Cerita
ini hanya fiktif belaka, apabila ada kesaamaan tokoh latar dan alur cerita
mohon jangan tuntut penulis karena ini hanya hayalan penulis semata.
Ini
adalah cerpen ke 7 yang publish di dumay, masih kurang banyak -_- sebenarnya
ada beberapa judul di buku catatan, hanya saja tak sempat direfisi dan diketik
-,- soalnya penulisanya sibuk *halah*
semoga suka dan diharapkan comen berisikan kritik dan saran serta pendapat cerita ;)
.
LUPA
BAWA NYALI
CHARACTER OF STORY :
CINDAI AISYAHRANI
BAGAS RAHMAN
DEBO ARIANTO
KAREL SUSANTEO
ALFANDI RAFLI
BAGAS RAHMAN
DEBO ARIANTO
KAREL SUSANTEO
ALFANDI RAFLI
Ruangan yang ditutuntut
untuk selalu tenang senyap tampa suara, ruangan yang mendominasi buku dari pada
manusia, ruangan yang sering digunakan untuk menambah ilmu yang kurang saat
dikelas bisa ditambah dengan membaca buku buku yang tersedia diruangan ini.
Perpustakaan ! tempat yang hampir punah penduduknya dibandingkan dengan tempat
lain seperti kantin taman lapangan dan sudut sudut sekolah lainnya. Hanya murid
yang bersungguh sungguh saja yang bisa betah diperpustakaan, dikatakan kurang
fasilitas tidak, diruang ini lengkap ber-AC tempat duduk berbusa tak seperti
dikelas kelas yang hanya dengan kayu biasa. Bukankah lebih nyaman dari pada
panas panasan dilapangan desak desakan dikantin atau duduk santai ditaman, itu
masih dari segi fasilitas belum kegunaan tempat nya dan masih banyak lagi hal
positive yang bisa didapat dari perpustakaan.
Segerombol siswa tengah
duduk dibangku yang melingkari satu meja berisikan empat kursi, mereka tengah
asyik dengan buku masing masing ada yang hanya membaca saja ada yang sesekali
mmbuat corat dikertas, mereka lelaki kebanggaan SMA Garuda mereka yang selalu
menyumbang piala dan mengharumkan nama sekolah dengan prestasi akademik yang
selalu mereka juarai. Disaat istirahat seperti ini mereka tak seperti kebanyakan
siswa lainnya yang lebih suka nongkrong dikantin taman dan sudut sekolah
lainnya yang rindang, mereka memilih berteman dengan kertas kertas yang
berisikan deretan kata membentuk suatu pengetahuan yang luar biasa dahsyatnya.
Saking seringnya mereka berkunjung ke perpustakaan para pegawai perpus itu
mengenal mereka terlebih akrab dengan mereka.
Ke empat cowok yang
berpenampilan rapi ini masih sibuk dengan urusan masing masing tentunya urusan
dengan buku buku didepanya. Mereka kerap disapa ABOY singkatan dari Amazing
Boys . julukan ini diberikan oleh kepala sekolah SMA Garuda karena takjub
dengan prestasi dan sifat dan sikap mereka yang selalu ingin tau tentang ilmu.
Ke empat cowok itu adalah Bagas , Debo , Karel dan Rafli mereka adalah siswa
siswa kelas XI IPA 1 yang merupakan kelas excellent di SMA ini, konon yang
berada dikelas ini adalah siswa siswa pilihan yang nilainya mencapai diatas
rata rata. Namun tak menutup kemungkinan siswa non excellent adalah siswa siswa
dibawah rata rata, tidak. Mungkin saja waktu test an itu mereka tengah tak
beruntung atau malah tak mengikuti test an . yang perlu diingat adalah orang
pintar kalah dengan orang bejo betul iklan tolak angin.
Dua gadis tengah asik
memilih milih buku, mereka terlihat kaku sekali seperti tak pernah mendatangi
perpus, “capek banget lah, dimana sih buku akuntansi ! susah banget dicari, “
keluh gadis berpipi chubbhy ia mengkerucutkan bibir mungilnya serasa letih sekali.
“duh udah berapa rak buku yang kita operasi tapi gak kunjung ketemu” tambah
gadis berwajah cantik dengan kawat gigi menempel apik di gigi putih gadis kurus
yang juga terlihat lelah, “nih gak bener nih Chels , kita tanya petugas aja
yuk” “duh nanya petugas tempatnya kejauhan ndai , kita tanya orang yang ada
disini aja kali ndai” kata gadis berbehel yang ternyata bernama Chelsea itu
kedua gadis ini bersahabat sejak jaman SD berarti sudah saling mengenal jelas
satu sama lain, tentu saja.
Kedua gadis itu menuju
ke meja ABOY dengan santai Cindai dan Chelsea bertanya pada cowok cowok intelek
itu.
“sorry mau nanya, kalo
mau nyari buku akuntansi disebelah mana ya? “ kata Cindai dengan senyum. Ke
empat cowok itu serempak memandang Cindai dengan tatapan bingung, kemudian
serempat pula tertawa kecil karena mereka sadar ini di perpus, cindai
membelalakan matanya atas perlakuan ke empat cowok didepannya.
“kok malah ketawa sih! “ kata cindai dengan
suara agak keras karena kesal,
“mbak kelas berapa?
Siswa baru ya?” jawab Debo cowok berbadan proporsional tinggi dan beratnya
ideal juga didukung wajah tampan enak untuk dipandang.
“kelas sebelas, kenapa
?” atas jawaban polos Cindai itu mereka kembali menertawakan kalimat yang
keluar dari mulut Cindai.
“berarti udah satu
tahun disekolah ini, wah parah juga ya deb kalo diibaratkan fisika selama ini
muatannya tuh negative mulu alias mines. “ kata Karel dengan santai juga
“kalo kata biologi
berarti sekolah resesif pada dirinya , entah apa yang mendominasi kegiatannya “
debo ikut berujar
“kalo menurut kimia ,
dia seperti ion kompleks yang tersusun dari ion pusat yang dikelilingi oleh ion
molekul atau ion , tapi sayang sekali si atom pusat tidak sadar bahwa
disekitarnya ada ion ion lain lain. “ tambah rafli , kejadian ini ia analisis
menurut pelajaran yang ia sukai yaitu Kimia. Sama dengan Debo penyuka biologi
dan Karel penyuka Fisika, hanya saja
kali ini Bagas tak ikut berpendapat dari sudut pandang Matematika.
Cindai dan Chelsea
melongo mendengar jawaban para cowok didepannya itu, mereka tak paham maksud
dari perkataan mereka, itu semakin membuat cindai kesal merasa dipermainkan
oleh ke empat cowok ini mentang mentang dirinya anak IPS mereka seakan sok soan
ilmiah didepan Cindai
“eh mas, tulalit ya?
Gue nanya apa dijawab apa! Kalo gak mau nolongin yaudah gak usah pake kalimat
planet juga dong” ucap Cindai kasar lebih keras dari suaranya tadi namun tak
sampai mengganggu konsentrasi orang lain.
“santai mbak, disini
tempat buku buku tentang IPA, kan sudah jelas petunjuk dipintu masuk ruang ini
mbk, kalo mbak nyari akuntansi yaa sampek semut bisa tidur pun gak bakalan
ketemu tuhbuku.” Jawab Debo
Cindai dan Chelsea
nyengir tak karuan mereka salah tempat
“emang gak pernah ke
perpus ya mbak ?” tanya Karel kalimatnya ia buat sopan
“eng? Udah lah, makasih
“ jawab Chelsea gelagapan ia malu , Chelsea menarik lengan Cindai meninggalkan
tempat yang mempermalukan dirinya dan Cindai.
Menatap kepergian kedua
cewek itu ke tiga cowok itu cekikikan bersama merasa cewek tadi tak pernah
berkunjung ke perpustakaan selama mereka sekolah, bahkan dimana letak kumpulan
buku saja mereka tak tahu. Apa saja sih yang mereka lakukan selama disekolah ?
entahlah .
“tuh cewek dua aneh ya,
“ kata Debo menginngat sosok cewek tadi Karel dan Rafli masih tertawa geli,
“Gas, kok lo diem aja
sih? Lo gak berpendapat ala matematika gitu?” kata Debo karena Bagas sedari
tadi merespon pertanyaan kedua cewek yang mereka sebut aneh itu.
“sstttt mereka bukan
aneh, tapi tersesat” kata Bagas, terkandung pembelaan dalam ucapan bagas itu.
“nyasar? Hutan kali”
sahut Rafli terkekeh
“ya nyasar, nyasar
dihati gue” kata Bagas tampa ia sadari apa yang dia katakan. Memicu tatap
penasaran dari kawan kawanya.
“maksud lo?” kejar Debo
penasaran
“hah? Emang gue ngomong
apa” kata Bagas linglung
“lo kenal mereka Gas?
Tadi ada kalimat pembelaan dan gombalan dari jawaban lo” urai Debo, cowok ini
selalu memperhatika semua dengan fokus dia termasuk orang yang mudah peka pada
keadaan sekitar dan keadaan jiwa seseorang lewat gerak gerik dan permainan mata
orang lain.
“gue asal ngomong doang
kok Deb” elak Bagas, padahal apa yang dikatakannya barusan benar datang
spontanitas dari hatinya.
“bohong lu, gue tau
dari tatapan mata mu “ kata Debo menerawang memandang lekat wajah Bagas,
dipandang begitu bagas jadi ngeri ia pukuli Debo dengan buku yang ia pegang
buku paket matematika setebal 157
halaman. Debo meringis dalam
“sakit begok, “ cerca
Debo sambil memegangi pundaknya yang menjadi korban keanarkisan Bagas.
“udah udah, lanjut
belajar lagi dah, minggu depan kita lomba” kata Karel mengingatkan kedua cowok
yang berdebat barusan Bagas dan Debo.
*********
Di luar ruangan
kumpulan buku buku ipa berdiri dua orang gadis yang baru saja keluar dari pintu
ruangan tersebut, ya dia Cindai dan Chelsea mereka tampak mendumel kesal atas
kejadian memperlakukan dirinya tadi diperpustakaan. Cindai berdecak pinggang
“huh ngapain sih kita harus nanya sama mereka, manusia berbahasa planet kayak
gitu” dumel Cindai
“elu sih ndol pake
nanya mereka, mereka pasti nanya ipa, lihat aja cara berbahasa mereka sok soan
menurut matematikalah fisikalah paling pas ulangan harian mereka remed !” ucap
Chelsea , cindai tertawa mendengar itu “iya lu bener chels, yaudah yuk kita ke
ruang buku ips “ ajak Cindai, keduanyapun berlalu dari depan ruang kumpulan
buku ipa.
***********
Di kamar ini tersimpan
semua cerita atas dirinya cowok yang tak banyak bicara didalam kelas, cowok
yang tak pernah bergaul dengan teman selain ke tiga sahabatnya, cowok yang
selalu patuh aturan dimanapun ia berada. Bisa dikatakan cowok ini tipikal cowok
tak asik karena ia tak memiliki teman cewek yang dekat dengannya ia tak mudah
bergaul dengan perempuan ia lebih suka berkomunikasi dengan sesame cowok. Bukan
berarti dia tak normal atau Gay, tapi inilah dia Bagas Rahman ia tak bisa dekat
dengan perempuan, apalagi dengan perempuan yang bisa membuat hatinya tergerak
dan bergetar saat berada didekatnya. Bagas tak pernah pacaran, percaya atau
tidak inilah bagas , walau dengan wajah tampan begitu dia tak percaya diri dia
selalu takut gugup saat berhadapan dengan perempuan, teruma yang special
dihatinya.
Bagas pandangi sebuah
foto dilayar handphonenya foto seorang cewek yang sedang tersenyum manis
menggunakan seragam putih donker foto masa SMP.
“Aku memang pengecut,
aku cowok lemah, aku tak bernyali, aku sadar dengan kekurangan ku, gara gara ke
lemahanku sampai sekarang aku tak bisa menunjukkan apa sebenarnya yang ada
dihati ini apa yang tersembunyi disana. Aku memang pengecut, aku tak pantas
bahagia bersama perempuan yang ku suka, aku tak pantas. Aku harus rela melihat
dia bahagia dengan yang lain, harus. “ ujar Bagas sambil memandang sayu ke arah
handphonenya, Bagas bukan lah cowok melankolis tapi apa daya suasana hati
menuntutnya haru dengan keadaan dirinya yang seperti ini.
Tiba tiba saja pintu
terbuka dan muncul cowok biologi, Debo. Dia tersenyum miring melihat Bagas yang
sedang meratapi nasibnya. Sedangkan Bagas kaget bagaimana bisa ia melihat Debo
ada disini saat tadi ia mencurahkan isi hatinya, perasaannya tak tenang takut
Debo tau apa yang selama ini menjadi rahasia besarnya yang ia simpan seorang
diri untuk menutupi gengsinya sebagai Lelaki berwibawa.
“sejak kapan lo disitu
Deb” selidik Bagas
“baru aja “ jawab Debo
masih tak lagi tersenyum.
“lo gak denger apa apa
kan?”
“gak, gue Cuma denger
curhatan lo sama siapa entah gue gak tau” jawab Debo santai ternyata ia
mendengar semua curahan hati Bagas
“apa yang lo dengar?”
kejar Bagas dia sudah ketar ketir
“pengecut, pecundang,
lemah, tak bernyali…. “ Debo menyebut inti dari apa yang ia dengar tadi dan itu
cukup membuat Bagas terlonjak dan menyerangnya membekap mulutnya dan mengunci
pergerakan lengan debo membuat Debo merintis kesakitan, Debo meronta kesal.
“woy kupret kebo! Gue
bilangin ya lu jangan sampek bocor atas apa yang lo dengar tadi, gue gak mau
pencitraan gue sebagai cowok berwibawa berubah jadi…. “ ucap Bagas tak sanggu
melanjutkan ucapannya karena tak mau menyebut kelemahannya di depan orang lain
walau debo berstatus sahabatnya.
Debo menggigit tangan
Bagas yang membekap mulutnya. Dengan otomatis Bagas meringis dan melepaskan
Debo seutuhnya. “hih ngapain sih lu mau macem macem sama gue, hah yampun sorry
sorry aja gas gue masih normal bin ganteng” ucap debo bergidik geli pada sikap
terjang bagas tadi
“eh kebo, lo janji dulu
sama gue lo gak bakalan ngebocorin ini semua sama Karel danRafli atau teman
kelas teman sekolah teman satu kompleks teman satu kota teman di Indonesia ini
atau pun teman dunia maya” ucap Bagas wajahnya terlihat panic sekali.
“whoop! Diem yarabb lu
alay banget sih gas, lu kira gue Veni Rose yang suka nyebarin gossip diacara
silet itu, gue bukan ember bocor kali.” Ucap Debo
“yakin lo? Halah gue
gak yakin sama mulut lo” kata Bagas sambil melempari Debo dengan guling yang
ada didekatnya
“ahh lu gak percayaan kayak pengacara palsu aja lu”
canda Debo
“halah garing lu, deb
lu harus janji sama gue lo gak bakalan nyebarin ini semua” paksa Bagas dengan
wajah dimelaskan
“iya pak bagas, asal
dengan satu syarat” kata Debo sambil memainkan alisnya naik turun
“halah kayak cewek aja
lu pake ada syarat syaratan. Iye gak masalah, asal lo jangan minta nih rumah
buat jadi tebusan” jawab Bagas ngasal
“kalo gue ambil nih
terus lo tidur dimana dong? Di kolong jembatan?”
“ah lo pake dibahas,
apa syaratnya?”
“lu harus certain kegue
secara lengkap tampa kuranng suatu apapun tentang apa yang terjadi diri lu
tentang cewek itu juga, secara jelas !”
“buset, gue gak siap
jujur deb” kata Bagas mulai serius
“kenapa?” ucap debo
dengan suara ala iklan biskuat
“gak usah sok unyu lo “
cibir bagas ia memang tak pernah mau mengakui apapun kebagusan Debo
“gue emang unyu gas,
kompor gas” bela debo atas dirinya
“unyu, unyu unyu bangke
“
“Udah ayu cerita, pake
bahas yang gak jelas, “
“jadi gue….. “
Bagas menceritakan
semua yang ia rasakan pada Debo semuanya tampa ada kurang suatu apapun, Bagas
berani mengatakan semuanya bukan karena takut debo membocorkan rahasia besarnya
tapi juga karena ia percaya pada Debo yang notabanenya adalah sahabatnya sejak satu
tahun yang lalu, ia sudah merasa nyaman bersahabat dengan debo karel dan rafli
juga, namun jika harus jujur pada sahabatnya yang lain sungguh dia belum
sanggup.
************
Hari jumat hari
istimewa bukan hanya untuk umat islam tapi juga untuk murid murid sekola negeri
Karena pada hari jumat selalu pulang lebih awal dikarenakan para lelaki muslim
harus menunaikan ibadah solat jumat. Bagas mengawali hari jumat dengan perasaan
santai dia melewati ruang demi ruang bersama Debo untuk menuju kelasnya, saat
melewati lapangan ia berhenti mendadak matanya mengaraf pada satu pemain basket
dilapangan seorang gadis yang dianggap aneh oleh para sahabatnya. Dilapangan
itu ada Cindai. Debo yang tak sadar bahwa Bagas berhenti disana terus berjalan
hingga ia memanggil Bagas namun tak ada jawaban dengan sigap Debo menoleh
kesampingnya tak ada bagas, ia berbalik badan dan ia temui bagas sedang bengong
memandang kearah lapangan, ia dekati sahabatnya itu,
Debo menoyor kepala
Bagas dengan perasaan kesal yang ada membuat bagas kaget dan buyar sudah fokus
matanya kearah Cindai.
“heh kompor gas,
ngapain lu matung disini? Lu gatau gue udah kek orang begok ngomong sendirian”
ungkap Debo dengan penakanan penekanan
“ckck yaa sorry dah deb
, lagian lu khusuk banget jalannya” ledek bagas
Debo mengamati kearah
mata Bagas memandang, kearah lapangan deboa amati apa saja yang ada dilapangan dan
ia temukan dua wajah yang cukup familiar disana wajah Cindai dan Chelsea dua
gadis kesasar kemarin.
“oohw gue tau, lo
liatin dua cewek itu yaa, halah lu cowok bukan sih! Masa lu liatin dari jauh
doang? Samperisn sana” kata Debo
“terus kalo udah
nyamperin gue mau ngapain? Mau minta ttd terus fotbar gitu?”
“nah itu lu tau “
“sialan lu, “
Tampa diperintah
siapapun Debo memasuki lapangan mendekati kelima cewek yang tengah latihan
basket itu, dengan sengaja debo menangkap bola basket yang hendak di over ke
teman lain, dan dengan cekatan sekali shoot bola langsung melambung mulus jatuh
pas melewati ring. Spekta! Seketika kelima cewek itu menatap Debo takjup
kemudian bertepuk tangan tak hanya mereka Bagas seolah berkaca kaca melihat
bakat asing yang ditunjukkan Debo barusan sejak kapan Debo bisa bermain basket?
Megang bola basket saja dia tak pernah.
Tiga cewek menghampiri
Debo tampak tersenyum manis pada cowok itu, “wah keren banget deb, “ kata cewek
bernama marsha “iya yampun kenapa kamu gak ikut ekstra basket aja deb?” “keren
banget debo” kata ketiga cewek itu bergantian Debo membalas senyum mereka
“makasih makasih” jawab debo sopan sekali sikapnya. Ia lirik dua cewek yang tak
menghampirinya, dengan semangat ia menghampiri mereka Cindai dan Chelsea.
“hai gak mau say keren
sama gue?” tanya Debo dengan percaya dirinya yang tinggi
“elo kan cowok yang
kemaren diperpus! Yang pake kata kata aneh” kata Cindai penuh selidik
“elo dan temen lo
ngeledek kita kemaren!” tambah Chelsea
“terus kita harus
bilang keren ke elo?” kata Cindai lagi
Melihat ekspresi kesal
dari mereka berdua debo tak lagi bernarsis
“oh, maafin yang
kemaren ya, itu kita gak sengaja, soalnya baru kali ini kita nemu orang nyari
buku ips di ruangan ipa” kata Debo jujur
“halah, dan lo
menggunakan ketidak tahuan kita untuk bahan ledekan lo sama temen lo”
“oh, bukan bukan, itu
gak sengaja terlontar beneran kita gak ada niat buat ngeledek kalian Cuma shok
aja dengernya” debo
Cindai dan Chelsea tak
merespon mereka cukup malu atas kejadian kemarin, membuat mereka menjadi
manusia paling bodoh diruang itu.
“ohh gini aja deh,
sebagai permintaan maaf gue mau neraktir kalian ngantin gitu? “ tawari debo
“dikira kita cewek
apaan, “ kata Chelsea lalu mengajak cindai pergi keluar lapangan.
Bagas disana terpaku
menonton Debo berbicara dengan Cindai dan Chelsea secara live sedang dirinya
tak bisa berbuat apa apa, setelah kedua cewek itu pergi barulah bagas
menghampiri Debo yang masih stay cool disana diantara tiga cewek Marsha Salma
dan Angeli. Dengan paksa Bagas menarik Debo dari kerumunan itu. Di paksa begitu
membuat debo merasa tidak sopan meninggalkan cewek cewek itu begitu saja. “ehh,
apa apaan nih? Cewek cewek sampai jumpa lain waktu yaa” ucap Debo genit pada
ketiga cewek itu, “daah debo” respon ketiga cewek tadi.
“ngapain lu tadi sama
Cindai gue?” tanya bagas penasaran, debo tertawa renyah
“Cindai lo? Mimpi aja
lo siang bolong, gimana cindai mau jadi milik lo kalo lo tiap deket sama dia
selalu kaku kek batu akik” ledek Debo
“enak aja lu, liat aja
suatu hari gue bakal buktiin kalo gue bakal bisa ngungkapin ke cindai”
“kapan? Nunggu cacing
berjalan berdiri? Atau nunggu gue jadi ilmuan biologi?”
“sialan lu, nunggu
sampai gue tau cara mencari x dengan pendekatan pendekatan tertentu”
************
Kelas yang mendominasi
murid laki laki dari pada perempuan kini tengah riuh karena tak ada guru
pengajar. Banyak kegiatan bisa dilakukan dikelas selama guru tak ada, duduk
dimeja, bermain kejar kejaran, tempat ajang selfie atau grufie dan kegiatan
lainnya.
“ndai, chels kalian kok
gak mau sih diajak debo ngantin, kan jarang jarang mereka ada waktu
ngantin” kata Marsha teman sekelas
Cindai dan Chelsea
“maksud lo? Emang dia
siapa sampek gak ada waktu buat ngantin?” tanya Chelsea
“lo gak tau debo? Lo
gak tau ABOY ?” tanya Marsha heran
“ABOY? Gue taunya abon”
kata Chelsea polos
“siapa mereka?” tanya
Cindai
“yampun, kalian kemana
aja sih, gak tau aboy, lu yakin gatau aboy ndai?” tanya marsha memastikan
Cindai menggeleng
“elu juga chels ?”
tanya marsha
Respon sama, Chelsea
pun menggeleng,
“ABOY itu singkatan
dari Amazing Boy, julukan dari kepsek kita buat keempat cowok Debo, Bagas,
Karel, Rafli dan yang paling gans itu si Rafli yampun” kata marsha bercerita
dengan hebohnya
“mereka itu pintar
dalam bidang ipa, Debo biologi, Bagas matematika , Karel Fisika , Rafli Kimia, mereka
itu udah pernah menjuarai lomba dalam negeri dan internasional ndai, chels ,
gimana bisa lo tak tau? “ kata marsha semakin heboh saja
“terus kok lo bisa
tau?” tanya Cindai “lu ratu gossip sih” kejar Cindai
“gue bukan ratu gossip,
uh ni anak duan, makanya kalo upacara bendera jangan pake headset biar denger
pengumuman up to date tentang sekolah kita, hampir tiap minggu gue rasa nama
mereka selalu disebut sebagai pemenang lomba di fak mereka”
“owh gitu” cindai dan
Chelsea hanya manggut manggut. Marsha menampilkan wajah badmood dengan kepolosan
kedua temanna akan cowok cowok popular disekolahnya.
***********
Seperti biasa keempat
cowok yang disapa ABOY ini tengah asik belajar diperpustakaan namun berbeda
kali ini mereka ditemani seorang guru paruh baya kisaran umur empat puluh
tujuan, dan keempat lelaki itu tak lagi belajar sendiri sendiri melainkan
memusatkan perhatiannya pada pak excel guru pengajar matematika beliau
membimbing murid murid ini untuk siap mengikuti olympiade grup MIPA yang
diadakan tingkat nasional.
“coba bagas empat belas
kali lima belas” ucap pak joe dengan semangat mengajar, namun bagas hanya diam
memperhatikan buku yang ia pegang, seharusnya bagas langsung menggerakkan jari
jarinya untuk menghitung cepat atau merenung mengajak otaknya bekerja cepat, dalam
waktu kurang dari satu menit seharusnya bagas bisa menjawab pertanyaan itu tapi
sekarang nihil.
“bagas!!” seru pak joe
Bagas sadar dari posisi
merenungnya. “iya kenapa pak?” tanya bagas gelagapan
“kamu melamun bagas?
Bukan waktunya sekarang, olimpiade sudah di depan mata. Kamu harus serius
bagas! Apa kamu mau piala nasional itu jatuh pada sekolah lain?” kata pak joe
lagi. Debo Karel Rafli merenung saja melihat bagas dimarahi pak joe.
“maaf pak.. saya janji
akan konsentrasi” jawab bagas sungguh
“harus! Kalau saat ini
kamu todak konsen trasi lalu apa yang akan kamu persembahkan besok bagas? Ayo
konsentrasi, dirumah jangan lupa belajar lagi. Kita harus melengkapi lemari
piala yang baru kita beli kemaren, buat kepsek bangga dan dunia bangga pada
sekolah kita” kata pak joe
“dengan sekolah kita?
Yaa bangga sama kita dong pak” bisik debo pada Rafli disampingnya. Rafli hanya
merespon supaya debo berhenti berbisik, suasana lagi tegang ini.
…………………………………….
TO BE CONTINUE
Haii gimana? Makin
gaje? Atau tambah gaje? -_+ komen yaa komen biar penulisnya seneng getoh ;)
follow yuks twitter @YuyunShovia dan ask.fm @yuvinaz ;) *tetep promo*
Komentar
Posting Komentar