LUPA BAWA NYALI (cerpen bagas cindai , bagian 1)


Cerita ini hanya fiktif belaka, apabila ada kesaamaan tokoh latar dan alur cerita mohon jangan tuntut penulis karena ini hanya hayalan penulis semata.
Ini adalah cerpen ke 7 yang publish di dumay, masih kurang banyak -_- sebenarnya ada beberapa judul di buku catatan, hanya saja tak sempat direfisi dan diketik -,- soalnya penulisanya sibuk *halah*
semoga suka dan diharapkan comen berisikan kritik dan saran serta pendapat cerita ;)
.

LUPA BAWA NYALI



CHARACTER OF STORY :

CINDAI AISYAHRANI
BAGAS RAHMAN
DEBO ARIANTO
KAREL SUSANTEO
ALFANDI RAFLI 



Ruangan yang ditutuntut untuk selalu tenang senyap tampa suara, ruangan yang mendominasi buku dari pada manusia, ruangan yang sering digunakan untuk menambah ilmu yang kurang saat dikelas bisa ditambah dengan membaca buku buku yang tersedia diruangan ini. Perpustakaan ! tempat yang hampir punah penduduknya dibandingkan dengan tempat lain seperti kantin taman lapangan dan sudut sudut sekolah lainnya. Hanya murid yang bersungguh sungguh saja yang bisa betah diperpustakaan, dikatakan kurang fasilitas tidak, diruang ini lengkap ber-AC tempat duduk berbusa tak seperti dikelas kelas yang hanya dengan kayu biasa. Bukankah lebih nyaman dari pada panas panasan dilapangan desak desakan dikantin atau duduk santai ditaman, itu masih dari segi fasilitas belum kegunaan tempat nya dan masih banyak lagi hal positive yang bisa didapat dari perpustakaan.

Segerombol siswa tengah duduk dibangku yang melingkari satu meja berisikan empat kursi, mereka tengah asyik dengan buku masing masing ada yang hanya membaca saja ada yang sesekali mmbuat corat dikertas, mereka lelaki kebanggaan SMA Garuda mereka yang selalu menyumbang piala dan mengharumkan nama sekolah dengan prestasi akademik yang selalu mereka juarai. Disaat istirahat seperti ini mereka tak seperti kebanyakan siswa lainnya yang lebih suka nongkrong dikantin taman dan sudut sekolah lainnya yang rindang, mereka memilih berteman dengan kertas kertas yang berisikan deretan kata membentuk suatu pengetahuan yang luar biasa dahsyatnya. Saking seringnya mereka berkunjung ke perpustakaan para pegawai perpus itu mengenal mereka terlebih akrab dengan mereka. 

Ke empat cowok yang berpenampilan rapi ini masih sibuk dengan urusan masing masing tentunya urusan dengan buku buku didepanya. Mereka kerap disapa ABOY singkatan dari Amazing Boys . julukan ini diberikan oleh kepala sekolah SMA Garuda karena takjub dengan prestasi dan sifat dan sikap mereka yang selalu ingin tau tentang ilmu. Ke empat cowok itu adalah Bagas , Debo , Karel dan Rafli mereka adalah siswa siswa kelas XI IPA 1 yang merupakan kelas excellent di SMA ini, konon yang berada dikelas ini adalah siswa siswa pilihan yang nilainya mencapai diatas rata rata. Namun tak menutup kemungkinan siswa non excellent adalah siswa siswa dibawah rata rata, tidak. Mungkin saja waktu test an itu mereka tengah tak beruntung atau malah tak mengikuti test an . yang perlu diingat adalah orang pintar kalah dengan orang bejo betul iklan tolak angin. 

Dua gadis tengah asik memilih milih buku, mereka terlihat kaku sekali seperti tak pernah mendatangi perpus, “capek banget lah, dimana sih buku akuntansi ! susah banget dicari, “ keluh gadis berpipi chubbhy ia mengkerucutkan bibir mungilnya serasa letih sekali. “duh udah berapa rak buku yang kita operasi tapi gak kunjung ketemu” tambah gadis berwajah cantik dengan kawat gigi menempel apik di gigi putih gadis kurus yang juga terlihat lelah, “nih gak bener nih Chels , kita tanya petugas aja yuk” “duh nanya petugas tempatnya kejauhan ndai , kita tanya orang yang ada disini aja kali ndai” kata gadis berbehel yang ternyata bernama Chelsea itu kedua gadis ini bersahabat sejak jaman SD berarti sudah saling mengenal jelas satu sama lain, tentu saja. 

Kedua gadis itu menuju ke meja ABOY dengan santai Cindai dan Chelsea bertanya pada cowok cowok intelek itu. 

“sorry mau nanya, kalo mau nyari buku akuntansi disebelah mana ya? “ kata Cindai dengan senyum. Ke empat cowok itu serempak memandang Cindai dengan tatapan bingung, kemudian serempat pula tertawa kecil karena mereka sadar ini di perpus, cindai membelalakan matanya atas perlakuan ke empat cowok didepannya.

 “kok malah ketawa sih! “ kata cindai dengan suara agak keras karena kesal, 

“mbak kelas berapa? Siswa baru ya?” jawab Debo cowok berbadan proporsional tinggi dan beratnya ideal juga didukung wajah tampan enak untuk dipandang. 

“kelas sebelas, kenapa ?” atas jawaban polos Cindai itu mereka kembali menertawakan kalimat yang keluar dari mulut Cindai. 

“berarti udah satu tahun disekolah ini, wah parah juga ya deb kalo diibaratkan fisika selama ini muatannya tuh negative mulu alias mines. “ kata Karel dengan santai juga 

“kalo kata biologi berarti sekolah resesif pada dirinya , entah apa yang mendominasi kegiatannya “ debo ikut berujar

“kalo menurut kimia , dia seperti ion kompleks yang tersusun dari ion pusat yang dikelilingi oleh ion molekul atau ion , tapi sayang sekali si atom pusat tidak sadar bahwa disekitarnya ada ion ion lain lain. “ tambah rafli , kejadian ini ia analisis menurut pelajaran yang ia sukai yaitu Kimia. Sama dengan Debo penyuka biologi dan Karel penyuka Fisika, hanya  saja kali ini Bagas tak ikut berpendapat dari sudut pandang Matematika. 

Cindai dan Chelsea melongo mendengar jawaban para cowok didepannya itu, mereka tak paham maksud dari perkataan mereka, itu semakin membuat cindai kesal merasa dipermainkan oleh ke empat cowok ini mentang mentang dirinya anak IPS mereka seakan sok soan ilmiah didepan Cindai 

“eh mas, tulalit ya? Gue nanya apa dijawab apa! Kalo gak mau nolongin yaudah gak usah pake kalimat planet juga dong” ucap Cindai kasar lebih keras dari suaranya tadi namun tak sampai mengganggu konsentrasi orang lain. 

“santai mbak, disini tempat buku buku tentang IPA, kan sudah jelas petunjuk dipintu masuk ruang ini mbk, kalo mbak nyari akuntansi yaa sampek semut bisa tidur pun gak bakalan ketemu tuhbuku.” Jawab Debo 

Cindai dan Chelsea nyengir tak karuan mereka salah tempat 

“emang gak pernah ke perpus ya mbak ?” tanya Karel kalimatnya ia buat sopan 

“eng? Udah lah, makasih “ jawab Chelsea gelagapan ia malu , Chelsea menarik lengan Cindai meninggalkan tempat yang mempermalukan dirinya dan Cindai. 

Menatap kepergian kedua cewek itu ke tiga cowok itu cekikikan bersama merasa cewek tadi tak pernah berkunjung ke perpustakaan selama mereka sekolah, bahkan dimana letak kumpulan buku saja mereka tak tahu. Apa saja sih yang mereka lakukan selama disekolah ? entahlah .

“tuh cewek dua aneh ya, “ kata Debo menginngat sosok cewek tadi Karel dan Rafli masih tertawa geli, 

“Gas, kok lo diem aja sih? Lo gak berpendapat ala matematika gitu?” kata Debo karena Bagas sedari tadi merespon pertanyaan kedua cewek yang mereka sebut aneh itu. 

“sstttt mereka bukan aneh, tapi tersesat” kata Bagas, terkandung pembelaan dalam ucapan bagas itu. 

“nyasar? Hutan kali” sahut Rafli terkekeh 

“ya nyasar, nyasar dihati gue” kata Bagas tampa ia sadari apa yang dia katakan. Memicu tatap penasaran dari kawan kawanya. 

“maksud lo?” kejar Debo penasaran 

“hah? Emang gue ngomong apa” kata Bagas linglung 

“lo kenal mereka Gas? Tadi ada kalimat pembelaan dan gombalan dari jawaban lo” urai Debo, cowok ini selalu memperhatika semua dengan fokus dia termasuk orang yang mudah peka pada keadaan sekitar dan keadaan jiwa seseorang lewat gerak gerik dan permainan mata orang lain. 

“gue asal ngomong doang kok Deb” elak Bagas, padahal apa yang dikatakannya barusan benar datang spontanitas dari hatinya. 

“bohong lu, gue tau dari tatapan mata mu “ kata Debo menerawang memandang lekat wajah Bagas, dipandang begitu bagas jadi ngeri ia pukuli Debo dengan buku yang ia pegang buku paket matematika setebal 157  halaman. Debo meringis dalam 

“sakit begok, “ cerca Debo sambil memegangi pundaknya yang menjadi korban keanarkisan Bagas. 

“udah udah, lanjut belajar lagi dah, minggu depan kita lomba” kata Karel mengingatkan kedua cowok yang berdebat barusan Bagas dan Debo. 



********* 


Di luar ruangan kumpulan buku buku ipa berdiri dua orang gadis yang baru saja keluar dari pintu ruangan tersebut, ya dia Cindai dan Chelsea mereka tampak mendumel kesal atas kejadian memperlakukan dirinya tadi diperpustakaan. Cindai berdecak pinggang “huh ngapain sih kita harus nanya sama mereka, manusia berbahasa planet kayak gitu” dumel Cindai 

“elu sih ndol pake nanya mereka, mereka pasti nanya ipa, lihat aja cara berbahasa mereka sok soan menurut matematikalah fisikalah paling pas ulangan harian mereka remed !” ucap Chelsea , cindai tertawa mendengar itu “iya lu bener chels, yaudah yuk kita ke ruang buku ips “ ajak Cindai, keduanyapun berlalu dari depan ruang kumpulan buku ipa. 



*********** 



Di kamar ini tersimpan semua cerita atas dirinya cowok yang tak banyak bicara didalam kelas, cowok yang tak pernah bergaul dengan teman selain ke tiga sahabatnya, cowok yang selalu patuh aturan dimanapun ia berada. Bisa dikatakan cowok ini tipikal cowok tak asik karena ia tak memiliki teman cewek yang dekat dengannya ia tak mudah bergaul dengan perempuan ia lebih suka berkomunikasi dengan sesame cowok. Bukan berarti dia tak normal atau Gay, tapi inilah dia Bagas Rahman ia tak bisa dekat dengan perempuan, apalagi dengan perempuan yang bisa membuat hatinya tergerak dan bergetar saat berada didekatnya. Bagas tak pernah pacaran, percaya atau tidak inilah bagas , walau dengan wajah tampan begitu dia tak percaya diri dia selalu takut gugup saat berhadapan dengan perempuan, teruma yang special dihatinya. 


Bagas pandangi sebuah foto dilayar handphonenya foto seorang cewek yang sedang tersenyum manis menggunakan seragam putih donker foto masa SMP. 

“Aku memang pengecut, aku cowok lemah, aku tak bernyali, aku sadar dengan kekurangan ku, gara gara ke lemahanku sampai sekarang aku tak bisa menunjukkan apa sebenarnya yang ada dihati ini apa yang tersembunyi disana. Aku memang pengecut, aku tak pantas bahagia bersama perempuan yang ku suka, aku tak pantas. Aku harus rela melihat dia bahagia dengan yang lain, harus. “ ujar Bagas sambil memandang sayu ke arah handphonenya, Bagas bukan lah cowok melankolis tapi apa daya suasana hati menuntutnya haru dengan keadaan dirinya yang seperti ini. 

Tiba tiba saja pintu terbuka dan muncul cowok biologi, Debo. Dia tersenyum miring melihat Bagas yang sedang meratapi nasibnya. Sedangkan Bagas kaget bagaimana bisa ia melihat Debo ada disini saat tadi ia mencurahkan isi hatinya, perasaannya tak tenang takut Debo tau apa yang selama ini menjadi rahasia besarnya yang ia simpan seorang diri untuk menutupi gengsinya sebagai Lelaki berwibawa. 

“sejak kapan lo disitu Deb” selidik Bagas 


“baru aja “ jawab Debo masih tak lagi tersenyum.
“lo gak denger apa apa kan?” 

“gak, gue Cuma denger curhatan lo sama siapa entah gue gak tau” jawab Debo santai ternyata ia mendengar semua curahan hati Bagas 

“apa yang lo dengar?” kejar Bagas dia sudah ketar ketir 

“pengecut, pecundang, lemah, tak bernyali…. “ Debo menyebut inti dari apa yang ia dengar tadi dan itu cukup membuat Bagas terlonjak dan menyerangnya membekap mulutnya dan mengunci pergerakan lengan debo membuat Debo merintis kesakitan, Debo meronta kesal. 

“woy kupret kebo! Gue bilangin ya lu jangan sampek bocor atas apa yang lo dengar tadi, gue gak mau pencitraan gue sebagai cowok berwibawa berubah jadi…. “ ucap Bagas tak sanggu melanjutkan ucapannya karena tak mau menyebut kelemahannya di depan orang lain walau debo berstatus sahabatnya. 

Debo menggigit tangan Bagas yang membekap mulutnya. Dengan otomatis Bagas meringis dan melepaskan Debo seutuhnya. “hih ngapain sih lu mau macem macem sama gue, hah yampun sorry sorry aja gas gue masih normal bin ganteng” ucap debo bergidik geli pada sikap terjang bagas tadi 

“eh kebo, lo janji dulu sama gue lo gak bakalan ngebocorin ini semua sama Karel danRafli atau teman kelas teman sekolah teman satu kompleks teman satu kota teman di Indonesia ini atau pun teman dunia maya” ucap Bagas wajahnya terlihat panic sekali. 

“whoop! Diem yarabb lu alay banget sih gas, lu kira gue Veni Rose yang suka nyebarin gossip diacara silet itu, gue bukan ember bocor kali.” Ucap Debo 

“yakin lo? Halah gue gak yakin sama mulut lo” kata Bagas sambil melempari Debo dengan guling yang ada didekatnya 

“ahh lu  gak percayaan kayak pengacara palsu aja lu” canda Debo 

“halah garing lu, deb lu harus janji sama gue lo gak bakalan nyebarin ini semua” paksa Bagas dengan wajah dimelaskan 

“iya pak bagas, asal dengan satu syarat” kata Debo sambil memainkan alisnya naik turun 

“halah kayak cewek aja lu pake ada syarat syaratan. Iye gak masalah, asal lo jangan minta nih rumah buat jadi tebusan” jawab Bagas ngasal 

“kalo gue ambil nih terus lo tidur dimana dong? Di kolong jembatan?” 

“ah lo pake dibahas, apa syaratnya?” 

“lu harus certain kegue secara lengkap tampa kuranng suatu apapun tentang apa yang terjadi diri lu tentang cewek itu juga, secara jelas !” 

“buset, gue gak siap jujur deb” kata Bagas mulai serius 

“kenapa?” ucap debo dengan suara ala iklan biskuat 

“gak usah sok unyu lo “ cibir bagas ia memang tak pernah mau mengakui apapun kebagusan Debo 

“gue emang unyu gas, kompor gas” bela debo atas dirinya 

“unyu, unyu unyu bangke “ 

“Udah ayu cerita, pake bahas yang gak jelas, “ 

“jadi gue….. “ 

Bagas menceritakan semua yang ia rasakan pada Debo semuanya tampa ada kurang suatu apapun, Bagas berani mengatakan semuanya bukan karena takut debo membocorkan rahasia besarnya tapi juga karena ia percaya pada Debo yang notabanenya adalah sahabatnya sejak satu tahun yang lalu, ia sudah merasa nyaman bersahabat dengan debo karel dan rafli juga, namun jika harus jujur pada sahabatnya yang lain sungguh dia belum sanggup. 



************ 


Hari jumat hari istimewa bukan hanya untuk umat islam tapi juga untuk murid murid sekola negeri Karena pada hari jumat selalu pulang lebih awal dikarenakan para lelaki muslim harus menunaikan ibadah solat jumat. Bagas mengawali hari jumat dengan perasaan santai dia melewati ruang demi ruang bersama Debo untuk menuju kelasnya, saat melewati lapangan ia berhenti mendadak matanya mengaraf pada satu pemain basket dilapangan seorang gadis yang dianggap aneh oleh para sahabatnya. Dilapangan itu ada Cindai. Debo yang tak sadar bahwa Bagas berhenti disana terus berjalan hingga ia memanggil Bagas namun tak ada jawaban dengan sigap Debo menoleh kesampingnya tak ada bagas, ia berbalik badan dan ia temui bagas sedang bengong memandang kearah lapangan, ia dekati sahabatnya itu, 

Debo menoyor kepala Bagas dengan perasaan kesal yang ada membuat bagas kaget dan buyar sudah fokus matanya kearah Cindai. 

“heh kompor gas, ngapain lu matung disini? Lu gatau gue udah kek orang begok ngomong sendirian” ungkap Debo dengan penakanan penekanan 

“ckck yaa sorry dah deb , lagian lu khusuk banget jalannya” ledek bagas 

Debo mengamati kearah mata Bagas memandang, kearah lapangan deboa amati apa saja yang ada dilapangan dan ia temukan dua wajah yang cukup familiar disana wajah Cindai dan Chelsea dua gadis kesasar kemarin. 

“oohw gue tau, lo liatin dua cewek itu yaa, halah lu cowok bukan sih! Masa lu liatin dari jauh doang? Samperisn sana” kata Debo 

“terus kalo udah nyamperin gue mau ngapain? Mau minta ttd terus fotbar gitu?” 

“nah itu lu tau “ 

“sialan lu, “ 

Tampa diperintah siapapun Debo memasuki lapangan mendekati kelima cewek yang tengah latihan basket itu, dengan sengaja debo menangkap bola basket yang hendak di over ke teman lain, dan dengan cekatan sekali shoot bola langsung melambung mulus jatuh pas melewati ring. Spekta! Seketika kelima cewek itu menatap Debo takjup kemudian bertepuk tangan tak hanya mereka Bagas seolah berkaca kaca melihat bakat asing yang ditunjukkan Debo barusan sejak kapan Debo bisa bermain basket? Megang bola basket saja dia tak pernah. 

Tiga cewek menghampiri Debo tampak tersenyum manis pada cowok itu, “wah keren banget deb, “ kata cewek bernama marsha “iya yampun kenapa kamu gak ikut ekstra basket aja deb?” “keren banget debo” kata ketiga cewek itu bergantian Debo membalas senyum mereka “makasih makasih” jawab debo sopan sekali sikapnya. Ia lirik dua cewek yang tak menghampirinya, dengan semangat ia menghampiri mereka Cindai dan Chelsea. 

“hai gak mau say keren sama gue?” tanya Debo dengan percaya dirinya yang tinggi 

“elo kan cowok yang kemaren diperpus! Yang pake kata kata aneh” kata Cindai penuh selidik
“elo dan temen lo ngeledek kita kemaren!” tambah Chelsea 

“terus kita harus bilang keren ke elo?” kata Cindai lagi 

Melihat ekspresi kesal dari mereka berdua debo tak lagi bernarsis 

“oh, maafin yang kemaren ya, itu kita gak sengaja, soalnya baru kali ini kita nemu orang nyari buku ips di ruangan ipa” kata Debo jujur 

“halah, dan lo menggunakan ketidak tahuan kita untuk bahan ledekan lo sama temen lo” 

“oh, bukan bukan, itu gak sengaja terlontar beneran kita gak ada niat buat ngeledek kalian Cuma shok aja dengernya” debo 

Cindai dan Chelsea tak merespon mereka cukup malu atas kejadian kemarin, membuat mereka menjadi manusia paling bodoh diruang itu. 

“ohh gini aja deh, sebagai permintaan maaf gue mau neraktir kalian ngantin gitu? “ tawari debo 

“dikira kita cewek apaan, “ kata Chelsea lalu mengajak cindai pergi keluar lapangan. 

Bagas disana terpaku menonton Debo berbicara dengan Cindai dan Chelsea secara live sedang dirinya tak bisa berbuat apa apa, setelah kedua cewek itu pergi barulah bagas menghampiri Debo yang masih stay cool disana diantara tiga cewek Marsha Salma dan Angeli. Dengan paksa Bagas menarik Debo dari kerumunan itu. Di paksa begitu membuat debo merasa tidak sopan meninggalkan cewek cewek itu begitu saja. “ehh, apa apaan nih? Cewek cewek sampai jumpa lain waktu yaa” ucap Debo genit pada ketiga cewek itu, “daah debo” respon ketiga cewek tadi. 

“ngapain lu tadi sama Cindai gue?” tanya bagas penasaran, debo tertawa renyah 

“Cindai lo? Mimpi aja lo siang bolong, gimana cindai mau jadi milik lo kalo lo tiap deket sama dia selalu kaku kek batu akik” ledek Debo 

“enak aja lu, liat aja suatu hari gue bakal buktiin kalo gue bakal bisa ngungkapin ke cindai” 

“kapan? Nunggu cacing berjalan berdiri? Atau nunggu gue jadi ilmuan biologi?” 

“sialan lu, nunggu sampai gue tau cara mencari x dengan pendekatan pendekatan tertentu” 



************ 


Kelas yang mendominasi murid laki laki dari pada perempuan kini tengah riuh karena tak ada guru pengajar. Banyak kegiatan bisa dilakukan dikelas selama guru tak ada, duduk dimeja, bermain kejar kejaran, tempat ajang selfie atau grufie dan kegiatan lainnya. 

“ndai, chels kalian kok gak mau sih diajak debo ngantin, kan jarang jarang mereka ada waktu ngantin”  kata Marsha teman sekelas Cindai dan Chelsea 

“maksud lo? Emang dia siapa sampek gak ada waktu buat ngantin?” tanya Chelsea 

“lo gak tau debo? Lo gak tau ABOY ?” tanya Marsha heran

“ABOY? Gue taunya abon” kata Chelsea polos 

“siapa mereka?” tanya Cindai 

“yampun, kalian kemana aja sih, gak tau aboy, lu yakin gatau aboy ndai?” tanya marsha memastikan 

Cindai menggeleng 

“elu juga chels ?” tanya marsha 

Respon sama, Chelsea pun menggeleng, 

“ABOY itu singkatan dari Amazing Boy, julukan dari kepsek kita buat keempat cowok Debo, Bagas, Karel, Rafli dan yang paling gans itu si Rafli yampun” kata marsha bercerita dengan hebohnya 

“mereka itu pintar dalam bidang ipa, Debo biologi, Bagas matematika , Karel Fisika , Rafli Kimia, mereka itu udah pernah menjuarai lomba dalam negeri dan internasional ndai, chels , gimana bisa lo tak tau? “ kata marsha semakin heboh saja 

“terus kok lo bisa tau?” tanya Cindai “lu ratu gossip sih” kejar Cindai 

“gue bukan ratu gossip, uh ni anak duan, makanya kalo upacara bendera jangan pake headset biar denger pengumuman up to date tentang sekolah kita, hampir tiap minggu gue rasa nama mereka selalu disebut sebagai pemenang lomba di fak mereka” 

“owh gitu” cindai dan Chelsea hanya manggut manggut. Marsha menampilkan wajah badmood dengan kepolosan kedua temanna akan cowok cowok popular disekolahnya. 



*********** 


Seperti biasa keempat cowok yang disapa ABOY ini tengah asik belajar diperpustakaan namun berbeda kali ini mereka ditemani seorang guru paruh baya kisaran umur empat puluh tujuan, dan keempat lelaki itu tak lagi belajar sendiri sendiri melainkan memusatkan perhatiannya pada pak excel guru pengajar matematika beliau membimbing murid murid ini untuk siap mengikuti olympiade grup MIPA yang diadakan tingkat nasional. 

“coba bagas empat belas kali lima belas” ucap pak joe dengan semangat mengajar, namun bagas hanya diam memperhatikan buku yang ia pegang, seharusnya bagas langsung menggerakkan jari jarinya untuk menghitung cepat atau merenung mengajak otaknya bekerja cepat, dalam waktu kurang dari satu menit seharusnya bagas bisa menjawab pertanyaan itu tapi sekarang nihil. 

“bagas!!” seru pak joe 

Bagas sadar dari posisi merenungnya. “iya kenapa pak?” tanya bagas gelagapan 

“kamu melamun bagas? Bukan waktunya sekarang, olimpiade sudah di depan mata. Kamu harus serius bagas! Apa kamu mau piala nasional itu jatuh pada sekolah lain?” kata pak joe lagi. Debo Karel Rafli merenung saja melihat bagas dimarahi pak joe. 

“maaf pak.. saya janji akan konsentrasi” jawab bagas sungguh

“harus! Kalau saat ini kamu todak konsen trasi lalu apa yang akan kamu persembahkan besok bagas? Ayo konsentrasi, dirumah jangan lupa belajar lagi. Kita harus melengkapi lemari piala yang baru kita beli kemaren, buat kepsek bangga dan dunia bangga pada sekolah kita” kata pak joe 

“dengan sekolah kita? Yaa bangga sama kita dong pak” bisik debo pada Rafli disampingnya. Rafli hanya merespon supaya debo berhenti berbisik, suasana lagi tegang ini. 








…………………………………….
TO BE CONTINUE
Haii gimana? Makin gaje? Atau tambah gaje? -_+ komen yaa komen biar penulisnya seneng getoh ;) follow yuks twitter @YuyunShovia dan ask.fm @yuvinaz ;) *tetep promo*

Komentar