2015 (TRUE FRIEND) NEW CERPEN ICIL 1-2013


2015 (True Friend)


Tokoh :
1.      Alvin  Aldiansyah
2.      Mario  Alam Syahputra
3.      Debo  Arianto
4.      Bagas  Ahmad Al Fatih
5.      Raify  Salsabila
6.      Amandea  Graceva
7.      Deviara  Cindai

Sahabat? Bagaimana definisi sahabat sebenarnya, sederhananya sahabat adalah teman berbagi teman yang selalu berkata Iya saat dibutuhkan. Sahabat, ia tahu kekurangan kita tapi ia tampakkan kelebihan kita, ia tahu apa yang tidak kita suka dan ia suguhkan apa yang kita suka. Indahnya persahabatan takkan bisa ditukar dengan berkeping emas berlian. Dari dulu sampai sekarang 2015 definisi sahabat tetap sama tak kan berubah, bukan hanya defisinya tapi hati seorang sahabatpun takkan pernah berubah, akan selalu saling menyayangi dan mendukung.

Lapangan yang cukup luas, penempatannya juga strategis, pada kanan kiri lapangan terdapat taman bermain untuk anak anak dan remaja karena property yang ada dibuat lebih besar cocok pula untuk remaja siapa tahu juga ingin bermain perosotan ayunan jungkat jungkit dan lain lain karena saat ini sedang nge-trend yang namanya MKKB alias Masa Kecil Kurang Bahagia mungkin pada jaman nya belum ada yang namanya perosotan yang ada hanya gundu dan kelereng saja.

Dilapangan ini terdapat empat lelaki dengan gesture tubuh hampir sama tinggi dan sama gendutnya, mereka sedang memainkan bola orange yang dipantul pantulkan sesekali dilempar ke ring , yap itu permainan bola basket. Mereka bermain dua lawan dua dipinggir lapangan banyak orang orang yang hanya sekedar duduk berteduh ada pula yang menonton aktivitas ke empat lelaki itu, bermain basket disore hari begini sudah menjadi rutinitas mereka.

“woy, lempar ke aku dong deb!” seru lelaki yang memiliki warna kulit paling cerah diantara mereka.

“ya kejar lah gas, minta minta mulu” jawab lelaki yang mengenakan kaos berwarna hijau, namanya Debo Arianto temannya memanggil dia Dedeb sedangkan keluarganya menyebutnya Debo, memang kebiasaan dalam berteman yaitu suka memelesetkan nama asli konon merubah nama teman adalah symbol keakraban.

“hizz” keluh lelaki bernama Bagas itu lalu dengan semangat mencoba merebut bola orange yang ada ditangan Debo, ke empat lelaki ini berkumpul dekat ring bermaksud menghalangi Debo yang hendak meng-shoot bola ke ring.

Dalam permainan ini Bagas dan Debo adalah satu tim karena dalam posisi diapit oleh dua lawannya Debo bermaksud mengoper bola ke Bagas, mungkin karena kurang konsentrasi bola itu tak tertangkap apik ditangan Bagas melainkan meleset dan mengenai dahi Bagas, cukup keras bunyi yang dihasilkan mungkin karena benda padat bertemu dengan benda padat pula, Bagas langsung jatuh terkapar dilapangan, ia memegangi dahinya yang mulai memerah keunguan wajahnya berubah sayu dan sedih.

“yampun gas, gimana sih gitu aja gak bisa nangkep” kata Debo ia tak tahu derita Bagas
“auu, sakit banget deb, kalo ada dendam ngomong aja deb jangan main belakang” rintih Bagas

Debo hanya tertawa pelan melihat Bagas kesakitan begitu, kedua lelaki yang tadi menjadi lawan Debo dan Bagas juga menghampiri Bagas.

“sakit gas?” tanya lelaki hitam manis, namanya Mario dan yang satu lagi lelaki berkulit putih bersih bermata sipit seperti keturunan tionghoa ia bermana Alvin,
“ya kali digaplok basket gak sakit” jawab Bagas sinis
“lo kekencengan lemparnya deb” ucap Alvin ia melihat luka memar didahi Bagas
“laporin mama lo aja gas biar si Dedeb dijadiin perkedel kesukaan lo” kata Mario memanas manasi
“haha, ya sorry gas, gue kan maksudnya ngasih tapi malah meleset, lo juga tuh kurang tanggap” kata Debo santai ia menyalahkan Bagas
“tuh kan, masih nyalahin orang tak berdaya begini? Kalo aku geger otak gimana?” kata Bagas khayalannya cukup berlebihan.
“tukang hayal lo” kata debo sembari memukul kaki Bagas
“udah udah, pulang aja yuk biar Bagas bisa istirahat” ucap Alvin, yang lain hanya mengangguk, kemudian Alvin dan Debo memapah Bagas karena Bagas mengeluh pusing.

Empat sekawan ini mulai dekat sejak mereka sama sama duduk dibangku sekolah dasar, mulai dari SD SMP sampai sekarang SMA mereka selalu satu sekolah itu membuat mereka semakin akrab dan tak terpisahkan, mereka kompak mereka ramai mereka layaknya saudara sedarah.

***

Hari senin hari sakral setelah hari jumat karena dihari ini diadakan upacara bendera kegiatan yang banyak dibenci oleh para murid karena mereka harus berdiri selama satu jam dan panas panasan, mereka selalu mengeluh saat upacara bukan karena mereka tak mengerti sejarah bukan juga tak mau menghormati perjuangan para pahlawan tapi nafsu dan keadaan yang membuat mereka tak nyaman dengan adanya upacara bendera.

Seorang lelaki melirik jam tangan yang menempel apik dipergelangan tangan kanannya, “lima menit lagi upacara dimulai” ucap lelaki itu, dia Debo berujar pada ketiga sahabatnya.
“Males banget ikut upacara, bisa ditunda aja gak sih upacara ini, setahun satu kali upacara, ini malah seminggu sekali, kan gosong” dumel Bagas seakan anti dengan yang namanya upacara.
“gimana mau maju Indonesia kalo remajanya macam ini” cerca Mario dengan sinisnya
“kabur yuk, gak usah ikutan upacara?” cetus Debo dengan bersemangat , Bagas langsung mengiyakan ajakan Debo karena ini menyelamatkan kulitnya dari sengatan matahari.
“boleh juga tuh” kata Mario, ketiganya nyengir tak karuan
“gimana vin?” tanya Mario pada Alvin. Alvin diam pandangannya seolah menerawang masa depan.
 “yuk! Segera” kata Alvin langsung menarik lengan Bagas dengan kencangnya. Keempat lelaki bersahabat ini berjalan menyusuri lekuk sekolah mencari tempat persembunyian yang pas.

Langkah mereka menuju tempat berukuran besar didalamnya terdapat bilik bilik dan kaca berukuran besar ,  kamar mandi! Mereka memasuki toilet sekolah khusus gentlemen.
 “disini aman gak sih? Setau aku Ozy Cakka Gabriel ketahuan pas ngumpet disini dan mereka berakhir dilapangan dipermalukan dijadikan tontonan seluruh murid dan guru saat upacara berikutnya” kata Bagas waswas
“yang bener lo gas ? wah bahaya ini masak orang ganteng dipermalukan didepan umum? Kan gak etis” ucap Mario ia jadi ikutan was was
“kemana lagi yah? “ kata Debo

Alvin segera keluar dari kamar mandi, kemudian diikuti para sahabatnya ini. Mereka seakan menjadikan Alvin sebagai pemimpin mereka namun tak pernah ada penobatan itu. Factor kebiasaan Alvin yang selalu bisa memimpin dan yang serius dalam bertindak tak seperti yang lain terlalu banyak bergurau.
 “mau kemana kita vin?” tanya Debo
“udah ikut ajah” jawab Alvin, SMA Garuda Sakti memang luas hampir sama dengan kampus yang dituntut menampung banyak mahasiswa, bangunan yang kokoh dan menjulang tinggi sampai tiga lantai dan beberapa prestasi yang didapat sekolah ini membuat nama SMA Garuda Sakti diatas awan dan dinobatkan sebagai sekolah favorite pada tahun 2000 silam.

KRRIINGGG  !
Bell tanda upacara akan dimulainya upacara sudah berdering, keempat lelaki ini mulai melebarkan langkah menerobos kerumunan siswa yang hendak menuju kelapangan upacara,
“mau kemana sih kita Vin” tanya debo disela sela langkahnya
“tau vin, mau sembunyi dimana sih kita nyet?” kata Mario dengan jengkelnya karena sudah lima menit belum juga menemukan tempat yang pas.

Dan sampailah mereka ditempat yang benar benar sepi gudang yang terletak dibagian belakang sekolah elit ini, gudang yang Nampak tak terawat, bagian luarnya saja banyak jaring jaring halus yang dibuat oleh laba laba untuk tempat tinggalnya, daun kering berjatuhan dan tak ada yang membersihkannya, memang tempat terabaikan. Pohon beringin menjadi teman bangunan ini, akar gantung yang disuguhkan pohon ini terlihat mistis ditambah lagi tempat ini kotor tak terawat.

“gue baru tahu ada bangunan kayak beginian di sekolah elit macam ini” ucap Debo tak percaya dengan keadaan gudang ini.
“horror banget ya, aku kok jadi merinding yah?” kata Bagas, ia memang penakut dalam segala hal.
“ lo emang gila vin, tau dari mana tempat beginian? Gue yakin kita aman disini, ayo masuk” ajak Mario kemudian memimpin memasuki gudang yang tak terkunci itu. Saat pintu dibuka debu debu berterbangan sangat mengganggu pernafasan mereka sampai sampai mereka dibuat batuk batuk dan mengucek mata karena kemasukan debu.
“gila tempat apaan nih, udah serem kotor gak ada tempat lain vin?” tanya Bagas ia mulai tak tahan dengan keadaan seperti ini
“wah… gilak ngapain aja ya pak klining service disekolah ini? Debunya ampek tebel sejari begini? Makan gaji buta tuh” kata Mario sinis karena keadaan ini tidak mencerminkan kata Elit yang disandang sekolah ini.

“temen temen gak usah banyak ngomong takutnya ada guru piket yang memergoki kita disini, bisa end kita kalo sampek ketahuan!” kata Alvin memperingati. Mereka duduk lesehan didalam gudang itu, mereka dapati berbagai macam kursi papan tulis guci dan segala perabotan sekolah yang sudah tak terpakai tak jarang ditemui benda benda yang sudah benar benar hancur.

“AAAAA!” teriak Bagas dengan nyaringnya namun beruntung Alvin langsung membekap mulut lemes Bagas,
“apa apaan sih lo mak” tanya Mario dengan mata sinis
“lo mau kita berakhir dilapangan? “ tambah Debo sambil menoyor kepala Bagas sedikit kasar
Bagas berusaha membuka bekapan tangan Alvin dimulutnya, setelah berhasil barulah bagas bisa bernafas lega,
“ngomong pelan pelan aja gas” kata Alvin datar sebenarnya ia gregetan pada Bagas yang tak bisa menahan sesuatu supaya lebih sederhana.

“U, u, Ular!” kata bagas pelan, wajahnya panic melihat kearah depan dekat pintu keluar, mendengar pernyataan Bagas barusan berhasil merubah wajah yang tadinya kesal pada Bagas menjadi panic dan prihatin.

Mereka melihat kearah tangan bagas menunjuk letak Ular itu, benar saja ada seekor ular tengah melingkar dibawah bangku dekat pintu masuk.
“gilak ularnya panjang men” kata Debo ia mulai mencari cari kayu atau apa saja yang bisa ia jadikan senjata untuk melawan ular itu.
Sedangkan Mario sudah menemukan sebuah balok patahan dari salah satu kaki kursi kayu, “kalian mau ngapain?” tanya Alvin pada Debo dan Mario yang tengah memegang bongkahan kayu siap menggempur ular itu.
“ya kita bunuh tuh ular lah Vin” jawab Debo mulai mendekati ular itu,
“deb, jangan! Ular itu tidur, kita jangan sampai memukul apapun atau siapapun yang tidak mengganggu kita atau teman kita, “ kata Alvin
“ini kesempatan kita vin, kalo dia bangun dia pasti menyerang kita, itu pasti vin… “ kata Mario
“jangan, kita diam saja jangan sampai ular itu bangun, kalo kita sampek membunuh ular itu, aku yakin gerak kita takkan rapih dan akan menimbulkan suara keras, dan pasti kita akan ketahuan!” kata Alvin. Debo dan Mario bisa menerima argument Alvin, mereka urungkan niat membunuh ular itu, mereka letakkan kembali kayu besar yang mereka temukan,

“mama mama mama mama mama” ucap Bagas sedari tadi
“ngapain lo manggil emak lo gas” kata Mario sambil geleng geleng kepala melihat tingkah bagas
“heh kata mama kalo aku lagi butuh boleh panggil mama biar tenang” jawab Bagas polos
“buset dah, emangnya kalo disebut begitu emak lo bakal dateng bawa susu bendera?” kata Mario meremehkan Bagas, padahal ia belum tau filsofi mengapa Bagas menyebut nama itu, nama yang istimewa.

KREEKK!
Suara sepatu Debo menghentak begitu saja ke lantai yang kumuh itu, menimbulkan suara sedikit nyaring dan menerbangkan debu debu yang lama bersemedi menempeli lantai itu. “ada apa?” tanya Alvin “abis nginjek kecoa, gak masalah kan?” jawab Debo sambil tersenyum tak jelas , Alvin hanya diam memandang Debo aneh.
30 menit kemudian
“sampek kapan kita disini Vin? Aku takut ularnya bangun terus ngegigit kita terus kita pingsan dan gak ada yang nemuin kita disini” kata Bagas khayalanya mulai bermain lagi
“apaan sih lo, nih ular!” kata Mario sambil melempari bagas serpihan kayu
Mario Alvin dan Debo tertawa pelan melihat kelakuan Bagas.
“hizz, gak lucu banget Mario !” kata Bagas

ini dia persahabatan, mencari pengalaman, tertawa, sedih, susah terlewatkan bersama, semoga abadi persahabatan kita kawan” Rintih Alvin dalam hati

“masih jam setengah delapan, jadi kita disini setengah jam lagi baru kita bisa bebas” kata Alvin kemudian.

Banyak gangguan untuk mereka mulai dari semut yang berkeliaran kecoa yang mengintip dibalik tumpukan bangku jaring laba laba dimana mana nyamuk yang menusuk kulit menjadikan mereka santapan empuk dipagi hari, dan debu yang siap menggempur jika disentuh, serta ancaman serius dari ular yang tengah tidur.
“kalo kayak gini caranya aku gak mau bolos upacara lagi, banyakan ruginya dari pada untung, banyak ancaman yang mengintai kita” dumel Bagas wajahnya sangat tidak enak jika sedang kesal.

30 menit kemudiaan terdengar suara bell tanda selesainya upacara dan akan dimulai pelajaran pertama, keempat lelaki ini bersorak gembira dan dengan hati hati membuka pintu keluar supaya ular itu tak bangun dan mengejar mereka.

Berhasil , mereka berhasil bebas dari upacara dan selamat dari ular didalam gedung. Mereka berjalan menuju kelas masing masing, Bagas menuju kelas XI IPS 1 sedangkan Alvin Mario dan Debo berjalan ketempat yang sama yaitu XI IPA 1.

Terkadang sesuatu yang kita anggap baik didepan belum tentu saat dilakukan semua berjalan sesuai rencana dan sama seperti apa yang dibayangkan. Karena kita tak tahu isi masa depan maka ikutilah aturan yang ada, aturan sekolah aturan bermasyarakat dan aturan dari tuhan pemilik hati setiap makhluknya.

***

Kukkuruyuuukk……. !
Begitu suara ayam berkokok dipagi hari pertanda hari baru telah datang, selalu saja ayam paling awal bangun dibandingkan dengan manusianya, benar saja jika ada peribahasa jangan sampai rezeki kita dipatok ayam, belajarlah akan perilaku ayam yang selalu bangun dipagi buta dan bersemangat mengawali hari itu dengan berkokok sangat nyaring.

Dikamar yang cukup besar ini ada empat lelaki tengah terlelap, mereka tidur tepat didepan televisi, suara alarm yang berdentang tak lagi dihiraukan, mereka baru memejamkan mata dua jam yang lalu sekitar jam empat subuh.

Kring kring kring !
Untuk kesekian kalinya waker kecil itu berdentang, kali ini ada satu tangan meraih waker kecil itu dan dengan susah payah membuka mata dan melihat angka yang ditunjuk jarum kecil berwarna merah, masih remang remang penglihatannya. Dan betapa terkejutnya dia saat sadar bahwa jarum kecil itu menunjuk angka tujuh! Hari ini mereka harus sekolah, dengan tergesa gesa ia membangunkan ketiga temannya Debo Mario dan Bagas, Alvin memukuli badan teman temannya sampai bangun.

“Bangun udah jam tujuh, kita udah terlambat” teriak Alvin masih menggempur badan sahabatnya dengan dua guling yang ia pegang.

Mendengar teriakan itu sontak membuat ketiganya terbangun dan tergesa gesa untuk mandi, mereka mengerumuni pintu kamar mandi, ingin terlebih dulu mandi.
“woyy, setres ya, gue mandi disini, Debo mandi dikamar mandi dekat ruang tamu, Bagas mandi dikamar kak Tania, Mario mandi dikamar Oma” perintah Alvin menunjukkan kamar mandi yang ada disetiap kamar.
Ke tiga teman Alvin itu Nampak kaget dengan apa yang dikatakan Alvin, dipikiran mereka sudah negative thinking apa mungkin Alvin hendak mempermalukan mereka.
“vin lo gila ? gue mandi dikamar oma lo? Kalo ada oma lo gimana? Mau cakap apaan gue?” kata Mario
 “tau nih, aku malu kali sama kak Tania” tambah bagas
“elah, jam segini mereka udah gak ada dirumah, udah sana, percaya sama gue mereka udah berangkat semua” kata Alvin sambil mendorong teman temannya keluar kamarnya.


***

Sesampainya disekolah dengan pahit mereka harus menerima bahwa pintu gerbang utama sudah ditutup. Mereka hanya bisa meratapi nasib keterlambatan mereka. Mereka masih berdiri didepan pintu gerbang.

“kayak begini nih kalo nginep dirumah Alvin, gak ada yang bangunin, kita jadi telat begini mana jam pertama itu pak Morgan bisa abis kita” keluh Mario
“aku sekarang pak Alif parah nih bisa digantung kalo terlambat, kalian enak rame rame, aku sendirian!” kata bagas ikutan mendumel.
“kamu sih Dey, coba aja kamu gak usah nyoba nyobain cosmetik baru, dan kamu itu dandannya terlalu lama, pasti kita gak akan telat begini” keluh seorang gadis berkaca mata sambil mematikan motor matic dan membuka helm nya.
“biasanya kan juga gini Fy, aku dandannya biasa aja kok gak terlalu tebel” ucap gadis yang dibonceng oleh gadis berkacamata. Lalu membawa wajahnya menunduk melihat penampilan wajahnya dikaca spion motornya.

Keempat lelaki itu memperhatikan keduanya berdebat tentu saja dengan rasa heran. “Raify, tumben telat nih, perdana ya” kata Debo menyapa gadis berkacamata.
“iya nih deb, gara gara Dea nih semuanya” ucap Raify Salsabila yang kerap disapa Raify atau Ify adalah teman sekelas Debo Alvin dan Mario,
“jangan nyalahin aku mulu Fy, sebel deh” jawab Dea berdecak kesal lalu melipat kedua tangan didada
“makanya jangan kelamaan dandan Dey” celetuk Bagas, Dea dan Bagas satu kelas dikelas XI IPS 1.  
“Oh bagas, gaklah aku gak gitu gitu banget” ucap Dea.
“terus gimana nih nasib kita selanjutnya?” tanya Mario
“kita coba rencana gue, mau?” tanya Alvin, yang lain mengangguk. Alvin mulai memberitahukan rencananya, mereka berembuk berbentuk lingkaran kecil kemudian setelah mengerti mereka mulai melakukan rencana.

Pertama mereka mulai membawa motor mereka ke balik tembok supaya tidak terlihat oleh pak satpam. Disana ada tiga jenis motor satu motor memuat dua orang. Rencana kedua mereka menuju tembok paling ujung gerbang sekolah, mereka mengutus Mario untuk melompati tembok gerbang sekolah, Ify dan Dea memantau keadaan didalam sekolah takut ada guru piket berkeliaran, Bagas berjaga dekat motor diparkir sedangkan Alvin dan Debo menjadi batu loncatan supaya Mario bisa menjalari tembok gerbang dengan cara Alvin dan Debo berjongkok kemudian Mario menaiki punggung kedua sahabatnya ini untuk mencapai puncak tembok.

“eh eh bentar dulu, “ dea mencegah Alvin dan Debo yang hendak berdiri menaikkan posisi Mario ,
“ada apa?” tanya Debo
“eh kita selfie dulu yah, inikan kejadian unik harus ada kenangannya bahwa Dea pernah terlambat dan membantu anak cowok lompat pagar sekolah” ucap Dea kegirangan lalu mengarahkan kamera iphone nya kearah Alvin Debo dan Mario.dan dengan latahnya mereka tersenyum manis saat difoto.
Ciissssss !! gambar tersimpan.
“ampun deh teman lo nih Fy” keluh Alvin merasa tak biasa dengan sikap aneh Dea yang suka mengabadikan setiap moment yang ia lewati.
“emang suka gitu anaknya Vin, maafin yah” ucap Ify sedangkan Dea asik melihat foto hasil jepretannya.

Dengan susah payah Alvin dan Debo mengangkat badan Mario setelah beberapa saat barulah Mario berpindah dari luar kedalam lingkaran tebok sekolah, beruntung pendaratan yang dilakukan Mario berlangsung dengan mulus hingga tak membuatnya lecet sedikitpun. Kemudian dengan gesitnya ia melangkah meninggalkan gedung dan melanjutkan rencana ke tiga dari Alvin.

Mario meletakkan tasnya dibalik tumbuhan kecil dekat pintu gerbang kedua, lalu ia menghampiri pos satpam, dan dengan Percaya Dirinya ia melancarkan serangan kata kata untuk pak satpam.
“maaf pak, bapak disuruh beli rokok Marlboro oleh pak gandara, “ ucap Mario langsung ke pokok permasalahan
“tumben pak gandara nyuruh beli rokok? Rokok Marlboro ? apa ada? “ tanya pak satpam itu
“adalah pak, bapak ini gimana sih, rokok marlboro itu rokok paling mahal pak, rokoknya Robert Pattison, bukan sembarang rokok pak, makanya pak gandara nyuruh bapak” ucap Mario meyakinkan. Pak satpam hanya ngangguk ngangguk
“mana duitnya?” tanya pak satpam
“kalo gak ada duitnya ya gak jalan , soalnya bapak lagi gak punya duit” kata pak satpam lagi

Dengan terpaksa Mario harus mengiklaskan selembar uang bernilai 50.000 rupiah hangus untuk pak satpam . “perasaan tadi gak nyebut nyebut duit saat rembukan” batin Mario serasa apes hidupnya. Ia mengeluarkan uang itu dan memberikannya pada pak satpam “oh ada kok pak, ada ini pak” kata Mario ,

Pak satpam langsung membuka pintu gerbang lalu mengendarai motornya bahkan ia lupa mengunci kembali gerbang sekolah. Dengan cepat Mario menghampiri kawan kawannya dan menyuruh mereka langsung masuk dengan motornya. Ify Alvin dan Debo membawa motor menuju ke parkiran sedangkan Mario Dea dan Bagas jalan menuju kelas masing masing.
“bagas, jangan sampek ketahuan ya, kalian harus hati hati” ucap Mario mengingatkan Bagas. Bagas membelalakkan matanya karena ia lihat pak gandara tengah berjalan menuju kearahnya.
“kabur ada pak gandara” ucap Bagas berusaha tak berberisik, Bagas Dea dan Mario berlari menjauh namun dipersimpangan jalan mereka berpisah Mario kearah kanan sedangkan Bagas dan Dea kearah kiri.
“Bagas, cepetan “ kata Dea , bagas berusaha berlari lebih kencang namun sayang nasib buruk mendatangi Bagas, ia menabrak seseorang yang membawa buku buku ditangannya, buku itu berserakan dan gadis itu tak tinggal diam.
“bukunya, bagas kalo jalan liat kedepan lah ngapain liat liatan kebelakang? Jadinya nabrak gue gini kan” ucap gadis itu dia teman sekelas bagas, namanya Deviara Chindai.
“sorry deviara aku gak sengaja” ucap bagas
“Chindai! Bukan Deviara, sekarang beresin buku buku gue” kata gadis yang tak mau dipanggil Deviara itu
Dengan patuhnya Bagas memilih buku buku yang berserakan itu, bagaimana Bagas tak mau patuh? Dalam kelas Chindai selalu mengusili Bagas alasannya karena Bagas lelaki yang penakut.
“padahal aku yang jatuh, kenapa Deviara yang marah” sungut Bagas
“ya elo lembek banget! Kesenggol dikit jatuh, kesentil dikit jatuh, kemayu dasar” kata Chindai Nampak emosi, hanya saja diakhir kalimatnya ia tertawa puas

Melihat kejadian itu Dea menghapiri Bagas dan menarik lengan bagas kasar untuk mengajak Bagas segera pergi dari tempat ini namun….
“Bagas, Dea! Mau kemana kalian?” sapa sebuah suara, dari nada suaranya jelas sekali bukan suara milik anak remaja baru puber suaranya matang dan berat, pelan pelan Bagas dan Dea melihat asal suara, dan mereka dapati pak gandara tengah berdiri dibelakang mereka.
“eh pak gandara, kita mau ke kelas pak, yakan gas” ucap Dea gelagapan, Bagas hanya mengiyakan saja.
“Dea Bagas! Kelapangan Basket sekarang juga!” perintah pak gandara, suaranya sangat menakutkan apalagi ditempat sepi begini, serasa petir menyambar gurun pasir. Dengan pasrah kedua murid terlambat ini mengikuti langkah pak gandara ke lapangan basket.

***

Enam murid berhasil dibekuk oleh pak Gandara dengan mudahnya, satu tertangkat membuat yang lain ikut terjerat, Bagas dan Dea dipaksa pak Gandara untuk menyebutkan siapa saja yang terlambat dan terlibat penipuan atas pak satpam. Dan dengan mudahnya Bagas memberitahu nama nama teman yang benar tadi bersama dengannya.

Ditengah lapangan menghadap kearah matahari, ke Enam murid ini disidang,
“kalian dikenakan hukuman double!” seru pak Gandara membuat bola mata masing masing anak tercengang dan membulat.
“yang pertama kalian terlambat, hukuman biasa yaitu lari keliling lapangan sebanyak lima kali putaran” ucap pak Gandara sambil mondar mandir dibarisan murid ini.
“HA? Panas pak!” seru Dea ini adalah ekspresi kaget atas ucapan pak Gandara, serta merta keluar begitu saja dari mulut Dea. “upss” kata Dea setelah sadar dengan sikapnya.
“tidak menerima bantahan” jawab pak gandara
“yang kedua, kalian telah membohongi pak satpam, dan hukuman untuk itu adalah kalian harus membersihkan gudang belakang sekolah, dan ini dilakukan setelah pulang sekolah” kata pak gandara tegas dan lugas, kali ini bukan hanya mata yang melebar mulut yang tadinya rapat seketika menganga atas perintah itu.
“tapi pak itu, digudang itu , ada “ ucap Mario gelagapan, jika ia katakan yang sebenarnya pasti pak Gandara akan curiga,
“iya pak, digudang kan ada, itu, yakan yo?” kata Debo ikutan linglung tak mampu mengatakan semuanya.
“ada apa? “ tanya pak Gandara
“ada bangku tak terpakai pak” jawab Bagas sekenanya.
“iya benar, sekarang silahkan kalian lari lapangan lima kali” titah pak gandara

Dengan mau tak mau ke enam murid ini berlarian menjalani tugas hukuman mereka,
 “gara gara elo sih gas, kenapa lo harus ketauan sih, kita semua udah aman, lah elo pake acara ketangkep” dumel Mario yang sudah menjalankan peran seapik mungkin namun tetap saja gagal hanya karena Bagas tertangkap, ia pun harus kehilangan uangnya.
“ini gara gara Deviara pake acara nabrak aku segala!” ucap bagas
“gara gara kamu gas, aku suruh cepat kamu lambat” kata Dea menyalahkan pula
“Dea jangan belain yang lain kek, kamu kan sekelas sama aku, sedang ke empat anak ini mereka satu kelas” ucap bagas,
“paling berat tuh hukuman buat nanti, bersihin gudang, sumpah tuh gudang kotor kumuh banget gak layak dibersihin” ucap debo sambil mengingat keadaan gudang yang pernah mereka jadikan tempat berlindung.

“ada ularnya juga” sambung bagas ,
“yaudah kita lari aja dari tanggung jawab, toh itukan masih nanti sore, gue rasa pak gandara gak bakal tau kalo kita udah pulang atau belum” kata Mario ,
“kata mama gue, lari dari tanggung jawab adalah tindakan seorang pengecut” ucap Ify
“eh eh kamu gak tau aja kayak apa gudang yang dimaksud pak gandara, serem tau” ucap Bagas meyakinkan.
“yaudah sih Fy siapa tahu kita bisa bebas dari hukuman, aku ada janji sama kak hanin mau ke salon” rengek Dea sambil menarik narik lengan Ify masih dalam posisi berlarian
“Gak usah ngobrol, lari cepat baru satu putaran!” teriak pak Gandara diseberang lapangan.
Mereka tak menggubris seruan pak Gandara, mereka terus berlarian walau nafas sudah memuncak.
 “jadi gimana? Setuju yah?” tanya Mario sekali lagi
“setuju” , “setuju” , “setuju” ucap yang lain.

******

Jam menunjuk angka tiga, wajah wajah kusut tergambar jelas pada wajah masing masing anak, mungkin mereka sudah jenuh belajar hampir sehari full. Di jam mepet seperti ini banyak siswa sudah tak konsentrasi pada pelajaran, mereka sudah berhayal setelah pulang sekolah akan kemana atau mau makan apa dirumah. Beda dengan ke empat murid yang berada dikelas XI IPA1 ini Raify Mario Alvin dan Debo sudah membereskan semua buku dan mengambil ancang ancang untuk kabur dari hukuman pak Gandara, guru BK yang terkenal galaknya.
KRIIIIING!

Dengan cepat kilat tampa menunggu guru yang ada didepan memberi salam,  Raify Mario Alvin dan Debo langsung berlari hendak keluar kelas, tapi dengan mendadak Mario yang tadi memimpin didepan berhenti mendadak saat hendak melewati pintu kelas, membuat Alvin Debo dan Raify saling bertubrukan, didepan pintu sudah ada pak Gandara menunggu mereka tidak dengan tangan kosong, kali ini pak gandara membawa kayu tipis ditangannya.

“mau kemana Mario Alvin Debo dan Raify Salsabila?” tanya pak gandara dengan sinis

Tampa basa basi keempat murid ini langsung dibawa ke tempat hukuman yaitu gudang belakang sekolah, dan surprise disana sudah berdiri Dea dan Bagas dengan sapu kemoceng dan alat bersih bersih lainnya. Disitu juga ada pak Morgan guru BK yang merangkap sebagai guru sosiologi.
“sekarang personil kalian sudah lengkap, silahkan jalankan hukuman ini, bersikaplah gentle jangan jadi pengecut, kalian tidak bisa lari karena saya dan pak gandara akan mengawasi kalian dari jauh” ucap pak morgan kemudian berlalu dengan pak gandara entah mereka kemana, tapi yang jelas mereka memantau kerja murid murid terhukum ini.
“biasanya yang kerja beres beres rumah kan cewek, jadi kalian aja yah yang bersihin” kata Debo sambil menaik turunkan alisnya kearah Raify dan Dea
“dih enak aja, kata mama, perempuan itu emang mengurus rumah tapi bukan pembantu, lagian kita bukan istri kalian jadi gak bisa disuruh suruh” jawab Raify kesal sembari menyerahkan kemoceng kearah Debo
“buset dah Fy” keluh Debo sambil geleng geleng
“udah udah, ayo kita kerjain” lerai Alvin perlahan ia memasuki gudang, ia amati dibalik pintu masih adakah ular itu, dan nihil tak ia temukan ular panjang itu
. “Aman!” seru Alvin lalu masuk sambil memegang sapu lantai.
“kalo kita langsung nyapu ini pasti ganggu pernafasan nih,” ucap Raify
“yaudah kita guyur dulu pake air baru entar disapu terus dipel gimana? Kan aman gak bikin debunya terbang?” usul Alvin.
“boleh juga tuh, yaudah yo siram yah” perintah Alvin karena Mario yang membawa bak berisi air.

Mereka memulai membersihkan tempat yang super duper kotor itu, mereka tampak tenang, sebelum ancaman ancaman itu datang menghampiri mereka.


“AU!! Ada kecoa Fy, kecoa!” teriak Dea heboh sambil bersembunyi dibelakang Raify,  tingkah Dea ini dijadikan bahan tertawaan para anak lelaki.

“ya ampun, lo takut sama ini?” ucap Mario sambil mengayun ayunkan kecoa yang ia tangkap tepat didepan wajah Dea, Dea memandang kecoa itu dengan wajah ngeri, tampak jelas dimatanya kaki kecoa itu gerak gerak seolah akan mencakarnya sedangkan kumis kecoa itu dipegang erat oleh Mario
 “AAAA!! Ify Ify Ify” teriak Dea lalu dengan spontan menepis tangan Mario hingga kecoa yang ia pegang terpental dan jatuh pas dipundak Bagas, Bagas yang menyadari itu langsung berteriak histeris sambil mengendus ngenduskan pundaknya kearah Debo, semua tertawa melihat tingkah Bagas, kecuali Bagas dan Dea mereka mendengus kesal terhadap apa yang dilakukan teman temannya.
Satu jam kemudian

Bersih kesat berkilau dibagian bawah, bukan berlian atau perak tapi lantai gudang yang awalnya kumuh kini disulap menjadi kelas yang layak pakai jika barang barang bekas ini disingkirkan. Keenam murid murid ini langsung meninggalkan gudang setelah dirasa selesai sudah hukuman ini.

Mereka segera berjalan menuju parkiran, disana hanya tinggal tiga motor yang tersisa tinggal motor mereka saja. Dengan malas mereka mengendarai motor masing masing, Raify bersama Dea, Debo dengan Bagas sedangkan Alvin membonceng Mario, mereka melajukan motornya kearah yang sama Raify berada diurutan paling depan, rumah mereka berada dikomplek yang sama namun berjauhan.

Saat melewati jalan Anggrek indah terlihat ada motor berpenumpang dua orang membayang bayangi Raify, motor itu seperti mengincar mereka berdua, benar saja terjadi tarik menarik antara Dea dengan orang yang dimotor itu. Dea berusaha mempertahankan tas nya,
“Vin, itu kayaknya copet deh vin, yakan? “ ucap Mario sambil menepuk bahu Alvin,
“iya yo, ckck nyari korban cewek!” jawab Alvin
“hajar broohh” seru Mario membuat Alvin memacu motornya lebih kencang untuk mengimbangi motor Raify dan pencopet itu. Setelah sejajar dengan keduanya, Mario mulai meninju kepala orang yang dibonceng yang sedari tadi menarik tas Dea, sadar ada yang melindungi gadis tadi, kedua perampok itu tak lagi menarik narik tas Dea, namun dengan gerak bersamaan kaki si supir menendang setir motor Raify dari samping sedangkan yang dibelakang menendang lengan Dea yang mengakibatkan Raify dan Dea terjatuh dari motor kemudian dengan gesitnya mereka kabur dari tempat itu.

“kejaaaarrr broooo” seru Mario kepada Alvin , Alvin menuruti perkataan Mario.

Dengan semangat dan rasa pertemanan yang tinggi Alvin dan Mario mengejar pengendara motor yang tadi mengganggu temannya itu. Alvin mencoba mensejajarkan posisi dan kecepatan motornya dengan motor pencopet.

“Woy banci, kalo berani lo turun satu satu lo sama gue!” seru Mario dengan tegas dan penuh keberanian. BUG! Satu pukulan mendaarat dipipi Mario,
“sialan!” ucap Mario sembari membalas pukulan dari pencopet itu kemudian menendang motor pencopet, motor itu sempat oleng namun si supir berhasil menguasai keadaan.
“HEH bocah! Kita gak ada urusan sama kalian” ucap sisupir
“tapi cewek yang kalian copet itu temen kita!” jawab Alvin tak kalah membentak.
“mereka memang incaran kita, jangan halangi pekerjaan kita” ucapnya lagi lalu dengan sekali tarikan motor sang pencopet sudah memimpin didepan.

Alvin mengendorkan tarikannya pada gas, motor itu berjalan perlaran dan memotong arah kembali ke jalan sebelumnya.
“mereka mengincar Raify dan Dea” ucap Alvin
“yaialah vin, mereka kan cewek gak bakalan bisa ngelawan kalo kita? Abis mereka!” kata Mario dengan bangganya
“beda yo, gue rasa mereka orang suruhan!”
 “ngada ngada lo ahh”

Alvin berfirasat kedua orang itu adalah orang suruhan bukan copet biasa. Setelah sampai ditempat Raify jatuh, Alvin dan Mario melihat keadaan mereka berdua, kaki dan sikut keduanya berdarah tergores jalan beraspal, beruntung mereka mengenakan helm sehingga terhindar dari benturan langsung ke kepala. Raify tak lagi menyetir kini dia bersama Mario menggunakan motor Alvin. Sedangkan Alvin mengambil alih motor Raify dengan membonceng Dea. Kemudian mereka pulang bersama.

***


Sunday, orang bilang adalah hari keluarga maksudnya adalah hari untuk berkumpul dengan keluarga setelah satu  minggu sibuk dengan pekerjaan sekolah dan lain sebagainya yang membuat ayah ibu anak tak saling berjumpa untuk sekedar bercerita atau hanya bersenda gurau. Namun berbeda arti untuk remaja remaja ini diminggu pagi mereka asik bermain bola orange dilapangan kompleks bersama teman sebayanya, tak ada ayah ibu apalagi kakek nenek yang ada hanya pergaulan yang mereka sebut keren dan best friend. Angin semilir menemani kesibukan mereka matahari yangtak begitu tinggi menyelimuti penghuni bumi dengan hangatnya.

“Deaa!” seru seseorang dari lapangan basket lelaki hitam manis, pandangannya terarah pada gadis yang hendak melewati lapangan itu. Dua gadis itu melihat keasal suara. “Mario!” ucap teman gadis bernama Dea yang juga hendak melewati lapangan itu. “Dey, kesana yuk” ajak Raify kemudian melangkah kearah Mario yang tadi memanggil Dea.

“hai Raify” sapa Debo pada gadis penyandang rangking satu dikelasya itu.
“Wih hai Dea” sapa Bagas, karena hanya Bagas yang mengenal Dea, temannya yang tak kenal dan tidak mungkin menyapa Dea walaupun mereka pernah dipertemukan dalam suasana sakti kemarin.

Mario Debo dan Bagas tampak senang dengan pertemuan mereka dengan Raify dan Dea, mereka tampak akrab bercanda. Alvin yang sedari tadi hanya berdiri memainkan bola orange itu tampak tak memperdulikan kedatangan kedua teman sekolahnya itu, Alvin asyik mendrible bolanya lalu sesekali mengshoot kearah ring yang cukup tinggi.

“Dea, Kenapa masuk IPS?” tanya Mario pada Dea, pandangannya dari tadi tak lepas dari seorang Dea, menurutnya Dea adalah gadis faminin lembut cantik menarik dan senyumnya natural, Mario rasa Dea adalah gadis yang polos terlihat sekali dengan caranya berbicara selalu jujur.

“Iya karena gue suka banget pelajaran sejarah sosiologi dan akuntansi” ucap Dea cara berbicaranya yang ramah dan bersahaja rupanya telah membius seorang Mario tergerak jantungnya untuk berdegub lebih kencang dari biasanya.

“buset, kalo kita langsung nyenyak yo kalo ikut pelajaran itu” ucap Debo mengingat kejadian dulu saat jaman Sekolah menengah pertama mereka mengikuti pelajaran sejarah yang selalu membuat mata mereka berat hingga tertidur pulas dikelas sampai sampai diberi hukuman oleh guru sejarah karena terlalu sering tidur dalam kelas. Kecuali Bagas tentunya.

“ahh gak juga, tergantung temen dikelas sih, kalo temen dikelas kayak elo sama alvin, ya gue ketiduran lah, kalo temen gue kayak Dea pasti semangat lagi” ucap Mario dengan cengiran penuh arti.
“jawaban apaan tuh yo? Rayuan?” kata Debo menimpuk Mario dengan kerikil kecil yang ia pungut dibawah kakinya.

“Mario, kamu udah ngerjakan tugas fisika belom?” tanya Raify sedari tadi wajahnya menekuk tampak muram
“belom Fy, nomor lima aku kurang paham” jawab Mario mengingat PR fisikanya yang belum ia kerjakan seluruhnya.
“nanti aku kasih tau yo, tenang aja” ucap Raify dengan senyum manisnya
“gak usah repot repot Fy, biar aku aja yang ngajarin Mario “ tolak Debo
“iya Fy, makasih ya sebelumnya” ucap Mario membalas senyum Raify,
Kembali membuat wajah Raify muram, tak ada yang tau hatinya sedang kesal sekarang satu lelaki yang ada ditempat itu telah membuat hatinya kacau dengan perhatiannya pada orang lain.

“eh, Alvin kok gak gabung sama kita yah? “ tanya Dea sambil melihat kearah Alvin yang tak kunjung lelah memainkan bola kuning itu
“biasalah si Alvin kalo udah bareng pacarnya gak bakal ada yang bisa ganggu dia dey” ucap Bagas
“pacar?” tanya Dea seperti orang kaget, matanya sampai membulat sempurna
“iya , itu si bola orange pacar Alvin” jawab Bagas
Dea hanya mengangguk kan kepala sambil tersenyum simpul, tak ada yang tau ada seorang yang tengah penasaran akan sikap kaget Dea barusan, orang yang terlalu memandang Dea indah.

Dengan langkah berat Alvin menghampiri Teman temannya, keringat bercucuran dari dahi dan pelipisnya rambut yang tadinya ia sisir rapi mulai tak berbentuk sesuai jalannya sisiran alvin, melainkan melambai lambai terkena angin namun itu tak membuat pesona seorang Alvin berkurang, malah dengan rambut acak acakan begitu ia terlihat lebih laki!
“udah panas Vin?” tanya Debo melihat kearah Alvin
“udah” jawab Alvin singkat lalu melempar bolanya kearah debo pelan, Debo dengan sigap menangkap bola itu.
“pada ngomongin apaan sih? Nyari minum yuk, gue lupa gak bawa isotonic” ucap Alvin lalu memasukkan bola orange itu ke tas selempang khusus tas bola basket kemudian ia keluar lapangan begitu saja.

Debo Bagas Mario Raify dan Dea mengekor dibelakang Alvin, bukan bermaksud makmum pada Alvin hanya saja saat ini keadaan air ditubuh mereka dirasa kurang makanya dengan patuh mereka mengikuti saran alvin. Angin menerpa tubuh setiap orang yang ada ditempat ini, angin semilir lembut cukup cepat mengeringkan keringat yang keluar lewat pori pori kulit menjadikan kulit lebih fresh setelah hilangnya keringat itu.

“keren!” seru Dea dalam hati pandangannya lurus kearah orang didepannya, bibirnya menyungingkan senyum terindah, bahkan Dea tak mendengar apa yang sedang dibicarakan oleh orang disekelilingnya.

BRAAK!
Alvin berhenti mendadak, menyebabkan suara tubrukan antara Alvin dan Dea, ini membuat Dea sadar dari lamunannya, Alvin memandang Dea aneh, yang lain menertawakan kejadian ini. Dea tampak gelagapan dan malu sedang Alvin tampak tak begitu memperdulikan.
“sorry vin” ucap Dea gugup, dea menutup wajahnya dengan kesepuluh jarinya
“santai dey” jawab Alvin
“ciyee kok gugup?” ucap Raify membuat Dea memelototinya
“warung mbk rumi lagi rame, ke warung lain yuk” ajak Alvin lalu berjalan kearah kanan

Sampailah mereka disebuah kedai kecil disana tersedia bermacam minuman dingin dan makanan ringan. Raify memesan beberapa cemilan dan minuman yang cukup untuk semua temannya, seperti biasa Dea mengambil tongsis nya dan menempelkan handphonenya digagang tongkat yang biasa disebut Tongsis alias tongkat narsis yang gunakan untuk berfoto foto ria, Debo Bagas Alvin dan Mario asik mengabadikan momen bersama Dea.

“COPET!!!” seru seorang gadis, posisinya tepat dibelakangi oleh Alvin dan kawan kawan saat mengambil foto,

Sontak dengan teriakan sekitar dua oktav itu membuat telinga yang menangkap bunyi itu langsung menghentikan segala aktivitasnya dan mengalihkan perhatian mereka keasal suara teriakan. Terlihat disana seorang gadis yang tengah beradegan tarik menarik tas dengan dua lelaki dewasa yang berlengan kekar dan kumis yang tumbuh lebat, berhasil dengan sekali tarikan bersama dari kedua lelaki itu, tas slempang berwarna cokelat  itu dapat mereka rampas.

Dengan kecepatan penuh, keduanya berlari melawati kerumunan orang, gadis remaja tadi dengan beraninya mengejar kedua lelaki dengan semangat. Tak hanya gadis itu, Alvin Mario Bagas Debo serentak ikut mengejar kedua lelaki itu, dengan semangat mereka mengejar pencopet itu.

“copet Fy, “ ucap Dea yang masih shok dengan kejadian ini
“ayo kejar dey” ucap Raify lalu dengan kuat menarik lengan Dea

Copet, copet, copet !

Teriakan itu yang keluar dari mulut tujuh remaja yang tengah mengejar dua preman itu, masih dalam pengejaran, mereka merasa ada yang janggal mengapa tak ada satu wargapun yang membantu mereka menangkap pencopet itu, padahal sudah jelas dengan adanya kerusuhan seperti ini orang orang tetap tak bergeming dari tempat nya mereka hanya melihat sambil berbisik tak jelas.
Tapi ketujuh remaja ini masih dengan semangat mengejar pencopet, pencopet masih memimpin didepan gesit sekali gerakan mereka, kemudian menyusul gadis yang tadi menjadi korban pencopetan, Alvin dan Mario sejajar dengan gadis itu tampa lelah mereka mengejar. Alvin melirik gadis itu, wajah familiar yang ia temukan Alvin cukup bingung dengan gadis ini walau sudah berlarian sekian jauhnya namun tak ada kata keluhan yang keluar dari mulut gadis ini, dengan semangat ia terus berlari bahkan sempat mendahului Alvin.
Di urutan ketiga ada Debo dan Raify, lelah itu yang dirasa Raify saat itu, langkahnya melambat hingga berhenti ditengah jalan wajah yang sedikit pucat dan nafas yang terengah engah Raify berhenti dan memulihkan jalannya pernafasan.

“Fy, kenapa?” tanya Debo yang ikuta berhenti untuk menemani Raify
“gak papa deb Cuma kelelahan, lo kejar sana copetnya, kasian gadis tadi” ucap Raify dengan suara yang tersenggal senggal,
“ya gak mungkin lah Fy gue ninggalin lo sendirian” ucap Debo wajahnya berubah panic
“gak papa deb, gue Cuma butuh istirahat sebentar”
Menyusul Bagas dan Dea dengan gigih mereka ikut mengejar walaupun tak secepat Alvin dan Mario tapi rasa empati mereka cukup besar pada korban pencopetan tadi.
“Ify, lo kenapa?” tanya Dea berhenti ditempat ify beristirahat
“gak papa dey, yuk lanjut lagi “ kata Raify sembari mulai berlari kecil, Debo mengikuti dari samping
Dea masih bergeming ditempat Raify tadi, ia asik mengetik dihandphonenya.
“ayo deot!” panggil Bagas lalu dengan patuhnya Dea menuruti ucapan Bagas lalu kembali berlari mengejar copet itu.

Kini terbentang nyata didepan mereka jalan mulus namun berpenghalang gedung menjulang tinggi, jalan buntu. Kedua pencopet itu tampak bingung dengan keadaan seperti ini namun mereka masih bisa tersenyum lebar karena yang harus mereka taklukkan hanyalah segerombolan anak SMA. Jika dilihat dari postur para remaja ini tentulah tau siapa yang akan memenangkan semua ini. Dilihat dari sudut pandang manapun tetap saja logika mengatakan pencopet itu akan menang.

“woy, kembaliin tas gue!” ucap remaja perempuan yang menjadi korban pencurian dari kedua pencopet itu.
“kalian mau ini? Gue kasih kalian dua pilihan pilih bonyok atau pergi dengan baik baik saja?” ucap  lelaki berbadan kekar rambutnya panjang dan ikal. Tato di badannya terlihat sangat tak bersahabat bergambar tengkorak berwarna hitam, menyeramkan!
“gue tetep mau tas gue!” ucap gadis remaja itu lalu dengan gesit menyerang lelaki yang memegang tasnya.
Sangat tak disangka, gadis berperawakan tinggi hitam manis rambutnya diikat satu, jika dilihat dari postur tubuh, gadis ini tak memiliki postur kategori atlet tubuhnya kurus namun tak terlalu kurus bisa dibilang ideal, cocok untuk model atau pramugari dia juga terlihat manis walaupun pakaiannya mengisyaratkan dia cewek ke cowok cowok an.
Melihat keberanian gadis itu, Mario Alvin dan Debo ikut membantu, mereka menyerang pencopet yang satu lagi perawakan pencopet yang hampir menyerupai teman yang satunya, namun yang satu ini tak berambut panjang. Mario Alvin Debo cukup kewalan menepis serangan demi serang yang dilayangkan pencopet ini, belum lagi gadis itu yang bertarung sendirian. Begitu gesit sekali pergerakan gadis itu.

Bagas Raify dan Dea baru sampai ditempat kejadian pertempuran, betapa tergejutnya mereka  melhat teman temannya sedang bergulat dengan pencopet berbadan kekar itu.
“gas, tolongin mereka dong” ucap Raify begitu panic , wajahnya tampak khawatir dengan temannya.
Bagas Nampak bingung kemana ia akan masuk, ke pihak gadis itu atau membantu ketiga kawannya.
“BAGAS! Cewek itu butuh bantuan” desak Raify, tak taukah dia Bagas sedang dilema memikirkan hal hal tak penting.
Bagas melihat kanan kiri mencari sesuatu yang bisa ia gunakan untuk melawan. Ia melihat Dea sedang asik mengabadikan moment, Dea memfoto setiap gerakan temannya yang sedang berkelahi mengadu kekuatan,
“Dea! Kebiasaan!” ucap Bagas lalu merebut paksa tongsis yang dipakai Dea untuk membantunya berfoto ria,
“BAGAS! Kebiasaan suka ngerampas barang dea!” rajuk Dea kesal dengan Bagas!

“ TOLONG!”
“TOLONG”
Seru Raify kencang, ia sudah mengeluarkan seluruh powernya namun  tak ada yang datang menghampiri mereka.
“Dea, teriak dong!” kata Raify masih dengan kepanikan
“percuma Fy gak bakal ada yang bantuin kita” ucap Dea ia masih tetap asik dengan kegiatannya memotret.
“gak manusiawi lo ahh, minggir” kata Raify lalu mendorong Dea kasar karena kesal dengan sikap Dea yang seakan acuh. Raify pergi menjauh untuk mencari bantuan, tapi posisi mereka berada di gedung bekas pabrik besar yang sudah tak terpakai lagi. Mustahil ada orang yang akan mendengar teriakan Raify.

Bagas memutuskan membantu gadis itu, gadis yang gesit dan tangguh walau sudah tiga kali tersungkur ke tanah tapi ia tetap bangun dan melawan. Entah ambisi apa yang mendorongnya untuk melawan, apa isi tas itu sehingga ia berani menggantung nyawa disini.
Tiba tiba Bagas memukul kepala lelaki yang tengah berduel dengan gadis itu dengan tongsis milik Dea, dan berhasil membuat lelaki itu berhenti sejenak dan mengelus kepalanya, disitu gadis itu mulai melakukan serangan serangan dengan memukuli wajah lelaki itu hingga darah segar keluar dari hidungnya. Bagas menganga atas apa yang terjadi apalagi saat ia melihat siapa gadis yang memukuli lelaki itu. Lelaki itu jatuh tersungkur tepat dibawah kaki Bagas, sedangkan Bagas tak menyadari itu masih tak percaya pada gadis yang ada didepannya itu.
“Bagas awas!” seru gadis itu namun terlambat lelaki itu langsung menarik kaki Bagas membuat bagas terjatuh dan segera pencopet itu meninju pipi mulus Bagas.
“Aaaaa!” teriak Bagas, namun gadis itu tak berdiam diri melihat bagas dipukuli, ia ambil tongsis itu lalu dengan kekuatan penuh memukuli pencopet itu hingga posisi mereka terbalik, Bagas berada diatas dan pencopet itu terbengkalai kesakitan. Tampa ampun memukuli wajah lelaki itu
“rasakan! Rasakan! Sakit pipi gue begok!” kata Bagas dengan semangatnya memukuli pencopet itu.

Sementara Alvin Debo Mario , mereka juga jatuh bangun melawan pencopet itu, bahkan darah segar keluar disudut bibir Alvin dan Debo karena terkena pukulan keras dari lengan kekar pencopet itu. Namun tetap saja satu lidi tidak lebih baik dari tiga lidi. Mereka bertiga sadar kekuatan mereka kalah jauh dari pencopet itu namun dengan cerdiknya mereka mampu mengalahkan pencopet itu yaitu dengan cara mencari kelemahan si pencopet seperti menjambak rambut, mengunci pergelangan tangan menarik kaki supaya pencopet itu tumbang dan saat itu terjadi barulah Alvin Mario Debo bisa melakukan serangan balik dan berhasil mengalahkan pencopet itu.

Kedua pencopet itu kini tergeletak tak berdaya ditangan remaja yang mereka anggapp bukan tandingannya itu. Para remaja ini kini dapat bernafas lega dan tas milik gadis yang ternyata teman sekelas Bagas dan Dea itu sudah dapat merebut tas miliknya lagi. Ya gadis yang pemberani itu adalah Deviara Cindai teman sekelas Bagas dan Dea.
“gas! Makasih banyak yaa gas! Gue gak tau deh kalo gak ada lo sama temen temen lo!” ucap Cindai dengan segenap rasa terimakasihnya
“sama sama, aku udah baik sama kamu Devi  tapi kamu sering jahat ke aku!” ucap Bagas bibirnya mengkerucut layaknya anak kecil yang sedang ngembek pada mamanya.
“apaan sih jelek! Tapi makasih banget gas, guys, kalian hero banget, kalo gak mau gue ledekin ya jangan lembek lah gas! Satu lagi gue Cindai bukan Devi atau Deviara! ” ucap Cindai tegas
“lembek? Aku ngelawan pencopet itu kamu bilang lembek? Terlalu! Jangan sebut Cindai lah jadi keinget mantan!ckck ” kata Bagas mulai mendramalisir keadaan, ini yang tidak disuka Cindai dari seorang Bagas, terlalu berlebihan dan lembek untuk ukuran lelaki
“iya iya deh, Bagas hebat aduh tayang tayang tayang” ucap Cindai meledek Bagas dengan berekspresi gemes layaknya menghadapi bayi mungil yang menggemaskan. Tapi di dalam hatinya Cindai mulai terbuka bahwa Bagas tak selemah yang ia bayangkan selama ini.
“keinget mantan??” tanya Chindai yang menyadari kalimat terakhir Bagas 
“Cindai! Udah ah abaikan” seru Bagas lalu memalingkan wajahnya dari Cindai
Tingkah Bagas ini mengundang tawa teman temannya.
“Laki dong!” ledek Debo sambil memukul pundak Bagas.

Tiba tiba datang segerombolan lelaki berbadan kekar sama dengan dua pencopet tadi, mereka membawa kayu besar wajah mereka tampak geram apa mungkin mereka datang untuk membalas dendam? Apa kah kedua copet tadi menghubungi teman mereka? Ini gawat!!.
“siapa mereka?” tanya Alvin, perasaannya mulai tak nyaman
“MAMPUS KALIAN!” Teriak salah satu copet yang masih tergeletak lemah itu.

Para remaja ini mulai ketakutan, setegar tegarnya Cindai hatinya mencelos juga saat melihat tujuh lelaki berbadan besar mulai menghampiri mereka. Keberanian Alvin yang tak pernah surutpun mulai mengendur saat melihat kedatangan para komplotan pencuri ini. Apalagi mental seorang Debo dan Bagas? Sudah jelas jelas lemas tak berdaya.

Dan yang lebih mengejutkan lagi, salah satu dari mereka menyeret Raify dengan paksa. Melihat itu semua jelas sudah kekalahan remaja ini entah apa yang akan terjadi pada mereka? Keringat dingin dan jantung yang berdetak lebih keras itu yang dirasakan ketujuh remaja tangguh ini.

Dea sibuk dengan handphonenya. “papah, please cepat!” tampak Dea tengah mengirim voice note pada seseorang yang ia sebut papa.
“IFY!” seru Dea, ia hendak melangkah mendekati sahabat tersayangnya itu tapi Alvin melarangnya.
“jangan, bahaya dey!” seru Mario
Tampak disana Raify tengah menangis terseduh sedu wajahnya tampak ketakutan dan terlihat darah segar keluar disudut bibir selebelah kanan dan pipi kanan yang kemerahan dari biasanya. Dea menangis sejadi jadinya melihat keadaan sahabatnya.
“apa mau kalian? Kita gak salah!” teriak Dea, tak disangka Dea mulai berucap bukankah dia yang sedari tadi ketakutan dan memilih melanjutkan hobinya memotret apa saja yang menjadi objeknya. Mungkin inilah arti sesungguhnya tentang persahabatan.

“Kalian sudah mengganggu teman kita! Kalian harus dapat balasan yang lebih parah!!” seru seorang yang menyeret Raify.
“mereka yang mencopet kita, mereka yang salah! “ jawab Dea sejujurnya
“sudahlah Dey, mereka pasti membela temannya walaupun kita yang benar, mereka kesini untuk balas dendam!” ucap Alvin.

Dengan sekali dorongan, badan mungil Raify terjatuh ditanah kemudian dengan keras salah satu dari mereka menjambak keras rambut Raify. Dan itu membuat Dea menjerit keras, dan tak terhalang lagi ia memberontak menghampiri ketujuh preman itu, ia menghampiri Raify dan memeluknya erat. Kini ketujuh preman itu tertawa lebar melihat penderitaan orang itu.

“Ify! “ ucap Dea memeluk Raify dalam tangisan.
Dengan kasar salah satu dari preman itu memisahkan Raify dan Dea. Dea mencoba melawan namun apalah arti perlawanan Dea untuk seorang lelaki berbadan kekar? Bagai semut dengan gajah tak selevel tak sebanding.
Dengan sekali pelintiran, lengan dengan serasa remuk benar benar kasar. Kini Dea tak berdaya lagi ia menangisi tangannya yang mungkin saja patah.
Mario Alvin dan Debo maju mendekati mereka, walaupun nyali sudah tak tersisa namun atas nama pertemanan mereka melangkah. Cindai yang selama hidupnya tak mengenal air mata kini menitihkan air mata haru dan kesedihan atas kejadian ini.
“papaaa! Sakit!” ritih Dea tak terbayangkan seperti apa kini kondisi pergelangan tangan kiri Dea.

DOR DOR DOR !

Suara tembakan menggema di udara kemudian muncul banyak polisi mengepung keberadaan mereka. Para polisi itu mulai bekerja, membekuk para komplotan pencuri itu dengan mudahnya, tak ada pilihan lain untuk para komplotan, jika mereka melawan pasti sebuah peluru akan menembus kaki mereka. Mereka diamankan dan dibawa ke kantor polisi saat itu juga dan tentu saja sebelum itu tangan mereka diborgol terlebih dahulu.

Seorang polisi berkumis tipis menghampiri Dea gadis yang sedari tadi tak kuasa menahan rasa sakit pada tangannya. Polisi itu memeluk Dea erat, polisi itu adalah ayah Dea, melihat puteri nya kesakitan begini orang tua mana yang tak merasa hancur hatinya?
“maafkan papa telat nak!” ucap ayah Dea, lalu memapah Dea ke dalam mobil dinasnya. Cindai memapah Raify, mereka semua ikut papa Dea ke rumah sakit.

“maafkan aku kawan, ini semua kesalahanku” lirih Cindai kembali ia menithkan air mata.
Hatinya tak bisa membayangkan rasa sakit ditangan Dea yang patah perihnya sudut bibir Alvin Debo dan Raify serta sakitnya Mario apalagi Bagas yang selalu ia anggap lemah, bahkan ia tak menyangka Bagas berani menyerang pencopet itu untuk membantunya. Ia menyesali semua ini, mengapa teman temannya harus menanggung kesakitan juga.

SILAHKAN KEMBALI KE CATATAN AWAL ASLI UNTUK ADEGAN SELANJUTNYA ,



***

Pagi yang indah sang surya mengimbangi sejuknya embun pagi dengan sinar yang sedikit demi sedikit menyeruak dan menghangatkan bumi pertiwi. Saat ini musim penghujan matahari yang cerah tak mampu mendominasi suasana dingin namun suhu dingin itu yang terasa lebih menyelimuti tubuh.
Gerakan indah saat memainkan bola keras berwarna orange itu seakan menghipnotis tiap pasang mata yang melewati lapangan berukuran panjang 28,5 meter dan lebar 15 meter , ya. Itu adalah lapangan basket ukuran international sudah distandartkan disekolah ini SMA Garuda Sakti. Pada lapangan itu tampak seorang gadis tengah memainkan bola orange itu ia tampak tak bersemangat namun permainannya tetap sama indahnya saat ia sedang bersemangat dan tak ada masalah mungkin karena tuntutan hobi dan kebiasaan.

Cindai, gadis itu mencoba mengshoot bola ke ring dalam satu loncatan dan dorongan lengan bola itu melambung dan tepat masuk di lubang ring. Cindai menghentikan permainannya saat empat lelaki mendekatinya, itu Alvin Mario Debo dan Bagas. Cindai tampak lesu ia rasa malu bertemu dengan ke empat teman barunya itu, bukan baru berkenalan tapi baru dekat dan tiba tiba sudah diberikan masalah yang cukup membuat Cindai frustasi. Kejadian yang tidak disengaja terjadi kemudian menuai korban dan Cindai rasa itu adalah karena dia. Semua gara gara Cindai.

Bagas merebut bola orange itu lalu memantulkannya sembarang, kemudian ia menatap Cindai diwajahnya penuh tanda tanya yang besar. Selama seminggu ini Cindai seakan menghindar dari Bagas dan kawan kawannya, bahkan Bagas yang teman sekelasnya pun Cindai anggap tak ada, Cindai berubah tak lagi bertegur sapa dengan Bagas, Cindai yang biasanya suka meledeki Bagas dengan sebutan kemayu pun kini tak lagi terlontar dari mulut Cindai setelah kejadian sakti seminggu yang lalu.
Melihat kedatangan mereka Cindai berinisiatif untuk keluar lapangan sungguh ia tak mau berurusan lagi dengan Bagas dan kawannya karena alasan yang tak masuk akal bahwa Cindai tak mau berhutang pertolongan pada orang orang yang suka menolongnya. Karena Cindai rasa ia takkan bisa membalas budi mereka.

“kenapa Cindai sekarang berubah?” ucap Bagas mampu menggagalkan aksi kabur Cindai
“kenapa Ndai? Ada masalah apa dengan kita?” ucap Mario
“gue rasa dengan kejadian itu akan membuat kita akrab, mengapa sebaliknya?” kata Alvin yang ikut merasakan keanehan sikap Cindai yang biasanya menyapanya saat mereka bertemu dijalan atau dimanapun.
“jawab Ndai!” desak Bagas ia mendekat kearah Cindai
Cindai diam, pandangan ke empat lelaki ini tertuju pada Cindai seakan menuntut Cindai untuk segera menjawab pertanyaan mereka. Siswa siswi mulai banyak yang berlalu lalang melewati lapangan yang menjadi sentral sekolah.

“gue gak tau caranya membalas kebaikan kalian ke gue! Gue juga gak  tau cara menebus kesalah gue sama Dea yang sudah seminggu gak masuk karena tangannya gak bisa digerakkan! Gue gak bisa ngasih apa apa buat kalian, gue tau kalian orang baik tapi walaupun begitu sudah sepantasnya gue memberikan timbal balik untuk kalian, gue gak bisa dan gue gak punya itu!” jawab Cindai datar matanya mendadak sayu, mata yang biasanya tajam dan memancarkan keceriaan itu kini tengah berubah.
“jadi menurut lo kita ingin balasan atas apa yang kita lakukann buat lo seminggu yang lalu? Ckck pemikiran salah! Kita bukan bodyguard bayaran, kita menolong karena waktu itu lo emang butuh pertolongan, kita manusiawi!” ujar Debo menanggapi jawaban Cindai yang ia rasa salah menilai dirinya dan teman temannya

“kamu salah nilai kita Ndai, kita sama sekali gak mengharapkan apapun dari kamu, kita hanya ingin berteman saja, kalo kamu ingin membalas kita cukup dengan menjadi Cindai yang seperti biasanya kita udah seneng kok” ujar Bagas kali ini dia serius dan benar

“kayak biasanya gas? Emangnya lo mau tiap hari gue ejek kemayu gak punya nyali cowok setengah mateng? Lo mau? Kayaknya gue Cuma bikin kalian kesal, karena dari awal kita memang gak pernah akrab, gue cuma kenal sama Bagas dan Dea”

“bukankah kita sudah saling kenal? Lo gak mau berteman sama kita hanya karena hal itu? Seharusnya kalo bener bener ingin membalas kita lo bersikap baik pada kita bukan sebaliknya seakan akan lo gak tau terimakasih!” ucap Mario diantara ke ketiga sahabatnya ini Mario memang yang paling sering frontal dalam berbicara.

Mendengar itu Cindai mengkerutkan dahinya merasa tersinggung dengan ucapan Mario.
“gue emang gak tau terimakasih, gue emang pengecut gue emang jelek dimata kalian, karena gue gak bisa ngobatin luka yang kalian dapat gue gak bisa ngebiayain pengobatan Dea gue gak bisa menebus rasa sakit kalian, gue gak punya apa apa untuk menebus itu” kata Cindai mulai berkaca kaca

“sekarang urusan materi? Dea, gak mungkin minta obat ke elo lah malu kali sama pangkat ayahnya jendral polisi” kata Mario

“Ndai, jangan aneh aneh deh, kita gak ngarep apa apa. Kamu kembali kayak semula itu udah cukup” Bagas

Cindai menunduk, benarkah ucapan mereka? Baru kali ini Cindai menemukan seorang yang iklas menolongnya sampai mereka rela terluka padahal hanya sesekali mereka berbincang , tak akrab bukan sahabat sejati. Tapi ini yang membuat Cindai merasakan a true friend ever .

Datang Raify masih menggendong tas nya, ia mendekati sekolompok siswa yang tengah berada dilapangan. Dengan senyum mengembang yang selalu ia pamerkan pada setiap orang nampaklah Raify gadis periang itu.
“hai teman teman, haii Ndai” sapa Raify masih dengan senyum itu senyum yang Debo sebut senyum Princess in wonderland senyum yang menawan untuknya.

“seneng banget lo Fy, ada apa?” tanya Debo
“gue ada kabar bahagia buat kalian” kata Raify masih dengan senyumnya
“apa? Lo dapat nilai seratus lagi?” tebak Mario
“bukan, kabar baiknya Dea udah sembuh sekarang abis pulang sekolah jenguk Dea yuk?” kata Raify mengundang raut wajah bahagia dari temannya.
“akhirnya Dea sembuh juga! Kapan dia bisa masuk?”
“besok udah masuk kok!” kata Raify sama seperti yang dikatakan Dea bahwa Dea akan masuk besok.

“Ify, salamin ke Dea ya, bilang juga ke Dea gue minta maaf, gara gara gue Dea rawat inap seminggu “ ucap Cindai penuh sesal
“Cindai apaan sih, kita tuh sahabat gak usah gak enak gak enak gitu lah” kata Raify
“gak ada yang nyalahin elo Ndai, jadi gak usah merasa bersalah. Kalopun ada pertanyaan siapa yang salah? Jawabannya adalah kita, karena kita sok pahlawan dan sok berani, jadinya ya gitu kalo anak SMA ngelawan preman, gede lagi badannya, kita mah apa? Cuma lepehan kapas” ucap Debo dengan santainya, Ucapan Debo terkadang bijak namun diakhir kalimat ada saja ucapan yang menghilangkan kata bijak itu.

***

Tik tok tik tok bunyi jam dinding yang bergerak melingkar jam itu menunjuk angka tiga. Namun jarum penunjuk menit masih berada diangka Sembilan, butuh lima belas menit lagi untuk mengakhiri pelajaran hari ini. Guru tetap menerangkan pelajaran murid murid mau tidak mau harus mendengarkan guru menjelaskan. Beda dengan remaja yang satu ini dia khusuk memandangi jam dinding dalam hati nya berkata kapan jarum menit itu menunjuk angka 12? Dia sudah tak tahan ingin cepat cepat mengakhiri pelajaran.
“Yo, ngapain lo mandangin jam mulu? Ketauan pak Muklis baru tau rasa lo” kata Alvin mencoba mengalihkan perhatian Mario.
“lama amat jam tiga vin” jawab Mario dengan berbisik tentu saja karena ini masih dalam proses pembelajaran.
“emangnya lo Buru buru ngapain Yo?”
“kerumah Dea lah vin! Pake nanya lagi lo”

KRIING KRIING !
Suara bell tanda berakhirnya pelajaran pun berdering, murid murid ini bersorai gembira menunggu sang guru mengucap salam dan keluar terlebih dahulu dari kelas atau menyuruh muridnya keluar duluan. Serta merta Mario bangkit dari duduknya lalu keluar berjaan menuju pintu keluar.
“Mario! Mau kemana kamu?” tanya pak Muklis mencegah langkah Mario
Mario tersadar lalu kembali ketempatnya
“eh, maaf pak, saya kira bapak sudah keluar” kata Mario sambil membungkuk bungkukkan badan tanda hormat.
“tidak sopan kamu, jangan ulangi lagi Mario” titah pak muklis
“yasudah anak anak, silahkan kalian keluar terlebih dahulu” ucap pak Muklis kemudian
dari tadi kek pak!” batin Mario lalu dengan semangat keluar dari kelas.
“kayak gitu tuh kalo udah jatuh cinta tuh, temennya gak diinget” sungut Alvin atas sikap Mario yang seakan lupa diri.

***

Rumah megah dengan arsitektur ala eropa pilar pilar yang menjulang tinggi pintupun tak sama dengan pintu yang digunakan orang Indonesia, yang ini lebih berkelas. Rumah ini memiliki dua lantai, pagar besar nan kokoh menghalangi pemandangan indah dihalaman rumah ini. Disudut taman ada kolam kecil berisikan air mancur dan ikan berwarna warni tempat duduk tepat dibawah pohon rindang, hampir menyerupai taman komplek. Ke enam remaja ini tengah terpesona dengan apa yang mereka lihat serasa tengah berada dihalaman rumah bangsawan eropa. Indah sungguh indah.

“ini rumah Dea Fy?” tanya Debo masih tak percaya bahkan ia meneguk ludah tak percaya.
“yaialah, masak gue mau bawa kalian kerumahnya pak raffy”  ucap Raify santai, karena tempat ini yang setiap hari ia kunjungi
“gila, ini rumah apa istananya ratu jodha Fy” ucap Debo lagi, pikirannya mulai menjalar, mengingat ke mewahan rumah ini.
“biasa aja kale Deb! Norak banget kamu, rumah gue juga segede ini kan” kata Bagas dengan jengkelnya melihat tingkah Debo
“yaudah yuk masuk, gue udah gak sabar pengen liat dalemnya” kata Debo
“jenguk Dea, bukan rumahnya keles” kata Mario
Raify membimbing mereka masuk ke dalam rumah megah itu  






****



S
T
O
P

Gimana? Gak jelas yah, sebenernya mau langsung tamat tapi kelamaan di laptop takut basi entar(?) jadi dikeluarin aja kali yah.. hahah
Syudahlah, silahkan komen about alurnya atau tulisannya(?) yang jelas banyak banget typos udah gak usah bahas lagi tuh typos karena gue bukan ahli ketik, gue Cuma mahasiswa biasa(?) wkwk
Ngegantung yah? Sorry sengaja nanti sambung lagi okey………… #kiss

Penulis : Yuyun Shoviana ( Yuvinaz ) <3
Twitter  Line Instagram : @YuyunShovia
NB : sangat diharapkan kritik dan saran serta komen tentang jalannya(?) cerita… biar authornya seneng gitu kan,, hehe

Komentar