MY
SISTER MY RIVAL
Prang… Prang… Prang…
Sebuah
handphone jatuh dan pecah di lantai, benda segi empat itu seketika mati saat
membentur lantai mulus tak berdebu. Pemilik kamar rupanya rajin membersihkan
lantai, kamarnya juga bagus dan wangi parfum aroma bunga mawar menusuk hidung.
Sang pemilik Handphone kaget bukan kepalang setelah apa yang dilakukan oleh
seorang gadis yang tiba-tiba masuk ke kamarnya lalu membanting handphonenya ke
lantai.
“Chelsea,
ini udah kesekian kali kamu nikung pacar kakak! Mau kamu apasih Chelsea ? kamu
itu keterlaluan! Bisa-bisanya kamu ngerebut pacar kakak? Kamu sebenernya ada
masalah apa sama kakak? Kamu gak bisa ha cari pacar sendiri? Kakak udah capek
sama yang namanya patah hati gara-gara kamu nikung pacar kakak! Kamu gak malu?
Urat manusiawi kamu udah putus Chelsea ?” semprot Via berapi-api, emosinya
seketika naik setelah pertemuannya dengan Septian, seseorang yang berstatus
menjadi pacarnya selama 2 bulan itu meminta putus, dengan alasan ia sudah tak
sayang lagi pada Via, ia mulai sayang pada adik perempuan Via, Chelsea.
“Kakak!
Itu HP baru aku, pemberian dari Kak Septian kenapa kakak rusakin!” rajuk
Chelsea, ia baru menggunakan HP itu selama dua hari, kini sudah menjadi
kepingan-kepinngan tak berharga. Ia pungut potongan-potongan HP-nya.
Via
semakin kalap, apa katanya? Pemberian Septian! Bahkan selama pacaran dengannya
Septian tak memberikan hadiah apapun. Apalagi handphone keluaran terbaru. Harga
diri Via semakin terinjak-injak oleh adiknya ini.
“Kamu
gak punya perasaan! Gimana bisa kamu pacaran sama Septian?” Via menatap Chelsea
tajam. Masih dengan nada berteriak saking emosinya, padahal Chelsea tetap bisa
mendengar walaupun dia tidak berteriak.
Chelsea
seperti menerawang masa lalu, ia katakan semuanya pada Via.
Suatu
hari Chelsea menyelinap masuk ke kamar Via, saat itu Via tengah mandi.
Handphone dibiarkan saja bertengger di kasurnya, (masa iya mau dibawa ke kamar
mandi?). dengan gerak cepat Chelsea mengutak atik HP kakaknya, setelah
memencet-mencet sesuatu ke HP-nya barulah dia meninggalkan kamar Via, tentu
saja dengan berjalan pelan seperti maling jemuran.
Chelsea
mengambil nomor Septian, pacar Via. Ia mulai meng-SMS Septian. Chelsea termasuk
orang yang cepat akrab, tak heran jika saat itu Septian langsung mengajak
Chelsea jalan.
Hubungan
mereka semakin dekat, yang awalnya hanya kakak-adek-an mulai naik tingkat
menjadi sayang-sayangan.
“Chels,
kayaknya aku lebih nyaman jalan sama kamu dari pada kakak kamu, kamu beda, Via
terlalu serius sedangkan kamu orangnya asik banget, aku suka cewek yang seperti
kamu” tukas Septian.
“Aku
juga kak, aku mulai suka sama kakak setelah bertemu kakak di rumah”
“Kamu
juga suka sama aku?” tanya Septian dengan mata berbinar, karena ia tahu rasa
sukanya tak bertepuk sebelah tangan.
Chelsea
hanya tersenyum.
“Kalo
gitu kita jadian? Tapi… gimana dengan Via?”
“Kak,
Cinta itu pilihan. Dan yang memilih tuh hati bukan aku sendiri, jadi ini semua
bukan kemauan kita, kita dekat karena hati kita saling terkait” ucap Chelsea
seolah dia paham betul yang namanya Cinta.
“Apa?
Brengsek! Adik dan pacar gak tau malu!” teriak Via frustasi.
“Ya,
kan seperti yang aku bilang sama Septian, kalo cinta itu gerakan dari hati kak,
kita gak tau pada siapa cinta kita tertuju” kata Chelsea santai, seolah tak ada
dosa yang ia buat.
“Cinta?
Tau apa kamu tentang cinta? Kamu masih 15tahun Chelsea! Aku benci kamu” teriak
Via, lalu pergi dari kamar Chelsea.
Chelsea
hanya menatap nanar ke arah HP-nya yang di lempar kasar ke lantai oleh
kakaknya. Ia menyesal mengapa harus HP itu yang dipecahkan oleh kakaknya? Ini
kan HP baru!
Chelsea
sudah tidak memperdulikan rasa sakit hati akibat hinaan dari kakaknya, ia
meresa senang dengan begitu kakaknya mau menemuinya. Chelsea adalah anak bungsu
dari 2 bersaudara. Ia tumbuh menjadi anak yang periang dan senang bergaul
dengan siapa saja yang menurutnya bisa mengutungkan.
Via,
adalah putri sulung dari pasangan suami istri Dini dan Rafka. Via tumbuh
menjadi gadis yang senang menyendiri, ia mudah tersinggung dan tidak suka
digangu dalam hal sekecil apapun. Bahkan candaan teman-temannya ia anggap
serius.
Chelsea
dan Via dibesarkan oleh seorang Baby Sitter yang dipekerjakan oleh kedua
orang tuanya untuk mengasuh mereka. Karena kedua orang tuanya terlalu sibuk
dengan berbagai macam bisnis yang mereka kelola. Bahkan bisnis mereka sudah
menembus dunia internasional. Ayahnya seorang bisnismen yang menekuni tambak
udang. Udang-udang yang dihasilkan oleh tambaknya bisa mencapai ton-an, ia juga
mengolah sendiri udang-udang itu menjadi beberapa aneka masakan, seperti di
kemas menjadi sarden, diolah di restaurant milik istrinya yang juga menekuni
bidang kuliner terkhusus masakan jepang. Selain itu ia juga banyak me-ekspor ke
Negara-negara tetangga seperti Malaysia, Singapura dan Brunei Darussalam.
Kesibukan
itu lah yang membuat kedua orang tuanya tidak mampu mengasuh anaknya sendiri,
namun mereka tetap yakin anaknya akan tumbuh menjadi anak yang baik sewajarnya
anak-anak lain. Karena mereka telah memilih baby sitter yang sangat
kompeten.
Di
dalam kamar yang sama luasnya dengan kamar Chelsea, Via menangis tersedu-sedu,
ia buka fitur galeri di HP-nya lalu menghapus beberapa foto yang menggambarkan
dirinnya dengan lelaki yang 2 bulan ini menjadi kekasihnya.
“Dasar
cowok brengsek! Adik gak tau malu, kenapa kalian ada di hidup gue! Gue benci
kalian!” keluh Via. Ia pukuli boneka panda besar yang selalu menjadi teman
tidurnya.
***
Tap
tap tap
Suara
langkah kaki siswa-siswa SMA Mega Bangsa yang mulai berdatangan, halaman
sekolah yang di paving itu cukup membuat kaki yang menginjaknya menghasilkan
bunyi yang berbeda-beda sesuai dengan langkah kaki mereka.
“Chels,
ngapain di pintu gerbang? Kayak satpam aja” sapa gadis berponi pagar, wajahnya
sangat imut dengan nuansa biru yang menempel di badannya, bando berwarna biru,
gelang berwarna biru, anting-anting sampai cincin juga berwarna biru,
membuatnya terlihat lebih fresh.
“Kok
satpam sih Ndai, harusnya kamu bilang dia kayak Munaroh yang nunggu Bang Ocid
datang” tukas seorang lelaki yang datang bersama Cindai sahabat Chelsea.
“Makin
gila kalian!” sungut Chelsea,
“Eh,
guru yang udah dateng siapa aja ya?” tanyanya kemudian.
“Kok
nanya kita sih Chels, kita kan baru nyampek, malah kamu yang berdiri di sini
sebelum kita datang”
“Masuk
yuk Chels”
“Iya,
kalian duluan aja deh, ntar aku nyusul”
Cindai
dan Bagas langsung pergi meninggalkan Chelsea yang katanya masih pengen stay
di depan gerbang. Rajin banget si Chelsea! Mau ngabsen murid lain kali ya
hi..hi.hii
Cindai
dan Bagas tak langsung masuk kelas, mereka masih bercanda dengan teman lain di
bangku yang tersedia di depan masing-masing kelas. Bagas menepuk pundak Cindai karena
tak juga menoleh saat dipanggil.
“Ndai,
lihat deh, Chelsea kayaknya akrab banget sama Pak Sam ya?” ucap Bagas yang melihat
Chelsea dan Pak Sam berjalan pelan menuju ruang guru. dari kelasnya ini dapat
melihat ruang guru, lapangan upacara dan pintu gerbang sekolah. Kelas untuk
siswa kelas X memang di tempatkan dekat ruang guru.
“Lagi
belajar bahasa prancis kali” sergah Cindai
“Ahh,
kalo aku perhatiin Chelsea mulai aneh saat SMA, beda dengan Chelsea waktu SMP”
Bagas
Chelsea dan Cindai memang berasal dari SMP yang sama, mereka pun mulai
bersahabat sejak kelas 7 karena mereka ada dalam satu kelas.
“Kayaknya
ngerti banget tentang Chelsea” kata Cindai datar.
Bagas
hanya melihat Cindai dengan wajah datar.
Pelajaran
pertama di kelas X IPA 1 adalah Bahasa Perancis. Setelah bell tanda masuk
berbunyi, setiap siswa berbondong-bondong masuk ke kelas masing-masinng.
“Ndai,
Chelsea kok gak dateng-dateng sih? Kalo dia telat di pelajaran Pak Sam, bisa
abis dia” kata Bagas, ia sudah bolak-balik berjalan dari mejanya ke pintu kelas
untuk melihat Chelsea, sudah datang apa belum.
Bagas
mencoba menelphone Chelsea, namun tidak ada jawaban, ia kirim SMS berkali-kali
juga tak ada balasan, Bagas dibuat pusing oleh Chelsea seorang.
“Yaudah
sih Gas, kita kan tau kalo Chelsea udah nyampek sekolah, malah dia keliatan
akrab sama Pak Sam!” kata Cindai, ia terlihat kesal dengan sikap Bagas yang terlalu
berlebihan pada Chelsea.
Chelsea
datang bersama dengan Pak Sam, semua mata tertuju pada Chelsea, dalam pikiran
teman-temannya, bisa-bisanya Chelsea masuk kelas bersamaan dengan Pak Sam, yang
notabanenya adalah guru yang sangat disiplin! Guru bule Prancis ini menerapkan
system yang hampir sama dengan yang ia terapkan di sekolah Prancis dulu, dia
ingin sekali siswa di sini sama kualitasnya dengan siswa Prancis.
Ada
apa dengan Chelsea dan Pak Sam? Itulah yang terlintas di masing-masing otak
siswa di kelas ini. Dengan santai Chelsea duduk di bangkunya, samping Cindai.
Cindai menyenggol kaki Chelsea dengan kakinya sembari berbisik saat Chelsea
mencondongkan kepalanya ke Cindai.
“Kok
bisa kamu akrab sama Pak Sam?” bisik Cindai pada Chelsea
“Nanti
aja deh aku ceritanya ya”
***
Sepulang
sekolah, Chelsea dijemput oleh seorang lelaki tinggi memakai mobil sedan
berwarna silver, sebelum masuk ke dalam mobil, lelaki itu mengelus-elus kepala
Chelsea dengan sayang. Cindai dan Bagas melihat itu dari dalam sekolah yang
lurus dengan pintu gerbang.
“Dia
siapanya Chelsea?” tanya Bagas
“Pacarnya
kali” jawab Cindai
“Yang
bener aja Ndai, kayaknya Om-nya deh”
“Terselah
kamu aja deh Gas, menerut feeling aku, dia pacar Chelsea! Masa kamu
lupa? Sejak SMA dia kan sering pacaran dengan Om-Om atau gak ya yang udah
kuliahan gitu, dia gak suka cowok yang seumuran Gas!” lanjut Cindai, ini
membuat Bagas tercenung, ia ingat-ingat kejadian yang sudah-sudah. Memang benar
Chelsea selalu dijemput atau diantar oleh lelaki yang lebih tua darinya.
***
Gedung
yang megah, Chelsea tengah berada di antara berbagai model-model pakaian, ia
sangat semangat melihat satu per satu baju yang menjadi calon miliknya. Ia
mengajak Septian ke sebuah Mall besar di kotanya.
“Sayang,
kayaknya aku lagi gak mood sama baju-baju ini, kita jalan lagi yuk cari
di tempat yang lebih keren” ajak Chelsea, ia menggaet lengan Septian lalu
berjalan menyusuri lapak demi lapak yang tersedia di sana.
Chelsea
berhenti di salah satu toko yang berisi aneka jam tangan, mulai dari yang murah
sampai yang mahal! Mata Chelsea terarah pada sebuah jam tangan yang terpajang
di paling atas etalese. Ia menarik-narik lengan Septian, tangan kirinya
menunjuk pada Jam tangan itu.
“Itu?
Itu jam tangan mahal sayang, aku gak bisa beliin itu buat kamu, yang bisa beli
jam tangan itu ya artis se keren Syahrini, penyanyi favorite kamu” kata
Septian, ia tidak perlu melihat harganya, dengan melihat model dan bahan dari
jam tangan itu ia sudah memperkirakan jam tangan itu memiliki harga fantastis,
sekitar puluhan juta lah.
“Kamu
kan orang kaya sayang, kamu tinggal cairkan uang kamu kan?”
“Iya
sayang, tapi habis dong uang jajan aku? Terus siapa yang bakal bayar kalo kita
makan di tempat yang mahal?”
“Ahh!
Yaudah kalo kamu gak mau beliin aku jam tangan itu, mulai sekarang kita putus!”
ucap Chelsea lalu pergi begitu saja meninggalkan Septian.
Beberapa
orang yang melihat kejadian itu menertawakan Septian yang diputusi pacarnya
karena tak mampu membelikan barang yang diinginkan ceweknya. Septian sempat
terpaku di tempatnya.
Putus?
Semudah ini Chelsea memutuskan hubungan dengannya? Septian mengejar Chelsea.
“Kamu
bilang kita putus? Ok! Gue juga udah males sama cewek matre kayak elo! Lo gak
benerr-bener cinta sama gue! Lo Cuma manfaatin gue sebagai orang yang bayarin
belanjaan lo! Dasar cewek matre!” kata Septian berapi-api, jika saja ia bisa
mengeluarkan tanduk merah? Sudah dari tadi tanduk itu keluar, sayangnya Septian
manusia bukan iblis yang terbuat dari api.
“Cuma
cowok kere yang bilang ceweknya matre!” tandas Chelsea , lalu berlari supaya
Septian tak bisa mengejarnya lagi.
Septian
frustasi, ia jambak rambutnya sendiri, ia menyesal termakan wajah polos Chelsea
yang munurutnya sangat cantik se cantik gadis-gadis korea dalam film yang suka
ia tonton. (Haha cowok kok demen drama korea?)
Bukan
hanya Septian yang menyesal telah menjalin hubungan dengan Chelsea, Chelsea
juga menyesal merebut Septian dari kakaknya, karena ia rasa Septian gak
kaya-kaya amat, membelikan jam tangan saja gak mampu apalagi minta yang lain?
Chelsea bertekat mencari yang lebih kaya dari Septian.
***
Di
dalam kamar yang selalu menjadi tempat favoritenya, Chelsea asik memotret
baju-baju sepatu mewah yang diberikan Septian selama mereka menjalin hubungan.
Setelah memotret ia kirim hasil potretannya itu pada akun Line @MamaSayang
dengan caption “Ma, ini baju aku tampa mengambil uang mama, mama cepet
pulang ya Ma, aku udah gak butuh uang. I
love you”
***
Via
tengah asik menyeleksi buku-buku yang berjejer rapi di rak-rak buku yang ada di
gedung megah ini. Ia asik membaca judul dan daftar isi yang ada di dalam buku
yang plastiknya sudah dibuka. Via berada di toko buku Aisyah dekat dengan
kampusnya. Ia sedang bingung mencari refrensi untuk Skripsinya nanti. Judul
yang ia ajukan cukup sulit mencari buku refrensinya.
“Via,
kan?” sapa sebuah suara yang berasal dari belakang Via. Ia menoleh ke asal
suara, dilihatnya seorang lelaki bertubuh padat dan lebih tinggi darinya,
kulitnya hitam manis ia memakai baju resmi khas ‘seragam’ kantoran dengan dasi
menggantung di lehernya. Via mengenali lelaki itu.
“Kak
Gabriel, “ ucap Via tiba-tiba speechless bertemu dengan seorang yang
pernah mengajarnya saat ia mengikuti ekskul karate, saat ia kelas X, lelaki di
depannya itu sudah kuliah semester 2, jika sekarang dirinya sudah kuliah
semester 8 berarti Kak Gabriel ini sudah bekerja, atau melanjutkan S2-nya.
“Surprise
ya ketemu di sini, Lagi nyari apa Vi?”
“Refrensi
buat skripsi kak” jawab Via seadanya, ia rasa gugup berbicara dengan kakak pelatihnya
semasa SMA itu.
“Udah
mau lulus aja Vi, sekarang udah cantik ya, dulu masih tomboy gak pandai dandan”
Via
terhenyak dengan ucapan Gabriel, sebegitu perhatiannya kah dia pada Via, sampai
tau betul perubahan pada Via. Via makin tersipu-sipu, pipi tembemnya nyaris
menjadi tomat Bangkok saking malunya. Hahah
“Kak
Gabriel bisa aja”
Mereka
berbincang seperti teman lama yang dipertemukan dalam suasana sacral seperti
‘reuni sekolah’ acara formal yang diisi dengan kegiatan yang sama sekali tidak
formal seperti nge-flashback masa sekolah, tebar pesona sana-sini,
bahkan melanjutkan gossip yang sempat tertunda karena kelulusan mereka. Entah
apa saja yang diperbincangkan oleh kedua ‘pelatih dan murid’ itu.
***
Selalu
begini, sepi seakan setia menemani malam-malam gadis remaja ini. Ia sedang
duduk memeluk lututnya di balkon rumahnya. Ia biarkan angin malam menyentuh
kulit yang menyebabkan ia kedinginan, wajahnya sayu menatap sebuah figura
berisikan foto 4 orang, ada dirinya, Via dan kedua orang tuanya. Sudah 4 tahun
kedua orang tuanya tak pulang, mereka hanya memberi kabar lewat Video Call,
itupun satu tahun sekali, waktu Lebaran saja.
“Mama,
Elsi kangen mama! Kapan mama dan papa pulang? Elsea kesepian ma, pa. Kak Via
udah gak peduli lagi pada Elsi” Chelsea, gadis itu menangis tersedu-sedu
Ia
ambil handphonenya, ia kirim sebuah pesan pada akun Line @MamaSayang di sana
tertulis, Mama bisa cek ATM Chelsea,Chelsea gak pernah make duit dari mama, Chelsea butuh
mama gak butuh duit mama! Love you ma.
Ia
lihat sebuah mobil jass berwarna pink memasuki halaman rumahnya, itu mobil Via,
kakaknya. Mobil itu sebagai hadiah ulang tahun Via yang ke 17. Ia juga
diberikan sebuah mobil mini cooper saat ia mulai masuk SMA untuk memudahkan
sekolahnya. Chelsea cukup bergelimangan harta.
Lalu
kenapa dia jadi cewek matre seperti yang dikatakan cowok-cowok mantan pacarnya?
Oh Chelsea.
Chelsea
beranjak menuju kamarnya, ia menyalakan music sekeras mungkin. Lagu yang keluar
adalah lagu rock dari band luar negeri. Akibat dari ulahnya itu berhasil
membuat Via masuk kamarnya tampa permisi lalu mencabut aliran listrik yang
menjadi pemicu utama berbunyinya sound system besar yang sangat nyaring itu.
“Chelsea!
Kamu gak ada habis-habisnya ya bikin kakak naik darah? Kakak mau ngerjain skripsi
kakak! Gimana caranya kakak nyelesein semua itu sementara kamu main music
sekeras ini? Kamu mau bikin kakak menderita dengan gak lulus lulus kuliah?
Mikir!” bentak Via, ia selalu berteriak-teriak jika harus berbicara dengan
Chelsea adik semata wayangnya itu. Ia selalu emosi jika melihat ulah Chelsea
yang tak pernah ada manis-manisnya, hahaha iklan kali ah..
“Kakak
lebay ahh, mana mungkin ada saudara yang mau buat saudaranya sendiri
menderita?” kata Chelsea, wajahnya terlihat santai, tak ada beban saat ia
membuat kakaknya itu marah bukan kepalang.
“Gak
usah ceramah ya! Omongan sama kelakuan kamu itu gak konsisten tau gak! Sekali
lagi kakak denger rame-rame di rumah ini, kakak putus sekalian aliran listrik
di sini!” selalu saja berapi-api, Via meninggalkan kamar Chelsea dengan segenap
kekesalan yang menumpuk di otaknya.
***
Hari
ini kelas X IPA 1 digegerkan dengan kabar bahwa Chelsea berangkat bareng Pak
Sam! Kabar yang berhembus bermacam-macam dan semuanya tidak bisa dipertanggung
jawabkan. Ada kabar bahwa Chelsea menyogok Pak Sam supaya Pak Sam tak lagi
galak saat mengajar, atau Chelsea mendekati Pak Sam supaya mendapat nilai bagus
di pelajaran yang cukup sulit itu. Dan yang lebih sadis lagi ada tuduhan bahwa
Chelsea menjadi simpanan Pak Sam! Kalau saja Pak Sam tau kabar yang berhembus
semiring itu? Pasti pelaku akan diusut dan dibawa keranah BK (Bimbingan
Konseling) untuk siswa yang bermasalah, dan pasti akan mendapatkan
kesulitan-kesulitan lainnya.
Cindai
menarik Chelsea ke sebuah tempat yang cukup sepi, dekat gudang yang sudah full
barang bekas sehingga tak terpakai lagi. Tempat yang cukup aman untuk mengerjai
seseorang. Tapi bukan itu tujuan Cindai, ditemani Bagas ia membawa Chelsea ke
tempat itu.
“Apaan
sih Ndai, Gas! Aku udah kayak buronan aja” ucap Chelsea setelah mereka sampai.
“Lo
ngaku Chels! Lo pacaran sama Pak Sam?” todong Cindai
“Lo
mulai deket sama Pak Sam sejak sebulan yang lalu, berhasil lo ya” lanjut Bagas
“Aku
lihat kamu makan bareng di salah satu tempat jualan Ayam goreng!”
“Kamu
mulai pandai berbahasa Prancis, padahal dulu bodoh sekali”
“Aku
gak nyangka cara kamu gini Chels”
“Picik
tau gak!”
Bagas
dan Cindai saling bersahutan menghakimi Chelsea, Chelsea hanya diam memandang
kedua sahabatnya itu dengan wajah terpukau dengan kata-kata yang mereka
ucapkan.
“Udah?,”
tanya Chelsea setelah kedua temannya berhenti
“Jawab”
suruh Cindai
“Kalo
gue pacaran sama Pak Sam kenapa? Kenapa orang-orang pada ngurusin aku sih? Iri?
Aku tau Pak Sam itu bule yang ganteng dan mapan, kalo mau deket ya usaha
sendiri lah, kenapa jadi kepo sama hubungan aku dan Pak Sam?” kata Chelsea ia
terlihat ketus.
“Chels!
Kamu tau kan? Pak Sam itu udah punya tunangan, lo mau jadi selingkuhan?”
“Aku
siap jadi selingkuhan kalo cowoknya kayak Pak Sam!” tandas Chelsea
Bagas
Cindai ternganga mendengarnya, terlebih Bagas, seperti ada yang aneh pada
dirinya, seketika wajahnya muram.
“Kamu
gila Chels, kamu berubah! Mana Chelsea yang dulu kita kenal?”
“Emangnya
gak ada lagi cowok seumuran yang bisa bikin kamu jatuh cinta Chels?” tanya
Bagas.
“Aku
lebih suka yang dewasa Gas, lebih muasin!” kata Chelsea lagi.
Mendengar
itu, Bagas langsung pergi dari tempat itu, ia tak kuat lagi berdebat dengan
Chelsea. Ia merasa Chelsea berubah, sangat berubah. Chelsea yang ia kenal dulu
adalah Chelsea yang pilih-pilih untuk bergaul, jangankan pacaran dengan Om-Om ,
disapa kakak kelas saja dia gugup setengah mati.
***
Satu
bulan ini Via tak pernah lagi membawa teman lelakinya ke rumah untuk sekedar
minum teh atau belajar bersama, bisa saja Via sudah tak berniat pacaran lagi,
takut ditikung sama Chelsea. Tentu saja Via tidak mau sakit hati untuk yang
kesekian kalinya. Via tak habis pikir dengan sikap Chelsea yang menurutnya
adalah criminal tingkat perasaan. (emangnya ada tingkat perasaan? Hahahh)
Di
suatu sore yang cukup memesona, dua sejoli ini tengah duduk santai menikmati
udara sore yang terkesan hangat, di sekelilingnya terlihat ramai orang orang
berlalu lalang, ada yang bermain basket di lapangan yang tersedia di tempat
itu, ada yang bermain sepeda, ada juga yang asik mengejar capung-capung yang
terbang rendah.
“Aku
seneng banget bisa nikmatin sore sama orang yang aku sayangi Vi” ucap lelaki
yang berada disamping gadis berambut sebahu, Via.
“Aku
juga seneng Kak” jawab Via,
Gabriel
memandang lurus kearah danau yang terpampang luas di depannya. Kehangatan
tercipta di antara mereka, perasaan saling suka menaungi hati masing-masing
insane ini.
Via
berharap, Gabriel-lah yang menjadi orang terakhir yang mengisi hidupnya, ia tak
rela jika ada seseorang yang merebut kekasihnya ‘lagi’.
“Kak
Via!” seru seseorang dari belakang,
Via
kenal suara itu, seketika hatinya kecut, aliran darahnya mulai naik memanasi
otaknya yang tadinya tentram menjadi kacau, hatinya juga gelisah. Itu suara
Chelsea.
“Ngapain
kamu kesini! Pergi sana, jangan ganggu kakak!” usir Via, bahkan ia dorong
pundak Chelsea supaya menjauh dari tempat itu.
“Dia
siapa Vi?” tanya Gabriel
“Hai
kak, aku adeknya Kak Via, namaku Ananda Chelsea, panggil Chelsea aja kak” kata
Chelsea lalu berjabat tangan dengan Gabriel. Via segera melepas tangan Chelsea
dan Gabriel, ia trauma jika Chelsea mengetahui lelaki yang sedang dengannya, ia
takut Chelsea menikungnya.
“Adik
Via, kok kamu usir gitu sih yank, gak papa lah. Nama kalian sama loh, Ananda
Chelsea dan Sivia Ananda, lucu” kata Gabriel lalu mengajak Chelsea duduk di
bangku yang ia tempati bersama Via.
“Tapi
dia ini…” kata Via kikuk, gak mungkin dia bilang kalau Chelsea ini adalah
tukang tikung pacar-pacarnya.
“Kamu
kelas berapa chels?”
“Kelas
X kak, kakak ganteng deh, kok mau sama Kak Via yang biasa biasa aja, cantikan
aku kan kak?” kata Chelsea, tak perduli Via ada di sampingnya, karena ia tahu
Via gak bakalan memarahinya di depan orang yang ia sayangi. Pastinya Via lagi
jaga Image.
“Iya
cantikan kamu kok Chels” kata Gabriel, itu cukup membuat telinga Via panas,
bisa-bisa telinganya mengeluarkan Asap! Sayang Via manusia bukan cerobong
kereta. hehee
Via
hanya diam terpaku, dalam hatinya ingin sekali ia memarahi Chelsea dan melempar
gadis kecil ini ke Pluto biar hidupnya aman dan damai. Ia melihat jam tangan,
jarum kecil itu menunjuk angka 5.
“Waktunya
pulang, kalian akrab banget sih. Sayang jangan sampek ngecewain aku yah!” kata
Via, lalu mengajak Chelsea pulang.
Sesampainya
di rumah, rasa-rasanya Chelsea sudah tau bahwa dia akan dimarahi habis-habisan
oleh kakaknya. Chelsea buru-buru hendak masuk ke kamarnya namun Via terlebih
dahulu menarik lengan Chelsea dengan kasar.
“Apa
lagi sih kak!” ucap Chelsea sembari melepas cekatan tangan Via dari lengannya
yang kurus itu.
“Chelsea!
Kakak gak mau kamu deketin Gabriel! Aku gak mau denger kamu jalan bareng
Gabriel, telpon atau SMS sama pacar aku! Kamu harus berhenti ngambil semua yang
kakak miliki! Kamu gak kasihan liat kakak sakit hati karena pacar-pacar kakak
kamu rebut? Mikir dong Chels! Kalo sampek kakak denger kamu deket sama pacar
kakak, kakak pergi dari rumah!” semprot Via, kali ini berbau ancaman untuk
Chelsea,
“Kakak,
cinta datang gak bisa di cegah loh kak” ujar
Chelsea, ia memandang kakaknya yang frustasi
“cuih!
Simpan omong kosong mu itu Chels, sekarang kakak tanya, dari mana kamu dapat
barang-barang mewah itu? Kartu ATM kamu kan ada di Mbak Ijah! Jawab Chelsea !”
“Dari
mantan-mantan aku lah kak!” jawab Chelsea santai
“Bagaimana
bisa mereka memberikan barang-barang mewah itu tampa ada embel-embel ingin
balas budi dari kamu? Kamu udah ngasih apa ke mereka?”
“Kakak!
Mereka itu sayang sama aku, makanya mereka mau ngebeliin apa aja yang aku mau,
emangnya kakak? Gak pernah sayang sama aku!”
“Chelsea!
Kakak gak suka kamu jadi cewek matre gini! Liat kartu ATM kamu! Di sana mama
papa ngirim duit 10juta perbulaan! Kamu bisa beli apa yang kamu mau, gak perlu
morotin orang lain!”
“Kakak
tau apa tentang aku, udah lah kak, ini hidup aku, kakak gak perlu capek
ngurusin aku, mereka ngasih dengan iklas kak! Aku gak pernah jual diri aku ke
mereka!”
“Chelsea!”
Via
pergi dan masuk kamarnya, ia sudah lelah dengan keadaan seperti ini, jauh di
dalam hatinya ia sangat ingin bertingkah laku manis layaknya adik-kakak yang
saling menyayangi satu sama lain. Tapi Via tidak bisa! Sikap Chelsea yang
seperti itu akan terus membuatnya marah, kecewa dan sakit hati.
***
Via
terus uring-uringan memikirkan hubungannya dengan Chelsea yang tak kunjung
membaik, baginya Chelsea selalu mengibarkan bendera perang yang sangat sayang
untuk ia lewatkan, Via pikir dengan memarahi Chelsea, ia bisa menyadarkan
Chelsea dan mengembaalikan Chelsea yang dulu ia kenal.
Via
sengaja tidak keluar rumah satu minggu hanya untuk memantau adiknya itu secara
langsung, ia minta bantuan sahabatnya untuk mencarikan buku refrensi untuk
skripsinya. Ia benar-benar ingin tahu seperti apa keseharian Chelsea.
Hari
Senin.
Via
bangun pagi-pagi lalu stay di teras rumah menunggu Chelsea berangkat
sekolah, sambil membaca buku-buku yang tebal itu Via menunggu Chelsea keluar.
Chelsea
keluar dengan seragam putih abu-abu, dan tas selempang yang selalu ia pakai
kemana-mana, tak peduli momennya pas atau tidak. Via memandang Chelsea
sebentar, ia rasa dandanan Chelsea tak sesuai dengan umurnya.
“Chelsea,
mau sekolah apa mau arisan sih? Rambut kamu jangan di buat kayak gitu, udah
kayak anak kuliahan tau gak” tegur Via, ia tak suka melihat Chelsea
berpenampilan seperti itu.
“Peduli
apa kak?” kata Chelsea lalu pergi, mendekati gerbang rumah.
Via
terus menapat Chelsea, ia tak mau melewatkan sesuatu. Chelsea tampak berdiri di
depan gerbang, kenapa dia gak bawa mobil aja sih? Toh tinggal bawa aja. Tak
berapa lama sebuah mobil Toyota Yaris datang dan berhenti di depan gerbang.
Sang pemilik mobil keluar, seorang lelaki berdasi dengan jas hitam menutupi hem
putih yang ia pakai, lelaki itu berkacamata tebal. Wajahnya kira-kira lebih tua
10 tahun dari Chelsea.
Lelaki
itu mengelus rambut Chelsea lalu membukakan pintu untuk Chelsea. Dalam hati Via
berkata Chelsea dan cowok itu udah kayak Om dan Ponakan. Via hanya bisa
geleng-geleg kepala. Ia juga bingung, apa tujuan Chelsea melakukan semua ini.
Hari
Selasa, Via tak blak-blakan mengawasi Chelsea, ia bersembunyi di belakang
semak-semak yang tumbuh di dekat pintu gerbang rumahnya. Ia rasa tempat
persembunyiannya ini cukup aman. Jam setengah 7 lewat 5 menit, muncul sebuah
mobil Jeep berwarna hitam terparkir di depan rumahnya, ia amati mobil itu.
“Beda
lagi? Ya Tuhan Chelsea! Dia kenapa sih?” batin Via, ia lihat Chelsea tampak
senang dijemput dengan mobil itu, lelaki yang menjemputnya pun berbeda.
Hari
Rabu Kamis dan Jumat Chelsea dijemput oleh lelaki dewasa yang berbeda-beda
setiap harinya. Via sudah tidak tahan membiarkan Chelsea terus-terusan bersikan
seperti playgirl, ia tak rela adiknya yang manis itu terjerumus dalam pergaulan
yang salah.
Para
lelaki yang dibawa Chelsea, Nampak mapan dan kaya. Dari pakaian mereka, pasti
mereka bekerja di kantoran. Terbukti saat pulang sekolah Chelsea selalu membawa
barang pemberian pacar-pacarnya itu. Mobil yang dibawa juga bukan mobil
sembarang, walaupun ada beberapa yang menggunakan mobil kantor. Ckckc gak modal
juga ya, mobil kantor digunakan buat nganter ceweknya. Kalo ketahuan aparat
udah pasti si pengguna ditegur keras tuh.
Hari
Sabtu, hari terakhir masuk sekolah, Via kembali mengintip dengan siapa Chelsea berangkat
di hari Sabtu. Dengan mata yang belum terbuka sepenuhnya ia berjalan pelan ke
tempat biasa ia mengawasi Chelsea. Ia lihat Chelsea sudah berada di depan pintu
gerbang bersama seorang lelaki. Ia rasa sangat familiar dengan wajah lelaki
itu, Via segera mengerjap-ngerjapkan matanya. Ya, dia kenal lelaki itu.
Gabriel!
Via
langsung berlari mendekati gerbang, dengan segenap rasa kesal di hatinya, ia
seret Chelsea memasuki rumah, lelaki itu mencegah Via, karena heran dengan apa
yang dilakukan Via. Begitu kasar pada adiknya.
Plak!
Sebuah
tamparan dari tangan Via mendarat di pipi mulus Chelsea, ia sudah tidak bisa
menahan dirinya untuk bersikap baik pada adiknya itu. Ia sudah berkali-kali
mengatakan bahwa ia sangat mencintai Gabriel. Setidaknya adiknya mau sedikit
mengalah dan tidak mendekati Gabriel.
Chelsea
ternganga, ia tak menyangka akan diperlakukan seperti ini oleh kakaknya. Satu
tetes air matanya mengalir membasahi pipi yang perih akibat tamparan kakaknya.
Ia pegangi pipi yang warnanya berubah kemerahan.
“Sakit?
Hati kakak lebih sakit liat kelakuan kamu,”
“Kamu?
Aku gak tau harus bicara kayak apa lagi sama kamu Chels! Kakak benci kamu!”
kata Via, emosinya sudah membuncah dan ini yang paling puncak.
Selama
ini ia bisa menerima bahwa pacarnya ditikung oleh adiknya sendiri, dengan
membenarkan kalimat Chelsea yang selalu mengatakan bahwa Cinta itu datang tampa
kita tahu pada siapa Cinta itu akan berlabuh. Tapi kali ini ia tak terima
dijadikan bulan-bulanan oleh adiknya. Via saja mau melihat Chelsea bahagia
dengan pilihannya, mengapa Chelsea seakan tak mau melihatnya bahagia?
“Via,
sayang, ini ada apa sebenernya?” tanya
Gabriel yang sedari tadi diam seribu bahasa memperhatikan kelakuan kakak
beradik itu.
“Aku
gak nyangka kamu bisa semudah itu termakan rayuan Chelsea! Gue benci elo
Gabriel!” tandas Via, air matanya mengalir begitu cepat.
“Mulai
sekarang aku pergi dari rumah!” ucap Via, lalu berlari meninggalkan tempat yang
membuatnya sesak nafas itu.
Chelsea
terdiam, hal yang sangat ia takutkan benar-benar terjadi, ancaman kakaknya
minggu lalu benar-benar di lakukan. Kini Chelsea hanya bisa terisak melihat
kepergian kakaknya. Ia tau kakaknya itu keras kepala, jika sudah berkata A
pasti yang terjadi akan A tidak bisa ditawar-tawar lagi. Gabriel mengejar Via.
***
Chelsea
tidak masuk sekolah, ia belum bisa menerima kenyataan bahwa kakaknya pergi dari
rumah gara-gara kelakuan dia. Ia menyesal minta jemput Gabriel waktu itu.
“Kak
Gabriel bisa jemput aku besok gak? Mobil aku lagi mogok kak, please ya kak,
kalo kakak jemput aku kan bisa sekalian ketemu Kak Via”
Itu
pesan yang dikirim Chelsea pada Gabriel pacarnya Via. Tak butuh waktu lama SMS
Chelsea mendapat balasan, HP-nya bergetar menerima pesan masuk.
“OK
adik cantik, tau aja kakak udah kangen sama kakak kamu”
Chelsea
teringat percakapannya dengan Gabriel lewat SMS. Seharian ini ia merenung,
batinya tersiksa dengan apa yang dialaminya. Ia tak bisa melewatinya sendiri,
Chelsea butuh seseorang yang bisa menguatkannya, yang bisa memotivasi supaya ia
bisa kembali menjalani hari-harinya dengan senyum.
“Ma,
Chelsea kangen mama” lirih Chelsea, untuk saat ini ia lupa caranya tersenyum.
Sore
hari kedua sahabat Chelsea datang menemuinya, mereka langsung ke rumah Chelsea
setelah pulang sekolah. Mereka khawatir Chelsea tidak masuk sekolah tampa
keterangan yang jelas. Sahabat yang baik.
Cindai
dan Bagas langsung masuk ke kamar Chelsea, mereka sudah menganggap rumah
Chelsea ya seperti rumahnya sendiri, mereka tak canggung untuk langsung masuk
ke kamar Chelsea, atau mengambil makanan ringan di kulkas atau langsung ke
dapur untuk makan.
“Chelsea!”
seru Cindai setelah melihat keadaan Chelsea yang gak banget! Rambutnya
berantakan, ia masih memakai seragam sekolah, matanya sembab. Cindai langsung
berhambur ke arah Chelsea, ia peluk sahabatnya itu. Sedangkan Bagas masih
terpaku di depan pintu melihat keadaan Chelsea.
“Kak
Via pergi dari rumah” Lirih Chelsea, namun terdengar jelas oleh Cindai dan
Bagas karena rumah ini benar-benar sepi.
“Gimana
bisa?”
“Pasti
kamu ketahuan jalan bareng pacar Kak Via kan?” jawab Bagas, ia curiga itu yang
dilakukan Chelsea, sudah pasti, jika Kak Via marah, sebabnya pasti karena
Chelsea menikung pacarnya, pasti.
Chelsea
hanya diam.
“Berarti
kamu sukses dong Chels! Ini kan yang kamu inginkan?”
“Ngapain
kamu nangis? Harusnya kamu seneng dong? Kamu ketawa-tawa”
“Kali
ini aku gak berniat ngelakuin itu!” seru Chelsea di sela isak tangisnya.
“Terus,
kenapa Kak Via pergi dari rumah?”
“Kak
Via emosi liat aku dijemput Kak Gabriel, aku gak ada niat buat deketin
Gabriel!” Chelsea menjelaskan.
“Aku
gak percaya” sahut Bagas
“Kamu
harus percaya Gas, Ndai, aku Cuma pengen tau Gabriel lebih jauh, apa dia pantas
untuk Kak Via”
“Alasan”
Bagas masih keukeuh menganggap Chelsea lah yang salah.
Cindai
mengambil nafas dalam, ia bisa mempercayai kata-kata Chelsea, ada ketulusan di
wajahnya, sama waktu pertama mereka bertemu dan menjadi sahabat. Wajah tulus
Chelsea sangat jelas, meneduhkan hatinya.
“Udah,
aku percaya kok Chels, kalo aku saranin, kamu gak usah jalan berdua sama Kak
Gabriel lagi, kamu harus minta maaf sama Kak Via ya?” kata Cindai.
Bagas
memasang wajah datar. (maksudnya tampa ekspresi loh ya, bukan datar tampa mata
hidung pipi, hahah)
“Jangankan
minta maaf, liat muka aku aja Kak Via jijik!” Chelsea menundukkan kepalanya.
Penyesalan
selalu datang di akhir, maka berhati-hatilah bertidak, untung jika apa yang
disesali bisa diubah menjadi lebih baik minimal ke semula. Tapi rugi jika semua
sudah tidak bisa dirubah lagi, nasi menjadi bubur tidak bisa diubah lagi
menjadi beras.
***
Kesialan
untuk Chelsea tak cukup sampai ia harus kehilangan kakaknya, dan merana di
rumah megah itu sendirian. Nomor HP kakaknya pun ganti, mungkin supaya Chelsea
tak bisa menghubunginya lagi. Sebegitu bencinya dia pada adiknya itu.
Di
sebuah kafe yang cukup elegan, suasananya juga tenang walaupun banyak
pengunjung, mereka seperti tau etika untuk tidak ramai di tempat makan. Kafe
kelas elit. Di meja dekat dengan jendela, dua orang tengah duduk santai
menunggu pesanannya. Mereka asik berbincang tentang pelajaran, sesekali gadis
yang duduk bersama seorang lelaki dewasa memekik kalimat kalimat aneh seperti
“blablabla” dan si lelaki itu mengajari gadis itu cara pengucapan yang benar.
Itu
Chelsea dan Pak Sam.
Mereka
asik berdiskusi sampai pesanan mereka datang, mereka masih berbincang sambil
makan. Hanya saja kali ini lebih banyak memasukan makanan ke mulut dari pada
mengeluarkan suara dari mulut.
“O
iya, kemarin kenapa kamu gak masuk sekolah tampa surat izin?” tanya Pak Sam
“Oh,
itu saya ada keperluan mendadak Pak, jadi gak sempet bikin surat” jawab
Chelsea.
Mereka
melanjutkan makan.
Sampai
ada seorang lelaki seumuran Pak Sam menyapa Chelsea, Chelsea kaget melihat
siapa yang datang menghampirinya. Lelaki yang menjemputnya di hari senin.
“Dia
siapa sayang?” tanya Lelaki itu, nada bicaranya sinis.
“Di..
Dia Guru aku” jawab Chelsea gugup
Ia
yakin Riko yang merupakan pacar Chelsea special hari senin itu percaya, karena
Riko adalah tipe lelaki yang mudah percaya, apalagi pada ucapan buaya Chelsea.
Orang yang ia sayangi. Terbukti dari respon Riko yang hanya mengangguk saja
mendengar pengakuan Chelsea.
Chelsea
bernafas lega.
Namun
ia kembali menahan nafas setelah tau siapa yang datang, Alvin! Pacarnya di hari
kamis. Ia menghampiri Chelsea. Alvin terlihat emosi, sepertinya ia sudah
melihat dan mendengar apa yang tadi terjadi.
Alvin
mengambil jus alpukat yang ada di meja Chelsea lalu mengguyur isi gelas itu ke
kepala Chelsea. Tak ada kalimat sapaan untuk Chelsea. Pengunjung kaget melihat
apa yang dilakukan Alvin, Riko dan Pak Sam melihat kejadian itu dengan takjub.
Dengan
spontan Riko memukul muka Alvin. Ia sangat geram. Hanya lelaki jadi-jadian yang
melakukan itu pada perempuan. Alvin membalas pukulan Riko tepat di pipinya.
“Hey
bro, ngapain lo belain gadis m*rahan ini? Gue pacar dia, lo pacar dia, dan lo
juga pacar dia?” kata Alvin sambil menunjuk ke arah Riko dan Pak Sam.
Riko
dan Pak Sam kaget.
“Chelsea!”
seru Riko, ia tak percaya ini.
“Heh
gadis sok polos, gue udah tau kedok lo yang sebenarnya, lo hanyalah cewek
m*rahan, gak tau diri! Selain kita bertiga yang ada di sini, masih banyak pacar
dia di luar sana, kalian tanya saja sama cewek gak bener ini!” tandas Alvin.
Chelsea
diam mematung, ia sudah tidak bisa lagi bermain lidah dan mengeluarkan
kalimat-kalimat manis. Posisinya tersudut, semua kesalahan tertimpa padanya.
“Kenapa
diam aja lo? Jawab! Siapa aja pacar-pacar lo ha?” kata Alvin lagi, entah
dorongan dari mana ia tampar pipi kekasihnya yang biasa ia elus itu. wajahnya
memerah akibat marah, ia tarik paksa lengan Chelsea hingga cewek itu kesakitan.
Pak
Sam berdiri melepas cekalan tangan Alvin dari lengan Chelsea, sebagai guru yang
mulai menyayangi siswa-nya ini, Pak Sam merasa iba pada Chelsea yang dihina,
dimaki dan dikasari oleh lelaki.
“Cukup,
Chelsea ini murid saya, kami sedang membahas materi yang sudah-sudah, karena
kalian datang dan membawa keributan membuat kami tidak konsentrasi lagi. Kalo
kalian tidak mau pergi dari tempat ini biar kami saja yang pergi!” kata Pak Sam
lalu mengajak Chelsea meninggalkan tempat ini. Chelsea tetap diam, tubuhnya
kaku, dingin, wajahnya pucat pasi seperti sedang mabuk darat.
“Woy
Pak, ajarin siswanya tentang moral, biar jadi cewek bener!”
Kacau,
bukan hanya suasana hati Chelsea, tapi juga Riko Alvin dan Pak Sam. Dalam
perjalanan pulang Chelsea hanya diam membisu, pandangannya lurus ke depan. Di
telinganya masih terngiang hinaan-hinaan Alvin yang kini menjadi mantan
terkejamnya. Perih di pipinya seakan merambat ke dalam batin membuatnya
merasakan perih yang teramat.
“Makasih
Pak Sam udah belain Chelsea” lirih Chelsea sebelum keluar dari mobil Toyota
Avanza milik Pak Sam.
“Chelsea,
mau bapak bawa ke rumah sakit? Atau bapak bantu obati?” sahut Pak Sam, ia
menyayangi Chelsea seperti ia menyayangi keempat ponakannya yang ada di
Perancis.
Chelsea
hanya menggeleng pelan lalu keluar dari mobil dan langsung memasuki pagar
rumahnya yang sudah terbuka saat Satpam penjaga rumahnya tau bahwa Chelsea yang
datang.
***
Kampus
yang megah, bangunan berlantai 10 itu kokoh menjulang tinggi mencakar langit.
Di sudut kampus yang di Tanami banyak bunga-bunga, seorang gadis tengah duduk
dan berkonsentrasi pada laptop yang ada di depannya, di kursi panjang yang
cukup untuk 5 orang itu hanya ditempati dia seorang diri bersama laptop dan
buku-buku tebal yang tergeletak di dekatnya.
Terdengar
riuh-riuh suara perempuan-perempuan sedang berbincang, Via melirik mereka
mendekat ke tempatnya lalu duduk di sampingnya. Masih dengan pembahasan yang
membuat kuping Via kesal mendengarnya.
Dasar
tukung gossip! caci Via dalam hati.
Ia
mencoba berkonsentrasi pada laptopnya. Namun tetap saja, suara cempreng dari
sampingnya memaksa telinganya untuk mendengar.
“Gue
kesel banget deh beb ama tuh cewek tengil, gara-gara dia cowok gue mutusin gue!
Gue kurang apa coba dibandingkan sama anak SMA yang masih bau bawang itu?
Cantik ia, seksi ia, kaya? Apalagi! “ kata perempuan yang berambut panjang, dan
tas berwana biru tua.
“Ha?
Kok bisa sih Beb? Gila ya tuh cewek, siapa sih namanya?” sahut perempuan yang
duduk di samping kanan perempuan tadi.
“Namanya
Ananda Chelsea, anak SMA Mega Bangsa”
“Ckk,
anak SMA udah berani nikung orang dewasa, gue yakin pasti tuh anak ganjen
banget dan kecentilan sama pacar lo beb” sahut perempuan yang ada di samping
kiri perempuan berambut panjang.
“Jangan-jangan
tuh anak emang kerjaannya kayak gitu, gue yakin dia udah gak Ori lagi!”
“Yaialah,
cewek gampangan kayak gitu sih mudah diajak!”
Panas,
panas, panas.
“CUKUP!
Kalian udah ganggu belajar gue! Ini tuh kampus bukan tempat buat gossip! Kalian
pergi dari sini atau gue timpuk pake sepatu?” kata Via, wajahnya memerah
menahan amarah yang meletup-letup di kepalanya.
Ia
copot sepatu highheels itu dari kakinya lalu di arahkan pada ke tiga perempuan
yang kini berdiri di sampingnya.
“Biasa
aja dong! Galak amat lo jadi cewek, awas gak laku!” ucap perempuan di sampingnya.
“Kurang
ajar lo ya!” semprot Via lalu memukul lengan perempuan yang ada di sampingnya
dengan sepatu, uhh kejam.. hahah
Tak
mau merasakan sentuhan sayang dari sepatu Via, ketiga perempuan itupun pergi
terbirit-birit.
“Chelsea,
adik aku,” lirih Via, seketika itu juga air matanya mengalir. Ia marah pada
perempuan-perempuan yang membicarakan yang tidak-tidak tentang adiknya itu.
Chelsea memang suka gonta-ganti pacar, tapi ia yakin adiknya itu masih punya
akal sehat yang berfungsi untuk menjaga dirinya dan kehormatannya.
***
Sudah
dua hari Chelsea tak mau makan, sekeras apapun pembantunya memaksa untuk makan
tetap tak dihiraukan olehnya. Ia benar-benar kehilangan semangat. Ia meringkuk
di kasur empuknya dengan memeluk guling yang selalu mau ia peluk kapan saja.
Bayang-bayang
wajah Alvin dan Via terasa nyata di depannya, mereka berdua menampilkan wajah
geram, kemarahan-kemarahan dari Alvin dan Via terputar jelas di telinganya.
“Mama
Chelsea udah gak kuat!” teriak Chelsea, ia
Kali
ini jiwanya dirundung nestapa yang teramat dalam dan kejam, jiwanya goyah.
Semua orang seperti memusuhinya, tak ada tempat mengadu, ia lupa akan tuhan,
tuhan yang selalu mau mendengar keluh kesah hambanya. Pikiran Chelsea tertutup
kabut.
Braakk!
Suara
pintu dibuka paksa hingga membuat pintu itu roboh. Seorang gadis memasuki kamar
yang berantakan. Selimut, bantal, guling, sprei juga tergeletak di lantai.
Ia
cukup kaget dengan keadaan kamar ini, yang lebih mengagetkan lagi, pemilik
kamar ini tengah tergeletak lemah di kasur.
“Chelsea,
bangun Chelsea. Katakan pada kakak kalo kamu gak senakal itu, kamu masih tau
dosa masih tau menjaga kehormatan! Ayo Chelsea bangun. Kakak butuh jawaban dari
mulut kamu langsung!” semprot Via sambil menepuk-nepuk pipi adiknya. Dan
berhasil, Chelsea membuka mata.
“Apa
peduli kakak?” lirih Chelsea,
“Chelsea!
Sekarang jawab kakak! Kenapa kamu gak pernah pake fasilitas yang mama kasih ke
kamu? Uang kamu di ATM masih utuh, gak ada kamu pake sepeserpun! Dari mana kamu
dapat uang buat jajan? Dari mana baju, sepatu dan tas mahal ini Chelsea? Jawab
kakak!!”
“Kakak
pengen tau? Yakin? Apa kakak percaya?”
“Katakan
pada kakak!”
“Aku
dapet semua barang itu memang dari pacar aku kak! Tapi aku gak pernah melakukan
apa-pun yang bisa merendahkan harga diri aku. Aku bilang sama mereka kalo aku
ini anak pembantu di rumah ini, aku gak punya duit, lantaran iba dan cinta sama
aku, mereka mau ngabulin semua permintaan aku,”
“Aku
sering rebut pacar kakak, karena aku tau pacar kakak itu orang kaya semua. Aku
sama sekali gak cinta sama mereka, aku hanya ingin mereka berbagi kekayaan buat
aku, pacar-pacar kakak yang aku rebut adalah orang yang aku pikir gak cocok
sama kakak! Aku gak pernah ada niatan buat ngerebut Kak Gabriel dari kakak!
Karena aku tahu kakak benar-benar suka sama Kak Gabriel, dan Kak Gabriel
sendiri serius sama kakak!”
“Lalu
apa tujuan kamu ngelakuin semua ini?”
“Aku
kangen mama papa kak, aku pengen nunjukin ke mama kalo aku udah gak butuh uang
lagi, aku udah bisa cari uang sendiri, aku sering kirim foto-foto baju, sepatu
dan tas mahal aku ke mama, buat ngeyakinin mama kalo aku udah gak butuh kiriman
dari mama, aku butuh mama ada di samping aku,”
“Aku
nikung kakak, karena aku pengen banget akrab sama kakak! Walaupun dengan cara
yang salah, cara baik-baik? Kakak gak pernah respon aku sekalipun. Saat kakak
marahin aku gara-gara aku rebut pacar kakak? Aku seneng banget kak, aku seneng
kakak mau bicara lagi sama aku”
“Saat
kakak pergi dari rumah, aku bener-bener gak tau lagi harus gimana, aku sakit
kak! Dan sekarang kakak minta penjelasan aku tentang gossip yang beredar? Kakak
gak pernah ngerti aku!”
“Chelsea…”
lirih Via, ia tak menyangka akan mendapat penjelasan seperti ini dari adiknya.
Orang yang akan ia salahkan malah membuat dirinya serba salah,
Ia
dekati Chelsea duduk di kasurnya, ia tatap mata Chelsea, pandangan keduanya
bertemu. Kedua pasang mata itu sama-sama mengalirkan airmata. Air mata haru,
kesedihan, kekecewaan semua keluar menjadi satu.
“Maafin
kakak, kakak sayang kamu, kita perbaiki semuanya, kakak janji akan selalu ada
buat kamu” lirih Via lalu menghapus air mata adiknya.
Chelsea
benar, ia terlalu sibuk dengan urusannya sendiri hingga lupa bahwa dia
memeiliki seorang adik cantik yang kesepian, untuk mengalihkan perhatiannya,
adiknya itu melakukan hal-hal yang membuatnya benci pada Chelsea. Namun itu
cukup ampuh untuk mengalihkan perhatian Via pada adiknya itu.
Orang-orang
yang menyaksikan ini merasa terharu, melihat kakak-adik yang saling sadar
dengan tugas dan kewajibannya masing-masing, yaitu saling menjaga dan saling
mendukung. Di kamar ini ada Mbak
Chelsea
memandang kakaknya sendu, ia rasa tak tahan lagi, ia ambruk dalam pelukan
kakaknya.
“Chelsea,
Chelsea kenapa? Mbak Ijah, Pak Elmo Chelsea kenapa?” kata Via panic, wajahnya
berubah khawatir.
“Mungkin
neng Chelsea kelaparan neng, sudah dua hari dia mengunci kamar, untung neng Via
datang sekarang” ucap Mbak Ijah, pembantu rumah tangga.
“Terus
ini gimana?”
“Saya
ambil makanan dulu ya neng” kata Mbak Ijah lalu beringsut pergi ke dapur.
“Loh
kok, kita bawa Chelsea ke rumah sakit sekarang Pak Elmo” titah Via
Namun
sebuah tangan merengkuh tangannya, Chelsea kembali membuka mata.
“Aku
gak papa kak, aku Cuma kelaparan, aku gak kuat lagi bicara” lirih Chelsea
“Mbak
Ijah cepetan makanannya! Keburu Chelsea pingsan lagi” teriak Via, Chelsea
tersenyum mendengar Via berteriak, selalu saja Via melakukan itu saat keadaan
mendesak atau ada yang mengganggu ketenangannya.
Mbak
Ijah datang membawa semangkuk bubur yang sudah ia siapkan untuk Chelsea dari
tadi pagi, siapa tau neng Chelsea-nya itu mau makan. Tak sia-sia ia memasak
untuk Chelsea.
Via
menyuapi adiknya, ia heran, rasa sayang yang selama ini tertutup kesibukan
mulai muncul ke permukan hatinya, ia senang sekali bisa sedekat ini dengan adik
semata wayangnya itu. Ada setetes air mata rindu yang keluar dari hati lewat
matanya.
“Kakak
janji bakalan ada untuk Chelsea?”
“Janji,
tapi ada syaratnya”
“Apa
kak?”
“Kamu
gak boleh pacar-pacaran lagi, kakak gak suka ngeliat kamu gonta-ganti pacar dan
morotin anak orang! Kakak mau, kamu jadi Chelsea yang manis kayak dulu”
“Bilang
aja takut di rebut Chelsea, Chelsea kan lebih cantik dari kakak” tandas
Chelsea.
“Bisa
aja kamu, gak level ah saingan sama saudara sendiri”
Keduanya
larut dalam bahagia. Mereka sadar iinilah yang mereka cari selama ini,
kehangatan keluarga yang tak pernah mereka dapat setelah bisnis mama dan papa
mereka maju pesat. Tak ada lagi pertengkaran, yang ada hanya kebersamaan yang
kental.
TAMAT
Butuh
kritik dan saran ;) penulis masih miskin akan ilmu sastra, terimakasih yang
bagi yang sudah membaca ;) SORRY ngaret sehari ,XD baru isi Quota Internet nih
*curcol XD jangan apa-apain gue yak :”V
perlu di garis bawahi, cerita ini hanya FIKTIF BELAKA.
follow
penulis di
twitter,
Line, Instagram : @YuyunShovia
Facebook:
Yuvinaz & Yuyun Shoviana
Blog
: mutiariyuyun.blogspot.com
Wattpad
: YuyunShovianaIR
HEHE
:V
Terima kasih infonya gan, mantabbbsss.
BalasHapusDitunggu postingan2 lainnya.
Gema Parfum :
Parfum Terbaik Wanita.
-------------
Bagus. Cerpen.nya..
BalasHapusLain kali buat dong yang Chelsea sama Bagas.nya. hhehe