Cerita
ini hanya fiktif belaka, buat para readers diharapkan read like dank omen
pendapat ceritanya:D biar penulis senang gitu kan? Oke warning typo kelayapan,
maafkan karena penulis bukan tukang ketik(?) *halah*
Happy
reading :*
ANTARA
CINTA DAN CITA
CHARACTER
OF STORY
CHINDAI
GLORIA
AGATHA CHELSEA
BAGAS RAHMAN
AGATHA CHELSEA
BAGAS RAHMAN
Satu
kata yang pas untuk menunjukkan desa ini,Sejuk. Tak pandang musim kemarau desa
ini selalu lembab terasa dingin udara walau pada siang hari inilah desa Awan,
letaknya berada dilereng gunung Payudan gunung tertinggi di daerah tempat
tinggalku, konon menurut cerita, desa ini diberi nama desa Awan karena pada
zaman nenek moyang dulu desa ini selalu diliputi awan walau begitu musim
didaerah ini sama dengan daerah lain, musim hujan datangnya sama dengan daerah
lain, istimewanya awan awal tebal itu seolah hanya sebagai pelindung untuk
menyejukkan desa kami, desa awan.
Aku
duduk disebuah gubuk yang berada diantara hamparan sawah berwarna hijau, disana
ditanami berbagai tanaman seperti tomat, cabai, padi dan sebagainya,
pemandangan yang menyejukkan bukan? Jauh dari hingar bingar kendaran yang
menghasilkan gas monoksida yang berbahaya bagi tubuh. Aku ditemani kedua
sahabatku namanya Bagas dan Chelsea. Kami bersahabat sudahlama sekali, mungkin
sejak dalam perut ibu? Ibu kami pun bersahabat, itulah sebabnya kami tak pernah
ada masalah berat dan selalu terlihat harmonis. Kami juga selalu bersekolah
ditempat yang sama sejak ditaman kanak kanak sampai sekarang di SMA kami pun
masih bersama. Mungkin akan terus begitu sampai hal besar menghalangi niat kami
untuk bersama.
Suatu
hari kami bertiga berkumpul di atas bukit belakang rumah kami, waktu itu sore
hari tepat setelah pulang sekolah, hamparan sawah terbentang nyata dihadapan
kami, sejuk.
“eh
kalian udah ada rencana mau kuliah dimana?” ucap bagas tampa mengalihkan
pandangannya dari hamparan sawah itu
“aku
ada sih, tapi belum bicara panjang sama ibuk” kata ku sembari melirik Chelsea
“aku
udah ada juga, kalo kamu kemana gas?” jawab dan tanya Chelsea
“aku
pengen banget kuliah di Jakarta, pengen ngelanjutin ke UI biar bisa mampir
keistana negara, gue pengen ambil jurusan hukum” jawab bagas pikirannya mulai
mengarah pada masa depan.
“aku
juga pengen banget kuliah di UI , Jakarta, aku ingi masuk kedokteran UI, aku
ingin menjadi dokter spesialis kanker, aku ingin menyembuhkan orang orang yang
menderita penyakit itu” ucapku, kalimat itu datang dari kesungguhan hatiku. Sembari
tos dengan bagas karena mimpi kita ditempat yang sama Universitas Indonesia.
Chelsea
memandangku sumringah, senyumnya melebar seakan bahagia dengan apa yang ku
ucapkan barusan, “chindai mau jadi dokter? Spesialis kanker ? aku dukung cindai
seratus persen!” kata Chelsea dengan riang Nampak sekali Chelsea bahagia dengan
ambisiku ini.
“iya
chels, aku pengen menyemangati mereka untuk melawan kanker seganas apapun itu, “
“makasih
Ndai kamu udah punya cita cita semulia itu, aku akan berdoa untuk kesuksesanmu
ndai” kata Chelsea dia langsung memelukku erat, ada apa dengan Chelsea ini.
“jadi
kamu mau dimana chels?” tanya bagas lagi
“aku
pengen masuk jurusan seni, kalian tau kan aku suka melukis? Aku ingin sekali
menjadi seniman lukis yang bisa mengibur semua orang dengan karyanya, aku juga
ingin kuliah di daerah Jakarta, semoga kita bisa mencapai semua keinginan kita
yaa ndai, gas” ucap Chelsea, wajahnya seperti terharu sekali.
“bagus
, kita harus janji bakal pulang ke desa awan dengan kesuksesan dengan gelar
sarjana jurusan masing masing gimana? Janji?” tanya bagas tampak semangat ia
meletakkan tanganna diantar kearah bawah, disusul tangan ku yang menimpa tangan
bagas, aku dan bagas memandang Chelsea yang tak kunjung menyusul tangan kami.
“janji”
ucap Chelsea kemudian, dan menyusul tangan ku tadi .
Kami
tersenyum bersamaan “bismillah” teriak kami dengan menekan tangan masing masing
kea rah bawah terasa selesai janji itu, sekarang tinggallah bagaimna cara janji
itu bisa terwujud.
****************
SMA
Garuda disana aku dan kedua sahabatku menggali ilmu yang tersimpan dibalik buku
dan meminta ilmu itu pada guru guru pengajar. Hari ini hari senin dimana
sebelum memulai pelajaran akan diadakan dahulu upcara bendera untuk
membangkitkan kembali semangat belajar para murid dan menghargai jasa pahlawan
yang sudah memerdekakan Negara ini sehingga para generasi muda bisa belajar
dengan tenang dan masyarakat hidup damai.
Suasana
kali ini cukup panas menusuk kulit membuat keringat bercucuran dibalik seragam
putih abu abu kami, ku lihat Chelsea yang berada disampingku tampak beberapa
kali mengelap keringatnya dengan sapu tangan cantik yang selalu ia bawa kemana
mana, kepala sekolah tengah menjelaskan bahwa satu minggu lagi para murid kelas
tiga akan menghadapi UN ujian nasional selama tiga hari, tiga hari itu yang
menentukan lulus tidaknya para murid yang sudah belajar selama tiga tahun. Aku
khusuk mendengarkan ceramah pak joe kepala sekolah kami hingga tiba tiba sebuah
tangan mencengkram pergelangan lengan ku, ku lirik itu tangan Chelsea , belum
sempat kutanya badan Chelsea rubuh menimpaku, aku yang belum siap di serang
begitu malah ikut rubuh ditimpa Chelsea, sakit sekali lenganku menyanggah
tubuhku dan Chelsea supaya tak membentur lapangan yang sudah di paving rapi ini
pasti akan lebih sakit ika mengenai lapangan.
Aku
panic bukan main, ku lihat Chelsea lemas tak berdaya, cengkraman tadi terlepas
begitu saja, teman teman cewek didekat ku berteriak histeris melihat insiden
ini, mereka tak lagi berbaris melainkan mengerubungiku dengan Chelsea sampai
petugas UKS datang membawa tandu darurat kemudia menggotong Chelsea menuju UKS,
aku ikut dibelakang petugas UKS ingin tau kenapa tiba tiba Chelsea pingsan saat
mengikuti upacara, dulu ia tak pernah seperti ini. Tapi aku positive thingking
dengan Chelsea bisa saja tadi dia lupa makan, atau dia sedang tak enak badan
saja, tapi yang aku heran suster pengurus UKS menyeru supaya Chelsea dilarikan
kerumah sakit. Selama ini tak ada siswa pingsan sampai berhubungan dengan
suster apalagi rumah sakit.
Saat
istirahat bagas menghampiriku wajahnya terlihat panic, dia bar mendengar bahwa
Chelsea masuk rumah sakit, dia terengah engah habis berlarian untuk sampai ke
kelasku,
“ndai,
kok bisa Chelsea masuk rumah sakit? Tadi pagi dia gak papa deh, kok kamu gak
ikut ndai?” tanya bagas dengan nafas tergesa gesa bukannya benerin nafas dulu
dia malah bertanya langsung wlau dengan nafas terengah engah.
“suuuttttt!
Benerin dulu nafas mu gas, kalo gak bisa nafas lagi gimana? “ kata ku menakut
nakuti bagas, iseng saja sih
Bagas
mengikuti ucapanku, dia atur dulu nafasnya yang tersenggal senggal, setelah
beberapa menit barulah dia berbicara lagi, saat dirasa nafasnyanya sudah
beraturan.
“jadi
gimana ndai?” tanya bagas
“Chelsea
gak sadarkan diri, pas aku nanya susternya dia bilang belum tau jelas tentang
mengapa Chelsea yang pasti keadaan Chelsea sangat lemah” kata ku aku sedih
dengan keadaan Chelsea.
“tumben
tumbenan Chelsea ya, diakan gak pernah gini walaupun dia paling kurus dintara
kita” kata bagas
“kamu
ini gas, eh iya aku gak ikut gak boleh sama ibuknya Chelsea, biar nanti pulang
sekolah kita jenguk Chelsea katanya” kata ku lagi bagas hanya mangut mangut
saja
****************
Pulang
sekolah aku dan bagas langsung kerumah Chelsea sekedar mengchek keadaan Chelsea
yang tiba tiba ngedrop, erlihat disana tante teresia sedang menemani Chelsea
didalam kamar, aku dan bagas sudah terbiasa langsung masuk rumah Chelsea tampa
bersalam atau mengetuk pintu dulu, sudah seperti rumah sendiri, kami bak
keluarga besar.
“hai
chels, kamu kok bisa gitu sih, aku khawatir
banget” kataku sembari duduk didekat Chelsea yang sedang berbaring lemah
wajahnya lebih segar dari tadi pagi waktu ku lihat ia tergulai lemah di UKS.
“iya
tante, si Chelsea gak makan ya tante? Kan kasihan kalo dia makin kurus tante”
ucap bagas semena mena, aku memukul lengan bagas pelan “biasa aja ngomongnya
kalo sama tante teresia” tegurku bebisik pada bagas “biasa aja ndol” balas
bagas menyebalkan.
“iyaa
ma, Chelsea kenapa?” tanya Chelsea suaranya serak
Rupanya
Chelsea juga tak tahu ia kenapa,
“gak
papa sayang, Chelsea Cuma sakit biasa, Cuma kelelahan, kepanasan disekolah”
jawab ibu Chelsea dengan senyum, senyum yang dipaksakan.
“yaudah
chels, yuk kita belajar, tadikan kamu ketinggalan pelajaran kimia, sini aku
jelasin ke kamu” kata ku sambil mengeluarkan buku catatan kimia ku tadi,
bukannya sok rajin tapi ini seperti beban, kami harus mengerjakan empat puluh
soal supaya bisa lulus sekolah, ayolah ini bukan hal mudah jika hanya
berpanggku tangan.kami bertiga belajar bersama, kecuali bagas ia asyik dengan
bukunya sendiri karena bagas anak IPS aku dan Chelsea dijurusan IPA.
*************
HARAP
TENANG ADA UJIAN! Kalimat seruan itulah yang tertempel pada setiap jendela
ruang kelas SMA Garuda, hari ini pelaksanaan UN ujian yang menentukan nasib
para siswa selama belajar menjadi murid SMA , detik detik menegangkan yang
harus dilalui dengan santai supaya bisa menjawab soal dengan baik dan benar.
Aku
dan kedua sahabatku tengah berada diluar kelas, kami saling menyemangati
terlebih untuk Chelsea dimana kesehatannya belum pulih benar, Chelsea bilang
kepalanya sedikit pusing akibat semalam tidur teraru larut malam akibat belajar
soal soal UN yang disediakan sekolah sebagai refrensi. Aku memberi Chelsea minyak
kayu putih supaya ia sedikit relex,
“chels
kamu harus kuat, kamu harus konsentrasi, demi kesuksesan kita ke UI langkah
pertama harus lulus UN! “ kataku menyemangati Chelsea
“iya
chels , demi UI, Jakarta chels, ibu kota Negara kita” kata bagas dengan semangatnya.
“iya
teman teman, makasih yaa, aku akan coba konsentrasi, semoga apa yang sudah kita
pelajari kemaren masuk dan kita bisa lulu dengan nilai yang baik” ucap Chelsea
Kini
kami berada dikelas masing masing kami semua beda kelas, dengan gemetar ku buka
lembaran soal itu, tak lupa ku awali dengan membaca basmalah semoga Allah swt
meridhoi dan memudahkan apa yang ku lakukan hari ini. Hal ini ku lakukan selama
ujian, mengawali dengan basmalah dan diakhiri dengan Alhamdulillah. Dan
menyerahkan semua hasil kepada tuhan, yang penting kita sudah berusaha dan
berdoa.
*************
Setelah
UN terlewati aku dan semua siswa seluruh SMA seindonesia tentu saja merasa lega
walau ta sepenuhnya hati kita tenang, kita harus menunggu hasil yang entah
seperti apa itu, dan harus memantapkan diri memilih kampus dan fakultas yang
akan dicapai, inilah masa masa berat siswa kelas tiga selain menghadapi UN
mereka juga dituntut untuk segera memilih fakultas yang cocok dengan hati
mereka, belum lagi mereka harus menyesuaikan dengan bakat dan nilai, itu yang
terkadang menjadi batu penghalang dan menjadikan kami para siswa galau dengan
nilai yang kadang tak sesuai dengan fakultas yang diinginkan, tapi itu bukanlah
penghalang yang besar asal ada semangat juang yang tinggi dihati para pelajar
seperti kami.
Malam
ini aku berniat mengatakan semua cita citaku pada ibuku, ibu yang sebatang kara
menafkahiku, aku sangat bangga dengan ibuku yang mampu menyekolahkan ku sampai
SMA ia rela banting tulang demi aku bisa sekolah, bagaimana aku bisa menolak
semua keinginanya? Bagai mana aku tak mau membuatnya bangga memiliki anak
sepertiku yang selama tujuh belas tahun ini hanya bisa menyusahkan ia saja, ibu
ku seorang buruh cuci ia meneriman permintaan cuci baju, aku suka membantu
ibuku mengerjakan semua pekerjaannya, aku sayang ibuku aku ingin sekali
membuatnya bahagia dihari tuanya kelak.
Tepat
sekali malam ini desa awan diberi hujan oleh tuhan, dingin. Aku sengaja
membuatkan ibu the hangat, ibu sedang duduk di sofa tempat kami menonton
televise, hanya saja saat ini ibu tak menghidupkan tv karena cuaca buruk dengan
petir yang bergemuruh, tak keras hanya saja ini cukup menakutkan. Aku duduk
disamping ibu sambil menyodorkan secangkir the hangat. Ibu meminumnya kemudian
tersenyum kearahku, terlihat sekali guratan lelah diwajah ibuku, tak
tersembunyikan sudah wajah yang mulai
menua, sedikit demi sedikit wajah ibu mulai menunjukkan keriput. Walau
bagaimanapun wajah ibu tetap sama dari dulu, yaitu sejuk ku pandang, aku selalu
menemukan ketenangan saat berada dan memandang wajah ibuku. Aku mencintai ibuku
lebih dari apapun didunia ini, dia ibu malaikat tak bersayap itu.
“ada
apa nak? Sepertinya kamu ingin bicara dengan ibu ya?” tanya ibu, ibu selalu tau
dan bisa menebak gerak gerikku
“ibu
kok tau ada yang pengen cindai bahas dengan ibu” tanya ku
“apasih
yang gak ibu tau dari cindai?”
“ibu
tau apa yang ingin cindai katakana?”
Ibu
tersenyum seraya menggelengkan kepala
“jadi
gini bu, cindai punya cita cita cindai ingin menjadi dokter, dokter spesialis
kanker”
“bagus,
itu bagus” kata ibu tampak sabar dengan apa yang akan ku katakana berikutnya
dengan sesekali menyeruput the yang masih tersisa dicangkir.
“cindai
pengen kuliah di UI bu universitas Indonesia, letaknya dijakarta….” Belum
sempat ku selesaikan kalimatku tiba tiba saja ibu melepas cangkir yang hendak
iya tempelkan dibibir untuk meminum isinya, kini cangkir itu pecah belah
dilantai the itupun membasahi lantai. Aku kaget dengan respon ibu ku sepertinya
aku mengerti, ibuku takkan mengizinkan aku.
“ibu
tidak setuju” kata ibu lalu berdiri ia berjalan meninggalkan ku menuju kamarnya
Aku
shok dengan sikap ibu yang seperti ini
“tapi
buu, cindai bisa jelasin dulu bagaimananya bu” aku mengejar ibu namun ibu sudah
masuk ke kamar dan mengunci kamar nya.
Apa
yang harus aku lakukan? Ibu tak pernah bersikap seperti ini ia pernah menolak
keinginanku yang lain tapi dengan member alasan dan tak seperti ini, ibu
menjadi aneh, ada apa dengan ibuku? Lalu bagaimana dengan janji yang sudah ku
ikrarkan dengan bagas dan Chelsea ? lalu bagaimana dengan cita citaku tinggal
dijakarta? Cita citaku menjadi dokter spesialis kanker? Aku hanya bisa menangis
dengan sikap ibu yang tiba tiba acuh menolak mentah mentah keinginanku. Padahal
semua ku lakukan untuk ibu, entah apa yang ada dipikiran ibuku.
***********
Desa
yang selalu dingin tak mampu menyejukkan hatiku yang suram akibat respon ibu
semalam, wajah murung tak bersemangat yang jadi lukisan wajahku saat ini, aku
duduk bersama kedua sahabatku ditempat yang sama bukit belakang rumah. Aku
menunduk menyembunyikan wajah ku dibalik poni samping, Chelsea dan bagas sedang
asik dengan kertas berisi nama universitas universitas di Indonesia yang mereka
print di warung internet dekat sekolah minggu lalu. Mereka belum melihat paras
ku yang berubah.
“gas,
aku denger denger universitas brawijawa malang juba bagus loh akreditasnya A
pula, “ ku dengar Chelsea berucap
“iya
chels, kenapa kita gak ke jawa timur aja sih? Disitu juga gak kalah sama UI kok
chels, ada ITS juga UNAIR kalo bisa aku pengen ngerasain kuliah di kampus
ternama itu chels” jawab bagas
“ye
mana bisa begitu, bukannya dapat ilmu, malah gempor kamu nantinya gas. Hahah”
“halah
Chelsea, tapi aku udah mantap di UI chels, kita bertiga harus bisa ke UI, yakan
ndai?” kata bagas sembari menoleh kearahku diikuti juga Chelsea
“kamu
kenapa ndai?” tanya Chelsea sembari menyikap rambutku yang menghalangi wajahku
Tampak
sudah oleh kedua sahabatku bahwa aku tengah menangis, mataku sembab dan air
mata mengalir melewati pelupuk mata membentuk sungai kecil dipipi.
“aku….”
Aku tak sanggup melanjutkannya, tak mau melihat wajah kecewa saat ku katakana
ku tak bisa melanjutkan kuliah ke UI
“kenapa?”
desak bagas
“ibu
aku gak ngizinin aku ke UI teman” kataku lemah, setelah itu tampak nyata sekali
perubahan wajah kedua sahabatku, sedih mereka
“kenapa?”
tanya bagas lagi
“aku
gatau alasannya, waktu aku minta izin, ibuku langsung bilang tidak dan pergi
ninggalin aku, ini bukan sikap ibu, biasanya ibu mau mendengarkan dulu
penjelasanku dan member alasan jelas mengapa ia menolak keinginan ku, ini beda
chels gas, ibu langsung pergi begitu saja, sepertinya memang tak boleh aku ke
UI” kata ku disela isak tangis, aku kecewa
Kami
terdiam beberapa saat, hanya kicau burung kenari yang ramai diantara kami.
“sebenarnya
aku juga gak boleh ke UI sama mamah ndai” lirih Chelsea
Aku
dan bagas kembali kaget terutama bagas, “kenapa?” tanya bagas lagi, apa tak ada
pertanyaan lain selain itu gas? Ta apalah mungkin gara gara bagas shok dengan
pengakuan aku dan Chelsea
“mama
khwatir dengan kesehatan ku” kata Chelsea lagi
“kamu
sakit apa chels? Kamu baik baik aja kan? Gak ada penyakit serius kan?” tanya ku
“gak
ada gas ndai, dan aku dengan rela ikhlas mau mengikuti ucapan mamah, aku mau
menghapus hcita citaku ke UI, toh semua kampus itu baik kan ndai,gas? Tinggal
bagaimana kita berkembang dengan pelajaran yang ada, betulkan ndai,gas?” jawab
Chelsea
Sekilas
ku lihat Chelsea memang tengan seperti ikhlas benar dengan apa yang ia katakana
barusan, aku menangkap hal aneh dari Chelsea, Chelsea adalah gadis yang berambisi
keras atas apa yang ia inginkan, tak masuk akan jika ia menyerah hanya karena
khawatir dengan kesehatannya?.
“kalian
tega? Tega lihat aku sukses sendirian di UI?” kata bagas
“amin
gas, tapi aku masih ngarep di UI gas…” kata ku
“gimana
kalo kita bertiga kerumah cindai terus ngomong dari hati kehati bareng mama
cindai ?” ucap Chelsea
“nah
bener tuh,” susul bagas
“tapi….
Apa bisa?” aku ragu
“coba
dulu ndai, gak aada salahnya kan? Siapa tahu kalo kita ngomong bertiga tante
bakal luluh ndai” ucap bagas
“boleh
deh, makasih yaa teman teman, kalian baik banget” ucapku kami bertiga
berpelukan, peluk persahabatan
*************
Sebenarnya
aku tak enak hati menyampaikan ini lagi pada ibuk karena aku tau jika ibu sudah
bersikap begitu itu artinya tak kan bisa dirubah lagi keputusannya. Aku dan
kedua sahabatku tengah duduk diruang tamu menunggu ibu keluar dan menghapiri
kami. Setelah kejadian izinku kemaren, gerak ku dengan ibu jadi kurang harmonis
tampak canggung untuk sekedar berbicara itu karena kami sama sama mempetahankan
pendapat. Dimana kit selalu sarapan makan siang dan makan malam bersama kini
sendiri sendiri, aku tak sanggup melihat wajah ibu yang murung dan aku juga
kesal dengan sikap ibuku, memang aku tak pantas kesal pada seorang ibu yang
melahirkan ku ke duia, tapi saat semua tak sejalan tak sesuai dengan harapan
rasa kesal itu muncul tampa suruhan.
Ibu
keluar kamar dengan wajah kaget melihat ada Chelsea dan bagas dirumah secara
tiba tiba biasanya kalau mereka kerumah, rumah pasti ramai dengan celotehan
mereka.
“haii
tante onya…” sapa bagas Chelsea kompakan
“hai
ada kalian rupanya, tumben gak heboh dulu ya” ucap ibu ku dengan senyum
melukisi wajahnya
“waduh,
jadi kita dikenal biang heboh dong yah? Tante sehat tante?” kata bagas
“sehat
gas, chels tante sehat, eh tante ke dapur dulu ya” kata ibu ku
“eee
buk, kita pengen bicara sama ibuk “ kata ku
Ibu
berjalan kearah kami dan duduk disampingku
“ada
apa?” katanya
“sebenarnya
bukan Cuma cindai yang ingin ke UI bu tapi juga bagas dan Chelsea “ kata ku,
Chelsea berisyarat bahwa dia tak ikut, tapi ku isyaratkan dia untuk diam dulu.
“iya
tante, kami akan saling menjaga disana tante, insyaallah semua aman tante kalo
kita bertiga selalu bersama, karena kami bertiga ini super power tante, kalo
salah satu diantar kita ak ada maka kurang lengkap tante” kata bagas, aku tak
mengerti mengapa dia masih bisa bercanda saat serius seperti ini?
“iya
tante, cindai punya cita cita mulia tante, “ tambah Chelsea , aku selalu bangga
dengan ucapan Chelsea beda dengan bagas yang asal asalan kalau berbicara.
“ada
lagi?” tanay ibuku
Kami
bertiga saling pandang,
“ya,
jadi kami pengen mengejar cita cita ditempat yang sama buk, kami ingin sukses
di UI kami ingin mengejar cita cita kami disana” kataku
Ibu
bernafas panjang dan menghembuskannya berat.
“sekali
ibu tidak, tetap tidak. Ibu tidak mau membahas ini lagi dengan siapapun” ucap
ibuku lagi lagi ia meninggalkan tempat diskusi begitu saja, kami semua berdecak
kecewa,
“sabar
ya ndai, kita coba lagi nanti” ucap Chelsea sambil merangkul tubuhku sayang.
“tante?
Yampun baru kali ini yaa liat tante gak friendly gitu, yakan chels?” kata bagas
“iya
bagas, mungkin ndai, tante onya gak mau jauh jauh dari kamu, kamu kan anak
tunggal , kalo kamu pergi ke Jakarta siapa yang akan menjaga tante onya? Kamu
udah pikirin semua? Kamu udah mikir tentang keadaan ibu kamu nanti gak? Saat
kamu sudah berada di UI selama 4tahun?
Kamu ninggalin ibu kamu? Yang maaf tante onya udah tua ndai, tante onya gak
muda lagi, ada banyak hal yang perlu bantuanmu , aku bukannya mau menyurutkan
keinginanmu ndai, aku malah orang yang paling bahagia jika kamu ke Jakarta,
tapi aku juga ingin membentangkan fakta yang ada, bagaimana kamu menyikapi
fakta yang seakan mencegahmu untuk ke Jakarta, coba kamu pikirkan dahulu,
pikirkan masak masak ndai” ucap Chelsea ia benar, ucapan Chelsea benar,
Aku
memang tak rela meninggalkan ibu tinggal sendirian disini, tapi aku sudah ada
ide, aku sudah ada pikiran siapa yang akan menemani ibu selama aku belajar di
Jakarta, aku akan meminta tante winda untuk menemani ibu selama aku tak ada.
Aku tak seegois itu mau meninggalkan ibu seorang diri, aku sadar ibu sudah tua.
“chels,
nukil dimana kalimat bijak?” tanya bagas slengean
“bagas,
bisa serius dikit gak!” tegur Chelsea geram dengan sikap bagas,
“aku,
aku ke kamar dulu ya chels, gas” ucapku
lalu melangkah beratmenuju kamar, aku sudah tak peduli dengan apa apa lagi
pikiranku sedang berkecamuk antara Cinta dan Cita yang ada.
“chel
chel , kita kan tamu ya? Kenapaditinggalin gitu ajah? Bukannya ngasih the,
biscuit malah di anggurin”
“udah
yuk gas pulang, cindai butuh sendirian tuh”
*********
Siang
ini aku termenung dikamar memeluk boneka pemberian almarhum ayah, ayah
meninggal sejak empat tahun silam boneka ini pemberian ayah saat aku ulang
tahun ke tiga belas, dengan memeluk boneka ini rinduku terobati akan kehangatan
pelukan ayah, seandainya ada ayah disini ayah pasti mau mengizinkan ku ke
Jakarta sekolah kedokteran disana. Aku kangen ayah.
“ayah,
apa cindai salah dengan cita cita cindai? Apa cindai salah berharap menjadi
dokter, sekolah dijakarta? Andai ayah masih ada, cindai yakin ayah akan
mengizinkan cindai sekolah ke Jakarta kan yah? Ini keinginan cindai yang bulat
yah, cindai gak bisa ngubah keputusan cindai ini, ibu juga gak bisa ngubah
keputusannya, lalu bagaimana dengan cindai ayah?” ucap ku pada boneka pemberian
ayah, aku tau ini sia sia tapi setidaknya aku bisa meluapkan semuanya walau
hanya pada benda tak hidup.
Aku
sengaja tak keluar kamar sejak kemaren malam, aku tak mau melihat wajah ibu
yang tak mengindahkan keinginanku, aku sudah sangat berambisi ke Jakarta apa
harus berakhir karena terhalang restu ibu? Pasti ibu diluar sana sedang
mencemaskan keadaanku tapi sudahlah aku tahan walau aku sedang lapar, untung
saja masih tersisa coklat pemberian Chelsea kemaren jadi ada pengganjal perut
walau hanya sebatang cokelat ini. Aku uring uringan dikamar, aku memkirkan
semuanya, aku sadar keberangkatanku nanti akan mendapat banyak resiko, aku juga
khawatir akan ibu tapi semua sudah bulat, asa ku tak mungkin berubah.
Terdengar
pintu kamarku diketuk dari luar, itu pasti ibu,
“cindai,
kamu gak makan nak? Ibu sudah masak nasi goreng kesukaan kamu, ayo keluar
nak” suara ibu dari luar, rupanya ibu
masih menghawatirkanku
“cindai
gak lapar buk, “ ucap ku, bohong. Aku sangat lapar sekali ingin sekali aku
kedapur dan makan nasi goreng buatan ibu, pasti sedap rasanya.
Malam,
aku tetap tak keluar dari kamar aku keluar hanya untuk ke kamar mandi saja, dan
beruntung saat itu tak ada ibu, jadi aku tenang. Ini benar benar puncak rasa
laparku kepalaku sampai pusing karena perutku kosong. Kemana Chelsea dan bagas?
Seharusnya sebagai sahabat yang baik mereka menjengukku dan membawakan makanan
untuk ku.
Kembali
ibu mengetuk pintu kamar ku, kali ini ketukannya sangat kasar
“cindai,
buka pintunya sekarang, kamu belum makan seharian, buka cindai” teriak ibu dari
luar kamar sambil menggedor pintu kamarku. Tak tahan dengan suara ini aku
bangkit dari kasur walau dengan sedikit sempoyongan aku membuka kunci pintu dan
memutar knop pintu hingga pintu terbuka, terlihat ibu tengah berdiri dengan
membawa piring berisi nasi goreng kesukaan ku, uh sedapnya. Tapi aku tetap cuek
pada ibu.
“cindai,
kamu ini kenapa? Kamu marah sama ibu? Kamu mogok makan karena ibu tak merestui
kamu ke Jakarta? Sekali ibu bilang tidak ya tidak, ibu gak suka kamu bersikap
seperti ini, kamu membuat ibu sedih cindai” kata ibu dengan suara halusnya
wajahnya sama sekali tak menunjukkan kemarahan, hatiku bergetar saat ibu
mengatakan bahwa aku membuatnya sedih, dan saat itu ibu menitihkan air mata.
Melihat air mata itu aku tak kuat, hatiku sakit, tak terasa aku terjatuh dilantai, ibu terkejut
dan membawa ku ke kasur,
“cindai,
kamu memang satu satunya harapan ibuk nak, ibu sangat ingin melihat kamu
sukses, ibu sangat ingin membuat kamu bahagia, tapi tidak dengan meninggalkan
ibu sendirian, kamu tau? Siapa yang paling berharga di dunia ini? Kamu cindai,
kamu anakku, mana mungkin ibu rela membiarkan mu keluar dikota orang? Ibu tak
rela nak” kata ibu sesegukan air matanya terus mengalir
“apa
kamu tega membiarkan ibu yang tua renta ini sendirian menikmati masa tuanya
nak? Apa kamu setega itu membiarkan ibu tinggal seorang diri disini? Bagaimana
jika nanti ibu sakit? Sedang kamu jauh disana? Siapa yang akan ibu panggil untuk
membelikan ibu obat? Siapa yang akan ibu panggil untuk ibu peluk nak? Siapa?
Jika ibu semakin parah dan ibu tak ada lagi di dunia siapa yang akan memandikan
ibu nak? Siapa?” lirih ibu
Aku
tak kuat mendengar ucapan ibu, ku dekap erat tubuh ibu, tangisan ibu membuat
bahu kanan ku basah dengan air mata, sama halnya dengan bahu ibu basah dengan
air mataku,
“cukup
bu cukup, cindai juga sayang ibu, gak ada didunia ini yang cindai cinta selain
ibu, cindai ingin ke Jakarta mengejar cita cita cindai bu, cindai ingin sukses
disana, setelah cindai sukses? Untuk siapa kesuksesan cindai bu? Ya untuk ibu
bukan yang lain bu, cita cita cindai untuk ibu.” Ucap ku dengan sedikit
kekuatan yang tersisa
“ibu
tak butuh itu nak, ibu butuhnya kamu, kamu cindai, anak ibu satu satunya. “
kata ibu
Hatiku
rapuh kawan, aku tak bisa lagi menentang ibu, tapi tekatku masih sama, akupun
tak tahu mengapa aku begitu yakin dengan cita citaku ini, bahkan aku rela
menentang ibu karena ini.
“kamu
bohong jika mencintai ibu cindai” ucap ibu lalu melepaskan pelukannya dan
memalingkan wajah
“ibu
salah bu, cindai sayang ibu, cindai cinta ibu bukan yang lain bu, tolong bu
jangan siksa cindai seperti ini”
“kamu
jangan siksa ibu cindai, kamu pikir ibu tidak sakit kamu meminta yang seperti ini,
ibu tidak mau sendirian cindai, “
“hanya
untuk empat tahun bu, jika cindai bisa cindai akan ikut semester pendek yang
bisa disingkat menajdi dua tahun saja bu”
“hanya
empat tahun? Menunggumu pulang sekolah saja ibu sudah rindu, ibu khawatir, apa
kamu tidak mengerti saat pulang sekolah ibu selalu menunggumu didepan rumah?
Itu karena ibu menghawatirkanmu nak, kamu satu satunya harta ibu!”
Hah
? aku tak sadar dengan ini, aku tak peka yatuhan ibu mempersulit cita citaku,
inikah perjuangan itu tuhan?
“ibu,
cindai sudah memikirkan ini masak masak, jika cindai berada di Jakarta, akan
ada tante winda yang akan menemani ibu, cindai sudah mengatakan ini pada tante
winda, dan tante winda setuju dengan keputusan cindai,”
“winda
setuju? Kamu tidak sadar cindai, ibu tidak bisa membiayai kuliahmu dijakarta,
Jakarta itu kota metropolitan, apa kamu mau melihat ibu membanting tulang lebih
kasar dari ini cindai? Kamu ingin melihat ibu mati perlahan? Jawab cindai “
Aku
kembali tersentak dengan kalimat kalimat ibu yang terlontar kepadaku, aku
menggeleng pelan.
“tidak
ibu, sungguh cindai tidak akan meminta uang pada ibu, cindai akan bekerja
disana, dan cindai sudah dapat beasiswa bu, ibu tak percaya?” aku mencari surat
kelulusanku saat mengikuti beasiswa penuh menuju UI, aku menunjukkannya pada
ibu . ibu membaca dengan tangan bergetar, mungkin ia tak percaya dengan apa
yang telah ku persiapkan
“kamu
benar benar mau meninggalkan ibu nak? Kamu sungguh sungguh berniat meninggakan
ibu” kata ibu melemah, ia tutupi wajahnya dengan kedua tangannya, ibu sangat
terpukul dengan kesiapanku.
“dan
ini bu, artinya cindai sudah lolos di UI bu, ibu harus bangga dengan cindai bu,
“
Uraian
air mata ibu tak kunjung reda, matanya membengkak dan ujung hidungnya memerah,
aku merasa bersalah, sumgguh untuk kali ini saja aku membuat ibu menangis,
untuk saat ini saja, aku janji tak akan membuatnya terluka lagi. Aku janji. Ibu
memandangku tak percaya, bibirnya bergetar entah apa yang ingin ia katakana
padaku, ibu beranjak dari kasur mengambil piring nasi yang ia letakkan di meja
riasku. Lalu kembali mendekatiku
“kamu
makan nak, ibu tau kamu lapar, seharian ini kamu tak makan” ucap ibu lalu
menyuap nasi kemulutku, aku memegang tangan ibu, aku ambil piring berisi nasi
itu.
“jadi
ibu?”
Ibu
mengangguk pelan kemudian tersenyum teduh kearahku, sungguh tak bisa ku
lukiskan perasaanku saat ini. Ku sambar nasi yang ada digengamanku ku makan
dengan lahapnya disamping aku memang kelaparan, tapi aku sangat bahagia
mendengar jawaban ibu, aku bahagia. Perlahan senyum itu terlukis dibibir ku dan
ibu.
****************
Pagi
ini ku putuskan untuk menemui kedua sahabatku Chelsea dan bagas, aku ingin
sekali memberitahu mereka bahwa ibu ku sudah merestui rencana besarku, akan ku
ceritakan kebahagianku pada mereka. Sesampainya aku dirumah Chelsea ku ketuk
pintu rumahnya karena pintu rumah dalam kondisi terkunci biasanya aku dan bagas
langsung masuk saja tampa permisi tapi karena pintu dikunci jadi ku ketok
dahulu.
“Chelsea,
chels ini cindai, Chelsea “ panggilku sambil mengetuk pintu namun sama saja tak
ada jawaban, aku mengintip dibalik jendela tak ada yang bisa ku lihat
sepertinya tak ada orang, mungkin chelsea sedang kerumah neneknya bersama
keluarganya.
Ku
putuskan untuk menemui bagas, aku melangkah kerumah bagas, dan beruntung bagas
ada disana, sedang duduk diteras rumahnya dia tampak bengong pandangannya
kosong apa yang dipikir oleh bagas? Bukankah selama ini dia yang selalu ceria
seperti tak punya masalah.
“bagas!”
teriakku dari jauh
Bagas
memandangku, ekspresi wajahnya berubah tak seperti tadi, ku dekati sahabatku
yang satu ini
“tumben
ngelamun, ada masalah? Eh Chelsea mana sih?” tanya ku setelah duduk disamping
bagas
Bagas
memandangku aneh, aku mengibas ngibaskan tanganku didepan wajahnya barulah ia
tersadar. Pasti ada sesuatu.
“ndai,
kamu ? kamu kok ceria gitu sih? Kamu gak sedih lagi? Kamu gak galau lagi? Apa
kamu sudah dapat ilham atas apa yang harus kamu lakukan?” tanya bagas sekaligus,
tak tahu apa aku bingung mana yang harus aku jawab terlebih dahulu.
“satu
satu nanya nya gas, ia aku udah gak sedih lagi, aku kesini mau ngasih kabar
gembira buat kalian” jawab ku entah nyambung atau tidak dengan jawaban bagas
yang banyak tadi
“kamu
ada kabar gembira? Aku ada kabar buruk!” ucap bagas mengagetkan ku, ada apa?
“hah?
Apa? Apa gas? “ desak ku
“Chelsea
masuk rumah sakit, ternyata selama ini dia punya penyakit serius ndai” jawab
bagas lemah
Aku
tersentak, benar benar tak menyangka jadi ini yang dimaksud Chelsea, ibunya tak
mengizinkan ia kejakarta karena kesehatan. Ya Chelsea sakit, aku jadi tak
bersemangat
“kok
aku gak tau gas? Sejak kapan Chelsea dirawat?”
“setelah
kita balik dari rumah kamu saat dijalan, Chelsea jatuh dia pingsan dan
hidungnya mengeluarkan darah” kata bagas
Aku
semakin shok! Sahabat macam apa tak tau keadaan sahabatnya
“kamu
kok gak ngasih tau aku sih gas?” pekik ku marah pada bagas
“aku
juga bingung ndai, dilain sisi aku gak mau ngebebamin kamu karena aku tau kamu
sedang perang batin, kamu tau? Aku bengong bukan karena apa apa, aku sedih
melihat kedua sahabatku sakit.”
“arrggg,
yaudah sekarang kita kerumah sakit gas, kamu tau Chelsea dirawat dimana?”
Bagas
mengangguk, sungguh aku seperti sahabat yang tak berguna aku tak ada disaat
Chelsea kesakitan. Kami berdua menuju kerumah sakit tempat Chelsea dirawat
***************
Lorong
demi lorong rumah sakit aku dan bagas lewati untuk mencari kamar rawat Chelsea,
cukup jauh harus menaiki lift, barulah sampai dikamar Chelsea. Dari luar pintu
kulihat Chelsea terbaring lemah dikasur, aku buka pintu perlahan, banyak pasang
mata memandangku ada ayah dan ibu Chelsea, dan si kecil troy, adik Chelsea.
Chelsea
tersenyum akan kedatanganku bersama bagas, aku berhambur kearah Chelsea , ku
peluk dia, air mataku jatuh melihat Chelsea seperti ini.
“maafin
aku chels, aku baru bisa jenguk kamu, aku baru tahu keadaan kamu, maafin aku
chels” lirih ku pada Chelsea sembari melepaskan pelukanku
Chelsea
tersenyum lemah kearahku “gapapa ndai, aku tau kamu juga lagi sulit, aku nyuruh
bagas biar gak ngasih tau kamu, aku tau kamu juga dalam masa masa sulit” jawab
Chelsea, dalam keadaan seperti ini dia masih memikirkan perasaanku, dasar
Chelsea selalu tak mau merepotkan orang lain.
“jadi
kamu sakit apa chels?” tanyaku pada Chelsea , Chelsea memalingkan wajahnya
kearah ayah ibunya, tante teresia hanya memandangku sendu
“sakit
apa tante? Kita juga ingin tau tante” kataku
“aku
sakit kanker ndai, kanker otak” bisik Chelsea, ia memamerkan senyum kearahku
Kembali
menetes air mataku, aku menggeleng tak percaya, Chelsea sahabatku harus
menderita penyakit berbahaya itu, dan dengan polosnya ia masih bisa tersenyum. Aku
kembali memandanya. Tekat ku semakin kuat semangatku semakin bulat, mendapat
Chelsea dalam keadaan seperti ini.
“chel
kamu janji ya sama aku, kamu harus bertahan demi aku? Aku akan kembali dari
Jakarta dengan membawa gelar doctor, doctor special kanker, kamu harus
bertahan, aku akan mengobatimu nanti, kamu harus bertaham chels, kamu harus
percaya bahwa aku akan kembali dan menyembuhkanmu” ucapku pada Chelsea aku
sudah bertekat.
Wajah
Chelsea berseri seri mendengar pengakuanku, bagas juga tak percaya dengan apa
yang aku katakan, “jadi kamu?” “iya chels aku akan berangkat ke UI aku akan
menggali ilmu disana, aku akan menyembuhkanmu, tetaplah berdoa chels supaya aku
bisa menyembuhkanmu minta pada tuhan chel”
Chelsea
terseyum dengan menetesnya air matanya, kembali pilu. Kini aku memegang dua
janji, janjiku pada ibu dan pada Chelsea, dua orang ini harus ku tinggal selama
aku di UI.
“ndai,
kemaren pengumuman untuk beasiswa hukum, dan aku? Aku tidak lolos ndai, chels,
maaf aku gak bisa nemenin kamu di UI” ucap bagas
Ada
pengakuan yang tak mengenakkan lagi, bagas, dia harus gagal dia harus menerima
sakitnya kegagalan. “bagas, jadi kamu, sabar ya gas” kataku memandng bagas
sedih
“gak
papa gas, kamu nemenin aku disini, itu artinya kamu harus belajar lagi, kan
masih ada tahun depan gas” kata Chelsea
“aku
gapapa kok, aku terima dengan ikhlas, mungkin bukan rezeki ku ditahun ini, tapi
ingat ndai, aku akan menyusulmu tahun depan” kata bagas dengan tekatnya
Tos
! ini janji bagas, aku tersenyum atas ketegaran bagas mau menerima kegagalan
ini. “siap gas, aku tunggu kamu di kampus UI tahun depan” kataku berjabat
tangan dengan bagas tanda janji kita.
*********************
Ku
lihat tanggal, dua minggu lagi aku harus berangkat ke Jakarta, dan kejakarta
membutuhkan ongkos pribadi, aku tak mungkin meminta pada ibu, aku lihat
celengan ayam yang setia menampung sisa uang saku ku, ku kocok menghasilkan
suara benturan antar uang receh, aku berniat memecahkan celenganku untuk ongkos
ke Jakarta, dengan pelan ku lempar celengan itu kelantai menghasilkan suara
berisik, dan membuat isi nya berceceran dilantai kamarku, ku punguti uang yang
ada, beragam ada recehan limaratus rupiah bahkan seratus rupiah pun ada,
namanya juga sisa uang saku ya seperti ini tampaknya. Setelah ku hitung lumayan
banyak dan lebih untuk ongkos keberangkatanku.
Ibu
masuk dengan wajah panic, kemunngkinan suara celenganku tadi mengganggu ibu dan
membuatnya khawatir,
“cindai
ada apa nak?” tanya ibu
“kamu
mecahin celengan? Buat apa nak?” kata ibu ia tahu jawaban atas pertanyaan awal
nya.
“buat
ongkos cindai ke Jakarta bu, “ jawab ku dengan senyum
“kamu
tak perlu mengambil dari celengan, ibu yang akan membayar ongkos jalanmu ke
Jakarta nak” kata ibu, aku seang sekali mendengarnya
“beneran
bu? “
“iya,
uang itu kamu simpan ya buat jajan mu disana” kata ibu
“makasih
banyak bu” kataku, aku peluk ibu ku sayang
“cindai
benar benar akan ninggalin ibu?” bisik ibu lemah
“ibu,
jangan bikin cindai sedih bu, cindai akan kembali, cindai pergi untuk sementar
bukan untuk ninggalin ibu selamanya, cindai pasti kembali ke ibu, dan saat itu
cindai akan membuat ibu bangga punya cindai” aku meyakini hati ibu yang goyah.
**************
Kini
tibalah hari itu, hari keberangkatanku ke Jakarta untuk memulai hidup baru,
hidup yang nantinya ku persembahkan kepada ibuku kepada Chelsea dan bagas
sahabat tersayangku.
Aku
dan semua orang tersayangku tengah berdiri di dermaga menunggu kapal pesiar
yang akan membawaku menyeberang pulau hingga sampai di kota besar dan dari kota
itu aku akan menaiki bus menuju ke Jakarta tentu saja ini akan jadi perjalann
panjang dari rumah ke kota Surabaya saja butuh waktu 10 jam, jika ditotal
keseluruhan perjalanan bisa dua hari aku diperjalanan menuju Jakarta, karena
menggunakan jalur darat alias bus.
Disini
ada ibuku, ibu ku yang sedari tadi tak mau melepaskan pelukannya, ibu yang
sedari tadi meneteskan air mata, dan disamping ku ada bagas dan Chelsea yang
terlihat tegar, padahal aku tahu hati mereka rapuh melepas ku, sama denganku
sungguh berat meninggalkan mereka.
Tak
berapa lama muncul kapal besar, petugas kapal membuat jembatan kecil untuk
memudahkan penumpang masuk kapal, aku harus berangkat
Melihat
kedatangan kapal tadi ibu semakin erat memelukku seakan tak mau membiarkan aku
pergi. “cindai, anak ibu jangan tinggalin ibu nak” lirih ibu tepat ditelingaku
“ibu,
ibu cindai janji akancepat kembali untuk ibu, cindai janji bu, ibu jangan
seperti ini bu” lirih ku member satu janji pada ibu. Namun ibu tetap menangis
ku lepas pelukan ibu aku beralih memeluk Chelsea erat, dan kali ini Chelsea tak
bisa sok tegar lagi, tangisnya pecah terdengar sekali segukan Chelsea, “cindai,
aku bakalan kangen kamu, sering sering kirim surat ya ndai” bisik Chelsea “aku
janji chels, aku janji akan ngabarin kamu terus” jawabku “kamu janji ndai, kamu
semangat disana, kamu pulang dengan gelar doctor dan menyembuhkanku” kata
Chelsea, “tentu chels, pegang janji ku “ ku lepas pelukan Chelsea dan beralih
pada bagas, aku memeluknya sebentar, bagas hanya tersenyum ia menitihkan air
mata juga, tapi tak separah Chelsea, “cindai! Aku akan menyusulmu tahun depan!”
ucap bagas, teguh “aku tunggu kamu di UI gas” jawabku
Petugas
kapal membantu memasukkan tas ku ke kapal, aku harus pergi. Aku langkahkan kaki
ku kearah kapal mencoba membiarkan tangis ibu yang memuncak,
“aku
akan kembali untuk ibu” teriak ku dari jauh, aku masuk kapal dengan perasaan
haru campur bahagia, kini aku harus fokus dengan apa yang ku janjikan pada bud
an Chelsea. Terkhusus ibu orang yang paling ku sayang di dunia ini.
Terdengar
kapal berderu kencang menandakan aku sudah bergerak meninggakan dermaga,
meninggalkan desa awan yang sejuk meninggalkan ibu tercinta dan sahabat
tersayang. Aku janji aku janji akan kembali dengan cindai yang membanggakan
ibu. Ridhoi cindai yaAllah, Amin.
*
*
*
*
*
* TAMAT
HAPPY ANNIV 2ND
CLCS
#Happy2ndClcsTogether
#1Heart2FingersClcs
Twitter : @YuyunShovia
Gimana nih? Feel nya
dapet gak sih? Bikin semoga cerpen ini butuh pengorbanan banget loh, semoga
suka aja, eh min ini dibaca cindai gak sih? Ngarep banget menang biar bisa
ngegosip sama cindai *plak* *eh canda min-,- ,, gak menang juga gapapa kok,
ikut ngeramein anniv aja sih ;)
buat temen temen yang ditag, aku minta kritik
dan saran + komen pendapat ceritanya yaa, biar penulis seneng gitukan :”D
heehee , much love Clcs :*
Komentar
Posting Komentar