2015 TRUE FRIEND. CERPEN IDOLA CILIK (PART 2)

Hallow :* ,, ngaret yah? Sorry kebiasaan :v *Eh ini udah di next kok, kayaknya udah panjang(?) heheh biar pembaca puas yak… biar kaga nanyain terus :D thanks ya udah setia nunggu nih cerpen paling ngaret seBDS(?) ckkck yaudah yuks langsung aja ke inti pembahasan(?)

2015 (TRUE FRIEND)
Raify membimbing mereka masuk ke dalam rumah megah itu, Raify membimbing mereka menuju kamar Dea yang letaknya dilantai dua, karpet merah yang menempeli anak tangga itu seakan menyambut mereka hangat. Lampu Kristal yang menggantung apik ditengah tengah atap menambah meriahnya rumah ini.
 Sesampainya didepan pintu kamar Dea, Ify langsung saja membuka pintu yang ia tahu bahwa pintu itu takkan dikunci. Benar saja pintu itu terbuka terlihat disana seorang gadis tengah tertidur tertutup selimut tebal.
“Fy, ketok dulu kali, main masuk aja lo” tegur Mario pada Ify baginya tidak sopan jika masuk ke kamar orang tampa salam atau mengetuk pintu terlebih dahulu, juga untuk mengantisipasi hal hal yang tidak mengenakkan, karena bisa saja orang yang didalam kamar tengah ganti baju atau hal hal yang rahasia.
“gak papa kalo dirumah Dea yo, “ kata Ify
“iya kamu Fy, kalo kita gimana? Kan gak asik entar” ucap Bagas menyetujui ucapan Mario
Mereka semua masuk kamar Dea, lagi lagi mereka takjub dengan dekorasi kamar Dea, kamar yang luas dan bernuansa pink dalam kamar itu terdapat foto berukuran besar bergambarkan dirinya bersama badut badut dalam tokoh film kartun favoritenya Spongebob Squerpants, Dora The Exsplorer, The Wild Thornberry disana hanya ada tokoh Elisa, dan The Fairy Old Parrent ada tokoh Wanda dan Cosmo disana, tampak Dea kecil yang bahagia berada ditengah tokoh kartun favoritenya itu foto ini diambil langsung di Rusia ketika Dead an sekeluarga berlibur disana, disamping gambar itu ada pula gambar yang berukuran sama besar disana terlihat Dea bersama tokoh princess yang bisa membekukan semua benda yang ia pegang, Princess Elsa dalam Film frozen hanya saja yang ini bukan badut tapi model dari kartun tersebut, sangat mirip. Foto itu diambil ketika Dea dan Ayahnya berlibur ke Disney land Hongkong tahun lalu saat liburan semester.
Bahagia rasanya menjadi seorang Dea Amanda apapun yang ia butuhkan selalu terpenuhi.
“hai De, liat nih gue bawa siapa aja” kata Raify sembari mendekat ke kasur Dea
Dea tampak sumbringah melihat kedatangan kawan kawannya ia langsung bangkit dan dalam posisi duduk, karena tak menyangkan Raify akan membawa teman temannya kerumah,
“teman teman, aku seneng banget kalian jenguk aku” kata Dea senyumnya tak henti mengembang, sungguh bahagia ia rasa.
“dey, haus nih” kata Raify, yang mendapat pelototan dari teman temannya
“gausah sok jaim deh, gue tau kalian haus kan” kata Raify lalu keluar kamar, bermaksud mencari mbak Salimah pembantu dirumah Dea.
“Fy, mau kemana? Ikut dong” kata Debo lalu mengikuti Raify keluar kamar.
“huu bilang aja mau modusin Raify lo deb!” seru Bagas, rupanya Bagas mengerti gerak gerik sahabatnya itu.

***

Kedua remaja ini berjalan menuju dapur. Debo tak henti henti memuji arsitektur rumah ini baginya ini perfect.
“ngapain sih deb ngikut ngikut, udah ah sana, jangan bilang lo mau caper, mau modusin gue, sorry ya deb gue bilang duluan kalo gue udah ada hati sama orang lain!” ucap Raify, ia termakan ucapan Bagas tadi dan ia kurang menyukai itu, ia hanya anggap Debo sebagai teman sekelas, tak lebih.
Debo sedikit tertegun dengan ucapan Raify barusan, ia rasa ada yang bergejolak dihatinya hingga menghentikan langkahnya. Ia pandangi sosok Raify yang masih berjalan santai didepannya. Dalam benaknya, Debo bertanya tanya siapakah gerangan orang itu? Apa yang membuat Raify mengaguminya? Debo segera sadar dari lamunannya ia tak mau Raify jauh dari dirinya. Segera ia menyamakan langkahnya dengan Raify.
“dih ke-G-R-an lo Fy, gue ikut lo karena gue pengen liat seluk beluk rumah Dea lebih luas, gue takjub banget sama arsitekturnya” kata Debo ia hanya ingin menutupi semuanya dan mengembalikan sikap Raify yang manis itu.
Feeling gue bilang gitu sih Deb, “
“kalo bener lo mau apa?” tanya Debo, kali ini membuat Raify yang menghentikan langkanhnya
Kemudian menatap Debo tak percaya, kedua alisnya seakan menyatu. Ia berpikir keras akan menjawab apa? Semua terasa serius.
“halah, ngapain lo serius? Gue aja bercanda, udah ah cemen lo, dimana nih dapurnya, jauh amat gak sedia lift apa?” kata Debo lalu berjalan duluan dengan senyum misteriusnya. Raify menggerutu kesal.

***

Cindai memberanikan diri mendekati Dea, dia sudah memikirkan apa saja yang akan ia ucapkan pada Dea, rasa bersalahnya, permintaan maaf semua sudah dirangcang sebelumnya.
“Cindai, lo ikut juga yah, thanks ya Ndai” sapa Dea ramah, membuat Cindai berpikir keras karena ini berbeda dengan apa yang ia bayangkan tadi, bahwa Dea akan marah dan menyalahkan dirinya, ternyata sikap Dea sama dengan teman teman yang lain, Cindai sempat berpikir bahwa orang orang yang ada disekitarnya adalah orang orang yang benar benar tulus.
“Dea, lo gak marah sama gue?” tanya Cindai duduk disamping Dea
“kenap harus?” tanya Dea
“gausah mulai deh Ndai” ucap Bagas mengingatkan apa yang sudah mereka bahas disekolah tentang siapa yang salah dalam kejadian minggu lalu.
“gak Dey, Cindai tuh emang suka ngerasa bersalah orangnya padahal kita udah bilang kalo bukan dia yang salah, kamu gak nyalahin Cindai kan Dey” kata Bagas mewakili Cindai
“hahaha… kamu kenapa sih Ndai? Kemarin kan petualangan kita, ya kan Vin” jawab Dea, seketika sadar bahwa ia hanya menyebut nama Alvin saja “maksud gue, petualangan kita  ya kan Vin, Gas, Yo” ulangi Dea.
“cielah Dea” seru Bagas dengan cengiran khasnya
“apasih bagas jelek lo ya “ balas Dea, wajahnya memanas, ia menunduk
“Dea, tangan lo gimana? Udah sembuh kan?” tanya Mario, ia melihat keadaan tangan Dea yang masih diperban, ia mencoba menyentunya dengan hati hati, sangat hati hati.
“udah kok Yo, besok udah dibuka kok Cuma gak bisa nyetir sama nulis banyak banyak” jawab Dea
“tenang aja Dey, nanti gue catetin buat elo ya, kalo perlu gue jemput lo tiap hari ” kata Mario menyanggupi
“kamu sama Dea kan gak sekelas Yo” kata Bagas mengingatkan
“catatan lo aja banyak yang kosong Yo!” tambah Alvin yang paling tau tentang Mario
 “usaha sih usaha Yo, tapi yang sekira lo mampu aja ngerjainnya” ledek Bagas, seakan akan ia sangat mengerti apa yang dimaksud sahabatnya. Alvin dan Bagas seolah menyempitkan ruang modus Mario.
“sialan lo” kata Mario lalu melempari Bagas dengan bantal berbentuk hati.
Alvin Cindai dan Bagas hanya tertawa melihat tingkah Mario yang mati gaya didepan orang yang ia sukai. Bagi Mario rasanya seperti hanya memakai pakaian dalam ke sekolah, MALU!

“gue aja ndai yang nulisin buat kamu, semua catatan selama seminggu dan kedepannya gue salinin dari catatan gue entar yah” ucap Cindai tulus
“Cindai, Mario, makasih banyak ya, tapi selama gue bisa gue bakalan kerjain sendiri, kalian gak usah repot repot”
“emang enak “ kata Alvin dan Bagas bersamaan dan memasang tampang konyol pada Mario
“eh Vin , mau liat foto foto waktu itu gak?” tanya Dea , lagi lagi ia merasa bodoh mengapa hanya Alvin yang ia sebut “eng? Gas, Yo, Ndai gue kan punya foto foto waktu kita ngelawan preman”  kata Dea lagi,
Ada hati yang layu mendengar kalimat pertama Dea, lelaki itu hanya bisa mendengus berat.
“mana Dey, coba liat” kata Mario antusias, segera Dea membuka handphonenya dan memperlihatkan pada Mario hasil potretannya, disana lengkap ada adegan Alvin memukul si preman, Bagas yang terkena senggolan preman lalu jatuh ketanah dan Cindai yang tengah berduel dengan satu preman. Itu membuat mereka tertawa dengan mengingat kejadian itu.
“sekarang aja lo ketawa gas, kemaren lo ketakutan setengah mampus” ucap Cindai meledek Bagas
“Dev, Eh maksud ku Cindai… emangnya siapa yang dateng bantuin kamu duel sama preman itu? Bagas kan?” ucap Bagas tak mau kalah
“iya iya, bagas yang imut lucu anak mami kan?” kata Cindai lalu tertawa puas melihat perubahan pada wajah Bagas.
“Cindai….!” Seru Bagas kesal lalu melipat tangannya didada
“bercanda kok gas, Gue akuin kok disitu Bagas keren banget, sumpah”
Bagas tersenyum mendengarnya
“Cindai, lo bisa bela diri ya? “ tanya Alvin
“enggak Vin dikit doang” jawab Cindai
“gue gak nyangka aja, seorang cewek berani banget ngelawan preman preman itu, lo hebat banget Ndai” kata Alvin menyampaikan ke kagumannya pada Cindai
“Thanks Vin, tapi yang paling jago tuh Bagas, walopun kemayu gitu dia bisa juga loh maju ke medan perang” Jawab Cindai
“Cindai masih aja bilang Bagas kemayu? Kesel dah sama Cindai” Bagas kembali uring uringan
“kok bisa sih Gas? Atas dasar apa seorang Bagas bisa ngelawan preman?”
“atas dasar gak bisa move on” kata Bagas spontan keluar dari mulutnya tampa ia pikir panjang semua keluar begitu saja
“maksudnya?” Kejar Cindai
“eh, gak bisa move on dari tongsisnya Dea, kan waktu itu aku nyerang pake tongsis, ya kan Dey?” ucap Bagas
“emangnya kalian pernah pacaran?” tanya Dea penuh curiga
“enggak, apa sih Deya, yang boleh peka sama keadaan tuh Cuma Bagas, Dea gak usah sok tau ya” kata Bagas, lirikannya begitu sengit.
“Cindai, luka lo sembuh? “ tanya Alvin lagi
“gue Cuma dikit kok vin lukanya, udah kering juga” jawab Cindai seadanya
“yang parah disini Vin, Cindai hanya lecet lecet saja, bahkan dia tak menanyakan keadaan gue”
Batin Dea lalu menghembuskan nafas berat, ia memandang Alvin sayu.


***

Hari hari semakin Indah, kedekatan mereka semakin nyata, kegiatan yang biasanya dilakukan berempat Alvin Debo Bagas dan Mario kini bertambah personil yaitu Raify Cindai dan Dea mereka melakukan segalanya bersama, tak hanya bersenang senang.

Pagi yang cerah, cahaya matahari mulai menyusup dari sela-sela lubang kecil jendela yang masih tertutup korden berwarna kuning terang senada dengan cat yang menempeli tembok besar berbentuk segiempat itu. Lantai, papan tulis, semua bersih tampa noda, beberapa tangkai bunga mawar berbahan dasar plastic disanggah pot kecil berwarna coklat bertengger diatas meja paling depan, meja guru.
XI IPA 1 begitulah julukan untuk murid murid dikelas ini, jam masih menunjukkan pukul 06.35 namun mulai ada aktivitas aktivitas yang membuat kegaduhan, murid murid banyak berdatangan tak seperti biasanya, jam yang seharusnya mereka masih berleha leha di kantin harus diisi dengan kesibukan tangan untuk mencatat.

“no 15 gimana caranya Fy” tanya seorang yang tengah berdiri didepan meja Raify. Raify mendengus berat, buku PR nya sudah ada ditangan teman temannya yang belum mengerjakan PR, dan teman yang ada didepannya ini tak dapat celah untuk menyalin jawaban Raify saking banyak nya teman yang belum selaesai mengerjakan PR. Terpaksa, atas dasar persaudaraan sesame teman sekelas ia mau menjelaskan kembali pada temannya ini.
“gini Liv, pertama lo tulis dulu kerangkanya, abis itu setarakan unsure yang mengalami perubahan bilang oksidasi dengan ngasih koefisien yang sesuai, tentuin jumlah  penurunan bilangan oksidasi dari oksidator dan jumlah pertambahan bilangan oksidasi dari reduktor…” dengan  semangat Raify menjelaskan namun taklama sebelum Raaify selesai Olivia langsung menyela.
“stoooop Fy, udah gue gak ngerti makin bingung malahan!” kata Olivia sambil memegangi kepala dan menggaruk tengkuk yang sama sekali tidak gatal.
“hahah, makanya Liv, kalo pak Deni menerangkan lo jangan ngegosip sama Nova! Jadinya gitukan lo bingung sendiri, udah sana lo nyari celah buat nyalin, lo kan imut imut tuh” kata Raify dengan cengiran khasnya
“bilang aja gue boncel Fy gausah dimanis manisin jadi imut deh” sungut Olivia yang memang sering dipanggil boncel oleh teman temanya, padahal Olivia tidak boncel hanya aja pertumbuhannya yan agak lambat.
Raify tertawa geli mendengar ucapan Olivia
“ckck bukan gue yang ngomong loh liv” kata Raify

Kemudia datang dua lelaki memasuki ruangan dengan begitu hebohnya, mereka seperti kebingungan, dengan menenteng pulpen dan buku mereka berteriak teriak menyebut nama “Raify”
“Raify mana, Raify mana?” kata Debo dengan mimic wajah serius namun tetap saja terlihat kocak
“dijonggol deb!” jawab Raify dengan tenang
Kedua orang itu Debo dan Alvin, mereka pun belum mengerjakan PR itu, karena memang materi yang dibuat PR itu belum dijelaskan oleh pak Deni makanya banyak yang belum mengerjakan PR.
“wah jauh amat dijonggol, Fy, bantuin kita napa Fy, buku PR lo mana buku PR?” ucap Debo seraya membuka bukunya dan duduk disebelah Raify ia siap menyalin, namun tak semudah itu Debo harus mengantri untuk mendapatkan contekan itu.
“tuh ada di mereka” kata Raifyy sambil menunjuk kerumunan manusia yang bukan mengerubungi pembagian sembako melainkan unntuk menyalin PR.
“yaelah bro, sia sia kita datang pagi pagi ye” kata Debo
“udah gini aja, gue dektein deh buat kalian berdua, tulis sesuai perintah gue ya” kata Raify, ia mengambil buku paket dan membaca kembali soal soal dari nomor 1 sampai 15 sungguh tak sedikit pak Deni memberikan tugas.
Debo dan Alvin menulis apa yang dikatakan Raify, sesuatu yang baru menyadarkan Alvin, ia memandang Raify penuh arti dalam  hatinya berbisik “mereka baik, mereka bisa memahami kita, apa mereka pantas masuk bersama kita?”
“Alvin!! Ko! Vin! “ panggil Debo karena Alvin sudah tinggal jauh dalam menulisnya
“eh sorry sorry, nyampek mana tadi?” kata Alvin setelah sadar dari lamunannya
“ah elu Vin, gue udah nyampek nomor 10 lu masih 7, “ kata Debo kesal
“ye sorry deb, yaudah lu lanjutin tuh, gue ngejar sambil liat tulisan lo” kata Alvin
Raify melanjutkan jawaban, namun kali ini ia yang tak berkonsentrasi adalah Raify, kedua bola matanya menatap kea rah pintu, sesekali menyebar melihat kesekeliling kelas namun tak ia dapat apa yang tengah ia cari.
“iya abis itu kalikan dengan yang didepannya…. “ Raify berujar tampa melihat kearah buku catatan Debo
“Fy, apa hubungannya sama perkalian? Inikan penyetaraan unsure, kok ada perkaliannya?” tanya Debo, ia menatap Raify yang kini berbalik arah membelakangi Debo dan Alvin.
“hah? Emangnya gue bilang apaan deb?” kata Raify rupanya ia tak sadar dengan apa yang ia katakana barusan
“kalikan sama yang didepan ??”
“waduh sorry deb, nyampek mana tadi?” tanya Raify
“lo mikirin apa sih Fy? Kayak khawatir gitu?” tanya Debo, ia menghentikan aktivitas menulisnya sedangkan Alvin tetap melanjutkkan dengan melihat ke buku Debo
“Deb, Mario mana yah? Kok gak muncul dari tadi? Dia udah ngerjain PR belom sih?” kata Raify lalu beranjak keluar kelas untuk mencari tahu keberadaan Mario.
Debo menghembus nafas berat, dikepalnya tangan kirinya lalu dihempas begitu saja, untuk mengurangi rasa kecewa dan marahnya, tak ada yang tau sesuatu yang hebat tengah berkecamuk didalam hati dan pikirannya. “jadi orang itu Mario ? sahabat gue sendiri Fy?” kata Debo bertanya pada akal sehatnya.

Alvin yang menyadari perubahan sikap Debo hanya bisa memperhatikan saja, ia tak mau sok tahu dan sok soan mengatakan sabar deb sabar cinta butuh kesabaran. Tidak mungkin itu bukan sifat Alvin, walaupun bersahabat tapi Alvin tak segegabah itu untuk mengurusi sahabat-sahabatnya. Ia ingin lihat dulu ending dari semua ini.


***

Jauh dari kelas yang berisi siswa-siswa yang sibuk mengerjakan tugasnya. Seseorang tengah duduk sendirian dipojok ruang kelas yang sunyi, bangku-bangku kosong tak berpenghuni mungkin sang empunya kursi sedang asyik duduk didepan TV menunggu jam bergerak ke angka 06.50 barulah ia berangkat ke sekolah, atau mereka tengah berada diperjalan dengan santainya menikmati udara pagi. Lelaki ini tengah bermuram muram karena tak ada satu temanpun yang ada bersamanya. Ia terpaksa berangkat pagi dari rumah karena tuntutan teman temannya yang harus datang lebih awal karena belum mengerjakan pekerjaan rumahnya.
Berkali kali Bagas meratapi nasibnya yang beda kelas dengan sahabatnya sehingga ia yang selalu jadi korban untuk menuruti jadwal masuk ketiga temannya, sedangkan jadwalnya terkadang tidak cocok dengan siswa-siswa Jurusan IPA itu.
“dasar anak anak pemalas, PR kok dikerjakan disekolah, PR itu pekerjaan rumah, kan jadi aku yang jadi korban keberangkatan pagi mereka, yang kayak begini bukan Cuma sekali dua kali tapi SERING KALI!” kata Bagas ia bermonolog sendiri mencaci apapun yang bisa mendengarnya namun nihil ia sendirian tak ada yang menjawab kalimat yang ia lontarkan sehingga ia bebas mencaci maki mengeluarkan apa yang ia rasakan saat ini.
Hingga datang seorang gadis, ia berjalan pelan diluar kelas Bagas, karena mendengar suara Bagas yang tengah berkata kata pedas yang entah ditujukan kepada siapa.
“kayak suara si kemayu! Gue kerjain ahh” ucap gadis itu lalu berjalan lebih halus lagi, sesampainya didepan pintu, ia berjalan jongkok supaya tak terlihat oleh Bagas yang sedang khusuk dengan caci makinya.
Terus, terus, ia berjalan jongkok hingga sampai ke meja pojok belakang tempat Bagas duduk,
“DOOOOORRRRRRRR!!!” Tiak Cindai gadis yang berjalan jongkok tadi
“AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!” Respon Bagas tak kalah nyaring dengan teriakan Chindai bahkan Bagas sampai terhuyung dan kursi yang ia senderi terjungkal kebelakang.
Cindai tertawa puas dengan respon Bagas yang menurutnya terlalu berlebihan untuk ukuran laki-laki, saking lucunya menurut Cindai ia tertawa sampai memegangi perutnya yang sakit karena menertawai Bagas. Disana Bagas meringis melihat sikunya yang luka tergores dan kepalanya yang terbentur lantai nyeri rasanya. Hampir saja Bagas menangis namun ia sadar ini di sekolah jadi ia tahan rasa sakitnya itu, perlahan ia bangkit mengumpulkan segenap kekuatan yang tersisa, karena efek kaget tadi membuat kedua kaki Bagas seakan tak bisa berdiri tegak kakinya serasa gemetar.

“Deviara Chindai!!! Kamu lagi, kamu lagi!! Kebiasaannya gak pernah berubah ya! Selalu jahatin Bagas! Kalo tadi Aku jantungan gimana? Kalo jantung aku rontok gimana? Kalo aku geger otak gimana? Tadi kepala aku kejedot lantai Cindai!!” Tak segan segan Bagas memarahi Cindai, kemarahannya sudah diubun ubun jika tak dilontarkan takut asap tebal keluar dari telingan dan hidungnya.  
“Ahh lu lebay banget sih Gas, sumpah bisa gak sih lo ngeresponnya biasa aja?” balas Cindai masih dengan tawanya yang belum terselesaikan
“Cindai! Masih bisa ya kamu punya urat tertawa setelah melihat penderitaan aku?” kata Bagas lagi lalu berdecak pinggang. Semakin membuat Cindai tertawa lepas.
“ya habis lo marah marah kesiapa sih sampek kedengeran ke luar tau gak sih, udah kayak emak emak marahin lakinya yang abis godain orang lain, hahah”
“Cindai… keterlaluan ya! Bisa gak sih sehari aja kamu bertingkah manis ke aku kayak dulu?” kata Bagas spontan saja.
Cindai  mengernyitkan dahinya, apa kata Bagas? Berlaku manis seperti yang dulu? Kapan ia bermanis manis kepada orang, terkhusus Bagas yang selama ini menjadi objek utama keusilannya.
“maksud lo?” tanya Cindai
“eng? Apa! Udah ah Cindai pergi sana” kata Bagas, ia tak tahu mengapa mulutnya selalu lemes dan mudah terpancing, jika sampai ia menjadi dewan di pemerintahan sudah jelas semua Rahasia Negara ini akan terbongkar ditangan Bagas karena mulutnya yang tak bisa menjaga rahasia itu.
“aneh banget lo! Emangnya sebelum ini kita udah kenal?” kejar Cindai
“enggak, udah sana kamu pergi, hush us”
“lo kata gue kucing! Siyalan lo” kata Cindai lalu menjauh, mendekati kursinya yang berada jauh di kursi paling depan.

***

Beda lagi dengan tempat ini, tempat disalah satu sudut sekolah yang menjadi favorit para siswa dan sebagian guru, Kantin. Wibawanya tak pernah terkalahkan sampai kapanpun tempat ini selalu jadi tempat teramai disekolah manapun. Dua siswa tengah asik menyantap pesanannya, sepiring nasi goreng dan segelas teh manis yang mereka pesan untuk memenuhi panggilan cacing cacing diperut.

“Dea, tumben sarapan dikantin? Emangnya mama gak masak?” tanya teman yang menemaninya makan pagi ini.
“masak kok yo, Cuma gue ngikutin jadwal Ify hari ini dia berangkat pagi” ucap Dea pada Mario yang menemaninya.
“ohh teman yang baik, sama kayak Bagas dong yah dia mau mau aja ngikutin jadwan Gue Debo dan Alvin soalnya dia beda kelas sendiri” jawab Mario
“kok lo berangkat pagi?” tanya Dea
“iya soalnya gue ada…..” kalimat Mario menggantung otaknya menampilkan tujuannya berangkat pagi yaitu untuk menyalin jawaban Raify ia belum mengerjakan PRnya. Sedangkan kini ia menemani Dea makan dengan santainya. Mario tak tega meninggalkan Dea sendiri dan mengatakan bahwa ia belum mengerjakan PR kepada kecengannya itu sangat memalukan! Bisa bisa berkurang poin plus yang selama ini Mario bangun didepan Dea.
“ada apa?”
“ada perlu sama Raify, sahabat lo yang pinter itu dey, eng? Gue boleh ke kelas gak? Soalnya ini darurat dey” kata Mario, akal sehatnya menyuruhnya segera pergi dari tempat ini dan secepatnya menyalin jawaban namun hatinya tetap tak mau pergi hati lebih memilih tinggal disana, namun harus Mario putuskan, dengan berat hati ia mulai melangkah dari tempatnya.
“gak papa kan dey?”
“ya gak ada masalah Yo, gue kan gak minta lo nemenin gue “  kata Dea ramah
“iya juga ya, yaudah dey selamat makan Dey”
“iya yo, udah sana keburu masuk” kata Dea

KRIIIIINGGG !!
Baru beberapa langkah dari meja Dea bell keramat itu sudah berdentang, mengundang para guru  memasuki kelas untuk memulai tugas mulia mereka mentransfer ilmu yang mereka miliki untuk siswa siswanya.

***

Suasana semakin riuh setelah terdengarnya bell mulai pelajaran, siswa siswa XI IPA 1 masih dengan aktivitas yang belum terselesaikan yaitu menyalin jawaban. Mario memasuki kelas dengan gelisah ia duduk disamping Alvin sembari menyambar buku tugas Alvin untuk disalinnya.
“wah parah lo, kemana aja lo Yo!” tanya Alvin yang kaget dengan kedatangan Mario yang tiba tiba.
“gue tanya lo udah ngerjain tugas? “ kata Debo, padahal ia tahu bahwa Mario belum mengerjakan PRnya
“pake nanya lagi lo, yaialah, mana PR lo gue mau nyatet” kata Mario, Debo memberikan buku tugasnya.
“Rio, lo dari mana aja sih? Lo udah belom? Udah kan? Waktunya udah mepet loh” kata Raify lalu menghampiri meja Mario,
“belom Fy, makanya jangan tanya-tanya dulu gue mau  nulis dulu nih” ucap Mario datar
Raify mengernyitkan dahi, padahal ia hanya ingin memberi perhatian saja dan ingin tahu kemana Mario sampai-sampai lupa mengerjakan PRnya. “padahal gue pengennya lo orang pertama yang baca catatan gue dan bangga sama gue yo” Raify melihat Mario lesu.

Tak butuh waktu lama pasca bell berbunyi seorang guru lelaki memasuki ruang dengan langkah cepat, pak Deni adalah guru yang sangat disiplin ia selalu tepat waktu maka dari itu langkah kakinya selalu penjang dan cepat untuk menghemat waktu. Pak Deni meletakkan tasnya dimeja lalu dengan cepat mengambil beberapa buku dari dalam tas.
“kumpulkan buku tugas kalian sekarang juga, Kiki tolong kumpulkan buku buku mereka” titah pak Deni, menimbulkan keluh berupa desahan pelan dari siswanya.
“buset dah nih guru, gak pake salam apa kek langsung ke topic terheboh aja” kata Debo yang memperhatikan betul gerak gurunya mulai masuk sampai duduk.
“rrrgghhh… bisa gak sih nih guru gak usah masuk hari ini aja” keluh Mario, tugasnya belum ia selesaikan sepenuhnya
“yang tidak mengerjakan PR keluar dari kelas ini sekarang juga sebelum saya sendiri yang bertindak!” ucap pak Deni suaranya menggelegar menusuk telinga para siswanya. 
Dengan malu yang ditekan sedalam dalamnya Mario berdiri dari duduknya “saya belum mengerjakan PR pak” kata Mario kemudian
“Mario Alam Syahputra! Silahkan meninggalkan pelajaran saya dan kamu Alfa” ucap pak Deni selalu saja berakhir seperti ini jika siswa tak mengerjakan pekerjaan rumahnya.
Raify berdiri memecah keheningan yang tercipta setelah keluarnya Mario dari kelas,
“ada apa Raify?” tanya pak Deni
“saya juga belum mengerjakan PR pak!” kata Raify ia sembunyikan buku PRnya kedalam tas, pengakuan Raify ini menggemparkan isi kelas, bermacam model pertanyaan muncul dikepala masing masing teman, terlebih Debo. Kenapa Raify melakukan ini semua? Apa yang tujuannya? Tidak sadarkah dia akan konsekuensi yang akan dia dapat atas pengakuan konyolnya ini?
“Raify? Tidak mungkin kamu belum mengerjakan!” ucap pak Deni, bahkan guru ini tak percaya dengan apa yang dikatakan siswanya yang kenal cerdas dan tekun itu
“iya pak, saya semalam ketiduran jadi lupa mengerjakan PR dari bapak,” jawab Raify yakin
“oke, silahkan keluar!” kata pak Deni tetap memberlakukan hukumannya walaupun ke siswa special sekalipun
Dengan senyum mengembang Raify meninggalkan kelasnya, benar saja tak ada beban yang ia rasa tujuannya saat ini adalah mendatangi Mario yang sudah keluar tadi.
siapa bilang cinta itu buta? Cinta itu rekayasa! rekayasa untuk mendapatkan cinta, Raify sudah membuktikannya ia merekayasa dengan mengatakan ia belum mengerjakan pekerjaan rumah hanya untuk menemani Mario diluar sana.

****

Jauh dari hingar bingar sekolah yang banyak mengundang kerusuhan apabila terjadi pertemuan antar siswa bersahabat. Malam ini bulan melingkar penuh cahayanya terang sampai kepelupuk mata lelaki yang tengah berdiri di balkon rumahnya sambil menikmati angin malam yang semilir mampu menerobos kain tipis yang ia pakai. Tak kuat menahan cecaran angin malam ia putuskan kembali ke kamarnya yang hangat. Di kamar itu tengah riuh gara gara perbedaan selera acara Televisi.

Debo Bagas dan Mario sedang berebut remote TV yang ada dikamar Alvin, sungguh mereka seperti anak SD yang berebut mobil-mobil-an, Mario ingin nonton acara Mario Teguh di MetroTV , Debo tak bisa dicegah untuk tidak memutar sinetron Aku Anak Indonesia diChannel RCTI sedangkan Bagas ingin bermain game! Tak ada titik temu untuk mereka.

“lo apaan sih yo, galau lo pake nonton acaranya Mario Teguh segala?” cerca Bagas
“itu tuh tayangan motivator bego! Cocok buat siswa melas kayak elo ini gas, deb!” jawab Mario tak kalah sengitnya
“itukan baru ucapan saja, mending nonton AAI langsung contoh nyata! Bukan hanya motivasi, semua lengkap disini “ kata Debo sambil merampas remote TV dari tangan Mario lalu mengubah channel hingga menampilkan sinetron favoritnya itu.
“apaan sih deb! Lo udah kek emak-emak tau nontonnya sinetron!” kata Bagas lalu mencoba merebut remote dari tangan Debo namun Debo menghindar.
“eith! Ini bukan sinetron hellow mellow bray! Sorry aja ini sinetron motivasi juga! Dari pada elo main game aja kerjaannya, macem anak SD tau!”

Bagas hendak menjawab kembali ucapan Debo namun tertahan ketika Alvin seketika mencabut kabel yang mengalirkan listrik ke TV, seketika TV yang ada dihadapan mereka gelap. Alvin nyengir tak jelas memamerkan deretan gigi putih dalam balutan senyum menawan yang kata cewek-cewek itu senyuman beracun, karena bisa meluluh lantakkan hati mereka dan bisa membuat mereka berpaling dari cinta sejati.  

“kalian nyadar gak sih kalian udah tua! Gak ada acara lain selain rebutan remote? Saling ngina? Ckc!” Alvin berkata santai lalu mengambil buku dari meja belajarnya kemuadian melempar sembarang kearah tiga sahabatnya itu. “baca tuh biar lo pinteran dikit” lanjutnya
“alah, males” kata Bagas yang menangkap buku yang Alvin berikan lalu melempar sembarang buku itu.
Sebuah getaran kecil mengganggu kenyaman Mario. Ia raih ponsel yang ia letakkan disaku celananya setelah dua kali getaran barulah Mario melihat siapa yang tengah meng-calling nya, ia baca Raify Calling Mario mendekatkan ponselnya kearah telinga dan mulai mendengarkan lawan bicaranya diseberang sana.
“Hallo”
“iya Fy”
“belom”
“iya gue kerjain”
“oke”

Mario meletakkan kembali ponsel itu di saku celananya, ia rasa harus mengerjakan apa yang disuruh Raify yaitu mengerjakan pekerjaan rumah yang kemarin diperintah oleh guru Bahasa Inggris, Pak Rafka. Namun hasratnya mengerjakan tugas masih belum membuncah dan penyakit malas itu mulai bekerja disaat yang salah.
“ehh nyadar gak sih kita tuh udah mulai deket sama ketiga cewek itu” ucap Mario sembari membuka penutup toples berisi kacang goreng yang pastinya renyah banget.
“tiga cewek?” Bagas belum paham arah pembicaraan Mario
“Dea Raify Cindai” kata Mario lagi ia sudah berhasil membuka penutup toples dan mulai mencomot kacang-kacang goreng buatan nenek Alvin itu.
“iya yah, gue gak nyangka aja kita bakalan ngabisin banyak waktu sama mereka, asik juga” komen Debo sambil membayangkan kedekatan mereka selama ini, terutama saat dirinya dekat dengan Raify, yang terkadang membuat suasana hatinya lebih cerah dari biasanya lebih cerah dari sinar siang matahari.
“iya, Chindai masih suka ngerjain aku sih, tapi udah gak separah dulu sekarang ngerjainnya dengan perasaan” kata Bagas, ia memikirkan perubahan teman kelasnya yang dulu selalu mengolok-olok Bagas dengan sebutan Kemayu dan bukan lelaki tulen itu sekarang sedikit lebih welcome dan bersahaja dengan Bagas.
“ngerjain dengan perasaan?” Debo nyaut dari kekhusukannya bermain game online
“iya maksudnya gak terlalu nyakitin hati, bercandaan” kata Bagas kemudian
“kalo gue perhatiin lo sama Cindai cocok loh Gas, yang cewek kasar yang cowok kemayu” ucap Debo tampa perasaan ia tak sadar apa sudah menghina Bagas.
“bisa saling melengkapi gitu ya deb” lanjut Mario dengan seringai dibibirnya
“eh kalo diperhatiin Dea manis juga ya, setuju gak?” ucap Mario
“oh jadi Dea nih, kayaknya Dea gak respect sama elo deh Yo” jawab Bagas sekenanya
“Raify juga pinter, dia bisa bikin kita rajin dan gak kena hukuman” lanjut Debo
“Cindai juga bisa lindungin kita dari bahaya” kata Bagas
“Lindungin lo kali” protes Mario dan Debo bersamaan karena tak setuju dengan perkataan Bagas. Karena bagi mereka hanya Bagas yang tidak bisa melindungi diri dan cocok dengan Cindai yang bisa bela diri.
“asik kali ya kalo mereka jadi bagaian dari persahabatan kita?” ucap Mario, Debo dan Bagas hanya menganggukk setuju karena mereka juga merasakan hal yang sama dengan Mario.
“gue gak setuju! Kita ya kita, mereka hanya temen sekolah aja gak lebih” kata Alvin mulai menanggapi diskusi hangat sahabatnya.
“Cuma temen sekolah? Bukankah kita sering meghabiskan waktu bersama, gue rasa lo seneng dengan adanya mereka masuk dengan kita” kata Mario
“gue hanya anggap mereka teman biasa, dan sampai kapanpun mereka gak akan bisa masuk pada persahabatan kita” kata Alvin lagi
“aneh lo Vin, selama ini kita fine-fine aja kenapa baru sekarang lo bilang gak suka?” tanya Debo
“kalo gue bilang, cewek bakal bikin persahabatan kita hancur apa kalian percaya?” Alvin mulai meninggikan nada suaranya, Bagas membelalakan mata ia rasa ada bara api didalam diri Alvin dan alasan itu sangat kuat menolak semua ini.
“wah aneh lo, hancur gimana? Yang ada lo yang hancurin hubungan kita sama cewek-cewek itu” kata Mario ikutan tersulut dengan alasan tak masuk akal dari Alvin.
“cukup, yang jelas gue gak suka mereka masuk diantara kita sebagai sahabat kita!” ucap Alvin lagi lalu beranjak keluar dari kamar yang cukup panas itu.
“apa sih maksudnya? Munafik yah? Selama ini dia enjoy aja main sama Ify Dea Cindai” ucap Mario setelah Alvin benar-benar keluar.
“udah Yo, kita liat aja nanti apa yang bakal terjadi” ucap Bagas, ia tak mau menyalahkan siapa-siapa baginya ini hanya perbedaan pendapat dan itu wajar, ia biarkan Alvin dengan ketidak sukaannya dan ia tak ikut Mario yang terlalu ingin menjadikan ketiga cewek itu masuk dalam persahabatan mereka.

***

Setelah diskusi hangat itu terjadi keempat sahabat itu tak lagi akur mereka lebih memilih pisah dengan kelompok Alvin ynag biasa boncengan dengan Mario kini memakai motor sendiri-sendiri kesekolah . bagi Alvin tak ada masalah jika itu mau Mario, dan Mario masih tak ingin banyak bicara dengan Alvin karena baginya Alvin terlalu munafik untuk mengakui bahwa ia juga suka dengan adanya Raify Cindai dan Dea dalam persahabatan mereka. Bahkan didalam kelas Mario yang biasa semeja dengan Alvin memilih bertukar tempat dengan Obiet sang ketua kelas, saking menghindarnya ia dari Alvin. Sedangkan Debo dan Bagas tetap bersama karena diantara mereka memang tak ada kontrapendapat.
Apakah ini akhir dari persahabatan yang sudah mereka bangun sejak kecil? Sangat disayangkan. Apa hanya karena hal sepele mereka dengan mudah menghapus ikrar persahabatan yang sudah mereka junjung tinggi itu? Apa ini yang dinamakan sahabat akan selalu bersama se-iya se-kata? Jawabannya tidak.

***

Dikamarnya yang cukup rapi untuk ukuran lelaki dan cukup nyaman bagi siapa saja yang mengunjungi, bersih dan wangi pengharum ruangan yang memanjakan hidung dapat mereleksasikan siapa saja yang menempatinya. Lelaki itu tengah duduk di meja belajarnya dengan bolpoin yang ia genggam dan ia gerakkan sesuai isi hatinya hingga menorehkan barisan kata yang membentuk sebuah paragraph berbahasa indah. Begitu lancar ia tulis disana. Ia tersenyum melihat isi kertas binder berwarna merah hati itu, ia tuangkan segala isi hatinya disana tak ada yang ditutup-tutupi semua terjadi secara alami dalam dirinya. Ia lipat kertas itu lalu dimasukkannya pada amplop senada dengan warna kertas tadi, merah hati.
“semoga lo suka dear…” ucapnya lalu mengecup amplop pink itu dengan sejuta harapan yang ada dihatinya.

***

Kala hati tak dapat lagi menampung perasaan, bahkah ia lelah menanggung rasa itu sendirian kemanakah ia harus meluapkannya? Hanya satu cara yaitu menyampaiakan segala isi hati pada orang yang terukir didalam hati itu.
Sore itu matahari tak lagi tegang memancarkan sinarnya dibumi Indonesia sinar yang tadinya panas menusuk kulit sampai menembus tulang kini berubah menjadi sinar yang hangat dan menenangkan, jam menunjuk pukul 16.30 sore hari. Banyak anak muda dan orang dewasa menghabiskan sore ditempat ini, taman kota. Sama dengan pemuda yang satu ini ia duduk dengan gelisah menanti seseorang dengan setangkai mawar merah yang tadi ia beli ditoko bunga, wangi bunga itu masih sangat segar dan terasa memanjakan hidungnya. Jelas sekali bahwa lelaki ini tengah risau, ia cabuti rumput-rumput didepannya atau sesekali melirik jam tangan tak selang beberapa menit ia lihat lagi dan lagi.
Tak butuh waktu lama, seorang yang ia tunggu akhirnya datang wajah gelisah yang tadi menemaninya kini berubah menjadi sumringah ada sinar bahagia disana. Seketika rasa bahagia itu berkurang karena orang yang ia tunggu tak datang sendiri melainkan bersama temannya.
“Hai Yo, sorry ya aku telat tadi masih jemput Raify” ucap Dea gadis yang ditunggu oleh lelaki yang ternyata adalah Mario.
“kok berdua? Kan…” ucap Mario tak ia lanjutkan karena tak enak hati mau menolak kehadiran Raify yang notabane-nya adalah sahabat Dea.
“iya gak masalah kan Yo, gue ajak Ify?” tanya Dea, yang sebenarnya sengaja ia ajak Raify karena Dea tahu Raify menyimpan hati pada Mario, dan pertemuan ini akan membuat Raify senang dapat berjumpa Mario.
“ya gak masalahh Dey” kata Mario gugup.
“jadi ada apa Yo?” tanya Dea, Raify hanya memandang Mario penuh arti dalam hatinya ia senang dapat bertemu dengan Mario, bahkan ia tak curiga mengapa Mario mengajak Dea bertemu, yang ia tahu hanya Dea ingin mendekatkannya pada Mario.
Setelah mendengar pertanyaan Dea itu Mario rasa semua berpusat padanya, ia tak bisa menguasai dirinya sendiri rasa gugup itu meracun dan mematikan semua konsentrasinya ia benci itu, bahkan berucap saja ia tak bisa, kalimat yang ia siapkan sejak seminggu yang lalu kini lenyap digerogoti rasa gugup. Ia pukuli bangku yang ia duduki karena tak kuasa menahan rasa gugup, ini bukan kali pertama Mario berhadapan dengan perempuan yang bisa menggenggam hatinya, tapi entah mengapa semua ini terasa berat dan tak mudah dilakukan.
“PR matematika udah kan Dey?” kata Mario akhirnya.
“kita kan gak sekelas, oh lo mau ngomong sama Raify?” kata Dea,
Bodoh! Bukan itu yang harus Mario ucapkan, bahkan untuk sekedar basa-basi saja ia tak tepat sasaran.
“Udah kok yo, lo udah belom?” jawab Raify, karena memang yang sekelas dengan Mario hanya dirinya saat ini.
“udah kok Fy” jawab Mario lemas, ia mengutuk dirinya sendiri yang terlihat bodoh dan tak bisa berbuat apa apa. Ia harus menuntaskan semua ini, karena benar hatinya sudah tidak bisa menampung rasa ini sendirian, harus ada yang mau menampungnya juga dan hati itu adalah Dea. Ia ambil nafas dalam-dalam ia hembuskan perlahan, ia harus bisa menguasai keadaan.
“Dea, sebenernya bukan itu yang mau aku tanyain ke kamu” kata Mario mulai serius, bahkan ia tidak sadar sudah merubah ‘Lo-Gue’ jadi ‘Aku-Kamu’ . kedua  gadis itu hanya sabar menunggu apa yang akan dikatakan Mario, terlebih Raify atas perubahan sikap Mario ini ia sudah memiliki firasat tak enak.
“Dea, aku gak tau kenapa aku jadi gugup gini, padahal aku sudah mempersiapkan semuanya selama satu minggu, puisi dan kata-kata romantic yang aku rangkai semua lenyap ditelan rasa gugup…” ucap Mario keringat dingin keluar perlahan dari poro-porinya.
Dea dan Raify terkejut dengan apa yang hendak dikatakan Mario, Dea melirik Raify yang terlihat berkaca-kaca menahan suatu gemuruh yang datangnya dari lubuk hati yang terdalam.
“Dea, aku suka sama kamu, aku udah gak bisa nahan perasaan aku sendirian, aku butuh kamu untuk menampung perasaan ini, kamu mau jadi bagian dari hari-hariku?” ucap Mario, sudah sampai ke inti Mario rasa bebannya sedikit berkurang tinggal menunggu respon Dea.
Dea semakin kaget, dan saat itu juga Raify berdiri lalu pergi, berlarian meninggalkan tempat itu.
“Raify!” panggil Dea, Dea beranjak hendak mengejar Raify tapi dicegat oleh Mario .
“Dey, please bisa kamu jawab sekarang?” tanya Mario
Dea tak bisa berbuat apa-apa dia bahkan tidak menyangka Mario akan menyatakan perasaannya, ini diluar bayangan Dea, semua terasa kacau. Dea pergi menyusul Raify, Mario ikut menyusul dari belakang.
“ikut gue sekarang!” kata Dea lalu berlari menyusul Raify, Mario masih belum paham apa yang senarnya terjadi pada Raify, sungguh tak peka.
Mereka sampai ditempat yang cukup sedikit orang beralalu lalang disana, Raify terduduk pasrah dengan air mata deras mengalir di pipi-nya. Dea langsung menghampiri Raify ia peluk tubuh sahabat tersayangnya itu. Tapi tiba-tiba Raify berontak ia dorong Dea hingga terjatuh.
“Jadi ini? Ini tujuan lo ngajak gue kesini? Buat ngeliat lo jadian sama Mario ? gue gak nyangka Dey! Lo tau gue suka sama Mario, tapi lo? Lo bukan sahabat gue!!” ucap Raify berapi-api ia tak bisa menahan rasa sakit hati dan kecewanya semua terluapkan begitu saja.
“Ify, ini gak kayak yang lo pikirin, gue gak tau bakalan terjadi kayak gini, gue gak jadian sama Mario, lo tau sendirikan gue pernah bilang mau deketin lo sama Mario. Gue gak mungkin nyakitin sahabat gue Fy” kata Dea ia tak kuasa menerima tuduhan Raify
“gue gak percaya sama lo lagi, lo bulshit tau gak !” kata Raify lalu hendak beranjak pergi lagi, namun kali ini pergelangan tangannya ditarik oleh Mario.
“apa yo? Lo mau ketawain gue yang patah hati karena cinta gue bertepuk sebelah tangan?” kata Raify pada Mario.
“Ify, gak ada yang ngetawain elo” ucap Dea
“Fy, jadi lo ?” tanya Mario
“iya Yo, gue suka sama lo, selama ini gue selalu perhatian sama lo tapi lo gak pernah merasakan itu, ckck sekeras apapun gue usaha kalo orang yang gue sayang udah suka sama orang lain, semuanya percuma! Dan gue gak nyangka orang yang lo suka itu Dea! Sahabat gue sendiri! Dan yang lebih gue gak sangka, gue harus tau kejadian ini Dey, gue kecewa gue benci sama lo Dey, lo bukan sahabat gue!” kata Raify lalu menghempas keras cekalan tangan Mario dipergelangan tangannya. Ia pergi, berlari meninggalkan keriuhan ini ia pergi dengan hati yang tak tenang dengan hati yang bergejolak merasakan rasa sakit rasa kecewa.
Dea hanya bisa menangis menatap kepergian Raify yang semakin jauh, ia tak berniat mengejarnya lagi karena ia tahu Raify butuh sendiri sekeras apapun ia jelaskan saat ini tak akan bisa diterima oleh Raify.
“gue sahabat lo Fy” lirih Dea
“Dey, gue….” Mario pun tak bisa berkata-kata
“cukup Yo, gue gak mau bahas ini lagi! Kalo lo mau tau jawaban gue? Gue tolak lo, dan gue gak nolak lo gara-gara Ify suka sama elo, tapi gue suka sama sahabat lo sendiri!” kata Dea, membuat Mario kaget bukan karena ia ditolak Dea tapi karena Dea bilang ia mencintai sahabatnya sendiri.
“si..siapa Dey?” kata Mario gemetar
“Alvin!” jawab Dea lalu pergi meninggalkan Mario.
Atas jawaban itu Mario merasa ini semua tak adil, mengapa Dea harus menyukai Alvin padahal Alvin selama ini bersikap acuh pada Dea. Mario semakin tak mengerti Raify menyukainya ini semua seperti berbelat belit tak temu arah penyelesaiannya. Namun tak dipungkiri ia merasakan sakit hati ditolak pujaan hatinya, ditolak secara tidak hormat dan ia merasa bersalah telah membuat Dea dan Raify bertengkar gara-gara salah paham, bahkan sempat ia rasakan perihnya jadi Dea saat mendengar Raify mengatakan Dea bukan sahabat Raify lagi. Uh dia jadi ingat persahabatannya yang kacau hanya gara-gara mempertahankan pendapat masing-masing tentang ketiga gadis itu. Haruskah dalam hal ini ia menyalahkan Alvin karena disukai Dea seperti Raify menyalahkan Dea karena Mario menyukai Dea? Apakah ia harus menyalahkan sang pemberi rasa cinta yang telah menganugerahkan rasa itu pada orang yang tak bisa menerima perasaannya? Sungguh ini terlalu pelik.
“Arrrgghhh!! Kenapa jadi gini sih!” teriak Mario lalu menendang apapun yang ada didepannya.

Ditempat yang sama sepasang mata tengah memperhatikan mereka, dia duduk disela-sela semak untuk melihat dan mendengarkan apa yang sedang terjadi pada ketiga temannya itu, ia hanya ingin memastikan bahwa semuanya akan baik-baik saja, dia juga termasuk orang yang kaget dengan apa yang dilihatnya bahkan ia terhanyut dalam drama nyata yang ia lihat. “Gue udah yakin akan ada percikan-percikan asmara diantara kita dan itu yang akan merusak persahabatan kita” ucap lelaki itu, dia Alvin.


***
Ayam masih berkokok ria dalam sangkarnya menandakan hari sudah pagi, namun mentari pagi belum juga muncul jam masih menunjuk pukul 04.30 suasana diluar masih melimpahkan embun-embun yang membelai daun-daun dengan mesranya keduanya berpadu menebar sejuk dalam setiap hirupan.
Lelaki ini mulai disibukkan dengan urusan yang ia sebut ‘Misi MembangunCinta’ ia tampak semangat hari ini ia sengaja siap-siap kesokolah mulai dari setengah lima pagi, ia tak mau telat dalam urusan Misi Membangun Cintanya yang ia rancang dikejauhan hari. Targetnya jam 06.00 ia sudah berada dilingkungan sekolah dan mulai menjalankan misinya.
Ia tak perlu memaksa Bagas untuk berangkat pagi-pagi karena kebetulan hari ini Bagas ada pelajaran Olah Raga yang mengharuskan mereka datang pagi-pagi karena jam Olah Raga berlangsung pada jam 06.00 pagi. Benar saja mereka berdua langsung berangkat bersama ke-sekolah.
Sekolah yang sepi hanya segelintir siswa yang ada hanya siswa lima kelas yang kebagian olah raga saat ini, itupun belum terkumpul semua kebanyakan dari mereka berkumpul di lapangan menunggu guru Olah Raga datang.
“Deb, sorry ya aku harus ninggalin kamu disini aku kan olah raga” ucap Bagas ia selalu merasa tak enak hati jika Debo harus ikut berangkat pagi-pagi karena mereka selalu memakai satu motor berdua.
“santai aja kali, gue aja gak pernah bilang sorry kalo ngajak lo dateng pagi” kata Debo, karena Bagas juga melakukan hal yang sama saat Debo ada Pelajaran Olah Raga.
“Gas, gue ke sana dulu yah mau ngejalanin Misi Membangun Cinta” kata Debo dengan senyum dan mata yang berbinar disana.
“sukses ya bray” ucap Bagas setelah Debo beranjak menjauh, ia ikuti arah Debo beranjak dengan kedua matanya, mata itu tertuju pada Debo yang sedang berbicara dengan seorang gadis yang cukup dikenal baik Oleh Bagas. Terlihat disana Debo dan gadis itu berbincang begitu akrab dan Debo tampak malu-malu disana.
“Cindai? Apa Cindai orang yang dimaksud Debo? Penusuk!” ucap Bagas lalu pergi dengan rasa yang bercampur aduk disana rasa tak percaya rasa gelisah dan sakit hati.
Di lain tempat Debo dan Cindai tengah berbincang-bincang terlihat sangat akrab karena memang mereka sudah dekat selama ini, mereka tak menghiraukan dimana mereka berbincang dipersimpangan jalan yang cukup sepi dan tempat itu terlihat jelas jika dilihat dari lapangan ya sangat jelas untuk dilihat Bagas.
“mau tanya apa Deb?” tanya Cindai ia cukup penasaran karena sedari tadi tak kunjung ada kata kata yang terucap yang ia dapati hanya kesalah tingkahan Debo.
“lo mau nembak gue Deb?” kata Cindai sembrono ia hanya bercanda untuk memancing Debo berucap
“Hah enggaklah, bisa dilaporin ke MamaNya bagas entar gue, hahah gue Cuma pengen nanya, lo kan cewek, biasanya cewek tuh suka dikasih bunga apa cokelat?” kata Debo akhirnya, ia cukup lega sudah menyampaikan
“lo nanya gue kan? Kalo gue gak suka bunga atau cokelat sukanya bola basket atau gak sepatu roda” kata Cindai ia sebut benda benda yang selalu ia butuhkan dia inginkan dalam waktu dekat.
“hiuft, salah gue nanya sama cewek setengah jadi” kata Debo sambil memperlihatkan wajah datar
Cindai menyikut lengan Debo lalu memukul pundaknya kasar seraya berkata “Sialan kau, kan gue udah bilang, lo nanya gue? Ya udah gue jawab”
Debo tertawa mendengar ucapan Cindai, benar saja tiap gadis itu punya selera yang berbeda tak semuanya menyukai bunga dan cokelat terlebih ada yang alergi pada keduanya.
“udah lah, emangnya cewek mana sih yang lo taksir Deb?” tanya Cindai
“Raify Ndai” jawab Debo
“cielah, gue pikir kalian sahabat, sahabat jadi cinta nih ye, Ify tuh cewek banget dan dia suka Bunga mawar merah yang baru dipetik Deb” ucap Cindai
“yang bener lo?”
“gak percaya lagi nih anak”
“gak sia-sia gue nanya sama lo ya” kata Debo senyumnya muncul kembali “kalo gitu gue langsung nyari mawar merah deh, thanks ya ndol, btw salam dari Bagas, salam Cinta Manja” kata Debo lalu berlarian meninggalkan Cindai.
“sialan, pergi lo… Cinta manja apaan” sungut Cindai.

***

Semua terasa semakin menegang mereka seolah tak saling kenal, jika pandangan mereka tak sengaja bertemu tak ada ekspresi disana tak ada hasrat untuk menyapa apalagi bercanda, semua terasa berbeda tak ada yang ingin mengalah.
“Raify…” panggil Mario dengan segenap keberaniannya,.
Pemilik nama hanya memandang sekilas lalu kembali merapikan buku-buku lalu memasukkannya kedalam tas. dikelas masih ada beberapa orang belum membereskan buku nya, disana juga ada Debo dan Alvin, sebenarnya Mario tak mau menungkit disini tapi ia harus segera menyelesaikannya kasihan Dea.
“Gue, gue minta maaf atas kejadian kemarin, please lo jangan salahin Dea” kata Mario bicaranya semakin cepat karena dilihatnya Raify semakin cepat membereskan bukunya dan Mario tahu Raify ingin cepat cepat pergi.
“gue tau, yo gue yang salah gue gak pantes punya perasaan itu, please jangan ungkit lagi gue capek!” ucap Raify kembali ia merasakan hal yang serupa dengan kemarin air matanya sedikit demi sedikit mulai merembes keluar dari pelupuk matanya.
Mereka yang melihat kejadian ini hanya bisa bertanya-tanya apa yang terjadi terlebih Debo orang yang sedari tadi memperhatikan Raify harus melihat gadis itu menangis hanya karena diajak bicara oleh Mario sahabatnya. Apa yang terjadi, pikir Debo. Raify keluar kelas, saat Mario hendak mengejar Debo telah sigap untuk mencegatnya dan menghujani Mario dengan pertanyaan apa yang terjadi pada Raify.
“Ify kenapa?” tanya Debo wajahnya tampak serius
“Raify, dia… bertengkar dengan Dea sahabatnya” jawab Mario seadanya
“bagaimana bisa?” tanya Debo
“tanya sendiri pada mereka” jawab Mario ketus lalu pergi meninggalkan kelas
“hey! Padahal gue nanya baik-baik” kata Debo sembari mengambil tas-nya lalu menyusul Mario keluar kelas, bahkan ia tak berniat menyapa Alvin yang sedari tadi duduk dibangkunya memperhatikan mereka. Alvin pun ingin tahu apa yang sedang terjadi pada teman-temannya tapi ia sudah memiliki banyak praduga tentang kejadian ini.
“kalian akan tahu apa yang gue maksud” ucap Alvin dalam hati.

***
Selama mengikuti pelajaran Dea terlihat tak bersemangat, ia meratapi nasib persahabatannya yang hancur hanya karena urusan Cinta. Cinta yang tak ia inginkan mengapa harus ada Cinta jika untuk menghancurkan persahabatan yang juga dibangun atas dasar Cinta, apa itu Cinta? Ada berapa macam kah? Dalam kejadian ini ia rasa Cinta itu jahat, memisahkannya dengan Raify sahabat yang selalu ada untuknya.
“Dey lo kenapa? Bagas juga kenapa? Kalian berdua kenapa?” tanya Cindai pada kedua orang yang telah ia anggap sebagai sahabat itu. Karena dilihatnya Bagas dan Dea hanya merenung duduk tak tenang gelisah tak fokus pada pelajaran dan raut wajah sedih itu membuat Cindai cemas.
“sakit hati” ucap keduanya kompak masih dengan ekspresi datar
Cindai terkejut mendengarnya, kekompakan mereka, jawaban mereka ini terdengar begitu amazing karena mereka bukanlah kembar dan tak ada hubungan keluarga. Apa benar perasaan yang sama akan menyamakan semuanya?
“Dea… sakit hati pada siapa? Bagas… pada siapa?” tanya Cindai ia ingin membantu meluruskan siapa tahu bisa.
“Cindai, kamu lagi PDKT sama Debo ya?” tanya Bagas namun bisa dibilang menuduh karena nada suara-nya yang datar dan menusuk.
“PDKT? Dengan Debo? Emangnya kenapa gas?” jawab Cindai iseng, ia menangkap gelagat aneh pada diri Bagas ia rasa Bagas cemburu
“aku gak suka!” ucap Bagas lalu pergi begitu saja. Cindai tak menyangka Bagas akan mengatakan itu hanya saja Bagas tak mampu mengatakan lebih jauh menggapa ia harus tak suka Cindai berdekatan dengan Debo.
“Bagas…” ucap Cindai merasa surprise pada ucapan Bagas tadi, tampa ia suruh senyum indah terlukis dibibir-nya
“Cielah bahagianya, saling mencintai, asmara dalam satu tempat yang tepat tak ada keraguan keangkuhan keegoisan dan keterpaksaan” ucap Dea
“kok tiba-tiba puitis sih lo, coba lo cerita ke gue lo kenapa Dey” ucap Cindai, ia duduk disamping Dea, karena tak kuasa menahannya sendiri Dea mulai terbuka pada Cindai ia ceritakan semuanya pada Cindai dan beruntunglah Dea, Cindai adalah sosok yang asik di ajak sharing.
***

Raify berjalan menuju parkiran, ia harus segera pulang dan mengunci pintu dikamar untuk sekedar menenangkan dirinya dan menghapus kejadian yang dilewatinya kemarin. Ia terus menyusuri jalan dengan hati yang penuh sesak dan mata yang berkaca-kaca karena ia tahan air mata-nya untuk keluar.
“Raify… Raify!” iya berhenti suara seseorang memanggilnya, ia lihat kebelakang ada seseorang yang tak ia kenal memanggil namanya, dilihat dari lambing yang terdapat diseragam gadis itu menandakan dia siswa kelas X. Raify hanya memandang gadis itu penuh tanda tanya.
“Raify ya? Ini ada titipan buat kamu” ucap-nya lalu memberikan sebuah kado terbungkus kertas kado bernuansa merah jambu. Raify semakin bingung
“dari siapa? Kamu siapa?” tanya Raify
“aku hanya disuruh, semoga harimu menyenangkan, dadah” ucap gadis itu lalu pergi berlarian meninggalkan Raify.
“Hey tunggu! Gadis yang aneh” kata Raify lalu ia pergi dan tetap membawa bingkisan itu dan melanjutkan perjalannya.

***

Debo mondar-mandir di parkiran sekolah ia tak melihat motor yang terparkir di tempat nomor 15 tempat ia parkir sepedanya dengan Bagas tadi. Bahkan ia mengelilingi seluruh parkiran untuk mencari motor milik Bagas namun tak ia temui, Bagas juga tak dapat dihubungi, Debo putuskan untuk bertanya pada pak satpam. Aneh! Pak satpam bilang Bagas sudah pergi sekitar 10 menit yang lalu.
“sial! Maksudnya apa sih tuh orang? Ninggalin gue sendirian, bisa juga dia ngerjain gue pake matiin handphone segala!” ucap Debo sungguh ia sangat kesal pada Bagas.

***

Disini dikamar yang selalu menajdi tempat curahan hatinya, tempat ia mengekspresikan semuanya sedih kecewa bahagia dan segala jenis perasaan yang ia alami. Kali ini ia menangis diatas kasur empuk bernuansa merah muda itu ia katakana apa saja yang menjadi batu dalam hatinya.
Hatinya sudah patah karena melihat kenyataan bahwa lelaki yang selama ini menjadi prince charming-nya tak menjadikannya sebagai Cinderella, yang lebih pahit lagi yang dipilih menjadi sang Cinderella adalah sahabatnya sendiri, ia tak bisa membayangkan nanti dirinnya harus melihat keharmonisan yang diciptakan oleh sang prince charming dengan sahabatnya sendiri dan dirinya terpaksa harus tersenyum dalam kepedihan berpura-pura turut bahagia padahal menderita.
Dalam kegalau-an-nya ia teringat sesuatu, teringat pada gadis tak dikenal yang memberikannya sesuatu. Ia raih tas sekolahnya dan mengambil sebuah bingkisan yang tadi diberikan gadis tak dikenal itu.
“siapa yang memberikan ini untukku?” tanya Raify
Ia buka kotak kado itu, terlihat disana bunga mawar mewar yang sudah layu karena seharian terkurung dalam kotak yang minim akan udara dan sinar matahari, ia terkejut melihat isi kotak itu ia segera menyelamatkan bunga yang menjadi bunga favoritenya itu, ia ambil segelas air lalu ia letakkan bunga itu disana.
“bunga yang cantik, dari asalmu? Kau layu sama dengan hatiku” kata Raify sungguh ia se-melankolis bunga itu.
Ia lihat disana ada sepucuk surat berwarna merah jambu, entah mengapa hatinya terasa bergetar melihat surat itu,  ini kali pertamanya mendapat surat cinta, apa begini  rasanya? Tapi betapapun ia merasa senang tetap tak mampu menghilangkan goresan tajam dihatinya, karena ia tahu ini bukanlah dari Mario, ia masih mengharapkan lelaki itu.
“siapa orang yang masih hidup dijaman 90-an itu, masih menggunakan surat untuk menyatakan perasaan? Bukankah sudah ada media sosial!ckck tapi ini lebih elegan dan romantic” ucap nya lalu dengan pelan ia buka surat itu dan membacanya.

Dear Raify Matahari penyemangatku
Kau tau?
Ada sebongkah Cinta yang bersemi saat kau datang menghampiri
Kau tau?
Ada semangat nyala yang siap berperang saat kau yang memerintah
Kau tau?
Ada segudang harapan saat kau melihat mata ini
Kau tau?
Ada secerca rasa hangat saat tawa-mu menyatu dengan tawaku
Kau tau?
Ada sekeping hasrat untuk selalu bersama hanya dengan dirimu
Kau tau?
Ada hati yang tak bisa menahan letupan asmara ini
Kau tau?
Hati itu adalah hati yang selama ini kau anggap sahabat
Kau tau?
Hati itu berubah menjadi hati yang lain hati yang ingin lebih dari sekedar sahabat
Raify Matahari Penyemangatku…
Dengan segenap keberanian dan hati yang tak bisa dibendung lagi, aku katakana aku menyukai-mu sejak sedari dulu, ini memang egois aku sudah memiliki-mu sebagai sahabat-ku tapi aku merasa egois ingin menjadikan-mu sebagai kekasihku. Maaf-kan derita hati ini.
Bersediakah kau menjawab surat kecil ini? Temui aku ditaman tempat biasa kita berkumpul menghabiskan senja.

Yang mendamba~
Debo . 
Raify ssungguh tak percaya dengan apa yang ia baca, Debo? Debo mengiriminya surat cinta? Dengan kalimat ia rasa bukan kalimat Debo. Suasana hatinya semakin kacau, ia menyukai Mario sedangkan Mario menyukai Dea sahabatnya sendiri dan sahabat Mario menyukai dirinya. Ini lucu sangat lucu untuk ditertawakan.
***

Tiba saat dimana senja kembali akan menjadi saksi sebuah cerita cinta, sinar matahari mulai tenang tak lagi bekerja ekstra dengan panasnya yang dapat mengeringkan jemuran dalam hitungan menit.
Debo sudah duduk dibangku kecil yang cukup ditempati sekitar empat orang berpostus seperti Debo tentunya. Ia gelisah menanti jawaban Raify, bahkan ia khawatir Raify tidak akan menjawabnya dan memilih menggantung perasaannya. Ia tetap menunggu hingga seseorang memanggil namanya.
“Debo…” panggil seseorang, suara itu sangat dikenal Debo suara Raify!
“iya Fy” jawab Debo sekenanya , entah mengapa pertemuan mereka kali ini tak seperti biasanya, kedua-nya terlihat begitu canggung tak tau bagaimana harus memulai pembicaraan.
“udah lama deb?” tanya Raify, rupanya Raify lebih bisa menguasai keadaan
“Iya… eng? Jadi gimana Fy?” tanya Debo, sungguh ia segera mendapatkan jawaban atas penantiannya selama ini, ia sudah pasrah dengan apa yang hendak dikatakan oleh Raify. Untuk saat ini saja Debo tak bisa menatap kedua bola mata Raify yang selalu ia sukai.
“Okeh, gue hargai surat yang lo kirim Deb, kata-kata yang indah gue gak percaya lo bisa nulis sekeren itu, gue kagum Deb, takjub!” kata Raify, hangat sinar matahari serasa semakin menyelimuti hatinya setelah mendengar ucapan Raify ini.
“Tapi sayang Deb, hati yang lo pilih sudah memilih hati yang lain dan itu bukan elo…” lanjut Raify. Kali ini sinar hangat yang menyelimuti Debo seketika meredup terganti oleh petir yang tiba-tiba datang merusak taman hati yang hampir saja merekah kan bunga-bunga asmara.
Debo harus menerima kenyataan ini dengan hati yang lapang, mungkin Raify bukan jodohnya ia harus mau membiarkan Raify bahagia dengan yang ia pilih walau ia harus mengorbankan separuh hatinya terluka.
Dengan senyum yang sangat dipaksakan ia berucap “Makasih Fy udah ngasih jawaban atas pertanyaan gue, gue hargai keputusan lo, semoga lo bahagia sama orang yang lo pilih, kalo gue boleh tau siapa orang beruntung yang sudah terlebih dahulu menempati ruang hati lo?”
“eng… ada deh Deb lo gak perlu tau deh kayaknya” kata Raify ia tak ingin memperkeruh keadaan hati Debo yang ia rasa telah patah mendengar jawaban-nya.
Tiba-tiba saja Bagas datang ia panggil nama Debo dengan nada berat. Ia dekati Debo dan Raify matanya terarah pada Debo, ia dorong tubuh Debo kasar hingga Debo terjatuh.
“maksud lo apa hah? Lo ngedeketin Cindai, sekarang gue denger lo nyatain perasaan lo ke Raify cuih bangsat lo, malu gue punya temen kayak elo!” ucap Bagas berapi-api , Debo bahkan tak mengerti dengan apa penyebab Bagas bersikap seperti ini.
Debo bangun dan membalas dengan mendorong Bagas, ingin sekali ia memukul Bagas yang sudah mengatakan ia Bangsat!
“gue gak ngerti apa maksud lo Gas, harusnya gue nonjok muka lo atas ketidak sopanan ini. “ kata Debo ia mulai tersulut dengan perakuan Bagas
“tonjok aja muka gue, dasar playboy teri, baguslah Raify nolak elo, gue bakalan kasih tau Cindai semua ini! Dan lo bakal kehilangan keduanya!” ucap Bagas
“wah ngaco lo banci! Siapa yang ngedeketin Cindai ha? Mana buktinya gue suka sama Cindai? Gue suka Cuma sama Raify! Raify Salsabila bukankah lo tau itu Gas! Banci!” kata Debo mencoba meluruskan hanya saja cara berbicaranya tak bersahabat
“lo bilang gue banci? Nih banci!” ucap Bagas lalu melayangkan satu pukulan kearah wajah Debo.
Raify teriak, ia hubungi Alvin dan Mario ia harap mereka datang secepatnya.
“Cukup Gas cukup! Kalian kenapa? Kalian sahabat, kalian gak boleh bertengkar kayak gini!” teriak Raify
“persetan dengan sahabat!” ucap Debo ia hendak memukul Bagas tapi hatinya melarang, ia terlalu lemah untuk memukuli sahabatnya sendiri, itu hati Debo.
“pukul gue Deb, elo yang banci!” kata Bagas ia memukuli Debo lagi, dalam hal ini Bagas kehilangan hati yang sama dengan Debo, hatinya tertupi kabut kecemburuan dan kemarahan atas kesalah pahaman.
Mario Alvin Cindai dan Dea datang mereka melerai Debo dan Bagas yang semakin sengit dan Debo yang sudah lemah di amuk Bagas.
“Please guys! Hentikan semua ini! Ada apa dengan kalian? Apa gara-gara urusan Cinta kalian bisa saling hajar kayak gini?” ucap Alvin saat Mario memegangi Debo dan Cindai memegangi Bagas
“Cindai! Liat si Debo, dia nyatain perasaannya pada Ify dia juga ngedeketin kamu, dia bangsat tau gak!” ucap Bagas berapi-api
Debo menggeleng pelan, sudut bibirnya mengeluarkan darah segar. Yang lain hanya mendengarkan apa selanjutnya yang akan terjadi
“Bagas! Siapa yang deketin gue ha? Lo dengerin gue! Debo gak pernah deketin gue! Debo itu jatuh cinta-nya ke Raify bukan sama gue, lo aneh ya, jadi lo mukul Debo gara-gara itu?” kata Cindai meluruskan.
“tapi kemaren aku liat kalian berduaan ngobrol sambil senyum-senyum” ucap Bagas
“asal lo tau ya gas, kemaren tuh Debo nanya barang apa yang disukai Ify! Dan waktu lo nanya gue lagi pdkt sama Debo apa enggak? Gue kan gak jawab Cuma bilang ‘emang kenapa?’ lo salah paham gas!” ucap Cindai, ia tak menyangka Bagas akan melakukan hal yang sangat ekstrim dan sama sekali bukan sikap Bagas.
“Tuh! Lo denger apa yang dibilang Cindai! Dasar cinta buta lo!” sungut Debo ia merasa senang karena urusannya dengan Bagas selesai. Beruntung ia tak sampai melukai Bagas, jika itu sampai terjadi, mungkin Bagas sudah tak sadarkan diri di rumah sakit.
“Dasar Cinta Manja lo gas, makanya tanyain dulu sama mama lo itu beneran rasa Cinta apa gimana?” kata Dea mengolok olok Bagas, Bagas melirik sinis kearah Dea.
“oke sekarang, Raify dan Dea apa masalah kalian? Mario mungkin lo ingin bicara sesuatu?” kata Alvin ia ingin semuanya clear hari ini.
“Raify… gue minta maaf, gue gak bisa membalas perasaan lo sama gue, dan gue malah menyukai Dea orang yang sama sekali tak mencintai gue dia menyukai Sahabat gue sendiri Alvin!” ucap Mario ia sudah menerima semua ini dengan lapang hati.
Alvin cukup kaget dengan ucapan Mario ini, ia pandangi sang pemilik hati yang ia letakkan dihatinya, Dea. Dea menunduk melihat sepatunya yang jauh dibawah sana. Alvin tersenyum ia rasa Dea malu melihat kearah-nya saat ini padahal sering ia pergoki selama ini Dea sering mencuri pandang kearahnya.
“temen-temen, ini alasan gue gak suka ada cewek bergabung dengan persahabatan kita, dan benar saja sebelum kita dinyatakan sebagai sahabat selamanya, sudah terjadi hal udah gue perkirakan bakal terjadi, akan ada cinta yang bisa mengganggu persahabatan kita. Kita membentuk persahabatan bukan percintaan sepasang kekasih, bukankah beda persahabatan dengan pacaran? Ini yang gue takutkan Debo menyukai Raify, Raify menyukai Mario, Mario menyukai Dea, Dea jatuh hati pada gue, ini Cinta jenis apa? Cinta segi empat? Disini hanya perasaan Bagas Cindai yang saling bertemu satu sama lain” ucap Alvin
“gue gak pernah denger ada kata sahabat yang disana ada persahabatan antara laki-laki dan perempuan, kalian tahu film Heart Series antara Rahel dan Farel? Film Mili dan Nata? Dan film film lain yang mengisahkan persahabatan antara laki-laki dan perempuan yang ujung-ujungnya di hancurkan oleh yang namanya Cinta? Itu memang hanya sekedar film dan novel saja tapi itu berlaku dalam kehidupan nyata, karena tak ada yang bisa mengatur arah hati kecuali Tuhan. Kita tidak bisa memilih kepada siapa kita akan jatuh cinta” lanjut Alvin
“coba lo katakana dari awal Vin, kita gak bakal sejauh ini” kata Mario lalu merangkul Alvin penuh penyesalan. Bagas merangkul Debo, ia tahu sakit yang dirasa Debo, ia mengutuk dirinya mengapa harus bertindak seperti itu?
Raify dan Dea  memahami apa yang dikatakan Alvin itu benar. Raify minta maaf pada Dea ia menyesal telah mengatakan Dea bukan sahabatnya lagi.


TAMAT ~
Gimana guys? Kacau gak? :D gue harap kalian bisa memetik hikmahnya yaa :D ,, jangan lupa comen yang cerdas tentang pendapat ceritanya yaa, :* laffyuhh…
PENULIS : Yuvinaz (Yuyun Shoviana)

 Hallow :* ,, ngaret yah? Sorry kebiasaan :v *Eh ini udah di next kok, kayaknya udah panjang(?) heheh biar pembaca puas yak… biar kaga nanyain terus :D thanks ya udah setia nunggu nih cerpen paling ngaret seBDS(?) ckkck yaudah yuks langsung aja ke inti pembahasan(?)

2015 (TRUE FRIEND)
Raify membimbing mereka masuk ke dalam rumah megah itu, Raify membimbing mereka menuju kamar Dea yang letaknya dilantai dua, karpet merah yang menempeli anak tangga itu seakan menyambut mereka hangat. Lampu Kristal yang menggantung apik ditengah tengah atap menambah meriahnya rumah ini.
 Sesampainya didepan pintu kamar Dea, Ify langsung saja membuka pintu yang ia tahu bahwa pintu itu takkan dikunci. Benar saja pintu itu terbuka terlihat disana seorang gadis tengah tertidur tertutup selimut tebal.
“Fy, ketok dulu kali, main masuk aja lo” tegur Mario pada Ify baginya tidak sopan jika masuk ke kamar orang tampa salam atau mengetuk pintu terlebih dahulu, juga untuk mengantisipasi hal hal yang tidak mengenakkan, karena bisa saja orang yang didalam kamar tengah ganti baju atau hal hal yang rahasia.
“gak papa kalo dirumah Dea yo, “ kata Ify
“iya kamu Fy, kalo kita gimana? Kan gak asik entar” ucap Bagas menyetujui ucapan Mario
Mereka semua masuk kamar Dea, lagi lagi mereka takjub dengan dekorasi kamar Dea, kamar yang luas dan bernuansa pink dalam kamar itu terdapat foto berukuran besar bergambarkan dirinya bersama badut badut dalam tokoh film kartun favoritenya Spongebob Squerpants, Dora The Exsplorer, The Wild Thornberry disana hanya ada tokoh Elisa, dan The Fairy Old Parrent ada tokoh Wanda dan Cosmo disana, tampak Dea kecil yang bahagia berada ditengah tokoh kartun favoritenya itu foto ini diambil langsung di Rusia ketika Dead an sekeluarga berlibur disana, disamping gambar itu ada pula gambar yang berukuran sama besar disana terlihat Dea bersama tokoh princess yang bisa membekukan semua benda yang ia pegang, Princess Elsa dalam Film frozen hanya saja yang ini bukan badut tapi model dari kartun tersebut, sangat mirip. Foto itu diambil ketika Dea dan Ayahnya berlibur ke Disney land Hongkong tahun lalu saat liburan semester.
Bahagia rasanya menjadi seorang Dea Amanda apapun yang ia butuhkan selalu terpenuhi.
“hai De, liat nih gue bawa siapa aja” kata Raify sembari mendekat ke kasur Dea
Dea tampak sumbringah melihat kedatangan kawan kawannya ia langsung bangkit dan dalam posisi duduk, karena tak menyangkan Raify akan membawa teman temannya kerumah,
“teman teman, aku seneng banget kalian jenguk aku” kata Dea senyumnya tak henti mengembang, sungguh bahagia ia rasa.
“dey, haus nih” kata Raify, yang mendapat pelototan dari teman temannya
“gausah sok jaim deh, gue tau kalian haus kan” kata Raify lalu keluar kamar, bermaksud mencari mbak Salimah pembantu dirumah Dea.
“Fy, mau kemana? Ikut dong” kata Debo lalu mengikuti Raify keluar kamar.
“huu bilang aja mau modusin Raify lo deb!” seru Bagas, rupanya Bagas mengerti gerak gerik sahabatnya itu.

***

Kedua remaja ini berjalan menuju dapur. Debo tak henti henti memuji arsitektur rumah ini baginya ini perfect.
“ngapain sih deb ngikut ngikut, udah ah sana, jangan bilang lo mau caper, mau modusin gue, sorry ya deb gue bilang duluan kalo gue udah ada hati sama orang lain!” ucap Raify, ia termakan ucapan Bagas tadi dan ia kurang menyukai itu, ia hanya anggap Debo sebagai teman sekelas, tak lebih.
Debo sedikit tertegun dengan ucapan Raify barusan, ia rasa ada yang bergejolak dihatinya hingga menghentikan langkahnya. Ia pandangi sosok Raify yang masih berjalan santai didepannya. Dalam benaknya, Debo bertanya tanya siapakah gerangan orang itu? Apa yang membuat Raify mengaguminya? Debo segera sadar dari lamunannya ia tak mau Raify jauh dari dirinya. Segera ia menyamakan langkahnya dengan Raify.
“dih ke-G-R-an lo Fy, gue ikut lo karena gue pengen liat seluk beluk rumah Dea lebih luas, gue takjub banget sama arsitekturnya” kata Debo ia hanya ingin menutupi semuanya dan mengembalikan sikap Raify yang manis itu.
Feeling gue bilang gitu sih Deb, “
“kalo bener lo mau apa?” tanya Debo, kali ini membuat Raify yang menghentikan langkanhnya
Kemudian menatap Debo tak percaya, kedua alisnya seakan menyatu. Ia berpikir keras akan menjawab apa? Semua terasa serius.
“halah, ngapain lo serius? Gue aja bercanda, udah ah cemen lo, dimana nih dapurnya, jauh amat gak sedia lift apa?” kata Debo lalu berjalan duluan dengan senyum misteriusnya. Raify menggerutu kesal.

***

Cindai memberanikan diri mendekati Dea, dia sudah memikirkan apa saja yang akan ia ucapkan pada Dea, rasa bersalahnya, permintaan maaf semua sudah dirangcang sebelumnya.
“Cindai, lo ikut juga yah, thanks ya Ndai” sapa Dea ramah, membuat Cindai berpikir keras karena ini berbeda dengan apa yang ia bayangkan tadi, bahwa Dea akan marah dan menyalahkan dirinya, ternyata sikap Dea sama dengan teman teman yang lain, Cindai sempat berpikir bahwa orang orang yang ada disekitarnya adalah orang orang yang benar benar tulus.
“Dea, lo gak marah sama gue?” tanya Cindai duduk disamping Dea
“kenap harus?” tanya Dea
“gausah mulai deh Ndai” ucap Bagas mengingatkan apa yang sudah mereka bahas disekolah tentang siapa yang salah dalam kejadian minggu lalu.
“gak Dey, Cindai tuh emang suka ngerasa bersalah orangnya padahal kita udah bilang kalo bukan dia yang salah, kamu gak nyalahin Cindai kan Dey” kata Bagas mewakili Cindai
“hahaha… kamu kenapa sih Ndai? Kemarin kan petualangan kita, ya kan Vin” jawab Dea, seketika sadar bahwa ia hanya menyebut nama Alvin saja “maksud gue, petualangan kita  ya kan Vin, Gas, Yo” ulangi Dea.
“cielah Dea” seru Bagas dengan cengiran khasnya
“apasih bagas jelek lo ya “ balas Dea, wajahnya memanas, ia menunduk
“Dea, tangan lo gimana? Udah sembuh kan?” tanya Mario, ia melihat keadaan tangan Dea yang masih diperban, ia mencoba menyentunya dengan hati hati, sangat hati hati.
“udah kok Yo, besok udah dibuka kok Cuma gak bisa nyetir sama nulis banyak banyak” jawab Dea
“tenang aja Dey, nanti gue catetin buat elo ya, kalo perlu gue jemput lo tiap hari ” kata Mario menyanggupi
“kamu sama Dea kan gak sekelas Yo” kata Bagas mengingatkan
“catatan lo aja banyak yang kosong Yo!” tambah Alvin yang paling tau tentang Mario
 “usaha sih usaha Yo, tapi yang sekira lo mampu aja ngerjainnya” ledek Bagas, seakan akan ia sangat mengerti apa yang dimaksud sahabatnya. Alvin dan Bagas seolah menyempitkan ruang modus Mario.
“sialan lo” kata Mario lalu melempari Bagas dengan bantal berbentuk hati.
Alvin Cindai dan Bagas hanya tertawa melihat tingkah Mario yang mati gaya didepan orang yang ia sukai. Bagi Mario rasanya seperti hanya memakai pakaian dalam ke sekolah, MALU!

“gue aja ndai yang nulisin buat kamu, semua catatan selama seminggu dan kedepannya gue salinin dari catatan gue entar yah” ucap Cindai tulus
“Cindai, Mario, makasih banyak ya, tapi selama gue bisa gue bakalan kerjain sendiri, kalian gak usah repot repot”
“emang enak “ kata Alvin dan Bagas bersamaan dan memasang tampang konyol pada Mario
“eh Vin , mau liat foto foto waktu itu gak?” tanya Dea , lagi lagi ia merasa bodoh mengapa hanya Alvin yang ia sebut “eng? Gas, Yo, Ndai gue kan punya foto foto waktu kita ngelawan preman”  kata Dea lagi,
Ada hati yang layu mendengar kalimat pertama Dea, lelaki itu hanya bisa mendengus berat.
“mana Dey, coba liat” kata Mario antusias, segera Dea membuka handphonenya dan memperlihatkan pada Mario hasil potretannya, disana lengkap ada adegan Alvin memukul si preman, Bagas yang terkena senggolan preman lalu jatuh ketanah dan Cindai yang tengah berduel dengan satu preman. Itu membuat mereka tertawa dengan mengingat kejadian itu.
“sekarang aja lo ketawa gas, kemaren lo ketakutan setengah mampus” ucap Cindai meledek Bagas
“Dev, Eh maksud ku Cindai… emangnya siapa yang dateng bantuin kamu duel sama preman itu? Bagas kan?” ucap Bagas tak mau kalah
“iya iya, bagas yang imut lucu anak mami kan?” kata Cindai lalu tertawa puas melihat perubahan pada wajah Bagas.
“Cindai….!” Seru Bagas kesal lalu melipat tangannya didada
“bercanda kok gas, Gue akuin kok disitu Bagas keren banget, sumpah”
Bagas tersenyum mendengarnya
“Cindai, lo bisa bela diri ya? “ tanya Alvin
“enggak Vin dikit doang” jawab Cindai
“gue gak nyangka aja, seorang cewek berani banget ngelawan preman preman itu, lo hebat banget Ndai” kata Alvin menyampaikan ke kagumannya pada Cindai
“Thanks Vin, tapi yang paling jago tuh Bagas, walopun kemayu gitu dia bisa juga loh maju ke medan perang” Jawab Cindai
“Cindai masih aja bilang Bagas kemayu? Kesel dah sama Cindai” Bagas kembali uring uringan
“kok bisa sih Gas? Atas dasar apa seorang Bagas bisa ngelawan preman?”
“atas dasar gak bisa move on” kata Bagas spontan keluar dari mulutnya tampa ia pikir panjang semua keluar begitu saja
“maksudnya?” Kejar Cindai
“eh, gak bisa move on dari tongsisnya Dea, kan waktu itu aku nyerang pake tongsis, ya kan Dey?” ucap Bagas
“emangnya kalian pernah pacaran?” tanya Dea penuh curiga
“enggak, apa sih Deya, yang boleh peka sama keadaan tuh Cuma Bagas, Dea gak usah sok tau ya” kata Bagas, lirikannya begitu sengit.
“Cindai, luka lo sembuh? “ tanya Alvin lagi
“gue Cuma dikit kok vin lukanya, udah kering juga” jawab Cindai seadanya
“yang parah disini Vin, Cindai hanya lecet lecet saja, bahkan dia tak menanyakan keadaan gue”
Batin Dea lalu menghembuskan nafas berat, ia memandang Alvin sayu.


***

Hari hari semakin Indah, kedekatan mereka semakin nyata, kegiatan yang biasanya dilakukan berempat Alvin Debo Bagas dan Mario kini bertambah personil yaitu Raify Cindai dan Dea mereka melakukan segalanya bersama, tak hanya bersenang senang.

Pagi yang cerah, cahaya matahari mulai menyusup dari sela-sela lubang kecil jendela yang masih tertutup korden berwarna kuning terang senada dengan cat yang menempeli tembok besar berbentuk segiempat itu. Lantai, papan tulis, semua bersih tampa noda, beberapa tangkai bunga mawar berbahan dasar plastic disanggah pot kecil berwarna coklat bertengger diatas meja paling depan, meja guru.
XI IPA 1 begitulah julukan untuk murid murid dikelas ini, jam masih menunjukkan pukul 06.35 namun mulai ada aktivitas aktivitas yang membuat kegaduhan, murid murid banyak berdatangan tak seperti biasanya, jam yang seharusnya mereka masih berleha leha di kantin harus diisi dengan kesibukan tangan untuk mencatat.

“no 15 gimana caranya Fy” tanya seorang yang tengah berdiri didepan meja Raify. Raify mendengus berat, buku PR nya sudah ada ditangan teman temannya yang belum mengerjakan PR, dan teman yang ada didepannya ini tak dapat celah untuk menyalin jawaban Raify saking banyak nya teman yang belum selaesai mengerjakan PR. Terpaksa, atas dasar persaudaraan sesame teman sekelas ia mau menjelaskan kembali pada temannya ini.
“gini Liv, pertama lo tulis dulu kerangkanya, abis itu setarakan unsure yang mengalami perubahan bilang oksidasi dengan ngasih koefisien yang sesuai, tentuin jumlah  penurunan bilangan oksidasi dari oksidator dan jumlah pertambahan bilangan oksidasi dari reduktor…” dengan  semangat Raify menjelaskan namun taklama sebelum Raaify selesai Olivia langsung menyela.
“stoooop Fy, udah gue gak ngerti makin bingung malahan!” kata Olivia sambil memegangi kepala dan menggaruk tengkuk yang sama sekali tidak gatal.
“hahah, makanya Liv, kalo pak Deni menerangkan lo jangan ngegosip sama Nova! Jadinya gitukan lo bingung sendiri, udah sana lo nyari celah buat nyalin, lo kan imut imut tuh” kata Raify dengan cengiran khasnya
“bilang aja gue boncel Fy gausah dimanis manisin jadi imut deh” sungut Olivia yang memang sering dipanggil boncel oleh teman temanya, padahal Olivia tidak boncel hanya aja pertumbuhannya yan agak lambat.
Raify tertawa geli mendengar ucapan Olivia
“ckck bukan gue yang ngomong loh liv” kata Raify

Kemudia datang dua lelaki memasuki ruangan dengan begitu hebohnya, mereka seperti kebingungan, dengan menenteng pulpen dan buku mereka berteriak teriak menyebut nama “Raify”
“Raify mana, Raify mana?” kata Debo dengan mimic wajah serius namun tetap saja terlihat kocak
“dijonggol deb!” jawab Raify dengan tenang
Kedua orang itu Debo dan Alvin, mereka pun belum mengerjakan PR itu, karena memang materi yang dibuat PR itu belum dijelaskan oleh pak Deni makanya banyak yang belum mengerjakan PR.
“wah jauh amat dijonggol, Fy, bantuin kita napa Fy, buku PR lo mana buku PR?” ucap Debo seraya membuka bukunya dan duduk disebelah Raify ia siap menyalin, namun tak semudah itu Debo harus mengantri untuk mendapatkan contekan itu.
“tuh ada di mereka” kata Raifyy sambil menunjuk kerumunan manusia yang bukan mengerubungi pembagian sembako melainkan unntuk menyalin PR.
“yaelah bro, sia sia kita datang pagi pagi ye” kata Debo
“udah gini aja, gue dektein deh buat kalian berdua, tulis sesuai perintah gue ya” kata Raify, ia mengambil buku paket dan membaca kembali soal soal dari nomor 1 sampai 15 sungguh tak sedikit pak Deni memberikan tugas.
Debo dan Alvin menulis apa yang dikatakan Raify, sesuatu yang baru menyadarkan Alvin, ia memandang Raify penuh arti dalam  hatinya berbisik “mereka baik, mereka bisa memahami kita, apa mereka pantas masuk bersama kita?”
“Alvin!! Ko! Vin! “ panggil Debo karena Alvin sudah tinggal jauh dalam menulisnya
“eh sorry sorry, nyampek mana tadi?” kata Alvin setelah sadar dari lamunannya
“ah elu Vin, gue udah nyampek nomor 10 lu masih 7, “ kata Debo kesal
“ye sorry deb, yaudah lu lanjutin tuh, gue ngejar sambil liat tulisan lo” kata Alvin
Raify melanjutkan jawaban, namun kali ini ia yang tak berkonsentrasi adalah Raify, kedua bola matanya menatap kea rah pintu, sesekali menyebar melihat kesekeliling kelas namun tak ia dapat apa yang tengah ia cari.
“iya abis itu kalikan dengan yang didepannya…. “ Raify berujar tampa melihat kearah buku catatan Debo
“Fy, apa hubungannya sama perkalian? Inikan penyetaraan unsure, kok ada perkaliannya?” tanya Debo, ia menatap Raify yang kini berbalik arah membelakangi Debo dan Alvin.
“hah? Emangnya gue bilang apaan deb?” kata Raify rupanya ia tak sadar dengan apa yang ia katakana barusan
“kalikan sama yang didepan ??”
“waduh sorry deb, nyampek mana tadi?” tanya Raify
“lo mikirin apa sih Fy? Kayak khawatir gitu?” tanya Debo, ia menghentikan aktivitas menulisnya sedangkan Alvin tetap melanjutkkan dengan melihat ke buku Debo
“Deb, Mario mana yah? Kok gak muncul dari tadi? Dia udah ngerjain PR belom sih?” kata Raify lalu beranjak keluar kelas untuk mencari tahu keberadaan Mario.
Debo menghembus nafas berat, dikepalnya tangan kirinya lalu dihempas begitu saja, untuk mengurangi rasa kecewa dan marahnya, tak ada yang tau sesuatu yang hebat tengah berkecamuk didalam hati dan pikirannya. “jadi orang itu Mario ? sahabat gue sendiri Fy?” kata Debo bertanya pada akal sehatnya.

Alvin yang menyadari perubahan sikap Debo hanya bisa memperhatikan saja, ia tak mau sok tahu dan sok soan mengatakan sabar deb sabar cinta butuh kesabaran. Tidak mungkin itu bukan sifat Alvin, walaupun bersahabat tapi Alvin tak segegabah itu untuk mengurusi sahabat-sahabatnya. Ia ingin lihat dulu ending dari semua ini.


***

Jauh dari kelas yang berisi siswa-siswa yang sibuk mengerjakan tugasnya. Seseorang tengah duduk sendirian dipojok ruang kelas yang sunyi, bangku-bangku kosong tak berpenghuni mungkin sang empunya kursi sedang asyik duduk didepan TV menunggu jam bergerak ke angka 06.50 barulah ia berangkat ke sekolah, atau mereka tengah berada diperjalan dengan santainya menikmati udara pagi. Lelaki ini tengah bermuram muram karena tak ada satu temanpun yang ada bersamanya. Ia terpaksa berangkat pagi dari rumah karena tuntutan teman temannya yang harus datang lebih awal karena belum mengerjakan pekerjaan rumahnya.
Berkali kali Bagas meratapi nasibnya yang beda kelas dengan sahabatnya sehingga ia yang selalu jadi korban untuk menuruti jadwal masuk ketiga temannya, sedangkan jadwalnya terkadang tidak cocok dengan siswa-siswa Jurusan IPA itu.
“dasar anak anak pemalas, PR kok dikerjakan disekolah, PR itu pekerjaan rumah, kan jadi aku yang jadi korban keberangkatan pagi mereka, yang kayak begini bukan Cuma sekali dua kali tapi SERING KALI!” kata Bagas ia bermonolog sendiri mencaci apapun yang bisa mendengarnya namun nihil ia sendirian tak ada yang menjawab kalimat yang ia lontarkan sehingga ia bebas mencaci maki mengeluarkan apa yang ia rasakan saat ini.
Hingga datang seorang gadis, ia berjalan pelan diluar kelas Bagas, karena mendengar suara Bagas yang tengah berkata kata pedas yang entah ditujukan kepada siapa.
“kayak suara si kemayu! Gue kerjain ahh” ucap gadis itu lalu berjalan lebih halus lagi, sesampainya didepan pintu, ia berjalan jongkok supaya tak terlihat oleh Bagas yang sedang khusuk dengan caci makinya.
Terus, terus, ia berjalan jongkok hingga sampai ke meja pojok belakang tempat Bagas duduk,
“DOOOOORRRRRRRR!!!” Tiak Cindai gadis yang berjalan jongkok tadi
“AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!” Respon Bagas tak kalah nyaring dengan teriakan Chindai bahkan Bagas sampai terhuyung dan kursi yang ia senderi terjungkal kebelakang.
Cindai tertawa puas dengan respon Bagas yang menurutnya terlalu berlebihan untuk ukuran laki-laki, saking lucunya menurut Cindai ia tertawa sampai memegangi perutnya yang sakit karena menertawai Bagas. Disana Bagas meringis melihat sikunya yang luka tergores dan kepalanya yang terbentur lantai nyeri rasanya. Hampir saja Bagas menangis namun ia sadar ini di sekolah jadi ia tahan rasa sakitnya itu, perlahan ia bangkit mengumpulkan segenap kekuatan yang tersisa, karena efek kaget tadi membuat kedua kaki Bagas seakan tak bisa berdiri tegak kakinya serasa gemetar.

“Deviara Chindai!!! Kamu lagi, kamu lagi!! Kebiasaannya gak pernah berubah ya! Selalu jahatin Bagas! Kalo tadi Aku jantungan gimana? Kalo jantung aku rontok gimana? Kalo aku geger otak gimana? Tadi kepala aku kejedot lantai Cindai!!” Tak segan segan Bagas memarahi Cindai, kemarahannya sudah diubun ubun jika tak dilontarkan takut asap tebal keluar dari telingan dan hidungnya.  
“Ahh lu lebay banget sih Gas, sumpah bisa gak sih lo ngeresponnya biasa aja?” balas Cindai masih dengan tawanya yang belum terselesaikan
“Cindai! Masih bisa ya kamu punya urat tertawa setelah melihat penderitaan aku?” kata Bagas lagi lalu berdecak pinggang. Semakin membuat Cindai tertawa lepas.
“ya habis lo marah marah kesiapa sih sampek kedengeran ke luar tau gak sih, udah kayak emak emak marahin lakinya yang abis godain orang lain, hahah”
“Cindai… keterlaluan ya! Bisa gak sih sehari aja kamu bertingkah manis ke aku kayak dulu?” kata Bagas spontan saja.
Cindai  mengernyitkan dahinya, apa kata Bagas? Berlaku manis seperti yang dulu? Kapan ia bermanis manis kepada orang, terkhusus Bagas yang selama ini menjadi objek utama keusilannya.
“maksud lo?” tanya Cindai
“eng? Apa! Udah ah Cindai pergi sana” kata Bagas, ia tak tahu mengapa mulutnya selalu lemes dan mudah terpancing, jika sampai ia menjadi dewan di pemerintahan sudah jelas semua Rahasia Negara ini akan terbongkar ditangan Bagas karena mulutnya yang tak bisa menjaga rahasia itu.
“aneh banget lo! Emangnya sebelum ini kita udah kenal?” kejar Cindai
“enggak, udah sana kamu pergi, hush us”
“lo kata gue kucing! Siyalan lo” kata Cindai lalu menjauh, mendekati kursinya yang berada jauh di kursi paling depan.

***

Beda lagi dengan tempat ini, tempat disalah satu sudut sekolah yang menjadi favorit para siswa dan sebagian guru, Kantin. Wibawanya tak pernah terkalahkan sampai kapanpun tempat ini selalu jadi tempat teramai disekolah manapun. Dua siswa tengah asik menyantap pesanannya, sepiring nasi goreng dan segelas teh manis yang mereka pesan untuk memenuhi panggilan cacing cacing diperut.

“Dea, tumben sarapan dikantin? Emangnya mama gak masak?” tanya teman yang menemaninya makan pagi ini.
“masak kok yo, Cuma gue ngikutin jadwal Ify hari ini dia berangkat pagi” ucap Dea pada Mario yang menemaninya.
“ohh teman yang baik, sama kayak Bagas dong yah dia mau mau aja ngikutin jadwan Gue Debo dan Alvin soalnya dia beda kelas sendiri” jawab Mario
“kok lo berangkat pagi?” tanya Dea
“iya soalnya gue ada…..” kalimat Mario menggantung otaknya menampilkan tujuannya berangkat pagi yaitu untuk menyalin jawaban Raify ia belum mengerjakan PRnya. Sedangkan kini ia menemani Dea makan dengan santainya. Mario tak tega meninggalkan Dea sendiri dan mengatakan bahwa ia belum mengerjakan PR kepada kecengannya itu sangat memalukan! Bisa bisa berkurang poin plus yang selama ini Mario bangun didepan Dea.
“ada apa?”
“ada perlu sama Raify, sahabat lo yang pinter itu dey, eng? Gue boleh ke kelas gak? Soalnya ini darurat dey” kata Mario, akal sehatnya menyuruhnya segera pergi dari tempat ini dan secepatnya menyalin jawaban namun hatinya tetap tak mau pergi hati lebih memilih tinggal disana, namun harus Mario putuskan, dengan berat hati ia mulai melangkah dari tempatnya.
“gak papa kan dey?”
“ya gak ada masalah Yo, gue kan gak minta lo nemenin gue “  kata Dea ramah
“iya juga ya, yaudah dey selamat makan Dey”
“iya yo, udah sana keburu masuk” kata Dea

KRIIIIINGGG !!
Baru beberapa langkah dari meja Dea bell keramat itu sudah berdentang, mengundang para guru  memasuki kelas untuk memulai tugas mulia mereka mentransfer ilmu yang mereka miliki untuk siswa siswanya.

***

Suasana semakin riuh setelah terdengarnya bell mulai pelajaran, siswa siswa XI IPA 1 masih dengan aktivitas yang belum terselesaikan yaitu menyalin jawaban. Mario memasuki kelas dengan gelisah ia duduk disamping Alvin sembari menyambar buku tugas Alvin untuk disalinnya.
“wah parah lo, kemana aja lo Yo!” tanya Alvin yang kaget dengan kedatangan Mario yang tiba tiba.
“gue tanya lo udah ngerjain tugas? “ kata Debo, padahal ia tahu bahwa Mario belum mengerjakan PRnya
“pake nanya lagi lo, yaialah, mana PR lo gue mau nyatet” kata Mario, Debo memberikan buku tugasnya.
“Rio, lo dari mana aja sih? Lo udah belom? Udah kan? Waktunya udah mepet loh” kata Raify lalu menghampiri meja Mario,
“belom Fy, makanya jangan tanya-tanya dulu gue mau  nulis dulu nih” ucap Mario datar
Raify mengernyitkan dahi, padahal ia hanya ingin memberi perhatian saja dan ingin tahu kemana Mario sampai-sampai lupa mengerjakan PRnya. “padahal gue pengennya lo orang pertama yang baca catatan gue dan bangga sama gue yo” Raify melihat Mario lesu.

Tak butuh waktu lama pasca bell berbunyi seorang guru lelaki memasuki ruang dengan langkah cepat, pak Deni adalah guru yang sangat disiplin ia selalu tepat waktu maka dari itu langkah kakinya selalu penjang dan cepat untuk menghemat waktu. Pak Deni meletakkan tasnya dimeja lalu dengan cepat mengambil beberapa buku dari dalam tas.
“kumpulkan buku tugas kalian sekarang juga, Kiki tolong kumpulkan buku buku mereka” titah pak Deni, menimbulkan keluh berupa desahan pelan dari siswanya.
“buset dah nih guru, gak pake salam apa kek langsung ke topic terheboh aja” kata Debo yang memperhatikan betul gerak gurunya mulai masuk sampai duduk.
“rrrgghhh… bisa gak sih nih guru gak usah masuk hari ini aja” keluh Mario, tugasnya belum ia selesaikan sepenuhnya
“yang tidak mengerjakan PR keluar dari kelas ini sekarang juga sebelum saya sendiri yang bertindak!” ucap pak Deni suaranya menggelegar menusuk telinga para siswanya. 
Dengan malu yang ditekan sedalam dalamnya Mario berdiri dari duduknya “saya belum mengerjakan PR pak” kata Mario kemudian
“Mario Alam Syahputra! Silahkan meninggalkan pelajaran saya dan kamu Alfa” ucap pak Deni selalu saja berakhir seperti ini jika siswa tak mengerjakan pekerjaan rumahnya.
Raify berdiri memecah keheningan yang tercipta setelah keluarnya Mario dari kelas,
“ada apa Raify?” tanya pak Deni
“saya juga belum mengerjakan PR pak!” kata Raify ia sembunyikan buku PRnya kedalam tas, pengakuan Raify ini menggemparkan isi kelas, bermacam model pertanyaan muncul dikepala masing masing teman, terlebih Debo. Kenapa Raify melakukan ini semua? Apa yang tujuannya? Tidak sadarkah dia akan konsekuensi yang akan dia dapat atas pengakuan konyolnya ini?
“Raify? Tidak mungkin kamu belum mengerjakan!” ucap pak Deni, bahkan guru ini tak percaya dengan apa yang dikatakan siswanya yang kenal cerdas dan tekun itu
“iya pak, saya semalam ketiduran jadi lupa mengerjakan PR dari bapak,” jawab Raify yakin
“oke, silahkan keluar!” kata pak Deni tetap memberlakukan hukumannya walaupun ke siswa special sekalipun
Dengan senyum mengembang Raify meninggalkan kelasnya, benar saja tak ada beban yang ia rasa tujuannya saat ini adalah mendatangi Mario yang sudah keluar tadi.
siapa bilang cinta itu buta? Cinta itu rekayasa! rekayasa untuk mendapatkan cinta, Raify sudah membuktikannya ia merekayasa dengan mengatakan ia belum mengerjakan pekerjaan rumah hanya untuk menemani Mario diluar sana.

****

Jauh dari hingar bingar sekolah yang banyak mengundang kerusuhan apabila terjadi pertemuan antar siswa bersahabat. Malam ini bulan melingkar penuh cahayanya terang sampai kepelupuk mata lelaki yang tengah berdiri di balkon rumahnya sambil menikmati angin malam yang semilir mampu menerobos kain tipis yang ia pakai. Tak kuat menahan cecaran angin malam ia putuskan kembali ke kamarnya yang hangat. Di kamar itu tengah riuh gara gara perbedaan selera acara Televisi.

Debo Bagas dan Mario sedang berebut remote TV yang ada dikamar Alvin, sungguh mereka seperti anak SD yang berebut mobil-mobil-an, Mario ingin nonton acara Mario Teguh di MetroTV , Debo tak bisa dicegah untuk tidak memutar sinetron Aku Anak Indonesia diChannel RCTI sedangkan Bagas ingin bermain game! Tak ada titik temu untuk mereka.

“lo apaan sih yo, galau lo pake nonton acaranya Mario Teguh segala?” cerca Bagas
“itu tuh tayangan motivator bego! Cocok buat siswa melas kayak elo ini gas, deb!” jawab Mario tak kalah sengitnya
“itukan baru ucapan saja, mending nonton AAI langsung contoh nyata! Bukan hanya motivasi, semua lengkap disini “ kata Debo sambil merampas remote TV dari tangan Mario lalu mengubah channel hingga menampilkan sinetron favoritnya itu.
“apaan sih deb! Lo udah kek emak-emak tau nontonnya sinetron!” kata Bagas lalu mencoba merebut remote dari tangan Debo namun Debo menghindar.
“eith! Ini bukan sinetron hellow mellow bray! Sorry aja ini sinetron motivasi juga! Dari pada elo main game aja kerjaannya, macem anak SD tau!”

Bagas hendak menjawab kembali ucapan Debo namun tertahan ketika Alvin seketika mencabut kabel yang mengalirkan listrik ke TV, seketika TV yang ada dihadapan mereka gelap. Alvin nyengir tak jelas memamerkan deretan gigi putih dalam balutan senyum menawan yang kata cewek-cewek itu senyuman beracun, karena bisa meluluh lantakkan hati mereka dan bisa membuat mereka berpaling dari cinta sejati.  

“kalian nyadar gak sih kalian udah tua! Gak ada acara lain selain rebutan remote? Saling ngina? Ckc!” Alvin berkata santai lalu mengambil buku dari meja belajarnya kemuadian melempar sembarang kearah tiga sahabatnya itu. “baca tuh biar lo pinteran dikit” lanjutnya
“alah, males” kata Bagas yang menangkap buku yang Alvin berikan lalu melempar sembarang buku itu.
Sebuah getaran kecil mengganggu kenyaman Mario. Ia raih ponsel yang ia letakkan disaku celananya setelah dua kali getaran barulah Mario melihat siapa yang tengah meng-calling nya, ia baca Raify Calling Mario mendekatkan ponselnya kearah telinga dan mulai mendengarkan lawan bicaranya diseberang sana.
“Hallo”
“iya Fy”
“belom”
“iya gue kerjain”
“oke”

Mario meletakkan kembali ponsel itu di saku celananya, ia rasa harus mengerjakan apa yang disuruh Raify yaitu mengerjakan pekerjaan rumah yang kemarin diperintah oleh guru Bahasa Inggris, Pak Rafka. Namun hasratnya mengerjakan tugas masih belum membuncah dan penyakit malas itu mulai bekerja disaat yang salah.
“ehh nyadar gak sih kita tuh udah mulai deket sama ketiga cewek itu” ucap Mario sembari membuka penutup toples berisi kacang goreng yang pastinya renyah banget.
“tiga cewek?” Bagas belum paham arah pembicaraan Mario
“Dea Raify Cindai” kata Mario lagi ia sudah berhasil membuka penutup toples dan mulai mencomot kacang-kacang goreng buatan nenek Alvin itu.
“iya yah, gue gak nyangka aja kita bakalan ngabisin banyak waktu sama mereka, asik juga” komen Debo sambil membayangkan kedekatan mereka selama ini, terutama saat dirinya dekat dengan Raify, yang terkadang membuat suasana hatinya lebih cerah dari biasanya lebih cerah dari sinar siang matahari.
“iya, Chindai masih suka ngerjain aku sih, tapi udah gak separah dulu sekarang ngerjainnya dengan perasaan” kata Bagas, ia memikirkan perubahan teman kelasnya yang dulu selalu mengolok-olok Bagas dengan sebutan Kemayu dan bukan lelaki tulen itu sekarang sedikit lebih welcome dan bersahaja dengan Bagas.
“ngerjain dengan perasaan?” Debo nyaut dari kekhusukannya bermain game online
“iya maksudnya gak terlalu nyakitin hati, bercandaan” kata Bagas kemudian
“kalo gue perhatiin lo sama Cindai cocok loh Gas, yang cewek kasar yang cowok kemayu” ucap Debo tampa perasaan ia tak sadar apa sudah menghina Bagas.
“bisa saling melengkapi gitu ya deb” lanjut Mario dengan seringai dibibirnya
“eh kalo diperhatiin Dea manis juga ya, setuju gak?” ucap Mario
“oh jadi Dea nih, kayaknya Dea gak respect sama elo deh Yo” jawab Bagas sekenanya
“Raify juga pinter, dia bisa bikin kita rajin dan gak kena hukuman” lanjut Debo
“Cindai juga bisa lindungin kita dari bahaya” kata Bagas
“Lindungin lo kali” protes Mario dan Debo bersamaan karena tak setuju dengan perkataan Bagas. Karena bagi mereka hanya Bagas yang tidak bisa melindungi diri dan cocok dengan Cindai yang bisa bela diri.
“asik kali ya kalo mereka jadi bagaian dari persahabatan kita?” ucap Mario, Debo dan Bagas hanya menganggukk setuju karena mereka juga merasakan hal yang sama dengan Mario.
“gue gak setuju! Kita ya kita, mereka hanya temen sekolah aja gak lebih” kata Alvin mulai menanggapi diskusi hangat sahabatnya.
“Cuma temen sekolah? Bukankah kita sering meghabiskan waktu bersama, gue rasa lo seneng dengan adanya mereka masuk dengan kita” kata Mario
“gue hanya anggap mereka teman biasa, dan sampai kapanpun mereka gak akan bisa masuk pada persahabatan kita” kata Alvin lagi
“aneh lo Vin, selama ini kita fine-fine aja kenapa baru sekarang lo bilang gak suka?” tanya Debo
“kalo gue bilang, cewek bakal bikin persahabatan kita hancur apa kalian percaya?” Alvin mulai meninggikan nada suaranya, Bagas membelalakan mata ia rasa ada bara api didalam diri Alvin dan alasan itu sangat kuat menolak semua ini.
“wah aneh lo, hancur gimana? Yang ada lo yang hancurin hubungan kita sama cewek-cewek itu” kata Mario ikutan tersulut dengan alasan tak masuk akal dari Alvin.
“cukup, yang jelas gue gak suka mereka masuk diantara kita sebagai sahabat kita!” ucap Alvin lagi lalu beranjak keluar dari kamar yang cukup panas itu.
“apa sih maksudnya? Munafik yah? Selama ini dia enjoy aja main sama Ify Dea Cindai” ucap Mario setelah Alvin benar-benar keluar.
“udah Yo, kita liat aja nanti apa yang bakal terjadi” ucap Bagas, ia tak mau menyalahkan siapa-siapa baginya ini hanya perbedaan pendapat dan itu wajar, ia biarkan Alvin dengan ketidak sukaannya dan ia tak ikut Mario yang terlalu ingin menjadikan ketiga cewek itu masuk dalam persahabatan mereka.

***

Setelah diskusi hangat itu terjadi keempat sahabat itu tak lagi akur mereka lebih memilih pisah dengan kelompok Alvin ynag biasa boncengan dengan Mario kini memakai motor sendiri-sendiri kesekolah . bagi Alvin tak ada masalah jika itu mau Mario, dan Mario masih tak ingin banyak bicara dengan Alvin karena baginya Alvin terlalu munafik untuk mengakui bahwa ia juga suka dengan adanya Raify Cindai dan Dea dalam persahabatan mereka. Bahkan didalam kelas Mario yang biasa semeja dengan Alvin memilih bertukar tempat dengan Obiet sang ketua kelas, saking menghindarnya ia dari Alvin. Sedangkan Debo dan Bagas tetap bersama karena diantara mereka memang tak ada kontrapendapat.
Apakah ini akhir dari persahabatan yang sudah mereka bangun sejak kecil? Sangat disayangkan. Apa hanya karena hal sepele mereka dengan mudah menghapus ikrar persahabatan yang sudah mereka junjung tinggi itu? Apa ini yang dinamakan sahabat akan selalu bersama se-iya se-kata? Jawabannya tidak.

***

Dikamarnya yang cukup rapi untuk ukuran lelaki dan cukup nyaman bagi siapa saja yang mengunjungi, bersih dan wangi pengharum ruangan yang memanjakan hidung dapat mereleksasikan siapa saja yang menempatinya. Lelaki itu tengah duduk di meja belajarnya dengan bolpoin yang ia genggam dan ia gerakkan sesuai isi hatinya hingga menorehkan barisan kata yang membentuk sebuah paragraph berbahasa indah. Begitu lancar ia tulis disana. Ia tersenyum melihat isi kertas binder berwarna merah hati itu, ia tuangkan segala isi hatinya disana tak ada yang ditutup-tutupi semua terjadi secara alami dalam dirinya. Ia lipat kertas itu lalu dimasukkannya pada amplop senada dengan warna kertas tadi, merah hati.
“semoga lo suka dear…” ucapnya lalu mengecup amplop pink itu dengan sejuta harapan yang ada dihatinya.

***

Kala hati tak dapat lagi menampung perasaan, bahkah ia lelah menanggung rasa itu sendirian kemanakah ia harus meluapkannya? Hanya satu cara yaitu menyampaiakan segala isi hati pada orang yang terukir didalam hati itu.
Sore itu matahari tak lagi tegang memancarkan sinarnya dibumi Indonesia sinar yang tadinya panas menusuk kulit sampai menembus tulang kini berubah menjadi sinar yang hangat dan menenangkan, jam menunjuk pukul 16.30 sore hari. Banyak anak muda dan orang dewasa menghabiskan sore ditempat ini, taman kota. Sama dengan pemuda yang satu ini ia duduk dengan gelisah menanti seseorang dengan setangkai mawar merah yang tadi ia beli ditoko bunga, wangi bunga itu masih sangat segar dan terasa memanjakan hidungnya. Jelas sekali bahwa lelaki ini tengah risau, ia cabuti rumput-rumput didepannya atau sesekali melirik jam tangan tak selang beberapa menit ia lihat lagi dan lagi.
Tak butuh waktu lama, seorang yang ia tunggu akhirnya datang wajah gelisah yang tadi menemaninya kini berubah menjadi sumringah ada sinar bahagia disana. Seketika rasa bahagia itu berkurang karena orang yang ia tunggu tak datang sendiri melainkan bersama temannya.
“Hai Yo, sorry ya aku telat tadi masih jemput Raify” ucap Dea gadis yang ditunggu oleh lelaki yang ternyata adalah Mario.
“kok berdua? Kan…” ucap Mario tak ia lanjutkan karena tak enak hati mau menolak kehadiran Raify yang notabane-nya adalah sahabat Dea.
“iya gak masalah kan Yo, gue ajak Ify?” tanya Dea, yang sebenarnya sengaja ia ajak Raify karena Dea tahu Raify menyimpan hati pada Mario, dan pertemuan ini akan membuat Raify senang dapat berjumpa Mario.
“ya gak masalahh Dey” kata Mario gugup.
“jadi ada apa Yo?” tanya Dea, Raify hanya memandang Mario penuh arti dalam hatinya ia senang dapat bertemu dengan Mario, bahkan ia tak curiga mengapa Mario mengajak Dea bertemu, yang ia tahu hanya Dea ingin mendekatkannya pada Mario.
Setelah mendengar pertanyaan Dea itu Mario rasa semua berpusat padanya, ia tak bisa menguasai dirinya sendiri rasa gugup itu meracun dan mematikan semua konsentrasinya ia benci itu, bahkan berucap saja ia tak bisa, kalimat yang ia siapkan sejak seminggu yang lalu kini lenyap digerogoti rasa gugup. Ia pukuli bangku yang ia duduki karena tak kuasa menahan rasa gugup, ini bukan kali pertama Mario berhadapan dengan perempuan yang bisa menggenggam hatinya, tapi entah mengapa semua ini terasa berat dan tak mudah dilakukan.
“PR matematika udah kan Dey?” kata Mario akhirnya.
“kita kan gak sekelas, oh lo mau ngomong sama Raify?” kata Dea,
Bodoh! Bukan itu yang harus Mario ucapkan, bahkan untuk sekedar basa-basi saja ia tak tepat sasaran.
“Udah kok yo, lo udah belom?” jawab Raify, karena memang yang sekelas dengan Mario hanya dirinya saat ini.
“udah kok Fy” jawab Mario lemas, ia mengutuk dirinya sendiri yang terlihat bodoh dan tak bisa berbuat apa apa. Ia harus menuntaskan semua ini, karena benar hatinya sudah tidak bisa menampung rasa ini sendirian, harus ada yang mau menampungnya juga dan hati itu adalah Dea. Ia ambil nafas dalam-dalam ia hembuskan perlahan, ia harus bisa menguasai keadaan.
“Dea, sebenernya bukan itu yang mau aku tanyain ke kamu” kata Mario mulai serius, bahkan ia tidak sadar sudah merubah ‘Lo-Gue’ jadi ‘Aku-Kamu’ . kedua  gadis itu hanya sabar menunggu apa yang akan dikatakan Mario, terlebih Raify atas perubahan sikap Mario ini ia sudah memiliki firasat tak enak.
“Dea, aku gak tau kenapa aku jadi gugup gini, padahal aku sudah mempersiapkan semuanya selama satu minggu, puisi dan kata-kata romantic yang aku rangkai semua lenyap ditelan rasa gugup…” ucap Mario keringat dingin keluar perlahan dari poro-porinya.
Dea dan Raify terkejut dengan apa yang hendak dikatakan Mario, Dea melirik Raify yang terlihat berkaca-kaca menahan suatu gemuruh yang datangnya dari lubuk hati yang terdalam.
“Dea, aku suka sama kamu, aku udah gak bisa nahan perasaan aku sendirian, aku butuh kamu untuk menampung perasaan ini, kamu mau jadi bagian dari hari-hariku?” ucap Mario, sudah sampai ke inti Mario rasa bebannya sedikit berkurang tinggal menunggu respon Dea.
Dea semakin kaget, dan saat itu juga Raify berdiri lalu pergi, berlarian meninggalkan tempat itu.
“Raify!” panggil Dea, Dea beranjak hendak mengejar Raify tapi dicegat oleh Mario .
“Dey, please bisa kamu jawab sekarang?” tanya Mario
Dea tak bisa berbuat apa-apa dia bahkan tidak menyangka Mario akan menyatakan perasaannya, ini diluar bayangan Dea, semua terasa kacau. Dea pergi menyusul Raify, Mario ikut menyusul dari belakang.
“ikut gue sekarang!” kata Dea lalu berlari menyusul Raify, Mario masih belum paham apa yang senarnya terjadi pada Raify, sungguh tak peka.
Mereka sampai ditempat yang cukup sedikit orang beralalu lalang disana, Raify terduduk pasrah dengan air mata deras mengalir di pipi-nya. Dea langsung menghampiri Raify ia peluk tubuh sahabat tersayangnya itu. Tapi tiba-tiba Raify berontak ia dorong Dea hingga terjatuh.
“Jadi ini? Ini tujuan lo ngajak gue kesini? Buat ngeliat lo jadian sama Mario ? gue gak nyangka Dey! Lo tau gue suka sama Mario, tapi lo? Lo bukan sahabat gue!!” ucap Raify berapi-api ia tak bisa menahan rasa sakit hati dan kecewanya semua terluapkan begitu saja.
“Ify, ini gak kayak yang lo pikirin, gue gak tau bakalan terjadi kayak gini, gue gak jadian sama Mario, lo tau sendirikan gue pernah bilang mau deketin lo sama Mario. Gue gak mungkin nyakitin sahabat gue Fy” kata Dea ia tak kuasa menerima tuduhan Raify
“gue gak percaya sama lo lagi, lo bulshit tau gak !” kata Raify lalu hendak beranjak pergi lagi, namun kali ini pergelangan tangannya ditarik oleh Mario.
“apa yo? Lo mau ketawain gue yang patah hati karena cinta gue bertepuk sebelah tangan?” kata Raify pada Mario.
“Ify, gak ada yang ngetawain elo” ucap Dea
“Fy, jadi lo ?” tanya Mario
“iya Yo, gue suka sama lo, selama ini gue selalu perhatian sama lo tapi lo gak pernah merasakan itu, ckck sekeras apapun gue usaha kalo orang yang gue sayang udah suka sama orang lain, semuanya percuma! Dan gue gak nyangka orang yang lo suka itu Dea! Sahabat gue sendiri! Dan yang lebih gue gak sangka, gue harus tau kejadian ini Dey, gue kecewa gue benci sama lo Dey, lo bukan sahabat gue!” kata Raify lalu menghempas keras cekalan tangan Mario dipergelangan tangannya. Ia pergi, berlari meninggalkan keriuhan ini ia pergi dengan hati yang tak tenang dengan hati yang bergejolak merasakan rasa sakit rasa kecewa.
Dea hanya bisa menangis menatap kepergian Raify yang semakin jauh, ia tak berniat mengejarnya lagi karena ia tahu Raify butuh sendiri sekeras apapun ia jelaskan saat ini tak akan bisa diterima oleh Raify.
“gue sahabat lo Fy” lirih Dea
“Dey, gue….” Mario pun tak bisa berkata-kata
“cukup Yo, gue gak mau bahas ini lagi! Kalo lo mau tau jawaban gue? Gue tolak lo, dan gue gak nolak lo gara-gara Ify suka sama elo, tapi gue suka sama sahabat lo sendiri!” kata Dea, membuat Mario kaget bukan karena ia ditolak Dea tapi karena Dea bilang ia mencintai sahabatnya sendiri.
“si..siapa Dey?” kata Mario gemetar
“Alvin!” jawab Dea lalu pergi meninggalkan Mario.
Atas jawaban itu Mario merasa ini semua tak adil, mengapa Dea harus menyukai Alvin padahal Alvin selama ini bersikap acuh pada Dea. Mario semakin tak mengerti Raify menyukainya ini semua seperti berbelat belit tak temu arah penyelesaiannya. Namun tak dipungkiri ia merasakan sakit hati ditolak pujaan hatinya, ditolak secara tidak hormat dan ia merasa bersalah telah membuat Dea dan Raify bertengkar gara-gara salah paham, bahkan sempat ia rasakan perihnya jadi Dea saat mendengar Raify mengatakan Dea bukan sahabat Raify lagi. Uh dia jadi ingat persahabatannya yang kacau hanya gara-gara mempertahankan pendapat masing-masing tentang ketiga gadis itu. Haruskah dalam hal ini ia menyalahkan Alvin karena disukai Dea seperti Raify menyalahkan Dea karena Mario menyukai Dea? Apakah ia harus menyalahkan sang pemberi rasa cinta yang telah menganugerahkan rasa itu pada orang yang tak bisa menerima perasaannya? Sungguh ini terlalu pelik.
“Arrrgghhh!! Kenapa jadi gini sih!” teriak Mario lalu menendang apapun yang ada didepannya.

Ditempat yang sama sepasang mata tengah memperhatikan mereka, dia duduk disela-sela semak untuk melihat dan mendengarkan apa yang sedang terjadi pada ketiga temannya itu, ia hanya ingin memastikan bahwa semuanya akan baik-baik saja, dia juga termasuk orang yang kaget dengan apa yang dilihatnya bahkan ia terhanyut dalam drama nyata yang ia lihat. “Gue udah yakin akan ada percikan-percikan asmara diantara kita dan itu yang akan merusak persahabatan kita” ucap lelaki itu, dia Alvin.


***
Ayam masih berkokok ria dalam sangkarnya menandakan hari sudah pagi, namun mentari pagi belum juga muncul jam masih menunjuk pukul 04.30 suasana diluar masih melimpahkan embun-embun yang membelai daun-daun dengan mesranya keduanya berpadu menebar sejuk dalam setiap hirupan.
Lelaki ini mulai disibukkan dengan urusan yang ia sebut ‘Misi MembangunCinta’ ia tampak semangat hari ini ia sengaja siap-siap kesokolah mulai dari setengah lima pagi, ia tak mau telat dalam urusan Misi Membangun Cintanya yang ia rancang dikejauhan hari. Targetnya jam 06.00 ia sudah berada dilingkungan sekolah dan mulai menjalankan misinya.
Ia tak perlu memaksa Bagas untuk berangkat pagi-pagi karena kebetulan hari ini Bagas ada pelajaran Olah Raga yang mengharuskan mereka datang pagi-pagi karena jam Olah Raga berlangsung pada jam 06.00 pagi. Benar saja mereka berdua langsung berangkat bersama ke-sekolah.
Sekolah yang sepi hanya segelintir siswa yang ada hanya siswa lima kelas yang kebagian olah raga saat ini, itupun belum terkumpul semua kebanyakan dari mereka berkumpul di lapangan menunggu guru Olah Raga datang.
“Deb, sorry ya aku harus ninggalin kamu disini aku kan olah raga” ucap Bagas ia selalu merasa tak enak hati jika Debo harus ikut berangkat pagi-pagi karena mereka selalu memakai satu motor berdua.
“santai aja kali, gue aja gak pernah bilang sorry kalo ngajak lo dateng pagi” kata Debo, karena Bagas juga melakukan hal yang sama saat Debo ada Pelajaran Olah Raga.
“Gas, gue ke sana dulu yah mau ngejalanin Misi Membangun Cinta” kata Debo dengan senyum dan mata yang berbinar disana.
“sukses ya bray” ucap Bagas setelah Debo beranjak menjauh, ia ikuti arah Debo beranjak dengan kedua matanya, mata itu tertuju pada Debo yang sedang berbicara dengan seorang gadis yang cukup dikenal baik Oleh Bagas. Terlihat disana Debo dan gadis itu berbincang begitu akrab dan Debo tampak malu-malu disana.
“Cindai? Apa Cindai orang yang dimaksud Debo? Penusuk!” ucap Bagas lalu pergi dengan rasa yang bercampur aduk disana rasa tak percaya rasa gelisah dan sakit hati.
Di lain tempat Debo dan Cindai tengah berbincang-bincang terlihat sangat akrab karena memang mereka sudah dekat selama ini, mereka tak menghiraukan dimana mereka berbincang dipersimpangan jalan yang cukup sepi dan tempat itu terlihat jelas jika dilihat dari lapangan ya sangat jelas untuk dilihat Bagas.
“mau tanya apa Deb?” tanya Cindai ia cukup penasaran karena sedari tadi tak kunjung ada kata kata yang terucap yang ia dapati hanya kesalah tingkahan Debo.
“lo mau nembak gue Deb?” kata Cindai sembrono ia hanya bercanda untuk memancing Debo berucap
“Hah enggaklah, bisa dilaporin ke MamaNya bagas entar gue, hahah gue Cuma pengen nanya, lo kan cewek, biasanya cewek tuh suka dikasih bunga apa cokelat?” kata Debo akhirnya, ia cukup lega sudah menyampaikan
“lo nanya gue kan? Kalo gue gak suka bunga atau cokelat sukanya bola basket atau gak sepatu roda” kata Cindai ia sebut benda benda yang selalu ia butuhkan dia inginkan dalam waktu dekat.
“hiuft, salah gue nanya sama cewek setengah jadi” kata Debo sambil memperlihatkan wajah datar
Cindai menyikut lengan Debo lalu memukul pundaknya kasar seraya berkata “Sialan kau, kan gue udah bilang, lo nanya gue? Ya udah gue jawab”
Debo tertawa mendengar ucapan Cindai, benar saja tiap gadis itu punya selera yang berbeda tak semuanya menyukai bunga dan cokelat terlebih ada yang alergi pada keduanya.
“udah lah, emangnya cewek mana sih yang lo taksir Deb?” tanya Cindai
“Raify Ndai” jawab Debo
“cielah, gue pikir kalian sahabat, sahabat jadi cinta nih ye, Ify tuh cewek banget dan dia suka Bunga mawar merah yang baru dipetik Deb” ucap Cindai
“yang bener lo?”
“gak percaya lagi nih anak”
“gak sia-sia gue nanya sama lo ya” kata Debo senyumnya muncul kembali “kalo gitu gue langsung nyari mawar merah deh, thanks ya ndol, btw salam dari Bagas, salam Cinta Manja” kata Debo lalu berlarian meninggalkan Cindai.
“sialan, pergi lo… Cinta manja apaan” sungut Cindai.

***

Semua terasa semakin menegang mereka seolah tak saling kenal, jika pandangan mereka tak sengaja bertemu tak ada ekspresi disana tak ada hasrat untuk menyapa apalagi bercanda, semua terasa berbeda tak ada yang ingin mengalah.
“Raify…” panggil Mario dengan segenap keberaniannya,.
Pemilik nama hanya memandang sekilas lalu kembali merapikan buku-buku lalu memasukkannya kedalam tas. dikelas masih ada beberapa orang belum membereskan buku nya, disana juga ada Debo dan Alvin, sebenarnya Mario tak mau menungkit disini tapi ia harus segera menyelesaikannya kasihan Dea.
“Gue, gue minta maaf atas kejadian kemarin, please lo jangan salahin Dea” kata Mario bicaranya semakin cepat karena dilihatnya Raify semakin cepat membereskan bukunya dan Mario tahu Raify ingin cepat cepat pergi.
“gue tau, yo gue yang salah gue gak pantes punya perasaan itu, please jangan ungkit lagi gue capek!” ucap Raify kembali ia merasakan hal yang serupa dengan kemarin air matanya sedikit demi sedikit mulai merembes keluar dari pelupuk matanya.
Mereka yang melihat kejadian ini hanya bisa bertanya-tanya apa yang terjadi terlebih Debo orang yang sedari tadi memperhatikan Raify harus melihat gadis itu menangis hanya karena diajak bicara oleh Mario sahabatnya. Apa yang terjadi, pikir Debo. Raify keluar kelas, saat Mario hendak mengejar Debo telah sigap untuk mencegatnya dan menghujani Mario dengan pertanyaan apa yang terjadi pada Raify.
“Ify kenapa?” tanya Debo wajahnya tampak serius
“Raify, dia… bertengkar dengan Dea sahabatnya” jawab Mario seadanya
“bagaimana bisa?” tanya Debo
“tanya sendiri pada mereka” jawab Mario ketus lalu pergi meninggalkan kelas
“hey! Padahal gue nanya baik-baik” kata Debo sembari mengambil tas-nya lalu menyusul Mario keluar kelas, bahkan ia tak berniat menyapa Alvin yang sedari tadi duduk dibangkunya memperhatikan mereka. Alvin pun ingin tahu apa yang sedang terjadi pada teman-temannya tapi ia sudah memiliki banyak praduga tentang kejadian ini.
“kalian akan tahu apa yang gue maksud” ucap Alvin dalam hati.

***
Selama mengikuti pelajaran Dea terlihat tak bersemangat, ia meratapi nasib persahabatannya yang hancur hanya karena urusan Cinta. Cinta yang tak ia inginkan mengapa harus ada Cinta jika untuk menghancurkan persahabatan yang juga dibangun atas dasar Cinta, apa itu Cinta? Ada berapa macam kah? Dalam kejadian ini ia rasa Cinta itu jahat, memisahkannya dengan Raify sahabat yang selalu ada untuknya.
“Dey lo kenapa? Bagas juga kenapa? Kalian berdua kenapa?” tanya Cindai pada kedua orang yang telah ia anggap sebagai sahabat itu. Karena dilihatnya Bagas dan Dea hanya merenung duduk tak tenang gelisah tak fokus pada pelajaran dan raut wajah sedih itu membuat Cindai cemas.
“sakit hati” ucap keduanya kompak masih dengan ekspresi datar
Cindai terkejut mendengarnya, kekompakan mereka, jawaban mereka ini terdengar begitu amazing karena mereka bukanlah kembar dan tak ada hubungan keluarga. Apa benar perasaan yang sama akan menyamakan semuanya?
“Dea… sakit hati pada siapa? Bagas… pada siapa?” tanya Cindai ia ingin membantu meluruskan siapa tahu bisa.
“Cindai, kamu lagi PDKT sama Debo ya?” tanya Bagas namun bisa dibilang menuduh karena nada suara-nya yang datar dan menusuk.
“PDKT? Dengan Debo? Emangnya kenapa gas?” jawab Cindai iseng, ia menangkap gelagat aneh pada diri Bagas ia rasa Bagas cemburu
“aku gak suka!” ucap Bagas lalu pergi begitu saja. Cindai tak menyangka Bagas akan mengatakan itu hanya saja Bagas tak mampu mengatakan lebih jauh menggapa ia harus tak suka Cindai berdekatan dengan Debo.
“Bagas…” ucap Cindai merasa surprise pada ucapan Bagas tadi, tampa ia suruh senyum indah terlukis dibibir-nya
“Cielah bahagianya, saling mencintai, asmara dalam satu tempat yang tepat tak ada keraguan keangkuhan keegoisan dan keterpaksaan” ucap Dea
“kok tiba-tiba puitis sih lo, coba lo cerita ke gue lo kenapa Dey” ucap Cindai, ia duduk disamping Dea, karena tak kuasa menahannya sendiri Dea mulai terbuka pada Cindai ia ceritakan semuanya pada Cindai dan beruntunglah Dea, Cindai adalah sosok yang asik di ajak sharing.
***

Raify berjalan menuju parkiran, ia harus segera pulang dan mengunci pintu dikamar untuk sekedar menenangkan dirinya dan menghapus kejadian yang dilewatinya kemarin. Ia terus menyusuri jalan dengan hati yang penuh sesak dan mata yang berkaca-kaca karena ia tahan air mata-nya untuk keluar.
“Raify… Raify!” iya berhenti suara seseorang memanggilnya, ia lihat kebelakang ada seseorang yang tak ia kenal memanggil namanya, dilihat dari lambing yang terdapat diseragam gadis itu menandakan dia siswa kelas X. Raify hanya memandang gadis itu penuh tanda tanya.
“Raify ya? Ini ada titipan buat kamu” ucap-nya lalu memberikan sebuah kado terbungkus kertas kado bernuansa merah jambu. Raify semakin bingung
“dari siapa? Kamu siapa?” tanya Raify
“aku hanya disuruh, semoga harimu menyenangkan, dadah” ucap gadis itu lalu pergi berlarian meninggalkan Raify.
“Hey tunggu! Gadis yang aneh” kata Raify lalu ia pergi dan tetap membawa bingkisan itu dan melanjutkan perjalannya.

***

Debo mondar-mandir di parkiran sekolah ia tak melihat motor yang terparkir di tempat nomor 15 tempat ia parkir sepedanya dengan Bagas tadi. Bahkan ia mengelilingi seluruh parkiran untuk mencari motor milik Bagas namun tak ia temui, Bagas juga tak dapat dihubungi, Debo putuskan untuk bertanya pada pak satpam. Aneh! Pak satpam bilang Bagas sudah pergi sekitar 10 menit yang lalu.
“sial! Maksudnya apa sih tuh orang? Ninggalin gue sendirian, bisa juga dia ngerjain gue pake matiin handphone segala!” ucap Debo sungguh ia sangat kesal pada Bagas.

***

Disini dikamar yang selalu menajdi tempat curahan hatinya, tempat ia mengekspresikan semuanya sedih kecewa bahagia dan segala jenis perasaan yang ia alami. Kali ini ia menangis diatas kasur empuk bernuansa merah muda itu ia katakana apa saja yang menjadi batu dalam hatinya.
Hatinya sudah patah karena melihat kenyataan bahwa lelaki yang selama ini menjadi prince charming-nya tak menjadikannya sebagai Cinderella, yang lebih pahit lagi yang dipilih menjadi sang Cinderella adalah sahabatnya sendiri, ia tak bisa membayangkan nanti dirinnya harus melihat keharmonisan yang diciptakan oleh sang prince charming dengan sahabatnya sendiri dan dirinya terpaksa harus tersenyum dalam kepedihan berpura-pura turut bahagia padahal menderita.
Dalam kegalau-an-nya ia teringat sesuatu, teringat pada gadis tak dikenal yang memberikannya sesuatu. Ia raih tas sekolahnya dan mengambil sebuah bingkisan yang tadi diberikan gadis tak dikenal itu.
“siapa yang memberikan ini untukku?” tanya Raify
Ia buka kotak kado itu, terlihat disana bunga mawar mewar yang sudah layu karena seharian terkurung dalam kotak yang minim akan udara dan sinar matahari, ia terkejut melihat isi kotak itu ia segera menyelamatkan bunga yang menjadi bunga favoritenya itu, ia ambil segelas air lalu ia letakkan bunga itu disana.
“bunga yang cantik, dari asalmu? Kau layu sama dengan hatiku” kata Raify sungguh ia se-melankolis bunga itu.
Ia lihat disana ada sepucuk surat berwarna merah jambu, entah mengapa hatinya terasa bergetar melihat surat itu,  ini kali pertamanya mendapat surat cinta, apa begini  rasanya? Tapi betapapun ia merasa senang tetap tak mampu menghilangkan goresan tajam dihatinya, karena ia tahu ini bukanlah dari Mario, ia masih mengharapkan lelaki itu.
“siapa orang yang masih hidup dijaman 90-an itu, masih menggunakan surat untuk menyatakan perasaan? Bukankah sudah ada media sosial!ckck tapi ini lebih elegan dan romantic” ucap nya lalu dengan pelan ia buka surat itu dan membacanya.

Dear Raify Matahari penyemangatku
Kau tau?
Ada sebongkah Cinta yang bersemi saat kau datang menghampiri
Kau tau?
Ada semangat nyala yang siap berperang saat kau yang memerintah
Kau tau?
Ada segudang harapan saat kau melihat mata ini
Kau tau?
Ada secerca rasa hangat saat tawa-mu menyatu dengan tawaku
Kau tau?
Ada sekeping hasrat untuk selalu bersama hanya dengan dirimu
Kau tau?
Ada hati yang tak bisa menahan letupan asmara ini
Kau tau?
Hati itu adalah hati yang selama ini kau anggap sahabat
Kau tau?
Hati itu berubah menjadi hati yang lain hati yang ingin lebih dari sekedar sahabat
Raify Matahari Penyemangatku…
Dengan segenap keberanian dan hati yang tak bisa dibendung lagi, aku katakana aku menyukai-mu sejak sedari dulu, ini memang egois aku sudah memiliki-mu sebagai sahabat-ku tapi aku merasa egois ingin menjadikan-mu sebagai kekasihku. Maaf-kan derita hati ini.
Bersediakah kau menjawab surat kecil ini? Temui aku ditaman tempat biasa kita berkumpul menghabiskan senja.

Yang mendamba~
Debo . 
Raify ssungguh tak percaya dengan apa yang ia baca, Debo? Debo mengiriminya surat cinta? Dengan kalimat ia rasa bukan kalimat Debo. Suasana hatinya semakin kacau, ia menyukai Mario sedangkan Mario menyukai Dea sahabatnya sendiri dan sahabat Mario menyukai dirinya. Ini lucu sangat lucu untuk ditertawakan.
***

Tiba saat dimana senja kembali akan menjadi saksi sebuah cerita cinta, sinar matahari mulai tenang tak lagi bekerja ekstra dengan panasnya yang dapat mengeringkan jemuran dalam hitungan menit.
Debo sudah duduk dibangku kecil yang cukup ditempati sekitar empat orang berpostus seperti Debo tentunya. Ia gelisah menanti jawaban Raify, bahkan ia khawatir Raify tidak akan menjawabnya dan memilih menggantung perasaannya. Ia tetap menunggu hingga seseorang memanggil namanya.
“Debo…” panggil seseorang, suara itu sangat dikenal Debo suara Raify!
“iya Fy” jawab Debo sekenanya , entah mengapa pertemuan mereka kali ini tak seperti biasanya, kedua-nya terlihat begitu canggung tak tau bagaimana harus memulai pembicaraan.
“udah lama deb?” tanya Raify, rupanya Raify lebih bisa menguasai keadaan
“Iya… eng? Jadi gimana Fy?” tanya Debo, sungguh ia segera mendapatkan jawaban atas penantiannya selama ini, ia sudah pasrah dengan apa yang hendak dikatakan oleh Raify. Untuk saat ini saja Debo tak bisa menatap kedua bola mata Raify yang selalu ia sukai.
“Okeh, gue hargai surat yang lo kirim Deb, kata-kata yang indah gue gak percaya lo bisa nulis sekeren itu, gue kagum Deb, takjub!” kata Raify, hangat sinar matahari serasa semakin menyelimuti hatinya setelah mendengar ucapan Raify ini.
“Tapi sayang Deb, hati yang lo pilih sudah memilih hati yang lain dan itu bukan elo…” lanjut Raify. Kali ini sinar hangat yang menyelimuti Debo seketika meredup terganti oleh petir yang tiba-tiba datang merusak taman hati yang hampir saja merekah kan bunga-bunga asmara.
Debo harus menerima kenyataan ini dengan hati yang lapang, mungkin Raify bukan jodohnya ia harus mau membiarkan Raify bahagia dengan yang ia pilih walau ia harus mengorbankan separuh hatinya terluka.
Dengan senyum yang sangat dipaksakan ia berucap “Makasih Fy udah ngasih jawaban atas pertanyaan gue, gue hargai keputusan lo, semoga lo bahagia sama orang yang lo pilih, kalo gue boleh tau siapa orang beruntung yang sudah terlebih dahulu menempati ruang hati lo?”
“eng… ada deh Deb lo gak perlu tau deh kayaknya” kata Raify ia tak ingin memperkeruh keadaan hati Debo yang ia rasa telah patah mendengar jawaban-nya.
Tiba-tiba saja Bagas datang ia panggil nama Debo dengan nada berat. Ia dekati Debo dan Raify matanya terarah pada Debo, ia dorong tubuh Debo kasar hingga Debo terjatuh.
“maksud lo apa hah? Lo ngedeketin Cindai, sekarang gue denger lo nyatain perasaan lo ke Raify cuih bangsat lo, malu gue punya temen kayak elo!” ucap Bagas berapi-api , Debo bahkan tak mengerti dengan apa penyebab Bagas bersikap seperti ini.
Debo bangun dan membalas dengan mendorong Bagas, ingin sekali ia memukul Bagas yang sudah mengatakan ia Bangsat!
“gue gak ngerti apa maksud lo Gas, harusnya gue nonjok muka lo atas ketidak sopanan ini. “ kata Debo ia mulai tersulut dengan perakuan Bagas
“tonjok aja muka gue, dasar playboy teri, baguslah Raify nolak elo, gue bakalan kasih tau Cindai semua ini! Dan lo bakal kehilangan keduanya!” ucap Bagas
“wah ngaco lo banci! Siapa yang ngedeketin Cindai ha? Mana buktinya gue suka sama Cindai? Gue suka Cuma sama Raify! Raify Salsabila bukankah lo tau itu Gas! Banci!” kata Debo mencoba meluruskan hanya saja cara berbicaranya tak bersahabat
“lo bilang gue banci? Nih banci!” ucap Bagas lalu melayangkan satu pukulan kearah wajah Debo.
Raify teriak, ia hubungi Alvin dan Mario ia harap mereka datang secepatnya.
“Cukup Gas cukup! Kalian kenapa? Kalian sahabat, kalian gak boleh bertengkar kayak gini!” teriak Raify
“persetan dengan sahabat!” ucap Debo ia hendak memukul Bagas tapi hatinya melarang, ia terlalu lemah untuk memukuli sahabatnya sendiri, itu hati Debo.
“pukul gue Deb, elo yang banci!” kata Bagas ia memukuli Debo lagi, dalam hal ini Bagas kehilangan hati yang sama dengan Debo, hatinya tertupi kabut kecemburuan dan kemarahan atas kesalah pahaman.
Mario Alvin Cindai dan Dea datang mereka melerai Debo dan Bagas yang semakin sengit dan Debo yang sudah lemah di amuk Bagas.
“Please guys! Hentikan semua ini! Ada apa dengan kalian? Apa gara-gara urusan Cinta kalian bisa saling hajar kayak gini?” ucap Alvin saat Mario memegangi Debo dan Cindai memegangi Bagas
“Cindai! Liat si Debo, dia nyatain perasaannya pada Ify dia juga ngedeketin kamu, dia bangsat tau gak!” ucap Bagas berapi-api
Debo menggeleng pelan, sudut bibirnya mengeluarkan darah segar. Yang lain hanya mendengarkan apa selanjutnya yang akan terjadi
“Bagas! Siapa yang deketin gue ha? Lo dengerin gue! Debo gak pernah deketin gue! Debo itu jatuh cinta-nya ke Raify bukan sama gue, lo aneh ya, jadi lo mukul Debo gara-gara itu?” kata Cindai meluruskan.
“tapi kemaren aku liat kalian berduaan ngobrol sambil senyum-senyum” ucap Bagas
“asal lo tau ya gas, kemaren tuh Debo nanya barang apa yang disukai Ify! Dan waktu lo nanya gue lagi pdkt sama Debo apa enggak? Gue kan gak jawab Cuma bilang ‘emang kenapa?’ lo salah paham gas!” ucap Cindai, ia tak menyangka Bagas akan melakukan hal yang sangat ekstrim dan sama sekali bukan sikap Bagas.
“Tuh! Lo denger apa yang dibilang Cindai! Dasar cinta buta lo!” sungut Debo ia merasa senang karena urusannya dengan Bagas selesai. Beruntung ia tak sampai melukai Bagas, jika itu sampai terjadi, mungkin Bagas sudah tak sadarkan diri di rumah sakit.
“Dasar Cinta Manja lo gas, makanya tanyain dulu sama mama lo itu beneran rasa Cinta apa gimana?” kata Dea mengolok olok Bagas, Bagas melirik sinis kearah Dea.
“oke sekarang, Raify dan Dea apa masalah kalian? Mario mungkin lo ingin bicara sesuatu?” kata Alvin ia ingin semuanya clear hari ini.
“Raify… gue minta maaf, gue gak bisa membalas perasaan lo sama gue, dan gue malah menyukai Dea orang yang sama sekali tak mencintai gue dia menyukai Sahabat gue sendiri Alvin!” ucap Mario ia sudah menerima semua ini dengan lapang hati.
Alvin cukup kaget dengan ucapan Mario ini, ia pandangi sang pemilik hati yang ia letakkan dihatinya, Dea. Dea menunduk melihat sepatunya yang jauh dibawah sana. Alvin tersenyum ia rasa Dea malu melihat kearah-nya saat ini padahal sering ia pergoki selama ini Dea sering mencuri pandang kearahnya.
“temen-temen, ini alasan gue gak suka ada cewek bergabung dengan persahabatan kita, dan benar saja sebelum kita dinyatakan sebagai sahabat selamanya, sudah terjadi hal udah gue perkirakan bakal terjadi, akan ada cinta yang bisa mengganggu persahabatan kita. Kita membentuk persahabatan bukan percintaan sepasang kekasih, bukankah beda persahabatan dengan pacaran? Ini yang gue takutkan Debo menyukai Raify, Raify menyukai Mario, Mario menyukai Dea, Dea jatuh hati pada gue, ini Cinta jenis apa? Cinta segi empat? Disini hanya perasaan Bagas Cindai yang saling bertemu satu sama lain” ucap Alvin
“gue gak pernah denger ada kata sahabat yang disana ada persahabatan antara laki-laki dan perempuan, kalian tahu film Heart Series antara Rahel dan Farel? Film Mili dan Nata? Dan film film lain yang mengisahkan persahabatan antara laki-laki dan perempuan yang ujung-ujungnya di hancurkan oleh yang namanya Cinta? Itu memang hanya sekedar film dan novel saja tapi itu berlaku dalam kehidupan nyata, karena tak ada yang bisa mengatur arah hati kecuali Tuhan. Kita tidak bisa memilih kepada siapa kita akan jatuh cinta” lanjut Alvin
“coba lo katakana dari awal Vin, kita gak bakal sejauh ini” kata Mario lalu merangkul Alvin penuh penyesalan. Bagas merangkul Debo, ia tahu sakit yang dirasa Debo, ia mengutuk dirinya mengapa harus bertindak seperti itu?
Raify dan Dea  memahami apa yang dikatakan Alvin itu benar. Raify minta maaf pada Dea ia menyesal telah mengatakan Dea bukan sahabatnya lagi.


TAMAT ~
Gimana guys? Kacau gak? :D gue harap kalian bisa memetik hikmahnya yaa :D ,, jangan lupa comen yang cerdas tentang pendapat ceritanya yaa, :* laffyuhh…
PENULIS : Yuvinaz (Yuyun Shoviana)

Komentar