2015
(True Friend)
Tokoh :
1. Alvin Aldiansyah
2. Mario Alam
Syahputra
3. Debo Arianto
4. Bagas Ahmad
Al Fatih
5. Raify Salsabila
6. Amandea Graceva
7. Deviara Cindai
Sahabat?
Bagaimana definisi sahabat sebenarnya, sederhananya sahabat adalah teman
berbagi teman yang selalu berkata Iya saat dibutuhkan. Sahabat, ia tahu
kekurangan kita tapi ia tampakkan kelebihan kita, ia tahu apa yang tidak kita
suka dan ia suguhkan apa yang kita suka. Indahnya persahabatan takkan bisa
ditukar dengan berkeping emas berlian. Dari dulu sampai sekarang 2015 definisi
sahabat tetap sama tak kan berubah, bukan hanya defisinya tapi hati seorang
sahabatpun takkan pernah berubah, akan selalu saling menyayangi dan mendukung.
Lapangan
yang cukup luas, penempatannya juga strategis, pada kanan kiri lapangan
terdapat taman bermain untuk anak anak dan remaja karena property yang ada
dibuat lebih besar cocok pula untuk remaja siapa tahu juga ingin bermain
perosotan ayunan jungkat jungkit dan lain lain karena saat ini sedang nge-trend yang namanya MKKB alias Masa
Kecil Kurang Bahagia mungkin pada jaman nya belum ada yang namanya perosotan
yang ada hanya gundu dan kelereng saja.
Dilapangan
ini terdapat empat lelaki dengan gesture tubuh hampir sama tinggi dan sama
gendutnya, mereka sedang memainkan bola orange yang dipantul pantulkan sesekali
dilempar ke ring , yap itu permainan
bola basket. Mereka bermain dua lawan dua dipinggir lapangan banyak orang orang
yang hanya sekedar duduk berteduh ada pula yang menonton aktivitas ke empat
lelaki itu, bermain basket disore hari begini sudah menjadi rutinitas mereka.
“woy,
lempar ke aku dong deb!” seru lelaki yang memiliki warna kulit paling cerah
diantara mereka.
“ya
kejar lah gas, minta minta mulu” jawab lelaki yang mengenakan kaos berwarna hijau,
namanya Debo Arianto temannya memanggil dia Dedeb sedangkan keluarganya
menyebutnya Debo, memang kebiasaan dalam berteman yaitu suka memelesetkan nama
asli konon merubah nama teman adalah symbol keakraban.
“hizz”
keluh lelaki bernama Bagas itu lalu dengan semangat mencoba merebut bola orange
yang ada ditangan Debo, ke empat lelaki ini berkumpul dekat ring bermaksud menghalangi Debo yang
hendak meng-shoot bola ke ring.
Dalam
permainan ini Bagas dan Debo adalah satu tim karena dalam posisi diapit oleh
dua lawannya Debo bermaksud mengoper bola ke Bagas, mungkin karena kurang
konsentrasi bola itu tak tertangkap apik ditangan Bagas melainkan meleset dan
mengenai dahi Bagas, cukup keras bunyi yang dihasilkan mungkin karena benda
padat bertemu dengan benda padat pula, Bagas langsung jatuh terkapar
dilapangan, ia memegangi dahinya yang mulai memerah keunguan wajahnya berubah
sayu dan sedih.
“yampun
gas, gimana sih gitu aja gak bisa nangkep” kata Debo ia tak tahu derita Bagas
“auu,
sakit banget deb, kalo ada dendam ngomong aja deb jangan main belakang” rintih
Bagas
Debo
hanya tertawa pelan melihat Bagas kesakitan begitu, kedua lelaki yang tadi
menjadi lawan Debo dan Bagas juga menghampiri Bagas.
“sakit
gas?” tanya lelaki hitam manis, namanya Mario dan yang satu lagi lelaki
berkulit putih bersih bermata sipit seperti keturunan tionghoa ia bermana
Alvin,
“ya
kali digaplok basket gak sakit” jawab Bagas sinis
“lo
kekencengan lemparnya deb” ucap Alvin ia melihat luka memar didahi Bagas
“laporin
mama lo aja gas biar si Dedeb dijadiin perkedel kesukaan lo” kata Mario memanas
manasi
“haha,
ya sorry gas, gue kan maksudnya ngasih tapi malah meleset, lo juga tuh kurang
tanggap” kata Debo santai ia menyalahkan Bagas
“tuh
kan, masih nyalahin orang tak berdaya begini? Kalo aku geger otak gimana?” kata
Bagas khayalannya cukup berlebihan.
“tukang
hayal lo” kata debo sembari memukul kaki Bagas
“udah
udah, pulang aja yuk biar Bagas bisa istirahat” ucap Alvin, yang lain hanya
mengangguk, kemudian Alvin dan Debo memapah Bagas karena Bagas mengeluh pusing.
Empat
sekawan ini mulai dekat sejak mereka sama sama duduk dibangku sekolah dasar,
mulai dari SD SMP sampai sekarang SMA mereka selalu satu sekolah itu membuat
mereka semakin akrab dan tak terpisahkan, mereka kompak mereka ramai mereka
layaknya saudara sedarah.
***
Hari
senin hari sakral setelah hari jumat karena dihari ini diadakan upacara bendera
kegiatan yang banyak dibenci oleh para murid karena mereka harus berdiri selama
satu jam dan panas panasan, mereka selalu mengeluh saat upacara bukan karena
mereka tak mengerti sejarah bukan juga tak mau menghormati perjuangan para
pahlawan tapi nafsu dan keadaan yang membuat mereka tak nyaman dengan adanya
upacara bendera.
Seorang
lelaki melirik jam tangan yang menempel apik dipergelangan tangan kanannya,
“lima menit lagi upacara dimulai” ucap lelaki itu, dia Debo berujar pada ketiga
sahabatnya.
“Males
banget ikut upacara, bisa ditunda aja gak sih upacara ini, setahun satu kali
upacara, ini malah seminggu sekali, kan gosong” dumel Bagas seakan anti dengan
yang namanya upacara.
“gimana
mau maju Indonesia kalo remajanya macam ini” cerca Mario dengan sinisnya
“kabur
yuk, gak usah ikutan upacara?” cetus Debo dengan bersemangat , Bagas langsung
mengiyakan ajakan Debo karena ini menyelamatkan kulitnya dari sengatan
matahari.
“boleh
juga tuh” kata Mario, ketiganya nyengir tak karuan
“gimana
vin?” tanya Mario pada Alvin. Alvin diam pandangannya seolah menerawang masa
depan.
“yuk! Segera” kata Alvin langsung menarik
lengan Bagas dengan kencangnya. Keempat lelaki bersahabat ini berjalan
menyusuri lekuk sekolah mencari tempat persembunyian yang pas.
Langkah
mereka menuju tempat berukuran besar didalamnya terdapat bilik bilik dan kaca
berukuran besar , kamar mandi! Mereka
memasuki toilet sekolah khusus gentlemen.
“disini aman gak sih? Setau aku Ozy Cakka
Gabriel ketahuan pas ngumpet disini dan mereka berakhir dilapangan dipermalukan
dijadikan tontonan seluruh murid dan guru saat upacara berikutnya” kata Bagas
waswas
“yang
bener lo gas ? wah bahaya ini masak orang ganteng dipermalukan didepan umum?
Kan gak etis” ucap Mario ia jadi ikutan was was
“kemana
lagi yah? “ kata Debo
Alvin
segera keluar dari kamar mandi, kemudian diikuti para sahabatnya ini. Mereka
seakan menjadikan Alvin sebagai pemimpin mereka namun tak pernah ada penobatan
itu. Factor kebiasaan Alvin yang selalu bisa memimpin dan yang serius dalam
bertindak tak seperti yang lain terlalu banyak bergurau.
“mau kemana kita vin?” tanya Debo
“udah
ikut ajah” jawab Alvin, SMA Garuda Sakti memang luas hampir sama dengan kampus
yang dituntut menampung banyak mahasiswa, bangunan yang kokoh dan menjulang
tinggi sampai tiga lantai dan beberapa prestasi yang didapat sekolah ini
membuat nama SMA Garuda Sakti diatas awan dan dinobatkan sebagai sekolah
favorite pada tahun 2000 silam.
KRRIINGGG !
Bell
tanda upacara akan dimulainya upacara sudah berdering, keempat lelaki ini mulai
melebarkan langkah menerobos kerumunan siswa yang hendak menuju kelapangan
upacara,
“mau
kemana sih kita Vin” tanya debo disela sela langkahnya
“tau
vin, mau sembunyi dimana sih kita nyet?” kata Mario dengan jengkelnya karena
sudah lima menit belum juga menemukan tempat yang pas.
Dan
sampailah mereka ditempat yang benar benar sepi gudang yang terletak dibagian
belakang sekolah elit ini, gudang yang Nampak tak terawat, bagian luarnya saja
banyak jaring jaring halus yang dibuat oleh laba laba untuk tempat tinggalnya,
daun kering berjatuhan dan tak ada yang membersihkannya, memang tempat
terabaikan. Pohon beringin menjadi teman bangunan ini, akar gantung yang
disuguhkan pohon ini terlihat mistis ditambah lagi tempat ini kotor tak
terawat.
“gue
baru tahu ada bangunan kayak beginian di sekolah elit macam ini” ucap Debo tak
percaya dengan keadaan gudang ini.
“horror
banget ya, aku kok jadi merinding yah?” kata Bagas, ia memang penakut dalam
segala hal.
“
lo emang gila vin, tau dari mana tempat beginian? Gue yakin kita aman disini,
ayo masuk” ajak Mario kemudian memimpin memasuki gudang yang tak terkunci itu.
Saat pintu dibuka debu debu berterbangan sangat mengganggu pernafasan mereka
sampai sampai mereka dibuat batuk batuk dan mengucek mata karena kemasukan
debu.
“gila
tempat apaan nih, udah serem kotor gak ada tempat lain vin?” tanya Bagas ia
mulai tak tahan dengan keadaan seperti ini
“wah…
gilak ngapain aja ya pak klining service disekolah ini? Debunya ampek tebel sejari
begini? Makan gaji buta tuh” kata Mario sinis karena keadaan ini tidak
mencerminkan kata Elit yang disandang sekolah ini.
“temen
temen gak usah banyak ngomong takutnya ada guru piket yang memergoki kita
disini, bisa end kita kalo sampek
ketahuan!” kata Alvin memperingati. Mereka duduk lesehan didalam gudang itu,
mereka dapati berbagai macam kursi papan tulis guci dan segala perabotan
sekolah yang sudah tak terpakai tak jarang ditemui benda benda yang sudah benar
benar hancur.
“AAAAA!”
teriak Bagas dengan nyaringnya namun beruntung Alvin langsung membekap mulut
lemes Bagas,
“apa
apaan sih lo mak” tanya Mario dengan mata sinis
“lo
mau kita berakhir dilapangan? “ tambah Debo sambil menoyor kepala Bagas sedikit
kasar
Bagas
berusaha membuka bekapan tangan Alvin dimulutnya, setelah berhasil barulah
bagas bisa bernafas lega,
“ngomong
pelan pelan aja gas” kata Alvin datar sebenarnya ia gregetan pada Bagas yang
tak bisa menahan sesuatu supaya lebih sederhana.
“U,
u, Ular!” kata bagas pelan, wajahnya panic melihat kearah depan dekat pintu
keluar, mendengar pernyataan Bagas barusan berhasil merubah wajah yang tadinya
kesal pada Bagas menjadi panic dan prihatin.
Mereka
melihat kearah tangan bagas menunjuk letak Ular itu, benar saja ada seekor ular
tengah melingkar dibawah bangku dekat pintu masuk.
“gilak
ularnya panjang men” kata Debo ia mulai mencari cari kayu atau apa saja yang
bisa ia jadikan senjata untuk melawan ular itu.
Sedangkan
Mario sudah menemukan sebuah balok patahan dari salah satu kaki kursi kayu,
“kalian mau ngapain?” tanya Alvin pada Debo dan Mario yang tengah memegang
bongkahan kayu siap menggempur ular itu.
“ya
kita bunuh tuh ular lah Vin” jawab Debo mulai mendekati ular itu,
“deb,
jangan! Ular itu tidur, kita jangan sampai memukul apapun atau siapapun yang
tidak mengganggu kita atau teman kita, “ kata Alvin
“ini
kesempatan kita vin, kalo dia bangun dia pasti menyerang kita, itu pasti vin… “
kata Mario
“jangan,
kita diam saja jangan sampai ular itu bangun, kalo kita sampek membunuh ular
itu, aku yakin gerak kita takkan rapih dan akan menimbulkan suara keras, dan
pasti kita akan ketahuan!” kata Alvin. Debo dan Mario bisa menerima argument
Alvin, mereka urungkan niat membunuh ular itu, mereka letakkan kembali kayu
besar yang mereka temukan,
“mama
mama mama mama mama” ucap Bagas sedari tadi
“ngapain
lo manggil emak lo gas” kata Mario sambil geleng geleng kepala melihat tingkah
bagas
“heh
kata mama kalo aku lagi butuh boleh panggil mama biar tenang” jawab Bagas polos
“buset
dah, emangnya kalo disebut begitu emak lo bakal dateng bawa susu bendera?” kata
Mario meremehkan Bagas, padahal ia belum tau filsofi mengapa Bagas menyebut
nama itu, nama yang istimewa.
KREEKK!
Suara
sepatu Debo menghentak begitu saja ke lantai yang kumuh itu, menimbulkan suara
sedikit nyaring dan menerbangkan debu debu yang lama bersemedi menempeli lantai
itu. “ada apa?” tanya Alvin “abis nginjek kecoa, gak masalah kan?” jawab Debo
sambil tersenyum tak jelas , Alvin hanya diam memandang Debo aneh.
30
menit kemudian
“sampek
kapan kita disini Vin? Aku takut ularnya bangun terus ngegigit kita terus kita
pingsan dan gak ada yang nemuin kita disini” kata Bagas khayalanya mulai
bermain lagi
“apaan
sih lo, nih ular!” kata Mario sambil melempari bagas serpihan kayu
Mario
Alvin dan Debo tertawa pelan melihat kelakuan Bagas.
“hizz,
gak lucu banget Mario !” kata Bagas
“ini
dia persahabatan, mencari pengalaman, tertawa, sedih, susah terlewatkan
bersama, semoga abadi persahabatan kita kawan” Rintih Alvin dalam hati
“masih
jam setengah delapan, jadi kita disini setengah jam lagi baru kita bisa bebas”
kata Alvin kemudian.
Banyak
gangguan untuk mereka mulai dari semut yang berkeliaran kecoa yang mengintip
dibalik tumpukan bangku jaring laba laba dimana mana nyamuk yang menusuk kulit
menjadikan mereka santapan empuk dipagi hari, dan debu yang siap menggempur
jika disentuh, serta ancaman serius dari ular yang tengah tidur.
“kalo
kayak gini caranya aku gak mau bolos upacara lagi, banyakan ruginya dari pada
untung, banyak ancaman yang mengintai kita” dumel Bagas wajahnya sangat tidak
enak jika sedang kesal.
30
menit kemudiaan terdengar suara bell tanda selesainya upacara dan akan dimulai
pelajaran pertama, keempat lelaki ini bersorak gembira dan dengan hati hati
membuka pintu keluar supaya ular itu tak bangun dan mengejar mereka.
Berhasil
, mereka berhasil bebas dari upacara dan selamat dari ular didalam gedung.
Mereka berjalan menuju kelas masing masing, Bagas menuju kelas XI IPS 1 sedangkan
Alvin Mario dan Debo berjalan ketempat yang sama yaitu XI IPA 1.
Terkadang
sesuatu yang kita anggap baik didepan belum tentu saat dilakukan semua berjalan
sesuai rencana dan sama seperti apa yang dibayangkan. Karena kita tak tahu isi
masa depan maka ikutilah aturan yang ada, aturan sekolah aturan bermasyarakat
dan aturan dari tuhan pemilik hati setiap makhluknya.
***
Kukkuruyuuukk……. !
Begitu
suara ayam berkokok dipagi hari pertanda hari baru telah datang, selalu saja
ayam paling awal bangun dibandingkan dengan manusianya, benar saja jika ada
peribahasa jangan sampai rezeki kita dipatok ayam, belajarlah akan perilaku
ayam yang selalu bangun dipagi buta dan bersemangat mengawali hari itu dengan berkokok
sangat nyaring.
Dikamar
yang cukup besar ini ada empat lelaki tengah terlelap, mereka tidur tepat
didepan televisi, suara alarm yang berdentang tak lagi dihiraukan, mereka baru
memejamkan mata dua jam yang lalu sekitar jam empat subuh.
Kring kring kring !
Untuk
kesekian kalinya waker kecil itu berdentang, kali ini ada satu tangan meraih
waker kecil itu dan dengan susah payah membuka mata dan melihat angka yang
ditunjuk jarum kecil berwarna merah, masih remang remang penglihatannya. Dan
betapa terkejutnya dia saat sadar bahwa jarum kecil itu menunjuk angka tujuh! Hari ini mereka harus sekolah,
dengan tergesa gesa ia membangunkan ketiga temannya Debo Mario dan Bagas, Alvin
memukuli badan teman temannya sampai bangun.
“Bangun
udah jam tujuh, kita udah terlambat” teriak Alvin masih menggempur badan
sahabatnya dengan dua guling yang ia pegang.
Mendengar
teriakan itu sontak membuat ketiganya terbangun dan tergesa gesa untuk mandi,
mereka mengerumuni pintu kamar mandi, ingin terlebih dulu mandi.
“woyy,
setres ya, gue mandi disini, Debo mandi dikamar mandi dekat ruang tamu, Bagas
mandi dikamar kak Tania, Mario mandi dikamar Oma” perintah Alvin menunjukkan
kamar mandi yang ada disetiap kamar.
Ke
tiga teman Alvin itu Nampak kaget dengan apa yang dikatakan Alvin, dipikiran
mereka sudah negative thinking apa mungkin Alvin hendak mempermalukan mereka.
“vin
lo gila ? gue mandi dikamar oma lo? Kalo ada oma lo gimana? Mau cakap apaan
gue?” kata Mario
“tau nih, aku malu kali sama kak Tania” tambah
bagas
“elah,
jam segini mereka udah gak ada dirumah, udah sana, percaya sama gue mereka udah
berangkat semua” kata Alvin sambil mendorong teman temannya keluar kamarnya.
***
Sesampainya
disekolah dengan pahit mereka harus menerima bahwa pintu gerbang utama sudah
ditutup. Mereka hanya bisa meratapi nasib keterlambatan mereka. Mereka masih
berdiri didepan pintu gerbang.
“kayak
begini nih kalo nginep dirumah Alvin, gak ada yang bangunin, kita jadi telat begini
mana jam pertama itu pak Morgan bisa abis kita” keluh Mario
“aku
sekarang pak Alif parah nih bisa digantung kalo terlambat, kalian enak rame
rame, aku sendirian!” kata bagas ikutan mendumel.
“kamu
sih Dey, coba aja kamu gak usah nyoba nyobain cosmetik baru, dan kamu itu
dandannya terlalu lama, pasti kita gak akan telat begini” keluh seorang gadis
berkaca mata sambil mematikan motor matic dan membuka helm nya.
“biasanya
kan juga gini Fy, aku dandannya biasa aja kok gak terlalu tebel” ucap gadis yang
dibonceng oleh gadis berkacamata. Lalu membawa wajahnya menunduk melihat
penampilan wajahnya dikaca spion motornya.
Keempat
lelaki itu memperhatikan keduanya berdebat tentu saja dengan rasa heran.
“Raify, tumben telat nih, perdana ya” kata Debo menyapa gadis berkacamata.
“iya
nih deb, gara gara Dea nih semuanya” ucap Raify Salsabila yang kerap disapa
Raify atau Ify adalah teman sekelas Debo Alvin dan Mario,
“jangan
nyalahin aku mulu Fy, sebel deh” jawab Dea berdecak kesal lalu melipat kedua
tangan didada
“makanya
jangan kelamaan dandan Dey” celetuk Bagas, Dea dan Bagas satu kelas dikelas XI
IPS 1.
“Oh
bagas, gaklah aku gak gitu gitu banget” ucap Dea.
“terus
gimana nih nasib kita selanjutnya?” tanya Mario
“kita
coba rencana gue, mau?” tanya Alvin, yang lain mengangguk. Alvin mulai
memberitahukan rencananya, mereka berembuk berbentuk lingkaran kecil kemudian
setelah mengerti mereka mulai melakukan rencana.
Pertama
mereka mulai membawa motor mereka ke balik tembok supaya tidak terlihat oleh
pak satpam. Disana ada tiga jenis motor satu motor memuat dua orang. Rencana
kedua mereka menuju tembok paling ujung gerbang sekolah, mereka mengutus Mario
untuk melompati tembok gerbang sekolah, Ify dan Dea memantau keadaan didalam
sekolah takut ada guru piket berkeliaran, Bagas berjaga dekat motor diparkir
sedangkan Alvin dan Debo menjadi batu loncatan supaya Mario bisa menjalari
tembok gerbang dengan cara Alvin dan Debo berjongkok kemudian Mario menaiki
punggung kedua sahabatnya ini untuk mencapai puncak tembok.
“eh
eh bentar dulu, “ dea mencegah Alvin dan Debo yang hendak berdiri menaikkan
posisi Mario ,
“ada
apa?” tanya Debo
“eh
kita selfie dulu yah, inikan kejadian unik harus ada kenangannya bahwa Dea
pernah terlambat dan membantu anak cowok lompat pagar sekolah” ucap Dea
kegirangan lalu mengarahkan kamera iphone nya kearah Alvin Debo dan Mario.dan
dengan latahnya mereka tersenyum manis saat difoto.
Ciissssss
!! gambar tersimpan.
“ampun
deh teman lo nih Fy” keluh Alvin merasa tak biasa dengan sikap aneh Dea yang
suka mengabadikan setiap moment yang ia lewati.
“emang
suka gitu anaknya Vin, maafin yah” ucap Ify sedangkan Dea asik melihat foto
hasil jepretannya.
Dengan
susah payah Alvin dan Debo mengangkat badan Mario setelah beberapa saat barulah
Mario berpindah dari luar kedalam lingkaran tebok sekolah, beruntung pendaratan
yang dilakukan Mario berlangsung dengan mulus hingga tak membuatnya lecet
sedikitpun. Kemudian dengan gesitnya ia melangkah meninggalkan gedung dan
melanjutkan rencana ke tiga dari Alvin.
Mario
meletakkan tasnya dibalik tumbuhan kecil dekat pintu gerbang kedua, lalu ia
menghampiri pos satpam, dan dengan Percaya Dirinya ia melancarkan serangan kata
kata untuk pak satpam.
“maaf
pak, bapak disuruh beli rokok Marlboro oleh pak gandara, “ ucap Mario langsung
ke pokok permasalahan
“tumben
pak gandara nyuruh beli rokok? Rokok Marlboro ? apa ada? “ tanya pak satpam itu
“adalah
pak, bapak ini gimana sih, rokok marlboro itu rokok paling mahal pak, rokoknya
Robert Pattison, bukan sembarang rokok pak, makanya pak gandara nyuruh bapak”
ucap Mario meyakinkan. Pak satpam hanya ngangguk ngangguk
“mana
duitnya?” tanya pak satpam
“kalo
gak ada duitnya ya gak jalan , soalnya bapak lagi gak punya duit” kata pak
satpam lagi
Dengan
terpaksa Mario harus mengiklaskan selembar uang bernilai 50.000 rupiah hangus
untuk pak satpam . “perasaan tadi gak
nyebut nyebut duit saat rembukan” batin Mario serasa apes hidupnya. Ia
mengeluarkan uang itu dan memberikannya pada pak satpam “oh ada kok pak, ada
ini pak” kata Mario ,
Pak
satpam langsung membuka pintu gerbang lalu mengendarai motornya bahkan ia lupa
mengunci kembali gerbang sekolah. Dengan cepat Mario menghampiri kawan kawannya
dan menyuruh mereka langsung masuk dengan motornya. Ify Alvin dan Debo membawa
motor menuju ke parkiran sedangkan Mario Dea dan Bagas jalan menuju kelas
masing masing.
“bagas,
jangan sampek ketahuan ya, kalian harus hati hati” ucap Mario mengingatkan
Bagas. Bagas membelalakkan matanya karena ia lihat pak gandara tengah berjalan
menuju kearahnya.
“kabur
ada pak gandara” ucap Bagas berusaha tak berberisik, Bagas Dea dan Mario
berlari menjauh namun dipersimpangan jalan mereka berpisah Mario kearah kanan
sedangkan Bagas dan Dea kearah kiri.
“Bagas,
cepetan “ kata Dea , bagas berusaha berlari lebih kencang namun sayang nasib
buruk mendatangi Bagas, ia menabrak seseorang yang membawa buku buku
ditangannya, buku itu berserakan dan gadis itu tak tinggal diam.
“bukunya,
bagas kalo jalan liat kedepan lah ngapain liat liatan kebelakang? Jadinya
nabrak gue gini kan” ucap gadis itu dia teman sekelas bagas, namanya Deviara
Chindai.
“sorry
deviara aku gak sengaja” ucap bagas
“Chindai!
Bukan Deviara, sekarang beresin buku buku gue” kata gadis yang tak mau
dipanggil Deviara itu
Dengan
patuhnya Bagas memilih buku buku yang berserakan itu, bagaimana Bagas tak mau
patuh? Dalam kelas Chindai selalu mengusili Bagas alasannya karena Bagas lelaki
yang penakut.
“padahal
aku yang jatuh, kenapa Deviara yang marah” sungut Bagas
“ya
elo lembek banget! Kesenggol dikit jatuh, kesentil dikit jatuh, kemayu dasar”
kata Chindai Nampak emosi, hanya saja diakhir kalimatnya ia tertawa puas
Melihat
kejadian itu Dea menghapiri Bagas dan menarik lengan bagas kasar untuk mengajak
Bagas segera pergi dari tempat ini namun….
“Bagas,
Dea! Mau kemana kalian?” sapa sebuah suara, dari nada suaranya jelas sekali
bukan suara milik anak remaja baru puber suaranya matang dan berat, pelan pelan
Bagas dan Dea melihat asal suara, dan mereka dapati pak gandara tengah berdiri
dibelakang mereka.
“eh
pak gandara, kita mau ke kelas pak, yakan gas” ucap Dea gelagapan, Bagas hanya
mengiyakan saja.
“Dea
Bagas! Kelapangan Basket sekarang juga!” perintah pak gandara, suaranya sangat
menakutkan apalagi ditempat sepi begini, serasa petir menyambar gurun pasir.
Dengan pasrah kedua murid terlambat ini mengikuti langkah pak gandara ke
lapangan basket.
***
Enam
murid berhasil dibekuk oleh pak Gandara dengan mudahnya, satu tertangkat membuat
yang lain ikut terjerat, Bagas dan Dea dipaksa pak Gandara untuk menyebutkan
siapa saja yang terlambat dan terlibat penipuan atas pak satpam. Dan dengan
mudahnya Bagas memberitahu nama nama teman yang benar tadi bersama dengannya.
Ditengah
lapangan menghadap kearah matahari, ke Enam murid ini disidang,
“kalian
dikenakan hukuman double!” seru pak Gandara membuat bola mata masing masing
anak tercengang dan membulat.
“yang
pertama kalian terlambat, hukuman biasa yaitu lari keliling lapangan sebanyak
lima kali putaran” ucap pak Gandara sambil mondar mandir dibarisan murid ini.
“HA?
Panas pak!” seru Dea ini adalah ekspresi kaget atas ucapan pak Gandara, serta
merta keluar begitu saja dari mulut Dea. “upss” kata Dea setelah sadar dengan
sikapnya.
“tidak
menerima bantahan” jawab pak gandara
“yang
kedua, kalian telah membohongi pak satpam, dan hukuman untuk itu adalah kalian
harus membersihkan gudang belakang sekolah, dan ini dilakukan setelah pulang
sekolah” kata pak gandara tegas dan lugas, kali ini bukan hanya mata yang
melebar mulut yang tadinya rapat seketika menganga atas perintah itu.
“tapi
pak itu, digudang itu , ada “ ucap Mario gelagapan, jika ia katakan yang
sebenarnya pasti pak Gandara akan curiga,
“iya
pak, digudang kan ada, itu, yakan yo?” kata Debo ikutan linglung tak mampu
mengatakan semuanya.
“ada
apa? “ tanya pak Gandara
“ada
bangku tak terpakai pak” jawab Bagas sekenanya.
“iya
benar, sekarang silahkan kalian lari lapangan lima kali” titah pak gandara
Dengan
mau tak mau ke enam murid ini berlarian menjalani tugas hukuman mereka,
“gara gara elo sih gas, kenapa lo harus
ketauan sih, kita semua udah aman, lah elo pake acara ketangkep” dumel Mario
yang sudah menjalankan peran seapik mungkin namun tetap saja gagal hanya karena
Bagas tertangkap, ia pun harus kehilangan uangnya.
“ini
gara gara Deviara pake acara nabrak aku segala!” ucap bagas
“gara
gara kamu gas, aku suruh cepat kamu lambat” kata Dea menyalahkan pula
“Dea
jangan belain yang lain kek, kamu kan sekelas sama aku, sedang ke empat anak
ini mereka satu kelas” ucap bagas,
“paling
berat tuh hukuman buat nanti, bersihin gudang, sumpah tuh gudang kotor kumuh
banget gak layak dibersihin” ucap debo sambil mengingat keadaan gudang yang
pernah mereka jadikan tempat berlindung.
“ada
ularnya juga” sambung bagas ,
“yaudah
kita lari aja dari tanggung jawab, toh itukan masih nanti sore, gue rasa pak
gandara gak bakal tau kalo kita udah pulang atau belum” kata Mario ,
“kata
mama gue, lari dari tanggung jawab adalah tindakan seorang pengecut” ucap Ify
“eh
eh kamu gak tau aja kayak apa gudang yang dimaksud pak gandara, serem tau” ucap
Bagas meyakinkan.
“yaudah
sih Fy siapa tahu kita bisa bebas dari hukuman, aku ada janji sama kak hanin
mau ke salon” rengek Dea sambil menarik narik lengan Ify masih dalam posisi
berlarian
“Gak
usah ngobrol, lari cepat baru satu putaran!” teriak pak Gandara diseberang
lapangan.
Mereka
tak menggubris seruan pak Gandara, mereka terus berlarian walau nafas sudah
memuncak.
“jadi gimana? Setuju yah?” tanya Mario sekali
lagi
“setuju”
, “setuju” , “setuju” ucap yang lain.
******
Jam
menunjuk angka tiga, wajah wajah kusut tergambar jelas pada wajah masing masing
anak, mungkin mereka sudah jenuh belajar hampir sehari full. Di jam mepet
seperti ini banyak siswa sudah tak konsentrasi pada pelajaran, mereka sudah
berhayal setelah pulang sekolah akan kemana atau mau makan apa dirumah. Beda
dengan ke empat murid yang berada dikelas XI IPA1 ini Raify Mario Alvin dan
Debo sudah membereskan semua buku dan mengambil ancang ancang untuk kabur dari
hukuman pak Gandara, guru BK yang terkenal galaknya.
KRIIIIING!
Dengan
cepat kilat tampa menunggu guru yang ada didepan memberi salam, Raify Mario Alvin dan Debo langsung berlari
hendak keluar kelas, tapi dengan mendadak Mario yang tadi memimpin didepan
berhenti mendadak saat hendak melewati pintu kelas, membuat Alvin Debo dan
Raify saling bertubrukan, didepan pintu sudah ada pak Gandara menunggu mereka
tidak dengan tangan kosong, kali ini pak gandara membawa kayu tipis
ditangannya.
“mau
kemana Mario Alvin Debo dan Raify Salsabila?” tanya pak gandara dengan sinis
Tampa
basa basi keempat murid ini langsung dibawa ke tempat hukuman yaitu gudang
belakang sekolah, dan surprise disana sudah berdiri Dea dan Bagas dengan sapu
kemoceng dan alat bersih bersih lainnya. Disitu juga ada pak Morgan guru BK
yang merangkap sebagai guru sosiologi.
“sekarang
personil kalian sudah lengkap, silahkan jalankan hukuman ini, bersikaplah
gentle jangan jadi pengecut, kalian tidak bisa lari karena saya dan pak gandara
akan mengawasi kalian dari jauh” ucap pak morgan kemudian berlalu dengan pak
gandara entah mereka kemana, tapi yang jelas mereka memantau kerja murid murid
terhukum ini.
“biasanya
yang kerja beres beres rumah kan cewek, jadi kalian aja yah yang bersihin” kata
Debo sambil menaik turunkan alisnya kearah Raify dan Dea
“dih
enak aja, kata mama, perempuan itu emang mengurus rumah tapi bukan pembantu,
lagian kita bukan istri kalian jadi gak bisa disuruh suruh” jawab Raify kesal
sembari menyerahkan kemoceng kearah Debo
“buset
dah Fy” keluh Debo sambil geleng geleng
“udah
udah, ayo kita kerjain” lerai Alvin perlahan ia memasuki gudang, ia amati
dibalik pintu masih adakah ular itu, dan nihil tak ia temukan ular panjang itu
.
“Aman!” seru Alvin lalu masuk sambil memegang sapu lantai.
“kalo
kita langsung nyapu ini pasti ganggu pernafasan nih,” ucap Raify
“yaudah
kita guyur dulu pake air baru entar disapu terus dipel gimana? Kan aman gak
bikin debunya terbang?” usul Alvin.
“boleh
juga tuh, yaudah yo siram yah” perintah Alvin karena Mario yang membawa bak
berisi air.
Mereka
memulai membersihkan tempat yang super duper kotor itu, mereka tampak tenang,
sebelum ancaman ancaman itu datang menghampiri mereka.
“AU!!
Ada kecoa Fy, kecoa!” teriak Dea heboh sambil bersembunyi dibelakang
Raify, tingkah Dea ini dijadikan bahan
tertawaan para anak lelaki.
“ya
ampun, lo takut sama ini?” ucap Mario sambil mengayun ayunkan kecoa yang ia
tangkap tepat didepan wajah Dea, Dea memandang kecoa itu dengan wajah ngeri,
tampak jelas dimatanya kaki kecoa itu gerak gerak seolah akan mencakarnya
sedangkan kumis kecoa itu dipegang erat oleh Mario
“AAAA!! Ify Ify Ify” teriak Dea lalu dengan
spontan menepis tangan Mario hingga kecoa yang ia pegang terpental dan jatuh
pas dipundak Bagas, Bagas yang menyadari itu langsung berteriak histeris sambil
mengendus ngenduskan pundaknya kearah Debo, semua tertawa melihat tingkah
Bagas, kecuali Bagas dan Dea mereka mendengus kesal terhadap apa yang dilakukan
teman temannya.
Satu
jam kemudian
Bersih
kesat berkilau dibagian bawah, bukan berlian atau perak tapi lantai gudang yang
awalnya kumuh kini disulap menjadi kelas yang layak pakai jika barang barang
bekas ini disingkirkan. Keenam murid murid ini langsung meninggalkan gudang
setelah dirasa selesai sudah hukuman ini.
Mereka
segera berjalan menuju parkiran, disana hanya tinggal tiga motor yang tersisa
tinggal motor mereka saja. Dengan malas mereka mengendarai motor masing masing,
Raify bersama Dea, Debo dengan Bagas sedangkan Alvin membonceng Mario, mereka
melajukan motornya kearah yang sama Raify berada diurutan paling depan, rumah
mereka berada dikomplek yang sama namun berjauhan.
Saat
melewati jalan Anggrek indah terlihat ada motor berpenumpang dua orang
membayang bayangi Raify, motor itu seperti mengincar mereka berdua, benar saja
terjadi tarik menarik antara Dea dengan orang yang dimotor itu. Dea berusaha
mempertahankan tas nya,
“Vin,
itu kayaknya copet deh vin, yakan? “ ucap Mario sambil menepuk bahu Alvin,
“iya
yo, ckck nyari korban cewek!” jawab Alvin
“hajar
broohh” seru Mario membuat Alvin memacu motornya lebih kencang untuk
mengimbangi motor Raify dan pencopet itu. Setelah sejajar dengan keduanya,
Mario mulai meninju kepala orang yang dibonceng yang sedari tadi menarik tas
Dea, sadar ada yang melindungi gadis tadi, kedua perampok itu tak lagi menarik
narik tas Dea, namun dengan gerak bersamaan kaki si supir menendang setir motor
Raify dari samping sedangkan yang dibelakang menendang lengan Dea yang
mengakibatkan Raify dan Dea terjatuh dari motor kemudian dengan gesitnya mereka
kabur dari tempat itu.
“kejaaaarrr
broooo” seru Mario kepada Alvin , Alvin menuruti perkataan Mario.
Dengan
semangat dan rasa pertemanan yang tinggi Alvin dan Mario mengejar pengendara
motor yang tadi mengganggu temannya itu. Alvin mencoba mensejajarkan posisi dan
kecepatan motornya dengan motor pencopet.
“Woy
banci, kalo berani lo turun satu satu lo sama gue!” seru Mario dengan tegas dan
penuh keberanian. BUG! Satu pukulan mendaarat dipipi Mario,
“sialan!”
ucap Mario sembari membalas pukulan dari pencopet itu kemudian menendang motor
pencopet, motor itu sempat oleng namun si supir berhasil menguasai keadaan.
“HEH
bocah! Kita gak ada urusan sama kalian” ucap sisupir
“tapi
cewek yang kalian copet itu temen kita!” jawab Alvin tak kalah membentak.
“mereka
memang incaran kita, jangan halangi pekerjaan kita” ucapnya lagi lalu dengan
sekali tarikan motor sang pencopet sudah memimpin didepan.
Alvin
mengendorkan tarikannya pada gas, motor itu berjalan perlaran dan memotong arah
kembali ke jalan sebelumnya.
“mereka
mengincar Raify dan Dea” ucap Alvin
“yaialah
vin, mereka kan cewek gak bakalan bisa ngelawan kalo kita? Abis mereka!” kata
Mario dengan bangganya
“beda
yo, gue rasa mereka orang suruhan!”
“ngada ngada lo ahh”
Alvin
berfirasat kedua orang itu adalah orang suruhan bukan copet biasa. Setelah
sampai ditempat Raify jatuh, Alvin dan Mario melihat keadaan mereka berdua,
kaki dan sikut keduanya berdarah tergores jalan beraspal, beruntung mereka mengenakan
helm sehingga terhindar dari benturan langsung ke kepala. Raify tak lagi
menyetir kini dia bersama Mario menggunakan motor Alvin. Sedangkan Alvin
mengambil alih motor Raify dengan membonceng Dea. Kemudian mereka pulang
bersama.
***
Sunday,
orang bilang adalah hari keluarga maksudnya adalah hari untuk berkumpul dengan
keluarga setelah satu minggu sibuk
dengan pekerjaan sekolah dan lain sebagainya yang membuat ayah ibu anak tak
saling berjumpa untuk sekedar bercerita atau hanya bersenda gurau. Namun
berbeda arti untuk remaja remaja ini diminggu pagi mereka asik bermain bola
orange dilapangan kompleks bersama teman sebayanya, tak ada ayah ibu apalagi
kakek nenek yang ada hanya pergaulan yang mereka sebut keren dan best friend. Angin
semilir menemani kesibukan mereka matahari yangtak begitu tinggi menyelimuti
penghuni bumi dengan hangatnya.
“Deaa!”
seru seseorang dari lapangan basket lelaki hitam manis, pandangannya terarah
pada gadis yang hendak melewati lapangan itu. Dua gadis itu melihat keasal
suara. “Mario!” ucap teman gadis bernama Dea yang juga hendak melewati lapangan
itu. “Dey, kesana yuk” ajak Raify kemudian melangkah kearah Mario yang tadi
memanggil Dea.
“hai
Raify” sapa Debo pada gadis penyandang rangking satu dikelasya itu.
“Wih
hai Dea” sapa Bagas, karena hanya Bagas yang mengenal Dea, temannya yang tak
kenal dan tidak mungkin menyapa Dea walaupun mereka pernah dipertemukan dalam
suasana sakti kemarin.
Mario
Debo dan Bagas tampak senang dengan pertemuan mereka dengan Raify dan Dea,
mereka tampak akrab bercanda. Alvin yang sedari tadi hanya berdiri memainkan
bola orange itu tampak tak memperdulikan kedatangan kedua teman sekolahnya itu,
Alvin asyik mendrible bolanya lalu sesekali mengshoot kearah ring yang
cukup tinggi.
“Dea,
Kenapa masuk IPS?” tanya Mario pada Dea, pandangannya dari tadi tak lepas dari
seorang Dea, menurutnya Dea adalah gadis faminin lembut cantik menarik dan
senyumnya natural, Mario rasa Dea adalah gadis yang polos terlihat sekali
dengan caranya berbicara selalu jujur.
“Iya
karena gue suka banget pelajaran sejarah sosiologi dan akuntansi” ucap Dea cara
berbicaranya yang ramah dan bersahaja rupanya telah membius seorang Mario
tergerak jantungnya untuk berdegub lebih kencang dari biasanya.
“buset,
kalo kita langsung nyenyak yo kalo ikut pelajaran itu” ucap Debo mengingat
kejadian dulu saat jaman Sekolah menengah pertama mereka mengikuti pelajaran
sejarah yang selalu membuat mata mereka berat hingga tertidur pulas dikelas
sampai sampai diberi hukuman oleh guru sejarah karena terlalu sering tidur
dalam kelas. Kecuali Bagas tentunya.
“ahh
gak juga, tergantung temen dikelas sih, kalo temen dikelas kayak elo sama
alvin, ya gue ketiduran lah, kalo temen gue kayak Dea pasti semangat lagi” ucap
Mario dengan cengiran penuh arti.
“jawaban
apaan tuh yo? Rayuan?” kata Debo menimpuk Mario dengan kerikil kecil yang ia
pungut dibawah kakinya.
“Mario,
kamu udah ngerjakan tugas fisika belom?” tanya Raify sedari tadi wajahnya
menekuk tampak muram
“belom
Fy, nomor lima aku kurang paham” jawab Mario mengingat PR fisikanya yang belum
ia kerjakan seluruhnya.
“nanti
aku kasih tau yo, tenang aja” ucap Raify dengan senyum manisnya
“gak
usah repot repot Fy, biar aku aja yang ngajarin Mario “ tolak Debo
“iya
Fy, makasih ya sebelumnya” ucap Mario membalas senyum Raify,
Kembali
membuat wajah Raify muram, tak ada yang tau hatinya sedang kesal sekarang satu
lelaki yang ada ditempat itu telah membuat hatinya kacau dengan perhatiannya
pada orang lain.
“eh,
Alvin kok gak gabung sama kita yah? “ tanya Dea sambil melihat kearah Alvin yang
tak kunjung lelah memainkan bola kuning itu
“biasalah
si Alvin kalo udah bareng pacarnya gak bakal ada yang bisa ganggu dia dey” ucap
Bagas
“pacar?”
tanya Dea seperti orang kaget, matanya sampai membulat sempurna
“iya
, itu si bola orange pacar Alvin” jawab Bagas
Dea
hanya mengangguk kan kepala sambil tersenyum simpul, tak ada yang tau ada
seorang yang tengah penasaran akan sikap kaget Dea barusan, orang yang terlalu
memandang Dea indah.
Dengan
langkah berat Alvin menghampiri Teman temannya, keringat bercucuran dari dahi
dan pelipisnya rambut yang tadinya ia sisir rapi mulai tak berbentuk sesuai
jalannya sisiran alvin, melainkan melambai lambai terkena angin namun itu tak
membuat pesona seorang Alvin berkurang, malah dengan rambut acak acakan begitu
ia terlihat lebih laki!
“udah
panas Vin?” tanya Debo melihat kearah Alvin
“udah”
jawab Alvin singkat lalu melempar bolanya kearah debo pelan, Debo dengan sigap
menangkap bola itu.
“pada
ngomongin apaan sih? Nyari minum yuk, gue lupa gak bawa isotonic” ucap Alvin lalu
memasukkan bola orange itu ke tas selempang khusus tas bola basket kemudian ia
keluar lapangan begitu saja.
Debo
Bagas Mario Raify dan Dea mengekor dibelakang Alvin, bukan bermaksud makmum
pada Alvin hanya saja saat ini keadaan air ditubuh mereka dirasa kurang makanya
dengan patuh mereka mengikuti saran alvin. Angin menerpa tubuh setiap orang
yang ada ditempat ini, angin semilir lembut cukup cepat mengeringkan keringat
yang keluar lewat pori pori kulit menjadikan kulit lebih fresh setelah
hilangnya keringat itu.
“keren!”
seru Dea dalam hati pandangannya lurus kearah orang didepannya, bibirnya
menyungingkan senyum terindah, bahkan Dea tak mendengar apa yang sedang
dibicarakan oleh orang disekelilingnya.
BRAAK!
Alvin
berhenti mendadak, menyebabkan suara tubrukan antara Alvin dan Dea, ini membuat
Dea sadar dari lamunannya, Alvin memandang Dea aneh, yang lain menertawakan
kejadian ini. Dea tampak gelagapan dan malu sedang Alvin tampak tak begitu
memperdulikan.
“sorry
vin” ucap Dea gugup, dea menutup wajahnya dengan kesepuluh jarinya
“santai
dey” jawab Alvin
“ciyee
kok gugup?” ucap Raify membuat Dea memelototinya
“warung
mbk rumi lagi rame, ke warung lain yuk” ajak Alvin lalu berjalan kearah kanan
Sampailah
mereka disebuah kedai kecil disana tersedia bermacam minuman dingin dan makanan
ringan. Raify memesan beberapa cemilan dan minuman yang cukup untuk semua
temannya, seperti biasa Dea mengambil tongsis nya dan menempelkan
handphonenya digagang tongkat yang biasa disebut Tongsis alias tongkat
narsis yang gunakan untuk berfoto foto ria, Debo Bagas Alvin dan Mario asik
mengabadikan momen bersama Dea.
“COPET!!!”
seru seorang gadis, posisinya tepat dibelakangi oleh Alvin dan kawan kawan saat
mengambil foto,
Sontak
dengan teriakan sekitar dua oktav itu membuat telinga yang menangkap bunyi itu
langsung menghentikan segala aktivitasnya dan mengalihkan perhatian mereka
keasal suara teriakan. Terlihat disana seorang gadis yang tengah beradegan
tarik menarik tas dengan dua lelaki dewasa yang berlengan kekar dan kumis yang
tumbuh lebat, berhasil dengan sekali tarikan bersama dari kedua lelaki itu, tas
slempang berwarna cokelat itu dapat
mereka rampas.
Dengan
kecepatan penuh, keduanya berlari melawati kerumunan orang, gadis remaja tadi
dengan beraninya mengejar kedua lelaki dengan semangat. Tak hanya gadis itu,
Alvin Mario Bagas Debo serentak ikut mengejar kedua lelaki itu, dengan semangat
mereka mengejar pencopet itu.
“copet
Fy, “ ucap Dea yang masih shok dengan kejadian ini
“ayo
kejar dey” ucap Raify lalu dengan kuat menarik lengan Dea
Copet,
copet, copet !
Teriakan
itu yang keluar dari mulut tujuh remaja yang tengah mengejar dua preman itu,
masih dalam pengejaran, mereka merasa ada yang janggal mengapa tak ada satu
wargapun yang membantu mereka menangkap pencopet itu, padahal sudah jelas
dengan adanya kerusuhan seperti ini orang orang tetap tak bergeming dari tempat
nya mereka hanya melihat sambil berbisik tak jelas.
Tapi
ketujuh remaja ini masih dengan semangat mengejar pencopet, pencopet masih
memimpin didepan gesit sekali gerakan mereka, kemudian menyusul gadis yang tadi
menjadi korban pencopetan, Alvin dan Mario sejajar dengan gadis itu tampa lelah
mereka mengejar. Alvin melirik gadis itu, wajah familiar yang ia temukan Alvin
cukup bingung dengan gadis ini walau sudah berlarian sekian jauhnya namun tak
ada kata keluhan yang keluar dari mulut gadis ini, dengan semangat ia terus
berlari bahkan sempat mendahului Alvin.
Di
urutan ketiga ada Debo dan Raify, lelah itu yang dirasa Raify saat itu,
langkahnya melambat hingga berhenti ditengah jalan wajah yang sedikit pucat dan
nafas yang terengah engah Raify berhenti dan memulihkan jalannya pernafasan.
“Fy,
kenapa?” tanya Debo yang ikuta berhenti untuk menemani Raify
“gak
papa deb Cuma kelelahan, lo kejar sana copetnya, kasian gadis tadi” ucap Raify
dengan suara yang tersenggal senggal,
“ya
gak mungkin lah Fy gue ninggalin lo sendirian” ucap Debo wajahnya berubah panic
“gak
papa deb, gue Cuma butuh istirahat sebentar”
Menyusul
Bagas dan Dea dengan gigih mereka ikut mengejar walaupun tak secepat Alvin dan
Mario tapi rasa empati mereka cukup besar pada korban pencopetan tadi.
“Ify,
lo kenapa?” tanya Dea berhenti ditempat ify beristirahat
“gak
papa dey, yuk lanjut lagi “ kata Raify sembari mulai berlari kecil, Debo mengikuti
dari samping
Dea
masih bergeming ditempat Raify tadi, ia asik mengetik dihandphonenya.
“ayo
deot!” panggil Bagas lalu dengan patuhnya Dea menuruti ucapan Bagas lalu
kembali berlari mengejar copet itu.
Kini
terbentang nyata didepan mereka jalan mulus namun berpenghalang gedung
menjulang tinggi, jalan buntu. Kedua pencopet itu tampak bingung dengan keadaan
seperti ini namun mereka masih bisa tersenyum lebar karena yang harus mereka
taklukkan hanyalah segerombolan anak SMA. Jika dilihat dari postur para remaja
ini tentulah tau siapa yang akan memenangkan semua ini. Dilihat dari sudut
pandang manapun tetap saja logika mengatakan pencopet itu akan menang.
“woy,
kembaliin tas gue!” ucap remaja perempuan yang menjadi korban pencurian dari
kedua pencopet itu.
“kalian
mau ini? Gue kasih kalian dua pilihan pilih bonyok atau pergi dengan baik baik
saja?” ucap lelaki berbadan kekar
rambutnya panjang dan ikal. Tato di badannya terlihat sangat tak bersahabat
bergambar tengkorak berwarna hitam, menyeramkan!
“gue
tetep mau tas gue!” ucap gadis remaja itu lalu dengan gesit menyerang lelaki
yang memegang tasnya.
Sangat
tak disangka, gadis berperawakan tinggi hitam manis rambutnya diikat satu, jika
dilihat dari postur tubuh, gadis ini tak memiliki postur kategori atlet
tubuhnya kurus namun tak terlalu kurus bisa dibilang ideal, cocok untuk model
atau pramugari dia juga terlihat manis walaupun pakaiannya mengisyaratkan dia
cewek ke cowok cowok an.
Melihat
keberanian gadis itu, Mario Alvin dan Debo ikut membantu, mereka menyerang
pencopet yang satu lagi perawakan pencopet yang hampir menyerupai teman yang
satunya, namun yang satu ini tak berambut panjang. Mario Alvin Debo cukup
kewalan menepis serangan demi serang yang dilayangkan pencopet ini, belum lagi
gadis itu yang bertarung sendirian. Begitu gesit sekali pergerakan gadis itu.
Bagas
Raify dan Dea baru sampai ditempat kejadian pertempuran, betapa tergejutnya
mereka melhat teman temannya sedang
bergulat dengan pencopet berbadan kekar itu.
“gas,
tolongin mereka dong” ucap Raify begitu panic , wajahnya tampak khawatir dengan
temannya.
Bagas
Nampak bingung kemana ia akan masuk, ke pihak gadis itu atau membantu ketiga
kawannya.
“BAGAS!
Cewek itu butuh bantuan” desak Raify, tak taukah dia Bagas sedang dilema memikirkan
hal hal tak penting.
Bagas
melihat kanan kiri mencari sesuatu yang bisa ia gunakan untuk melawan. Ia
melihat Dea sedang asik mengabadikan moment, Dea memfoto setiap gerakan
temannya yang sedang berkelahi mengadu kekuatan,
“Dea!
Kebiasaan!” ucap Bagas lalu merebut paksa tongsis yang dipakai Dea untuk
membantunya berfoto ria,
“BAGAS!
Kebiasaan suka ngerampas barang dea!” rajuk Dea kesal dengan Bagas!
“
TOLONG!”
“TOLONG”
Seru
Raify kencang, ia sudah mengeluarkan seluruh powernya namun tak ada yang datang menghampiri mereka.
“Dea,
teriak dong!” kata Raify masih dengan kepanikan
“percuma
Fy gak bakal ada yang bantuin kita” ucap Dea ia masih tetap asik dengan
kegiatannya memotret.
“gak
manusiawi lo ahh, minggir” kata Raify lalu mendorong Dea kasar karena kesal
dengan sikap Dea yang seakan acuh. Raify pergi menjauh untuk mencari bantuan,
tapi posisi mereka berada di gedung bekas pabrik besar yang sudah tak terpakai
lagi. Mustahil ada orang yang akan mendengar teriakan Raify.
Bagas
memutuskan membantu gadis itu, gadis yang gesit dan tangguh walau sudah tiga
kali tersungkur ke tanah tapi ia tetap bangun dan melawan. Entah ambisi apa
yang mendorongnya untuk melawan, apa isi tas itu sehingga ia berani menggantung
nyawa disini.
Tiba
tiba Bagas memukul kepala lelaki yang tengah berduel dengan gadis itu dengan tongsis
milik Dea, dan berhasil membuat lelaki itu berhenti sejenak dan mengelus
kepalanya, disitu gadis itu mulai melakukan serangan serangan dengan memukuli
wajah lelaki itu hingga darah segar keluar dari hidungnya. Bagas menganga atas
apa yang terjadi apalagi saat ia melihat siapa gadis yang memukuli lelaki itu.
Lelaki itu jatuh tersungkur tepat dibawah kaki Bagas, sedangkan Bagas tak
menyadari itu masih tak percaya pada gadis yang ada didepannya itu.
“Bagas
awas!” seru gadis itu namun terlambat lelaki itu langsung menarik kaki Bagas
membuat bagas terjatuh dan segera pencopet itu meninju pipi mulus Bagas.
“Aaaaa!”
teriak Bagas, namun gadis itu tak berdiam diri melihat bagas dipukuli, ia ambil
tongsis itu lalu dengan kekuatan penuh memukuli pencopet itu hingga
posisi mereka terbalik, Bagas berada diatas dan pencopet itu terbengkalai
kesakitan. Tampa ampun memukuli wajah lelaki itu
“rasakan!
Rasakan! Sakit pipi gue begok!” kata Bagas dengan semangatnya memukuli pencopet
itu.
Sementara
Alvin Debo Mario , mereka juga jatuh bangun melawan pencopet itu, bahkan darah
segar keluar disudut bibir Alvin dan Debo karena terkena pukulan keras dari
lengan kekar pencopet itu. Namun tetap saja satu lidi tidak lebih baik dari
tiga lidi. Mereka bertiga sadar kekuatan mereka kalah jauh dari pencopet itu namun
dengan cerdiknya mereka mampu mengalahkan pencopet itu yaitu dengan cara
mencari kelemahan si pencopet seperti menjambak rambut, mengunci pergelangan
tangan menarik kaki supaya pencopet itu tumbang dan saat itu terjadi barulah
Alvin Mario Debo bisa melakukan serangan balik dan berhasil mengalahkan
pencopet itu.
Kedua
pencopet itu kini tergeletak tak berdaya ditangan remaja yang mereka anggapp
bukan tandingannya itu. Para remaja ini kini dapat bernafas lega dan tas milik
gadis yang ternyata teman sekelas Bagas dan Dea itu sudah dapat merebut tas
miliknya lagi. Ya gadis yang pemberani itu adalah Deviara Cindai teman sekelas
Bagas dan Dea.
“gas!
Makasih banyak yaa gas! Gue gak tau deh kalo gak ada lo sama temen temen lo!”
ucap Cindai dengan segenap rasa terimakasihnya
“sama
sama, aku udah baik sama kamu Devi tapi
kamu sering jahat ke aku!” ucap Bagas bibirnya mengkerucut layaknya anak kecil
yang sedang ngembek pada mamanya.
“apaan
sih jelek! Tapi makasih banget gas, guys, kalian hero banget, kalo gak mau gue
ledekin ya jangan lembek lah gas! Satu lagi gue Cindai bukan Devi atau Deviara!
” ucap Cindai tegas
“lembek?
Aku ngelawan pencopet itu kamu bilang lembek? Terlalu! Jangan sebut Cindai lah
jadi keinget mantan!ckck ” kata Bagas mulai mendramalisir keadaan, ini yang
tidak disuka Cindai dari seorang Bagas, terlalu berlebihan dan lembek untuk
ukuran lelaki
“iya
iya deh, Bagas hebat aduh tayang tayang tayang” ucap Cindai meledek Bagas
dengan berekspresi gemes layaknya menghadapi bayi mungil yang menggemaskan.
Tapi di dalam hatinya Cindai mulai terbuka bahwa Bagas tak selemah yang ia
bayangkan selama ini.
“keinget
mantan??” tanya Chindai yang menyadari kalimat terakhir Bagas
“Cindai!
Udah ah abaikan” seru Bagas lalu memalingkan wajahnya dari Cindai
Tingkah
Bagas ini mengundang tawa teman temannya.
“Laki
dong!” ledek Debo sambil memukul pundak Bagas.
Tiba
tiba datang segerombolan lelaki berbadan kekar sama dengan dua pencopet tadi,
mereka membawa kayu besar wajah mereka tampak geram apa mungkin mereka datang
untuk membalas dendam? Apa kah kedua copet tadi menghubungi teman mereka? Ini
gawat!!.
“siapa
mereka?” tanya Alvin, perasaannya mulai tak nyaman
“MAMPUS
KALIAN!” Teriak salah satu copet yang masih tergeletak lemah itu.
Para
remaja ini mulai ketakutan, setegar tegarnya Cindai hatinya mencelos juga saat
melihat tujuh lelaki berbadan besar mulai menghampiri mereka. Keberanian Alvin
yang tak pernah surutpun mulai mengendur saat melihat kedatangan para komplotan
pencuri ini. Apalagi mental seorang Debo dan Bagas? Sudah jelas jelas lemas tak
berdaya.
Dan
yang lebih mengejutkan lagi, salah satu dari mereka menyeret Raify dengan
paksa. Melihat itu semua jelas sudah kekalahan remaja ini entah apa yang akan
terjadi pada mereka? Keringat dingin dan jantung yang berdetak lebih keras itu
yang dirasakan ketujuh remaja tangguh ini.
Dea
sibuk dengan handphonenya. “papah, please cepat!” tampak Dea tengah mengirim
voice note pada seseorang yang ia sebut papa.
“IFY!”
seru Dea, ia hendak melangkah mendekati sahabat tersayangnya itu tapi Alvin
melarangnya.
“jangan,
bahaya dey!” seru Mario
Tampak
disana Raify tengah menangis terseduh sedu wajahnya tampak ketakutan dan
terlihat darah segar keluar disudut bibir selebelah kanan dan pipi kanan yang
kemerahan dari biasanya. Dea menangis sejadi jadinya melihat keadaan
sahabatnya.
“apa
mau kalian? Kita gak salah!” teriak Dea, tak disangka Dea mulai berucap
bukankah dia yang sedari tadi ketakutan dan memilih melanjutkan hobinya
memotret apa saja yang menjadi objeknya. Mungkin inilah arti sesungguhnya
tentang persahabatan.
“Kalian
sudah mengganggu teman kita! Kalian harus dapat balasan yang lebih parah!!”
seru seorang yang menyeret Raify.
“mereka
yang mencopet kita, mereka yang salah! “ jawab Dea sejujurnya
“sudahlah
Dey, mereka pasti membela temannya walaupun kita yang benar, mereka kesini
untuk balas dendam!” ucap Alvin.
Dengan
sekali dorongan, badan mungil Raify terjatuh ditanah kemudian dengan keras
salah satu dari mereka menjambak keras rambut Raify. Dan itu membuat Dea
menjerit keras, dan tak terhalang lagi ia memberontak menghampiri ketujuh
preman itu, ia menghampiri Raify dan memeluknya erat. Kini ketujuh preman itu
tertawa lebar melihat penderitaan orang itu.
“Ify!
“ ucap Dea memeluk Raify dalam tangisan.
Dengan
kasar salah satu dari preman itu memisahkan Raify dan Dea. Dea mencoba melawan
namun apalah arti perlawanan Dea untuk seorang lelaki berbadan kekar? Bagai
semut dengan gajah tak selevel tak sebanding.
Dengan
sekali pelintiran, lengan dengan serasa remuk benar benar kasar. Kini Dea tak
berdaya lagi ia menangisi tangannya yang mungkin saja patah.
Mario
Alvin dan Debo maju mendekati mereka, walaupun nyali sudah tak tersisa namun
atas nama pertemanan mereka melangkah. Cindai yang selama hidupnya tak mengenal
air mata kini menitihkan air mata haru dan kesedihan atas kejadian ini.
“papaaa!
Sakit!” ritih Dea tak terbayangkan seperti apa kini kondisi pergelangan tangan
kiri Dea.
DOR
DOR DOR !
Suara
tembakan menggema di udara kemudian muncul banyak polisi mengepung keberadaan
mereka. Para polisi itu mulai bekerja, membekuk para komplotan pencuri itu
dengan mudahnya, tak ada pilihan lain untuk para komplotan, jika mereka melawan
pasti sebuah peluru akan menembus kaki mereka. Mereka diamankan dan dibawa ke
kantor polisi saat itu juga dan tentu saja sebelum itu tangan mereka diborgol
terlebih dahulu.
Seorang
polisi berkumis tipis menghampiri Dea gadis yang sedari tadi tak kuasa menahan
rasa sakit pada tangannya. Polisi itu memeluk Dea erat, polisi itu adalah ayah
Dea, melihat puteri nya kesakitan begini orang tua mana yang tak merasa hancur
hatinya?
“maafkan
papa telat nak!” ucap ayah Dea, lalu memapah Dea ke dalam mobil dinasnya.
Cindai memapah Raify, mereka semua ikut papa Dea ke rumah sakit.
“maafkan
aku kawan, ini semua kesalahanku” lirih Cindai kembali ia menithkan air mata.
Hatinya
tak bisa membayangkan rasa sakit ditangan Dea yang patah perihnya sudut bibir
Alvin Debo dan Raify serta sakitnya Mario apalagi Bagas yang selalu ia anggap
lemah, bahkan ia tak menyangka Bagas berani menyerang pencopet itu untuk
membantunya. Ia menyesali semua ini, mengapa teman temannya harus menanggung
kesakitan juga.
SILAHKAN
KEMBALI KE CATATAN AWAL ASLI UNTUK ADEGAN SELANJUTNYA ,
***
Pagi
yang indah sang surya mengimbangi sejuknya embun pagi dengan sinar yang sedikit
demi sedikit menyeruak dan menghangatkan bumi pertiwi. Saat ini musim penghujan
matahari yang cerah tak mampu mendominasi suasana dingin namun suhu dingin itu
yang terasa lebih menyelimuti tubuh.
Gerakan
indah saat memainkan bola keras berwarna orange itu seakan menghipnotis tiap
pasang mata yang melewati lapangan berukuran panjang 28,5 meter dan lebar 15
meter , ya. Itu adalah lapangan basket ukuran international sudah distandartkan
disekolah ini SMA Garuda Sakti. Pada lapangan itu tampak seorang gadis tengah
memainkan bola orange itu ia tampak tak bersemangat namun permainannya tetap
sama indahnya saat ia sedang bersemangat dan tak ada masalah mungkin karena
tuntutan hobi dan kebiasaan.
Cindai,
gadis itu mencoba mengshoot bola ke ring dalam satu loncatan dan
dorongan lengan bola itu melambung dan tepat masuk di lubang ring.
Cindai menghentikan permainannya saat empat lelaki mendekatinya, itu Alvin
Mario Debo dan Bagas. Cindai tampak lesu ia rasa malu bertemu dengan ke empat
teman barunya itu, bukan baru berkenalan tapi baru dekat dan tiba tiba sudah
diberikan masalah yang cukup membuat Cindai frustasi. Kejadian yang tidak
disengaja terjadi kemudian menuai korban dan Cindai rasa itu adalah karena dia.
Semua gara gara Cindai.
Bagas
merebut bola orange itu lalu memantulkannya sembarang, kemudian ia menatap
Cindai diwajahnya penuh tanda tanya yang besar. Selama seminggu ini Cindai
seakan menghindar dari Bagas dan kawan kawannya, bahkan Bagas yang teman
sekelasnya pun Cindai anggap tak ada, Cindai berubah tak lagi bertegur sapa
dengan Bagas, Cindai yang biasanya suka meledeki Bagas dengan sebutan kemayu
pun kini tak lagi terlontar dari mulut Cindai setelah kejadian sakti seminggu
yang lalu.
Melihat
kedatangan mereka Cindai berinisiatif untuk keluar lapangan sungguh ia tak mau
berurusan lagi dengan Bagas dan kawannya karena alasan yang tak masuk akal
bahwa Cindai tak mau berhutang pertolongan pada orang orang yang suka
menolongnya. Karena Cindai rasa ia takkan bisa membalas budi mereka.
“kenapa
Cindai sekarang berubah?” ucap Bagas mampu menggagalkan aksi kabur Cindai
“kenapa
Ndai? Ada masalah apa dengan kita?” ucap Mario
“gue
rasa dengan kejadian itu akan membuat kita akrab, mengapa sebaliknya?” kata
Alvin yang ikut merasakan keanehan sikap Cindai yang biasanya menyapanya saat
mereka bertemu dijalan atau dimanapun.
“jawab
Ndai!” desak Bagas ia mendekat kearah Cindai
Cindai
diam, pandangan ke empat lelaki ini tertuju pada Cindai seakan menuntut Cindai
untuk segera menjawab pertanyaan mereka. Siswa siswi mulai banyak yang berlalu
lalang melewati lapangan yang menjadi sentral sekolah.
“gue
gak tau caranya membalas kebaikan kalian ke gue! Gue juga gak tau cara menebus kesalah gue sama Dea yang
sudah seminggu gak masuk karena tangannya gak bisa digerakkan! Gue gak bisa
ngasih apa apa buat kalian, gue tau kalian orang baik tapi walaupun begitu
sudah sepantasnya gue memberikan timbal balik untuk kalian, gue gak bisa dan
gue gak punya itu!” jawab Cindai datar matanya mendadak sayu, mata yang
biasanya tajam dan memancarkan keceriaan itu kini tengah berubah.
“jadi
menurut lo kita ingin balasan atas apa yang kita lakukann buat lo seminggu yang
lalu? Ckck pemikiran salah! Kita bukan bodyguard bayaran, kita menolong karena
waktu itu lo emang butuh pertolongan, kita manusiawi!” ujar Debo menanggapi
jawaban Cindai yang ia rasa salah menilai dirinya dan teman temannya
“kamu
salah nilai kita Ndai, kita sama sekali gak mengharapkan apapun dari kamu, kita
hanya ingin berteman saja, kalo kamu ingin membalas kita cukup dengan menjadi
Cindai yang seperti biasanya kita udah seneng kok” ujar Bagas kali ini dia
serius dan benar
“kayak
biasanya gas? Emangnya lo mau tiap hari gue ejek kemayu gak punya nyali cowok
setengah mateng? Lo mau? Kayaknya gue Cuma bikin kalian kesal, karena dari awal
kita memang gak pernah akrab, gue cuma kenal sama Bagas dan Dea”
“bukankah
kita sudah saling kenal? Lo gak mau berteman sama kita hanya karena hal itu?
Seharusnya kalo bener bener ingin membalas kita lo bersikap baik pada kita
bukan sebaliknya seakan akan lo gak tau terimakasih!” ucap Mario diantara ke
ketiga sahabatnya ini Mario memang yang paling sering frontal dalam berbicara.
Mendengar
itu Cindai mengkerutkan dahinya merasa tersinggung dengan ucapan Mario.
“gue
emang gak tau terimakasih, gue emang pengecut gue emang jelek dimata kalian,
karena gue gak bisa ngobatin luka yang kalian dapat gue gak bisa ngebiayain
pengobatan Dea gue gak bisa menebus rasa sakit kalian, gue gak punya apa apa
untuk menebus itu” kata Cindai mulai berkaca kaca
“sekarang
urusan materi? Dea, gak mungkin minta obat ke elo lah malu kali sama pangkat
ayahnya jendral polisi” kata Mario
“Ndai,
jangan aneh aneh deh, kita gak ngarep apa apa. Kamu kembali kayak semula itu
udah cukup” Bagas
Cindai
menunduk, benarkah ucapan mereka? Baru kali ini Cindai menemukan seorang yang
iklas menolongnya sampai mereka rela terluka padahal hanya sesekali mereka
berbincang , tak akrab bukan sahabat sejati. Tapi ini yang membuat Cindai
merasakan a true friend ever .
Datang
Raify masih menggendong tas nya, ia mendekati sekolompok siswa yang tengah
berada dilapangan. Dengan senyum mengembang yang selalu ia pamerkan pada setiap
orang nampaklah Raify gadis periang itu.
“hai
teman teman, haii Ndai” sapa Raify masih dengan senyum itu senyum yang Debo
sebut senyum Princess in wonderland senyum yang menawan untuknya.
“seneng
banget lo Fy, ada apa?” tanya Debo
“gue
ada kabar bahagia buat kalian” kata Raify masih dengan senyumnya
“apa?
Lo dapat nilai seratus lagi?” tebak Mario
“bukan,
kabar baiknya Dea udah sembuh sekarang abis pulang sekolah jenguk Dea yuk?”
kata Raify mengundang raut wajah bahagia dari temannya.
“akhirnya
Dea sembuh juga! Kapan dia bisa masuk?”
“besok
udah masuk kok!” kata Raify sama seperti yang dikatakan Dea bahwa Dea akan
masuk besok.
“Ify,
salamin ke Dea ya, bilang juga ke Dea gue minta maaf, gara gara gue Dea rawat
inap seminggu “ ucap Cindai penuh sesal
“Cindai
apaan sih, kita tuh sahabat gak usah gak enak gak enak gitu lah” kata Raify
“gak
ada yang nyalahin elo Ndai, jadi gak usah merasa bersalah. Kalopun ada
pertanyaan siapa yang salah? Jawabannya adalah kita, karena kita sok pahlawan
dan sok berani, jadinya ya gitu kalo anak SMA ngelawan preman, gede lagi
badannya, kita mah apa? Cuma lepehan kapas” ucap Debo dengan santainya, Ucapan
Debo terkadang bijak namun diakhir kalimat ada saja ucapan yang menghilangkan
kata bijak itu.
***
Tik
tok tik tok bunyi jam dinding yang bergerak melingkar jam itu menunjuk angka
tiga. Namun jarum penunjuk menit masih berada diangka Sembilan, butuh lima
belas menit lagi untuk mengakhiri pelajaran hari ini. Guru tetap menerangkan
pelajaran murid murid mau tidak mau harus mendengarkan guru menjelaskan. Beda
dengan remaja yang satu ini dia khusuk memandangi jam dinding dalam hati nya
berkata kapan jarum menit itu menunjuk angka 12? Dia sudah tak tahan ingin
cepat cepat mengakhiri pelajaran.
“Yo,
ngapain lo mandangin jam mulu? Ketauan pak Muklis baru tau rasa lo” kata Alvin
mencoba mengalihkan perhatian Mario.
“lama
amat jam tiga vin” jawab Mario dengan berbisik tentu saja karena ini masih
dalam proses pembelajaran.
“emangnya
lo Buru buru ngapain Yo?”
“kerumah
Dea lah vin! Pake nanya lagi lo”
KRIING
KRIING !
Suara
bell tanda berakhirnya pelajaran pun berdering, murid murid ini bersorai
gembira menunggu sang guru mengucap salam dan keluar terlebih dahulu dari kelas
atau menyuruh muridnya keluar duluan. Serta merta Mario bangkit dari duduknya
lalu keluar berjaan menuju pintu keluar.
“Mario!
Mau kemana kamu?” tanya pak Muklis mencegah langkah Mario
Mario
tersadar lalu kembali ketempatnya
“eh,
maaf pak, saya kira bapak sudah keluar” kata Mario sambil membungkuk bungkukkan
badan tanda hormat.
“tidak
sopan kamu, jangan ulangi lagi Mario” titah pak muklis
“yasudah
anak anak, silahkan kalian keluar terlebih dahulu” ucap pak Muklis kemudian
“dari
tadi kek pak!” batin Mario lalu dengan semangat keluar dari kelas.
“kayak
gitu tuh kalo udah jatuh cinta tuh, temennya gak diinget” sungut Alvin atas
sikap Mario yang seakan lupa diri.
***
Rumah
megah dengan arsitektur ala eropa pilar pilar yang menjulang tinggi pintupun
tak sama dengan pintu yang digunakan orang Indonesia, yang ini lebih berkelas.
Rumah ini memiliki dua lantai, pagar besar nan kokoh menghalangi pemandangan
indah dihalaman rumah ini. Disudut taman ada kolam kecil berisikan air mancur
dan ikan berwarna warni tempat duduk tepat dibawah pohon rindang, hampir
menyerupai taman komplek. Ke enam remaja ini tengah terpesona dengan apa yang
mereka lihat serasa tengah berada dihalaman rumah bangsawan eropa. Indah
sungguh indah.
“ini
rumah Dea Fy?” tanya Debo masih tak percaya bahkan ia meneguk ludah tak
percaya.
“yaialah,
masak gue mau bawa kalian kerumahnya pak raffy”
ucap Raify santai, karena tempat ini yang setiap hari ia kunjungi
“gila,
ini rumah apa istananya ratu jodha Fy” ucap Debo lagi, pikirannya mulai
menjalar, mengingat ke mewahan rumah ini.
“biasa
aja kale Deb! Norak banget kamu, rumah gue juga segede ini kan” kata Bagas
dengan jengkelnya melihat tingkah Debo
“yaudah
yuk masuk, gue udah gak sabar pengen liat dalemnya” kata Debo
“jenguk
Dea, bukan rumahnya keles” kata Mario
Raify
membimbing mereka masuk ke dalam rumah megah itu
****
S
T
O
P
Gimana?
Gak jelas yah, sebenernya mau langsung tamat tapi kelamaan di laptop takut basi
entar(?) jadi dikeluarin aja kali yah.. hahah
Syudahlah,
silahkan komen about alurnya atau tulisannya(?) yang jelas banyak banget typos
udah gak usah bahas lagi tuh typos karena gue bukan ahli ketik, gue Cuma
mahasiswa biasa(?) wkwk
Ngegantung
yah? Sorry sengaja nanti sambung lagi okey………… #kiss
Penulis
: Yuyun Shoviana ( Yuvinaz ) <3
Twitter Line Instagram : @YuyunShovia
NB
: sangat diharapkan kritik dan saran serta komen tentang jalannya(?) cerita…
biar authornya seneng gitu kan,, hehe
Komentar
Posting Komentar