat, dengan mudah mereka mengumbar kemesraan dengan orang yang bukan mahromnya! Apa dengan ikatan pacaran mereka sah? Islam mana yang mengajarkan seperti itu? Bahkan mereka tidak malu bermesraan di depan umum! Astagfirullahaladzim Astagfirullahaladzim" terluapkan sudah gemuruh dihatinya walau hanya pada pohon dan rumput yang tak mengerti setidaknya ia lega telah meluapkan semuanya.
Kriiiiiiiiiinnnnngggggg !!
Suara deringan itu menyadarkan Alyssa untuk segera masuk kelas, ia sadar ia tengah berada di tempat yang tak pernah ia datangi sebelumnya, ia perhatikan sekelilingnya kemana ia harus melangkah? Dimana letak kelasnya? Dia tak tahu. Ia berjalan kearah dimana tadi ia berlari hingga di bentangkan tiga kemungkinan kanan kiri lurus ? Ia sudah tak ingat lagi terlebih ia berlari dengan menunduk tak mengamati sekelilingnya.
"Astagfirullah ini dimana? Ada pak satpam gak ya?" Alyssa gelisah yang tadinya banyak siswa berlalu lalang kini lenyap tak tersisa tertib sekali murid disini.
Dengan ragu Alyssa melangkkah ke arah kanan ia telusuri lorong disana sejauh ini tak ia temukan kelas bertulis XI IPA 1 , hanya berjejer bangunan bertulis Lab IPA disana yang terdiri dari 3 ruangan. Lelah ia putuskan untuk berhenti dan duduk di kursi yang tersedia di depan Laboratorium Kimia.
Di kantin sana Via Shilla dan Cakka tengah menunggu Alyssa hingga datang guru penertip kantin mengusir mereka karena sudah waktunya jam pelajaran. Ketiganya berjalan pelan menuju kelas.
"Alyssa kemana sih? Apa dia kesasar? Sekolah kita kan sehektar setengah" kata Via wajahnya terlihat kebingungan.
"Masa ia selama ini? Gw rasa dia udah ada dikelas deh" ucap Cakka dan itu dijadikan kesimpulan oleh mereka.
Saat dijalan mereka berpapasan dengan Debo yang tengah membawa tumpukan buku dia baru keluar dari ruang guru.
"Ciye ketua kelas kita tanggung jawab sekali" goda Via
"Gak usah sok asik lo Vi, eh si murid baru mana?" Kata debo
"Gak tau, bisa jadi dia kesasar bisa jadi dia udah nyampek kelas" jawab Via
"Terus kalian mau kemana?"
"Masuk kelas lah, lo gak denger bell?"
Debo merenung sejenak
"Via yang cantik, gw boleh titip buku buku ini kekelas? Tiba tiba gw kebelet uyy" ucap Debo serta merta menyodorkan tumpukan buku itu ke tangan Via, hingga Via kelimpungan memegangnya.
"Debo! Ih baru juga dipuji! Gak tanggung jawab ih" maki Via namun Debo sudah melejit ke arah kamar mandi
"Yang, bantuin Via kek" suruh Shilla pada Cakka
"Iyaa Ayank aku mana tega liat cewek kesusahan gini" jawab Cakka lalu mengambil separuh dari tuumpukan buku yang Via bawa. Via masih membagi dua lagi tumpukan buku itu dengan Shilla.
****
Debo menyusuri lorong demi lorong kelas ia tak benar benar ke kamar mandi, tujuan yang sebenarnya adalah mencari Alyssa karena ia yakin Alyssa masih diluar! Debo juga harus berhati hati jangan sampai dia ketahuan guru piket pentertib. jika sampai ke pergok guru ini sudah pasti nasib murid itu akan berakhir dilapangan bendera ! Seketika handphonenya dirasa bergetar disaku bajunya, ia cari tempat aman untuk membuka pesan yang masuk.
`deb! Tolong cariin Alyssa ya? Lo kan ada diluar, dia belum ada dikelas! Kalo gw keluar lagi gak mungkin! Pak Reza udah ada dikelas, kalo pun elu telat masuk pak Reza pasti percaya sama Alasan alasan boong lo! Please deb kasihan Alyssa :( `
Itu pesan singkat dari Sivia, ia sudah menyangka Alyssa masih diluar. "Tuhkan apa gw bilang, Via kan ceroboh alyssa ditinggal gitu. Eh tumben feeling gw bener?"
Ia lanjutkan mencari Alyssa, langkahnya membawa ke gedung Laboratorium ia telusuri gedung itu hingga ia temukan seorang yang ia Cari. Alyssa!
"Itu dia tuh si kerudung lebar? Eh alyssa maksudnya" kata Debo berucap sendiri ia dekati Alyssa yang tengah duduk menunduk, kerudung panjangnya menutupi sebagian tubuhnya.
"Woyy!" Seru Debo sungguh mengagetkan Alyssa, buru buru gadis ini menyeka air matanya, melihat mata sembab itu sontak membuat Debo tertawa bukannya ikut prihatin. Debo menyimpulkan Alyssa menangis karena kesasar! Padahal tidak.
Tawa itu membuat Alyssa memalingkan wajahnya untuk menyeka air matanya sampai benar benar habis kesat.
"Jadi lo nangis gara gara gak bisa balik ke kelas?" Tanya Debo masih dengan tawa jahilnya.
"Enggak" jawab Alyssa pendek, ia beranjak dari duduk berjalan melewati debo.
"Eeh mau kemana? Jangan bikin gw pusing nyari lo lagi ya" cegat Debo, Alyssa berhenti sejenak.
"Suara lo limit ya?" Tanya Debo lagi, Alyssa hanya diam menunduk.
"Uuuhhh!! Yaudah yuk ikutin gw" ajak Debo
Ia berjalan di depan menuju arah kelas. Alyssa mengekor dari belakang sekitar satu meter jarak mereka.
"Bisa gak sih lo jalan disamping gw? Entar kalo lo ilang gw repot lagi, pake jauh jauhan pula" ucap debo sambil melihat Alyssa di belakang, Alyssa selalu menunduk menyembunyikan sorot matanya.
"Samping gw nih!" Suruh Debo ia terlihat kesal
"Gak usah" jawab Alyssa
"Kenapa?"
Tak ada jawaban dari Alyssa
"Lo kayaknya ilfeel gitu sama gw? Jawab donk gw nanya nih!" Kata Debo sungguh kesal atas respon dari Alyssa yang seolah acuh
"Kalau aku disamping kamu sangat tidak pantas kita berjalan berdampingan tampa ikatan apapun. Jika aku berjalan di depanmu sungguh tidak sopan seorang perempuan memimpin lelaki, serta untuk menjaga pandanganmu dari hal yang tak seharusnya dilihat, seperti bentuk tubuh dan bagian lain. Jika aku berada dibelakang insyaallah menjaga semuanya. Dan biasa aja gak ilfeel " jawab Alyssa panjang lebar dengan tetap menundukkan pandangan.
Debo ternganga mendengar jawaban Alyssa hatinya takjub sedetail itu pemikiran Alyssa tentang suatu hal. Kini ia paham mengapa Alyssa tak mau berjalan berdampingan dengannya. Rupanya ia begitu menjaga kesopanan dirinya dengan orang lain.
Mendapati Debo yang bengong tak bergerak Alyssa langsung berjalan mendahuluinya tak memperdulikan debo. Debo sadar kemudian mengejar Alyssa dan berjalan di depan Alyssa.
Satu bulan sudah
Alyssa menjadi murid sekolah yang berstatus negeri itu. Ia sudah hafal betul
nama nam tean dan guru yang sehari harinya selalu ia temui. Alyssa dikenal
sebagai murid yang rajin dan pandai, saat mengikuti ulangan ia tak pernah
remedial atau mengulang, hingga Alysa di jadikan tempat untuk ‘mencontek’
. mereka belum tau Alyssa.
Hari ini sungguh
berat untuk di lalui oleh siswa XI IPA 1 ini, bagaimana tidak ? mulai dari jam
pertama sampai jam terakhir nanti full dengan tugas ulangan dan PR . Murid
murid ini menyebutnya hari tegang, sulit memang untuk di lalui tapi setelah
semua terlewatkan, semua akan menjadi kenangan yang ampuh membuahkan tawa
kelucuan, bahkan kejadian seperti inilah yang bisa membuat haru merindukan masa
putih abu abu yang indah ini.
Seorang gadis terlihat mendekati tempat duduk Alyssa “
Alyssa, PR fisika udah belum? Nyontek dong
“ ucap gadis tadi. Alyssa menatap gadis itu sejenak lalu berkata “ maaf
aku belum selesai Fha “ .
“ bohong ! mana mungkin kamu belum menyelesaikan PR itu, kamu pelit banget sih Alyssa “ tandas gadis itu.
Tampa aba aba warga kelas ‘keep silent’ seakan mereka tertarik memperhatikan apa yang selanjutnya akan terjadi, kemudian mendekat lagi dua teman, mereka adalah Zahra dan Dayat “dasar murid baru belagu ! pelit banget sih lo, gue tau lo udah nyelesain tugas itukan Lyss, tapi elo gak mau bagi bagi sama kita, “ tuduh Zahra akibat dari kelas yang sunyi suara Zahra seolah menggema menghakimi seorang yang bernama Alyssa
“ lo mau pinter sendirian ya alyssa ? oh atau lo pengen liat kita di hokum keliling lapangan sedangkan elu enak enakan ngadem disini ? iya lyss ? apa lo mau caper sama guru guru ? “ tambah Dayat juga memojokkan posisi Alyssa. “ gadis berjilbab rupanya bisa bohong juga ya, gue saranin LEPAS tuh jilbab !atau jilbab hanya sebagai tameng untuk menutupi kedok lo yang sebenarnya? “ kata Zahra lagi.
“ katanya ilmu harus di bagi bagi? Keman lo? Pelit “
“ bohong ! mana mungkin kamu belum menyelesaikan PR itu, kamu pelit banget sih Alyssa “ tandas gadis itu.
Tampa aba aba warga kelas ‘keep silent’ seakan mereka tertarik memperhatikan apa yang selanjutnya akan terjadi, kemudian mendekat lagi dua teman, mereka adalah Zahra dan Dayat “dasar murid baru belagu ! pelit banget sih lo, gue tau lo udah nyelesain tugas itukan Lyss, tapi elo gak mau bagi bagi sama kita, “ tuduh Zahra akibat dari kelas yang sunyi suara Zahra seolah menggema menghakimi seorang yang bernama Alyssa
“ lo mau pinter sendirian ya alyssa ? oh atau lo pengen liat kita di hokum keliling lapangan sedangkan elu enak enakan ngadem disini ? iya lyss ? apa lo mau caper sama guru guru ? “ tambah Dayat juga memojokkan posisi Alyssa. “ gadis berjilbab rupanya bisa bohong juga ya, gue saranin LEPAS tuh jilbab !atau jilbab hanya sebagai tameng untuk menutupi kedok lo yang sebenarnya? “ kata Zahra lagi.
“ katanya ilmu harus di bagi bagi? Keman lo? Pelit “
Alyssa hanya
menunduk dalam, ia tak menyangka sebegini hebohnya respon teman sekelasnya, ia
kini hanya bisa menerima cacian dari temannya, Alyssa sadar bahwa ia salah, ia
telah membohongi teman temannya, Alyssa terus menunduk ia tak berani
menunjukkan mata yang berlinangan air mata,
“ halah nangis lo
sekarang? Setelah ketahuan kemunafikan lo ha? Lo bisa nangis doing? “ kejar
Zahra dia tau Alyssa menangis dan ia tak sedikitpun merasa iba atau merasa
bersalah atas Alyssa .
“ Zahra Dayat Irfha ! udah cukup, harusnya kalian menghargai dong apa yang menjadi keputusan Alyssa ! mau nyontek kok begitu, mana etika lo ? “ kata Sivia menggencarkan pembelaan terhadap Alyssa ia kasihan pada Alyssa yang di keroyok oleh Zahra dayat irfha. Sivia memeluk Alyssa sayang untuk sekedar menyemangati Alyssa .
“ Zahra Dayat Irfha ! udah cukup, harusnya kalian menghargai dong apa yang menjadi keputusan Alyssa ! mau nyontek kok begitu, mana etika lo ? “ kata Sivia menggencarkan pembelaan terhadap Alyssa ia kasihan pada Alyssa yang di keroyok oleh Zahra dayat irfha. Sivia memeluk Alyssa sayang untuk sekedar menyemangati Alyssa .
“ gak usah munafik
deh via ! gue tau lo kecewa kan ? bukankah elo yang selama ini menggembor
gemborkan ke kompakan diatas segalanya. Bukankah selama ini kita melakukan
semua hal dengan kompak. Tak ada satupun dari kita yang pelit terutama pada
pelajaran, “ tandas Zahra begitu lancarnya ia berucap seolah semua mengalir
seperti air.
Sivia tak tau hendak melawan bagaimana, memang
benar dialah yang selalu mengingatkan teman temannya untuk selalu menjaga ke
‘kompakan’ . kelas ini harmonis karena adanya kekompakan antara satu orang
denan yang lainnya, tak jarang jika ada pekerjaan rumah, mereka selesaikan
bersama, kalaupun tak ikut berfikir tapi dengan legowo mereka berbagi dengan
yang lain, jika salah seorang teman di hukum maka yang lain akan membantu
meringankan hukuman yang ditanggung teman itu, sungguh indah ke kompakan
mereka. Tapi terkadang ke kompakan itu mereka salah gunakan, tak jarang mereka
berselongkol untuk mengerjai guru pengajar supaya guru itu tak jadi mengajr,
entah dengan drama dan tokoh yang sudh direncanakan sebelumnya atau dengan
terang terangan mengatakan bahwa kelas ini tengah ingin istirahat lebih awal.
“ gak bisa jawab
kan o via ! makanya gak usah ngebelain pembohong ! “ kata Zahra .
Terdengar suara
tepuk tangan dari arah bangku belakang, itu Debo sang ketua kelas, “ wah wah
sudah pandai menjudge ya kelas ini. Harusnya kalian mendengrkan dahulu alas an
alysa kenapa ia tak mau member kalian contekan, gue yakin dia punya alas an
yang kuat pad setiap keputusan yang ia ambil, bukankah dari dulu Alyssa memang
berbeda ? silajkan Alyssa sampaikan alas an lo ! “ kata Debo dengan gayanya
yang santai tapi tetap terlihat tegas dan berwibawa. Memang wibawa seorang Debo di kelas ini tak
terkalahkan, suaranya selalu di dengar oleh teman temannya dan mereka patuh
pada Debo.
Sadar jawabannya di
tinggu Alyssa mendongakkan wajahnya perlahan, sebelumnya ia usap bulir air yang
menggenangi pipi dan membasahi kerudung putihnya, masih dalam posisi speechless
teman lain menatap Alyssa penuh perhatian tentu saja penasaran dengan
kelanjutan kisah nyata yang kini menjadi tontonan mereka,
dengan sekuat tenaga Alyssa berdiri dari bangkunya “ benar aku sudah menyelesaikan PR itu ! “ ucap alyssa, menimbulkan sorakan teman lain, Zahra tersenyum miring, tebakannya benar dan ia puas atas respon yang di berikan teman temannya. Setalah riuh sorakan itu mereda barulah Alyssa melanjutkan
“ aku tidak mau member kalian contekan karena aku tau menyontek adalah hal yang tidak terpuji, itu sama saja dengan membohongi diri sendiri dan orang lain, ALLAH SWT tidak menyukai perbuatan itu, apa aku salah karena ingin menghindari apa yang di benci tuhan ku ? “ ucap Alyssa di sela isak tangis , ia berhenti berucap ingin tau respon teman temannya, satu dua tiga detik tak ada respon,
“ betul ilmu harus di bagi bagi supaya barokah, apa dengan mencontek ilmu itu dibagikan ? bukan, itu sama saja membuat teman kita malas berfikir dan tak percaya dengan kemampuannya sendiri dan bergantung pada orang lain, aku mau membagi ilmu, tapi bukan dengan member kalian contekan, aku siap kalian Tanya tentang pelajaran, bagaimana bisa x sama dengan 2 bagaimana bisa rumus senar itu di buat ? aku siap, jika aku bisa menjawab, pasti aku jawab. “ ucap Alyssa lancar dan tegas atas apa yang ia pegang teguh, ia tak peduli air mata yang terus mengaliri pipi dan membasahi kerudungnya,
“ betul Debo, aku memang berbeda, aku tak pantas ada disini, diantara siswa yang mengagungkan kebebasan aku hanya seorang murid dari pesantren yang takkan bisa menyatu dengan pikiran western seperti kalian, “ tangis Alyssa semakin membuncah , sebagian siswa merasa iba dan telah salah menilai Alyssa .
dengan sekuat tenaga Alyssa berdiri dari bangkunya “ benar aku sudah menyelesaikan PR itu ! “ ucap alyssa, menimbulkan sorakan teman lain, Zahra tersenyum miring, tebakannya benar dan ia puas atas respon yang di berikan teman temannya. Setalah riuh sorakan itu mereda barulah Alyssa melanjutkan
“ aku tidak mau member kalian contekan karena aku tau menyontek adalah hal yang tidak terpuji, itu sama saja dengan membohongi diri sendiri dan orang lain, ALLAH SWT tidak menyukai perbuatan itu, apa aku salah karena ingin menghindari apa yang di benci tuhan ku ? “ ucap Alyssa di sela isak tangis , ia berhenti berucap ingin tau respon teman temannya, satu dua tiga detik tak ada respon,
“ betul ilmu harus di bagi bagi supaya barokah, apa dengan mencontek ilmu itu dibagikan ? bukan, itu sama saja membuat teman kita malas berfikir dan tak percaya dengan kemampuannya sendiri dan bergantung pada orang lain, aku mau membagi ilmu, tapi bukan dengan member kalian contekan, aku siap kalian Tanya tentang pelajaran, bagaimana bisa x sama dengan 2 bagaimana bisa rumus senar itu di buat ? aku siap, jika aku bisa menjawab, pasti aku jawab. “ ucap Alyssa lancar dan tegas atas apa yang ia pegang teguh, ia tak peduli air mata yang terus mengaliri pipi dan membasahi kerudungnya,
“ betul Debo, aku memang berbeda, aku tak pantas ada disini, diantara siswa yang mengagungkan kebebasan aku hanya seorang murid dari pesantren yang takkan bisa menyatu dengan pikiran western seperti kalian, “ tangis Alyssa semakin membuncah , sebagian siswa merasa iba dan telah salah menilai Alyssa .
Grasa grusu suara
bisik bisik membuat suasana kelas tak lagi hening, entah kesimpulan seperti apa
yang mereka dapat dari kejadian barusan. “ tuh kan pasti ada alasan relijius
dari setiap keputusan Alyssa dan itu jadi prinsip dalam hidupnya. “ Debo
berkata dalam hati. Rasa penasaran atas diri Alyssa semakin tinggi ke ubun ubun
Debo ia ingin tau seperti apa keseharian Alyssa dirumah dan diluar rumah? Debo
rasa Alyssa tak jauh berbeda dengan ‘bidadari tak bersayap’ jika benar ia
selalu mengikut sertakan tuhan dalam setiap aktivitsnya.
“ owh suci sekali !
yasudah guys siap siap kita dihukum keliling lpangan 10 kali untuk menghormati
keputusan santri bernama Alyssa ini, biar dia duduk manis disini, “ ucap Zahra
masih memojokkan Alyssa , rupanya kalimat Alyssa tadi tak mampu menembus hati
nuraninya.
“ kata siapa kita akan keliling lapangan? Tampa jawaban Alyssa kita masih bisa duduk dibangku inicepat tulis sebelum pak muhamad datang “ ucap Debo sembari memberikan buku tugasnya pada Zahra . teman lain bersorak riuh seakan lega terhindar dari kenyataan pahit yang hendak menimpa mereka.
“ kata siapa kita akan keliling lapangan? Tampa jawaban Alyssa kita masih bisa duduk dibangku inicepat tulis sebelum pak muhamad datang “ ucap Debo sembari memberikan buku tugasnya pada Zahra . teman lain bersorak riuh seakan lega terhindar dari kenyataan pahit yang hendak menimpa mereka.
“ debo ! lo emang
gokil brow “
“ debo emang keren men ! ketua kelas kita ini “
“ bro lo gue best friend “
ucap teman lain memuji Debo karena telah menyelamatkan kulit mereka dari terik matahari dan dari dehidrasi yang akan mendera jika benar mereka tak mengerjakan PR.
“ debo emang keren men ! ketua kelas kita ini “
“ bro lo gue best friend “
ucap teman lain memuji Debo karena telah menyelamatkan kulit mereka dari terik matahari dan dari dehidrasi yang akan mendera jika benar mereka tak mengerjakan PR.
S T O P !!!!!
Kurang panjang ? maapin yak sengaja , soalnya kan kayun nya udah jadi mahasiswa
-.- jadi cibuk demo *eh cibuk makalah men minta dipacarin ,, kalo ngaret lagi
maklumin ya ders (?) ,, ude bosen ama ceritanya ? yaa gapapa atuh gausah dibaca
di like aja *eh follow twitter @YuyunShovia maaciww :*
Part 3 ny mana ka ceritany bagus banyak hal positifnya
BalasHapus