-MY SISTER MY RIVAL- CERPEN IDOLA CILIK- CHELSEA SIVIA GABRIEL BAGAS CINDAI

MY SISTER MY RIVAL




            Prang… Prang… Prang…
Sebuah handphone jatuh dan pecah di lantai, benda segi empat itu seketika mati saat membentur lantai mulus tak berdebu. Pemilik kamar rupanya rajin membersihkan lantai, kamarnya juga bagus dan wangi parfum aroma bunga mawar menusuk hidung. Sang pemilik Handphone kaget bukan kepalang setelah apa yang dilakukan oleh seorang gadis yang tiba-tiba masuk ke kamarnya lalu membanting handphonenya ke lantai.
“Chelsea, ini udah kesekian kali kamu nikung pacar kakak! Mau kamu apasih Chelsea ? kamu itu keterlaluan! Bisa-bisanya kamu ngerebut pacar kakak? Kamu sebenernya ada masalah apa sama kakak? Kamu gak bisa ha cari pacar sendiri? Kakak udah capek sama yang namanya patah hati gara-gara kamu nikung pacar kakak! Kamu gak malu? Urat manusiawi kamu udah putus Chelsea ?” semprot Via berapi-api, emosinya seketika naik setelah pertemuannya dengan Septian, seseorang yang berstatus menjadi pacarnya selama 2 bulan itu meminta putus, dengan alasan ia sudah tak sayang lagi pada Via, ia mulai sayang pada adik perempuan Via, Chelsea.
“Kakak! Itu HP baru aku, pemberian dari Kak Septian kenapa kakak rusakin!” rajuk Chelsea, ia baru menggunakan HP itu selama dua hari, kini sudah menjadi kepingan-kepinngan tak berharga. Ia pungut potongan-potongan HP-nya.
Via semakin kalap, apa katanya? Pemberian Septian! Bahkan selama pacaran dengannya Septian tak memberikan hadiah apapun. Apalagi handphone keluaran terbaru. Harga diri Via semakin terinjak-injak oleh adiknya ini.
“Kamu gak punya perasaan! Gimana bisa kamu pacaran sama Septian?” Via menatap Chelsea tajam. Masih dengan nada berteriak saking emosinya, padahal Chelsea tetap bisa mendengar walaupun dia tidak berteriak.
Chelsea seperti menerawang masa lalu, ia katakan semuanya pada Via.
Suatu hari Chelsea menyelinap masuk ke kamar Via, saat itu Via tengah mandi. Handphone dibiarkan saja bertengger di kasurnya, (masa iya mau dibawa ke kamar mandi?). dengan gerak cepat Chelsea mengutak atik HP kakaknya, setelah memencet-mencet sesuatu ke HP-nya barulah dia meninggalkan kamar Via, tentu saja dengan berjalan pelan seperti maling jemuran.
Chelsea mengambil nomor Septian, pacar Via. Ia mulai meng-SMS Septian. Chelsea termasuk orang yang cepat akrab, tak heran jika saat itu Septian langsung mengajak Chelsea jalan.
Hubungan mereka semakin dekat, yang awalnya hanya kakak-adek-an mulai naik tingkat menjadi sayang-sayangan.
“Chels, kayaknya aku lebih nyaman jalan sama kamu dari pada kakak kamu, kamu beda, Via terlalu serius sedangkan kamu orangnya asik banget, aku suka cewek yang seperti kamu” tukas Septian.
“Aku juga kak, aku mulai suka sama kakak setelah bertemu kakak di rumah”
“Kamu juga suka sama aku?” tanya Septian dengan mata berbinar, karena ia tahu rasa sukanya tak bertepuk sebelah tangan.
Chelsea hanya tersenyum.
“Kalo gitu kita jadian? Tapi… gimana dengan Via?”
“Kak, Cinta itu pilihan. Dan yang memilih tuh hati bukan aku sendiri, jadi ini semua bukan kemauan kita, kita dekat karena hati kita saling terkait” ucap Chelsea seolah dia paham betul yang namanya Cinta.
“Apa? Brengsek! Adik dan pacar gak tau malu!” teriak Via frustasi.
“Ya, kan seperti yang aku bilang sama Septian, kalo cinta itu gerakan dari hati kak, kita gak tau pada siapa cinta kita tertuju” kata Chelsea santai, seolah tak ada dosa yang ia buat.
“Cinta? Tau apa kamu tentang cinta? Kamu masih 15tahun Chelsea! Aku benci kamu” teriak Via, lalu pergi dari kamar Chelsea.
Chelsea hanya menatap nanar ke arah HP-nya yang di lempar kasar ke lantai oleh kakaknya. Ia menyesal mengapa harus HP itu yang dipecahkan oleh kakaknya? Ini kan HP baru!
Chelsea sudah tidak memperdulikan rasa sakit hati akibat hinaan dari kakaknya, ia meresa senang dengan begitu kakaknya mau menemuinya. Chelsea adalah anak bungsu dari 2 bersaudara. Ia tumbuh menjadi anak yang periang dan senang bergaul dengan siapa saja yang menurutnya bisa mengutungkan.
Via, adalah putri sulung dari pasangan suami istri Dini dan Rafka. Via tumbuh menjadi gadis yang senang menyendiri, ia mudah tersinggung dan tidak suka digangu dalam hal sekecil apapun. Bahkan candaan teman-temannya ia anggap serius.
Chelsea dan Via dibesarkan oleh seorang Baby Sitter yang dipekerjakan oleh kedua orang tuanya untuk mengasuh mereka. Karena kedua orang tuanya terlalu sibuk dengan berbagai macam bisnis yang mereka kelola. Bahkan bisnis mereka sudah menembus dunia internasional. Ayahnya seorang bisnismen yang menekuni tambak udang. Udang-udang yang dihasilkan oleh tambaknya bisa mencapai ton-an, ia juga mengolah sendiri udang-udang itu menjadi beberapa aneka masakan, seperti di kemas menjadi sarden, diolah di restaurant milik istrinya yang juga menekuni bidang kuliner terkhusus masakan jepang. Selain itu ia juga banyak me-ekspor ke Negara-negara tetangga seperti Malaysia, Singapura dan Brunei Darussalam.
Kesibukan itu lah yang membuat kedua orang tuanya tidak mampu mengasuh anaknya sendiri, namun mereka tetap yakin anaknya akan tumbuh menjadi anak yang baik sewajarnya anak-anak lain. Karena mereka telah memilih baby sitter yang sangat kompeten.
Di dalam kamar yang sama luasnya dengan kamar Chelsea, Via menangis tersedu-sedu, ia buka fitur galeri di HP-nya lalu menghapus beberapa foto yang menggambarkan dirinnya dengan lelaki yang 2 bulan ini menjadi kekasihnya.
“Dasar cowok brengsek! Adik gak tau malu, kenapa kalian ada di hidup gue! Gue benci kalian!” keluh Via. Ia pukuli boneka panda besar yang selalu menjadi teman tidurnya.
***
Tap tap tap
Suara langkah kaki siswa-siswa SMA Mega Bangsa yang mulai berdatangan, halaman sekolah yang di paving itu cukup membuat kaki yang menginjaknya menghasilkan bunyi yang berbeda-beda sesuai dengan langkah kaki mereka.
“Chels, ngapain di pintu gerbang? Kayak satpam aja” sapa gadis berponi pagar, wajahnya sangat imut dengan nuansa biru yang menempel di badannya, bando berwarna biru, gelang berwarna biru, anting-anting sampai cincin juga berwarna biru, membuatnya terlihat lebih fresh.
“Kok satpam sih Ndai, harusnya kamu bilang dia kayak Munaroh yang nunggu Bang Ocid datang” tukas seorang lelaki yang datang bersama Cindai sahabat Chelsea.
“Makin gila kalian!” sungut Chelsea,
“Eh, guru yang udah dateng siapa aja ya?” tanyanya kemudian.
“Kok nanya kita sih Chels, kita kan baru nyampek, malah kamu yang berdiri di sini sebelum kita datang”
“Masuk yuk Chels”
“Iya, kalian duluan aja deh, ntar aku nyusul”
Cindai dan Bagas langsung pergi meninggalkan Chelsea yang katanya masih pengen stay di depan gerbang. Rajin banget si Chelsea! Mau ngabsen murid lain kali ya hi..hi.hii
Cindai dan Bagas tak langsung masuk kelas, mereka masih bercanda dengan teman lain di bangku yang tersedia di depan masing-masing kelas. Bagas menepuk pundak Cindai karena tak juga menoleh saat dipanggil.
“Ndai, lihat deh, Chelsea kayaknya akrab banget sama Pak Sam ya?” ucap Bagas yang melihat Chelsea dan Pak Sam berjalan pelan menuju ruang guru. dari kelasnya ini dapat melihat ruang guru, lapangan upacara dan pintu gerbang sekolah. Kelas untuk siswa kelas X memang di tempatkan dekat ruang guru.
“Lagi belajar bahasa prancis kali” sergah Cindai
“Ahh, kalo aku perhatiin Chelsea mulai aneh saat SMA, beda dengan Chelsea waktu SMP”
Bagas Chelsea dan Cindai memang berasal dari SMP yang sama, mereka pun mulai bersahabat sejak kelas 7 karena mereka ada dalam satu kelas.
“Kayaknya ngerti banget tentang Chelsea” kata Cindai datar.
Bagas hanya melihat Cindai dengan wajah datar.
Pelajaran pertama di kelas X IPA 1 adalah Bahasa Perancis. Setelah bell tanda masuk berbunyi, setiap siswa berbondong-bondong masuk ke kelas masing-masinng.
“Ndai, Chelsea kok gak dateng-dateng sih? Kalo dia telat di pelajaran Pak Sam, bisa abis dia” kata Bagas, ia sudah bolak-balik berjalan dari mejanya ke pintu kelas untuk melihat Chelsea, sudah datang apa belum.
Bagas mencoba menelphone Chelsea, namun tidak ada jawaban, ia kirim SMS berkali-kali juga tak ada balasan, Bagas dibuat pusing oleh Chelsea seorang.
“Yaudah sih Gas, kita kan tau kalo Chelsea udah nyampek sekolah, malah dia keliatan akrab sama Pak Sam!” kata Cindai, ia terlihat kesal dengan sikap Bagas yang terlalu berlebihan pada Chelsea.
Chelsea datang bersama dengan Pak Sam, semua mata tertuju pada Chelsea, dalam pikiran teman-temannya, bisa-bisanya Chelsea masuk kelas bersamaan dengan Pak Sam, yang notabanenya adalah guru yang sangat disiplin! Guru bule Prancis ini menerapkan system yang hampir sama dengan yang ia terapkan di sekolah Prancis dulu, dia ingin sekali siswa di sini sama kualitasnya dengan siswa Prancis.
Ada apa dengan Chelsea dan Pak Sam? Itulah yang terlintas di masing-masing otak siswa di kelas ini. Dengan santai Chelsea duduk di bangkunya, samping Cindai. Cindai menyenggol kaki Chelsea dengan kakinya sembari berbisik saat Chelsea mencondongkan kepalanya ke Cindai.
“Kok bisa kamu akrab sama Pak Sam?” bisik Cindai pada Chelsea
“Nanti aja deh aku ceritanya ya”
***
Sepulang sekolah, Chelsea dijemput oleh seorang lelaki tinggi memakai mobil sedan berwarna silver, sebelum masuk ke dalam mobil, lelaki itu mengelus-elus kepala Chelsea dengan sayang. Cindai dan Bagas melihat itu dari dalam sekolah yang lurus dengan pintu gerbang.
“Dia siapanya Chelsea?” tanya Bagas
“Pacarnya kali” jawab Cindai
“Yang bener aja Ndai, kayaknya Om-nya deh”
“Terselah kamu aja deh Gas, menerut feeling aku, dia pacar Chelsea! Masa kamu lupa? Sejak SMA dia kan sering pacaran dengan Om-Om atau gak ya yang udah kuliahan gitu, dia gak suka cowok yang seumuran Gas!” lanjut Cindai, ini membuat Bagas tercenung, ia ingat-ingat kejadian yang sudah-sudah. Memang benar Chelsea selalu dijemput atau diantar oleh lelaki yang lebih tua darinya.
***
Gedung yang megah, Chelsea tengah berada di antara berbagai model-model pakaian, ia sangat semangat melihat satu per satu baju yang menjadi calon miliknya. Ia mengajak Septian ke sebuah Mall besar di kotanya.
“Sayang, kayaknya aku lagi gak mood sama baju-baju ini, kita jalan lagi yuk cari di tempat yang lebih keren” ajak Chelsea, ia menggaet lengan Septian lalu berjalan menyusuri lapak demi lapak yang tersedia di sana.
Chelsea berhenti di salah satu toko yang berisi aneka jam tangan, mulai dari yang murah sampai yang mahal! Mata Chelsea terarah pada sebuah jam tangan yang terpajang di paling atas etalese. Ia menarik-narik lengan Septian, tangan kirinya menunjuk pada Jam tangan itu.
“Itu? Itu jam tangan mahal sayang, aku gak bisa beliin itu buat kamu, yang bisa beli jam tangan itu ya artis se keren Syahrini, penyanyi favorite kamu” kata Septian, ia tidak perlu melihat harganya, dengan melihat model dan bahan dari jam tangan itu ia sudah memperkirakan jam tangan itu memiliki harga fantastis, sekitar puluhan juta lah.
“Kamu kan orang kaya sayang, kamu tinggal cairkan uang kamu kan?”
“Iya sayang, tapi habis dong uang jajan aku? Terus siapa yang bakal bayar kalo kita makan di tempat yang mahal?”
“Ahh! Yaudah kalo kamu gak mau beliin aku jam tangan itu, mulai sekarang kita putus!” ucap Chelsea lalu pergi begitu saja meninggalkan Septian.
Beberapa orang yang melihat kejadian itu menertawakan Septian yang diputusi pacarnya karena tak mampu membelikan barang yang diinginkan ceweknya. Septian sempat terpaku di tempatnya.
Putus? Semudah ini Chelsea memutuskan hubungan dengannya? Septian mengejar Chelsea.
“Kamu bilang kita putus? Ok! Gue juga udah males sama cewek matre kayak elo! Lo gak benerr-bener cinta sama gue! Lo Cuma manfaatin gue sebagai orang yang bayarin belanjaan lo! Dasar cewek matre!” kata Septian berapi-api, jika saja ia bisa mengeluarkan tanduk merah? Sudah dari tadi tanduk itu keluar, sayangnya Septian manusia bukan iblis yang terbuat dari api.
“Cuma cowok kere yang bilang ceweknya matre!” tandas Chelsea , lalu berlari supaya Septian tak bisa mengejarnya lagi.
Septian frustasi, ia jambak rambutnya sendiri, ia menyesal termakan wajah polos Chelsea yang munurutnya sangat cantik se cantik gadis-gadis korea dalam film yang suka ia tonton. (Haha cowok kok demen drama korea?)
Bukan hanya Septian yang menyesal telah menjalin hubungan dengan Chelsea, Chelsea juga menyesal merebut Septian dari kakaknya, karena ia rasa Septian gak kaya-kaya amat, membelikan jam tangan saja gak mampu apalagi minta yang lain? Chelsea bertekat mencari yang lebih kaya dari Septian.
***
Di dalam kamar yang selalu menjadi tempat favoritenya, Chelsea asik memotret baju-baju sepatu mewah yang diberikan Septian selama mereka menjalin hubungan. Setelah memotret ia kirim hasil potretannya itu pada akun Line @MamaSayang dengan caption “Ma, ini baju aku tampa mengambil uang mama, mama cepet pulang ya Ma, aku udah gak butuh uang.  I love you”
***
Via tengah asik menyeleksi buku-buku yang berjejer rapi di rak-rak buku yang ada di gedung megah ini. Ia asik membaca judul dan daftar isi yang ada di dalam buku yang plastiknya sudah dibuka. Via berada di toko buku Aisyah dekat dengan kampusnya. Ia sedang bingung mencari refrensi untuk Skripsinya nanti. Judul yang ia ajukan cukup sulit mencari buku refrensinya.
“Via, kan?” sapa sebuah suara yang berasal dari belakang Via. Ia menoleh ke asal suara, dilihatnya seorang lelaki bertubuh padat dan lebih tinggi darinya, kulitnya hitam manis ia memakai baju resmi khas ‘seragam’ kantoran dengan dasi menggantung di lehernya. Via mengenali lelaki itu.
“Kak Gabriel, “ ucap Via tiba-tiba speechless bertemu dengan seorang yang pernah mengajarnya saat ia mengikuti ekskul karate, saat ia kelas X, lelaki di depannya itu sudah kuliah semester 2, jika sekarang dirinya sudah kuliah semester 8 berarti Kak Gabriel ini sudah bekerja, atau melanjutkan S2-nya.
Surprise ya ketemu di sini, Lagi nyari apa Vi?”
“Refrensi buat skripsi kak” jawab Via seadanya, ia rasa gugup berbicara dengan kakak pelatihnya semasa SMA itu.
“Udah mau lulus aja Vi, sekarang udah cantik ya, dulu masih tomboy gak pandai dandan”
Via terhenyak dengan ucapan Gabriel, sebegitu perhatiannya kah dia pada Via, sampai tau betul perubahan pada Via. Via makin tersipu-sipu, pipi tembemnya nyaris menjadi tomat Bangkok saking malunya. Hahah
“Kak Gabriel bisa aja”
Mereka berbincang seperti teman lama yang dipertemukan dalam suasana sacral seperti ‘reuni sekolah’ acara formal yang diisi dengan kegiatan yang sama sekali tidak formal seperti nge-flashback masa sekolah, tebar pesona sana-sini, bahkan melanjutkan gossip yang sempat tertunda karena kelulusan mereka. Entah apa saja yang diperbincangkan oleh kedua ‘pelatih dan murid’ itu.
***
Selalu begini, sepi seakan setia menemani malam-malam gadis remaja ini. Ia sedang duduk memeluk lututnya di balkon rumahnya. Ia biarkan angin malam menyentuh kulit yang menyebabkan ia kedinginan, wajahnya sayu menatap sebuah figura berisikan foto 4 orang, ada dirinya, Via dan kedua orang tuanya. Sudah 4 tahun kedua orang tuanya tak pulang, mereka hanya memberi kabar lewat Video Call, itupun satu tahun sekali, waktu Lebaran saja.
“Mama, Elsi kangen mama! Kapan mama dan papa pulang? Elsea kesepian ma, pa. Kak Via udah gak peduli lagi pada Elsi” Chelsea, gadis itu menangis tersedu-sedu
Ia ambil handphonenya, ia kirim sebuah pesan pada akun Line @MamaSayang di sana tertulis, Mama bisa cek ATM Chelsea,Chelsea  gak pernah make duit dari mama, Chelsea butuh mama gak butuh duit mama! Love you ma.
Ia lihat sebuah mobil jass berwarna pink memasuki halaman rumahnya, itu mobil Via, kakaknya. Mobil itu sebagai hadiah ulang tahun Via yang ke 17. Ia juga diberikan sebuah mobil mini cooper saat ia mulai masuk SMA untuk memudahkan sekolahnya. Chelsea cukup bergelimangan harta.
Lalu kenapa dia jadi cewek matre seperti yang dikatakan cowok-cowok mantan pacarnya? Oh Chelsea.
Chelsea beranjak menuju kamarnya, ia menyalakan music sekeras mungkin. Lagu yang keluar adalah lagu rock dari band luar negeri. Akibat dari ulahnya itu berhasil membuat Via masuk kamarnya tampa permisi lalu mencabut aliran listrik yang menjadi pemicu utama berbunyinya sound system besar yang sangat nyaring itu.
“Chelsea! Kamu gak ada habis-habisnya ya bikin kakak naik darah? Kakak mau ngerjain skripsi kakak! Gimana caranya kakak nyelesein semua itu sementara kamu main music sekeras ini? Kamu mau bikin kakak menderita dengan gak lulus lulus kuliah? Mikir!” bentak Via, ia selalu berteriak-teriak jika harus berbicara dengan Chelsea adik semata wayangnya itu. Ia selalu emosi jika melihat ulah Chelsea yang tak pernah ada manis-manisnya, hahaha iklan kali ah..
“Kakak lebay ahh, mana mungkin ada saudara yang mau buat saudaranya sendiri menderita?” kata Chelsea, wajahnya terlihat santai, tak ada beban saat ia membuat kakaknya itu marah bukan kepalang.
“Gak usah ceramah ya! Omongan sama kelakuan kamu itu gak konsisten tau gak! Sekali lagi kakak denger rame-rame di rumah ini, kakak putus sekalian aliran listrik di sini!” selalu saja berapi-api, Via meninggalkan kamar Chelsea dengan segenap kekesalan yang menumpuk di otaknya.
***
Hari ini kelas X IPA 1 digegerkan dengan kabar bahwa Chelsea berangkat bareng Pak Sam! Kabar yang berhembus bermacam-macam dan semuanya tidak bisa dipertanggung jawabkan. Ada kabar bahwa Chelsea menyogok Pak Sam supaya Pak Sam tak lagi galak saat mengajar, atau Chelsea mendekati Pak Sam supaya mendapat nilai bagus di pelajaran yang cukup sulit itu. Dan yang lebih sadis lagi ada tuduhan bahwa Chelsea menjadi simpanan Pak Sam! Kalau saja Pak Sam tau kabar yang berhembus semiring itu? Pasti pelaku akan diusut dan dibawa keranah BK (Bimbingan Konseling) untuk siswa yang bermasalah, dan pasti akan mendapatkan kesulitan-kesulitan lainnya.
Cindai menarik Chelsea ke sebuah tempat yang cukup sepi, dekat gudang yang sudah full barang bekas sehingga tak terpakai lagi. Tempat yang cukup aman untuk mengerjai seseorang. Tapi bukan itu tujuan Cindai, ditemani Bagas ia membawa Chelsea ke tempat itu.
“Apaan sih Ndai, Gas! Aku udah kayak buronan aja” ucap Chelsea setelah mereka sampai.
“Lo ngaku Chels! Lo pacaran sama Pak Sam?” todong Cindai
“Lo mulai deket sama Pak Sam sejak sebulan yang lalu, berhasil lo ya” lanjut Bagas
“Aku lihat kamu makan bareng di salah satu tempat jualan Ayam goreng!”
“Kamu mulai pandai berbahasa Prancis, padahal dulu bodoh sekali”
“Aku gak nyangka cara kamu gini Chels”
“Picik tau gak!”
Bagas dan Cindai saling bersahutan menghakimi Chelsea, Chelsea hanya diam memandang kedua sahabatnya itu dengan wajah terpukau dengan kata-kata yang mereka ucapkan.
“Udah?,” tanya Chelsea setelah kedua temannya berhenti
“Jawab” suruh Cindai
“Kalo gue pacaran sama Pak Sam kenapa? Kenapa orang-orang pada ngurusin aku sih? Iri? Aku tau Pak Sam itu bule yang ganteng dan mapan, kalo mau deket ya usaha sendiri lah, kenapa jadi kepo sama hubungan aku dan Pak Sam?” kata Chelsea ia terlihat ketus.
“Chels! Kamu tau kan? Pak Sam itu udah punya tunangan, lo mau jadi selingkuhan?”
“Aku siap jadi selingkuhan kalo cowoknya kayak Pak Sam!” tandas Chelsea
Bagas Cindai ternganga mendengarnya, terlebih Bagas, seperti ada yang aneh pada dirinya, seketika wajahnya muram.
“Kamu gila Chels, kamu berubah! Mana Chelsea yang dulu kita kenal?”
“Emangnya gak ada lagi cowok seumuran yang bisa bikin kamu jatuh cinta Chels?” tanya Bagas.
“Aku lebih suka yang dewasa Gas, lebih muasin!” kata Chelsea lagi.
Mendengar itu, Bagas langsung pergi dari tempat itu, ia tak kuat lagi berdebat dengan Chelsea. Ia merasa Chelsea berubah, sangat berubah. Chelsea yang ia kenal dulu adalah Chelsea yang pilih-pilih untuk bergaul, jangankan pacaran dengan Om-Om , disapa kakak kelas saja dia gugup setengah mati.
***
Satu bulan ini Via tak pernah lagi membawa teman lelakinya ke rumah untuk sekedar minum teh atau belajar bersama, bisa saja Via sudah tak berniat pacaran lagi, takut ditikung sama Chelsea. Tentu saja Via tidak mau sakit hati untuk yang kesekian kalinya. Via tak habis pikir dengan sikap Chelsea yang menurutnya adalah criminal tingkat perasaan. (emangnya ada tingkat perasaan? Hahahh)
Di suatu sore yang cukup memesona, dua sejoli ini tengah duduk santai menikmati udara sore yang terkesan hangat, di sekelilingnya terlihat ramai orang orang berlalu lalang, ada yang bermain basket di lapangan yang tersedia di tempat itu, ada yang bermain sepeda, ada juga yang asik mengejar capung-capung yang terbang rendah.
“Aku seneng banget bisa nikmatin sore sama orang yang aku sayangi Vi” ucap lelaki yang berada disamping gadis berambut sebahu, Via.
“Aku juga seneng Kak” jawab Via,
Gabriel memandang lurus kearah danau yang terpampang luas di depannya. Kehangatan tercipta di antara mereka, perasaan saling suka menaungi hati masing-masing insane ini.
Via berharap, Gabriel-lah yang menjadi orang terakhir yang mengisi hidupnya, ia tak rela jika ada seseorang yang merebut kekasihnya ‘lagi’.
“Kak Via!” seru seseorang dari belakang,
Via kenal suara itu, seketika hatinya kecut, aliran darahnya mulai naik memanasi otaknya yang tadinya tentram menjadi kacau, hatinya juga gelisah. Itu suara Chelsea.
“Ngapain kamu kesini! Pergi sana, jangan ganggu kakak!” usir Via, bahkan ia dorong pundak Chelsea supaya menjauh dari tempat itu.
“Dia siapa Vi?” tanya Gabriel
“Hai kak, aku adeknya Kak Via, namaku Ananda Chelsea, panggil Chelsea aja kak” kata Chelsea lalu berjabat tangan dengan Gabriel. Via segera melepas tangan Chelsea dan Gabriel, ia trauma jika Chelsea mengetahui lelaki yang sedang dengannya, ia takut Chelsea menikungnya.
“Adik Via, kok kamu usir gitu sih yank, gak papa lah. Nama kalian sama loh, Ananda Chelsea dan Sivia Ananda, lucu” kata Gabriel lalu mengajak Chelsea duduk di bangku yang ia tempati bersama Via.
“Tapi dia ini…” kata Via kikuk, gak mungkin dia bilang kalau Chelsea ini adalah tukang tikung pacar-pacarnya.
“Kamu kelas berapa chels?”
“Kelas X kak, kakak ganteng deh, kok mau sama Kak Via yang biasa biasa aja, cantikan aku kan kak?” kata Chelsea, tak perduli Via ada di sampingnya, karena ia tahu Via gak bakalan memarahinya di depan orang yang ia sayangi. Pastinya Via lagi jaga Image.
“Iya cantikan kamu kok Chels” kata Gabriel, itu cukup membuat telinga Via panas, bisa-bisa telinganya mengeluarkan Asap! Sayang Via manusia bukan cerobong kereta. hehee
Via hanya diam terpaku, dalam hatinya ingin sekali ia memarahi Chelsea dan melempar gadis kecil ini ke Pluto biar hidupnya aman dan damai. Ia melihat jam tangan, jarum kecil itu menunjuk angka 5.
“Waktunya pulang, kalian akrab banget sih. Sayang jangan sampek ngecewain aku yah!” kata Via, lalu mengajak Chelsea pulang.
Sesampainya di rumah, rasa-rasanya Chelsea sudah tau bahwa dia akan dimarahi habis-habisan oleh kakaknya. Chelsea buru-buru hendak masuk ke kamarnya namun Via terlebih dahulu menarik lengan Chelsea dengan kasar.
“Apa lagi sih kak!” ucap Chelsea sembari melepas cekatan tangan Via dari lengannya yang kurus itu.
“Chelsea! Kakak gak mau kamu deketin Gabriel! Aku gak mau denger kamu jalan bareng Gabriel, telpon atau SMS sama pacar aku! Kamu harus berhenti ngambil semua yang kakak miliki! Kamu gak kasihan liat kakak sakit hati karena pacar-pacar kakak kamu rebut? Mikir dong Chels! Kalo sampek kakak denger kamu deket sama pacar kakak, kakak pergi dari rumah!” semprot Via, kali ini berbau ancaman untuk Chelsea,
“Kakak, cinta datang gak bisa di cegah loh kak” ujar  Chelsea, ia memandang kakaknya yang frustasi
“cuih! Simpan omong kosong mu itu Chels, sekarang kakak tanya, dari mana kamu dapat barang-barang mewah itu? Kartu ATM kamu kan ada di Mbak Ijah! Jawab Chelsea !”
“Dari mantan-mantan aku lah kak!” jawab Chelsea santai
“Bagaimana bisa mereka memberikan barang-barang mewah itu tampa ada embel-embel ingin balas budi dari kamu? Kamu udah ngasih apa ke mereka?”
“Kakak! Mereka itu sayang sama aku, makanya mereka mau ngebeliin apa aja yang aku mau, emangnya kakak? Gak pernah sayang sama aku!”
“Chelsea! Kakak gak suka kamu jadi cewek matre gini! Liat kartu ATM kamu! Di sana mama papa ngirim duit 10juta perbulaan! Kamu bisa beli apa yang kamu mau, gak perlu morotin orang lain!”
“Kakak tau apa tentang aku, udah lah kak, ini hidup aku, kakak gak perlu capek ngurusin aku, mereka ngasih dengan iklas kak! Aku gak pernah jual diri aku ke mereka!”
“Chelsea!”
Via pergi dan masuk kamarnya, ia sudah lelah dengan keadaan seperti ini, jauh di dalam hatinya ia sangat ingin bertingkah laku manis layaknya adik-kakak yang saling menyayangi satu sama lain. Tapi Via tidak bisa! Sikap Chelsea yang seperti itu akan terus membuatnya marah, kecewa dan sakit hati.
***
Via terus uring-uringan memikirkan hubungannya dengan Chelsea yang tak kunjung membaik, baginya Chelsea selalu mengibarkan bendera perang yang sangat sayang untuk ia lewatkan, Via pikir dengan memarahi Chelsea, ia bisa menyadarkan Chelsea dan mengembaalikan Chelsea yang dulu ia kenal.
Via sengaja tidak keluar rumah satu minggu hanya untuk memantau adiknya itu secara langsung, ia minta bantuan sahabatnya untuk mencarikan buku refrensi untuk skripsinya. Ia benar-benar ingin tahu seperti apa keseharian Chelsea.
Hari Senin.
Via bangun pagi-pagi lalu stay di teras rumah menunggu Chelsea berangkat sekolah, sambil membaca buku-buku yang tebal itu Via menunggu Chelsea keluar.
Chelsea keluar dengan seragam putih abu-abu, dan tas selempang yang selalu ia pakai kemana-mana, tak peduli momennya pas atau tidak. Via memandang Chelsea sebentar, ia rasa dandanan Chelsea tak sesuai dengan umurnya.
“Chelsea, mau sekolah apa mau arisan sih? Rambut kamu jangan di buat kayak gitu, udah kayak anak kuliahan tau gak” tegur Via, ia tak suka melihat Chelsea berpenampilan seperti itu.
“Peduli apa kak?” kata Chelsea lalu pergi, mendekati gerbang rumah.
Via terus menapat Chelsea, ia tak mau melewatkan sesuatu. Chelsea tampak berdiri di depan gerbang, kenapa dia gak bawa mobil aja sih? Toh tinggal bawa aja. Tak berapa lama sebuah mobil Toyota Yaris datang dan berhenti di depan gerbang. Sang pemilik mobil keluar, seorang lelaki berdasi dengan jas hitam menutupi hem putih yang ia pakai, lelaki itu berkacamata tebal. Wajahnya kira-kira lebih tua 10 tahun dari Chelsea.
Lelaki itu mengelus rambut Chelsea lalu membukakan pintu untuk Chelsea. Dalam hati Via berkata Chelsea dan cowok itu udah kayak Om dan Ponakan. Via hanya bisa geleng-geleg kepala. Ia juga bingung, apa tujuan Chelsea melakukan semua ini.
Hari Selasa, Via tak blak-blakan mengawasi Chelsea, ia bersembunyi di belakang semak-semak yang tumbuh di dekat pintu gerbang rumahnya. Ia rasa tempat persembunyiannya ini cukup aman. Jam setengah 7 lewat 5 menit, muncul sebuah mobil Jeep berwarna hitam terparkir di depan rumahnya, ia amati mobil itu.
“Beda lagi? Ya Tuhan Chelsea! Dia kenapa sih?” batin Via, ia lihat Chelsea tampak senang dijemput dengan mobil itu, lelaki yang menjemputnya pun berbeda.
Hari Rabu Kamis dan Jumat Chelsea dijemput oleh lelaki dewasa yang berbeda-beda setiap harinya. Via sudah tidak tahan membiarkan Chelsea terus-terusan bersikan seperti playgirl, ia tak rela adiknya yang manis itu terjerumus dalam pergaulan yang salah.
Para lelaki yang dibawa Chelsea, Nampak mapan dan kaya. Dari pakaian mereka, pasti mereka bekerja di kantoran. Terbukti saat pulang sekolah Chelsea selalu membawa barang pemberian pacar-pacarnya itu. Mobil yang dibawa juga bukan mobil sembarang, walaupun ada beberapa yang menggunakan mobil kantor. Ckckc gak modal juga ya, mobil kantor digunakan buat nganter ceweknya. Kalo ketahuan aparat udah pasti si pengguna ditegur keras tuh.
Hari Sabtu, hari terakhir masuk sekolah, Via kembali mengintip dengan siapa Chelsea berangkat di hari Sabtu. Dengan mata yang belum terbuka sepenuhnya ia berjalan pelan ke tempat biasa ia mengawasi Chelsea. Ia lihat Chelsea sudah berada di depan pintu gerbang bersama seorang lelaki. Ia rasa sangat familiar dengan wajah lelaki itu, Via segera mengerjap-ngerjapkan matanya. Ya, dia kenal lelaki itu.
Gabriel!
Via langsung berlari mendekati gerbang, dengan segenap rasa kesal di hatinya, ia seret Chelsea memasuki rumah, lelaki itu mencegah Via, karena heran dengan apa yang dilakukan Via. Begitu kasar pada adiknya.
Plak!
Sebuah tamparan dari tangan Via mendarat di pipi mulus Chelsea, ia sudah tidak bisa menahan dirinya untuk bersikap baik pada adiknya itu. Ia sudah berkali-kali mengatakan bahwa ia sangat mencintai Gabriel. Setidaknya adiknya mau sedikit mengalah dan tidak mendekati Gabriel.
Chelsea ternganga, ia tak menyangka akan diperlakukan seperti ini oleh kakaknya. Satu tetes air matanya mengalir membasahi pipi yang perih akibat tamparan kakaknya. Ia pegangi pipi yang warnanya berubah kemerahan.
“Sakit? Hati kakak lebih sakit liat kelakuan kamu,”
“Kamu? Aku gak tau harus bicara kayak apa lagi sama kamu Chels! Kakak benci kamu!” kata Via, emosinya sudah membuncah dan ini yang paling puncak.
Selama ini ia bisa menerima bahwa pacarnya ditikung oleh adiknya sendiri, dengan membenarkan kalimat Chelsea yang selalu mengatakan bahwa Cinta itu datang tampa kita tahu pada siapa Cinta itu akan berlabuh. Tapi kali ini ia tak terima dijadikan bulan-bulanan oleh adiknya. Via saja mau melihat Chelsea bahagia dengan pilihannya, mengapa Chelsea seakan tak mau melihatnya bahagia?
“Via, sayang, ini ada apa sebenernya?” tanya  Gabriel yang sedari tadi diam seribu bahasa memperhatikan kelakuan kakak beradik itu.
“Aku gak nyangka kamu bisa semudah itu termakan rayuan Chelsea! Gue benci elo Gabriel!” tandas Via, air matanya mengalir begitu cepat.
“Mulai sekarang aku pergi dari rumah!” ucap Via, lalu berlari meninggalkan tempat yang membuatnya sesak nafas itu.
Chelsea terdiam, hal yang sangat ia takutkan benar-benar terjadi, ancaman kakaknya minggu lalu benar-benar di lakukan. Kini Chelsea hanya bisa terisak melihat kepergian kakaknya. Ia tau kakaknya itu keras kepala, jika sudah berkata A pasti yang terjadi akan A tidak bisa ditawar-tawar lagi. Gabriel mengejar Via.
***
Chelsea tidak masuk sekolah, ia belum bisa menerima kenyataan bahwa kakaknya pergi dari rumah gara-gara kelakuan dia. Ia menyesal minta jemput Gabriel waktu itu.
“Kak Gabriel bisa jemput aku besok gak? Mobil aku lagi mogok kak, please ya kak, kalo kakak jemput aku kan bisa sekalian ketemu Kak Via”
Itu pesan yang dikirim Chelsea pada Gabriel pacarnya Via. Tak butuh waktu lama SMS Chelsea mendapat balasan, HP-nya bergetar menerima pesan masuk.
“OK adik cantik, tau aja kakak udah kangen sama kakak kamu”
Chelsea teringat percakapannya dengan Gabriel lewat SMS. Seharian ini ia merenung, batinya tersiksa dengan apa yang dialaminya. Ia tak bisa melewatinya sendiri, Chelsea butuh seseorang yang bisa menguatkannya, yang bisa memotivasi supaya ia bisa kembali menjalani hari-harinya dengan senyum.
“Ma, Chelsea kangen mama” lirih Chelsea, untuk saat ini ia lupa caranya tersenyum.
Sore hari kedua sahabat Chelsea datang menemuinya, mereka langsung ke rumah Chelsea setelah pulang sekolah. Mereka khawatir Chelsea tidak masuk sekolah tampa keterangan yang jelas. Sahabat yang baik.
Cindai dan Bagas langsung masuk ke kamar Chelsea, mereka sudah menganggap rumah Chelsea ya seperti rumahnya sendiri, mereka tak canggung untuk langsung masuk ke kamar Chelsea, atau mengambil makanan ringan di kulkas atau langsung ke dapur untuk makan.
“Chelsea!” seru Cindai setelah melihat keadaan Chelsea yang gak banget! Rambutnya berantakan, ia masih memakai seragam sekolah, matanya sembab. Cindai langsung berhambur ke arah Chelsea, ia peluk sahabatnya itu. Sedangkan Bagas masih terpaku di depan pintu melihat keadaan Chelsea.
“Kak Via pergi dari rumah” Lirih Chelsea, namun terdengar jelas oleh Cindai dan Bagas karena rumah ini benar-benar sepi.
“Gimana bisa?”
“Pasti kamu ketahuan jalan bareng pacar Kak Via kan?” jawab Bagas, ia curiga itu yang dilakukan Chelsea, sudah pasti, jika Kak Via marah, sebabnya pasti karena Chelsea menikung pacarnya, pasti.
Chelsea hanya diam.
“Berarti kamu sukses dong Chels! Ini kan yang kamu inginkan?”
“Ngapain kamu nangis? Harusnya kamu seneng dong? Kamu ketawa-tawa”
“Kali ini aku gak berniat ngelakuin itu!” seru Chelsea di sela isak tangisnya.
“Terus, kenapa Kak Via pergi dari rumah?”
“Kak Via emosi liat aku dijemput Kak Gabriel, aku gak ada niat buat deketin Gabriel!” Chelsea menjelaskan.
“Aku gak percaya” sahut Bagas
“Kamu harus percaya Gas, Ndai, aku Cuma pengen tau Gabriel lebih jauh, apa dia pantas untuk Kak Via”
“Alasan” Bagas masih keukeuh menganggap Chelsea lah yang salah.
Cindai mengambil nafas dalam, ia bisa mempercayai kata-kata Chelsea, ada ketulusan di wajahnya, sama waktu pertama mereka bertemu dan menjadi sahabat. Wajah tulus Chelsea sangat jelas, meneduhkan hatinya.
“Udah, aku percaya kok Chels, kalo aku saranin, kamu gak usah jalan berdua sama Kak Gabriel lagi, kamu harus minta maaf sama Kak Via ya?” kata Cindai.
Bagas memasang wajah datar. (maksudnya tampa ekspresi loh ya, bukan datar tampa mata hidung pipi, hahah)
“Jangankan minta maaf, liat muka aku aja Kak Via jijik!” Chelsea menundukkan kepalanya.
Penyesalan selalu datang di akhir, maka berhati-hatilah bertidak, untung jika apa yang disesali bisa diubah menjadi lebih baik minimal ke semula. Tapi rugi jika semua sudah tidak bisa dirubah lagi, nasi menjadi bubur tidak bisa diubah lagi menjadi beras.
***
Kesialan untuk Chelsea tak cukup sampai ia harus kehilangan kakaknya, dan merana di rumah megah itu sendirian. Nomor HP kakaknya pun ganti, mungkin supaya Chelsea tak bisa menghubunginya lagi. Sebegitu bencinya dia pada adiknya itu.
Di sebuah kafe yang cukup elegan, suasananya juga tenang walaupun banyak pengunjung, mereka seperti tau etika untuk tidak ramai di tempat makan. Kafe kelas elit. Di meja dekat dengan jendela, dua orang tengah duduk santai menunggu pesanannya. Mereka asik berbincang tentang pelajaran, sesekali gadis yang duduk bersama seorang lelaki dewasa memekik kalimat kalimat aneh seperti “blablabla” dan si lelaki itu mengajari gadis itu cara pengucapan yang benar.
Itu Chelsea dan Pak Sam.
Mereka asik berdiskusi sampai pesanan mereka datang, mereka masih berbincang sambil makan. Hanya saja kali ini lebih banyak memasukan makanan ke mulut dari pada mengeluarkan suara dari mulut.
“O iya, kemarin kenapa kamu gak masuk sekolah tampa surat izin?” tanya Pak Sam
“Oh, itu saya ada keperluan mendadak Pak, jadi gak sempet bikin surat” jawab Chelsea.
Mereka melanjutkan makan.
Sampai ada seorang lelaki seumuran Pak Sam menyapa Chelsea, Chelsea kaget melihat siapa yang datang menghampirinya. Lelaki yang menjemputnya di hari senin.
“Dia siapa sayang?” tanya Lelaki itu, nada bicaranya sinis.
“Di.. Dia Guru aku” jawab Chelsea gugup
Ia yakin Riko yang merupakan pacar Chelsea special hari senin itu percaya, karena Riko adalah tipe lelaki yang mudah percaya, apalagi pada ucapan buaya Chelsea. Orang yang ia sayangi. Terbukti dari respon Riko yang hanya mengangguk saja mendengar pengakuan Chelsea.
Chelsea bernafas lega.
Namun ia kembali menahan nafas setelah tau siapa yang datang, Alvin! Pacarnya di hari kamis. Ia menghampiri Chelsea. Alvin terlihat emosi, sepertinya ia sudah melihat dan mendengar apa yang tadi terjadi.
Alvin mengambil jus alpukat yang ada di meja Chelsea lalu mengguyur isi gelas itu ke kepala Chelsea. Tak ada kalimat sapaan untuk Chelsea. Pengunjung kaget melihat apa yang dilakukan Alvin, Riko dan Pak Sam melihat kejadian itu dengan takjub.
Dengan spontan Riko memukul muka Alvin. Ia sangat geram. Hanya lelaki jadi-jadian yang melakukan itu pada perempuan. Alvin membalas pukulan Riko tepat di pipinya.
“Hey bro, ngapain lo belain gadis m*rahan ini? Gue pacar dia, lo pacar dia, dan lo juga pacar dia?” kata Alvin sambil menunjuk ke arah Riko dan Pak Sam.
Riko dan Pak Sam kaget.
“Chelsea!” seru Riko, ia tak percaya ini.
“Heh gadis sok polos, gue udah tau kedok lo yang sebenarnya, lo hanyalah cewek m*rahan, gak tau diri! Selain kita bertiga yang ada di sini, masih banyak pacar dia di luar sana, kalian tanya saja sama cewek gak bener ini!” tandas Alvin.
Chelsea diam mematung, ia sudah tidak bisa lagi bermain lidah dan mengeluarkan kalimat-kalimat manis. Posisinya tersudut, semua kesalahan tertimpa padanya.
“Kenapa diam aja lo? Jawab! Siapa aja pacar-pacar lo ha?” kata Alvin lagi, entah dorongan dari mana ia tampar pipi kekasihnya yang biasa ia elus itu. wajahnya memerah akibat marah, ia tarik paksa lengan Chelsea hingga cewek itu kesakitan.
Pak Sam berdiri melepas cekalan tangan Alvin dari lengan Chelsea, sebagai guru yang mulai menyayangi siswa-nya ini, Pak Sam merasa iba pada Chelsea yang dihina, dimaki dan dikasari oleh lelaki.
“Cukup, Chelsea ini murid saya, kami sedang membahas materi yang sudah-sudah, karena kalian datang dan membawa keributan membuat kami tidak konsentrasi lagi. Kalo kalian tidak mau pergi dari tempat ini biar kami saja yang pergi!” kata Pak Sam lalu mengajak Chelsea meninggalkan tempat ini. Chelsea tetap diam, tubuhnya kaku, dingin, wajahnya pucat pasi seperti sedang mabuk darat.
“Woy Pak, ajarin siswanya tentang moral, biar jadi cewek bener!”
Kacau, bukan hanya suasana hati Chelsea, tapi juga Riko Alvin dan Pak Sam. Dalam perjalanan pulang Chelsea hanya diam membisu, pandangannya lurus ke depan. Di telinganya masih terngiang hinaan-hinaan Alvin yang kini menjadi mantan terkejamnya. Perih di pipinya seakan merambat ke dalam batin membuatnya merasakan perih yang teramat.
“Makasih Pak Sam udah belain Chelsea” lirih Chelsea sebelum keluar dari mobil Toyota Avanza milik Pak Sam.
“Chelsea, mau bapak bawa ke rumah sakit? Atau bapak bantu obati?” sahut Pak Sam, ia menyayangi Chelsea seperti ia menyayangi keempat ponakannya yang ada di Perancis.
Chelsea hanya menggeleng pelan lalu keluar dari mobil dan langsung memasuki pagar rumahnya yang sudah terbuka saat Satpam penjaga rumahnya tau bahwa Chelsea yang datang.
***
Kampus yang megah, bangunan berlantai 10 itu kokoh menjulang tinggi mencakar langit. Di sudut kampus yang di Tanami banyak bunga-bunga, seorang gadis tengah duduk dan berkonsentrasi pada laptop yang ada di depannya, di kursi panjang yang cukup untuk 5 orang itu hanya ditempati dia seorang diri bersama laptop dan buku-buku tebal yang tergeletak di dekatnya.
Terdengar riuh-riuh suara perempuan-perempuan sedang berbincang, Via melirik mereka mendekat ke tempatnya lalu duduk di sampingnya. Masih dengan pembahasan yang membuat kuping Via kesal mendengarnya.
Dasar tukung gossip! caci Via dalam hati.
Ia mencoba berkonsentrasi pada laptopnya. Namun tetap saja, suara cempreng dari sampingnya memaksa telinganya untuk mendengar.
“Gue kesel banget deh beb ama tuh cewek tengil, gara-gara dia cowok gue mutusin gue! Gue kurang apa coba dibandingkan sama anak SMA yang masih bau bawang itu? Cantik ia, seksi ia, kaya? Apalagi! “ kata perempuan yang berambut panjang, dan tas berwana biru tua.
“Ha? Kok bisa sih Beb? Gila ya tuh cewek, siapa sih namanya?” sahut perempuan yang duduk di samping kanan perempuan tadi.
“Namanya Ananda Chelsea, anak SMA Mega Bangsa”
“Ckk, anak SMA udah berani nikung orang dewasa, gue yakin pasti tuh anak ganjen banget dan kecentilan sama pacar lo beb” sahut perempuan yang ada di samping kiri perempuan berambut panjang.
“Jangan-jangan tuh anak emang kerjaannya kayak gitu, gue yakin dia udah gak Ori lagi!”
“Yaialah, cewek gampangan kayak gitu sih mudah diajak!”
Panas, panas, panas.
“CUKUP! Kalian udah ganggu belajar gue! Ini tuh kampus bukan tempat buat gossip! Kalian pergi dari sini atau gue timpuk pake sepatu?” kata Via, wajahnya memerah menahan amarah yang meletup-letup di kepalanya.
Ia copot sepatu highheels itu dari kakinya lalu di arahkan pada ke tiga perempuan yang kini berdiri di sampingnya.
“Biasa aja dong! Galak amat lo jadi cewek, awas gak laku!” ucap perempuan di sampingnya.
“Kurang ajar lo ya!” semprot Via lalu memukul lengan perempuan yang ada di sampingnya dengan sepatu, uhh kejam.. hahah
Tak mau merasakan sentuhan sayang dari sepatu Via, ketiga perempuan itupun pergi terbirit-birit.
“Chelsea, adik aku,” lirih Via, seketika itu juga air matanya mengalir. Ia marah pada perempuan-perempuan yang membicarakan yang tidak-tidak tentang adiknya itu. Chelsea memang suka gonta-ganti pacar, tapi ia yakin adiknya itu masih punya akal sehat yang berfungsi untuk menjaga dirinya dan kehormatannya.

***
Sudah dua hari Chelsea tak mau makan, sekeras apapun pembantunya memaksa untuk makan tetap tak dihiraukan olehnya. Ia benar-benar kehilangan semangat. Ia meringkuk di kasur empuknya dengan memeluk guling yang selalu mau ia peluk kapan saja.
Bayang-bayang wajah Alvin dan Via terasa nyata di depannya, mereka berdua menampilkan wajah geram, kemarahan-kemarahan dari Alvin dan Via terputar jelas di telinganya.
“Mama Chelsea udah gak kuat!” teriak Chelsea, ia
Kali ini jiwanya dirundung nestapa yang teramat dalam dan kejam, jiwanya goyah. Semua orang seperti memusuhinya, tak ada tempat mengadu, ia lupa akan tuhan, tuhan yang selalu mau mendengar keluh kesah hambanya. Pikiran Chelsea tertutup kabut.
Braakk!
Suara pintu dibuka paksa hingga membuat pintu itu roboh. Seorang gadis memasuki kamar yang berantakan. Selimut, bantal, guling, sprei juga tergeletak di lantai.
Ia cukup kaget dengan keadaan kamar ini, yang lebih mengagetkan lagi, pemilik kamar ini tengah tergeletak lemah di kasur.
“Chelsea, bangun Chelsea. Katakan pada kakak kalo kamu gak senakal itu, kamu masih tau dosa masih tau menjaga kehormatan! Ayo Chelsea bangun. Kakak butuh jawaban dari mulut kamu langsung!” semprot Via sambil menepuk-nepuk pipi adiknya. Dan berhasil, Chelsea membuka mata.
“Apa peduli kakak?” lirih Chelsea,
“Chelsea! Sekarang jawab kakak! Kenapa kamu gak pernah pake fasilitas yang mama kasih ke kamu? Uang kamu di ATM masih utuh, gak ada kamu pake sepeserpun! Dari mana kamu dapat uang buat jajan? Dari mana baju, sepatu dan tas mahal ini Chelsea? Jawab kakak!!”
“Kakak pengen tau? Yakin? Apa kakak percaya?”
“Katakan pada kakak!”
“Aku dapet semua barang itu memang dari pacar aku kak! Tapi aku gak pernah melakukan apa-pun yang bisa merendahkan harga diri aku. Aku bilang sama mereka kalo aku ini anak pembantu di rumah ini, aku gak punya duit, lantaran iba dan cinta sama aku, mereka mau ngabulin semua permintaan aku,”
“Aku sering rebut pacar kakak, karena aku tau pacar kakak itu orang kaya semua. Aku sama sekali gak cinta sama mereka, aku hanya ingin mereka berbagi kekayaan buat aku, pacar-pacar kakak yang aku rebut adalah orang yang aku pikir gak cocok sama kakak! Aku gak pernah ada niatan buat ngerebut Kak Gabriel dari kakak! Karena aku tahu kakak benar-benar suka sama Kak Gabriel, dan Kak Gabriel sendiri serius sama kakak!”
“Lalu apa tujuan kamu ngelakuin semua ini?”
“Aku kangen mama papa kak, aku pengen nunjukin ke mama kalo aku udah gak butuh uang lagi, aku udah bisa cari uang sendiri, aku sering kirim foto-foto baju, sepatu dan tas mahal aku ke mama, buat ngeyakinin mama kalo aku udah gak butuh kiriman dari mama, aku butuh mama ada di samping aku,”
“Aku nikung kakak, karena aku pengen banget akrab sama kakak! Walaupun dengan cara yang salah, cara baik-baik? Kakak gak pernah respon aku sekalipun. Saat kakak marahin aku gara-gara aku rebut pacar kakak? Aku seneng banget kak, aku seneng kakak mau bicara lagi sama aku”
“Saat kakak pergi dari rumah, aku bener-bener gak tau lagi harus gimana, aku sakit kak! Dan sekarang kakak minta penjelasan aku tentang gossip yang beredar? Kakak gak pernah ngerti aku!”
“Chelsea…” lirih Via, ia tak menyangka akan mendapat penjelasan seperti ini dari adiknya. Orang yang akan ia salahkan malah membuat dirinya serba salah,
Ia dekati Chelsea duduk di kasurnya, ia tatap mata Chelsea, pandangan keduanya bertemu. Kedua pasang mata itu sama-sama mengalirkan airmata. Air mata haru, kesedihan, kekecewaan semua keluar menjadi satu.
“Maafin kakak, kakak sayang kamu, kita perbaiki semuanya, kakak janji akan selalu ada buat kamu” lirih Via lalu menghapus air mata adiknya.
Chelsea benar, ia terlalu sibuk dengan urusannya sendiri hingga lupa bahwa dia memeiliki seorang adik cantik yang kesepian, untuk mengalihkan perhatiannya, adiknya itu melakukan hal-hal yang membuatnya benci pada Chelsea. Namun itu cukup ampuh untuk mengalihkan perhatian Via pada adiknya itu.
Orang-orang yang menyaksikan ini merasa terharu, melihat kakak-adik yang saling sadar dengan tugas dan kewajibannya masing-masing, yaitu saling menjaga dan saling mendukung. Di kamar ini ada Mbak
Chelsea memandang kakaknya sendu, ia rasa tak tahan lagi, ia ambruk dalam pelukan kakaknya.
“Chelsea, Chelsea kenapa? Mbak Ijah, Pak Elmo Chelsea kenapa?” kata Via panic, wajahnya berubah khawatir.
“Mungkin neng Chelsea kelaparan neng, sudah dua hari dia mengunci kamar, untung neng Via datang sekarang” ucap Mbak Ijah, pembantu rumah tangga.
“Terus ini gimana?”
“Saya ambil makanan dulu ya neng” kata Mbak Ijah lalu beringsut pergi ke dapur.
“Loh kok, kita bawa Chelsea ke rumah sakit sekarang Pak Elmo” titah Via
Namun sebuah tangan merengkuh tangannya, Chelsea kembali membuka mata.
“Aku gak papa kak, aku Cuma kelaparan, aku gak kuat lagi bicara” lirih Chelsea
“Mbak Ijah cepetan makanannya! Keburu Chelsea pingsan lagi” teriak Via, Chelsea tersenyum mendengar Via berteriak, selalu saja Via melakukan itu saat keadaan mendesak atau ada yang mengganggu ketenangannya.
Mbak Ijah datang membawa semangkuk bubur yang sudah ia siapkan untuk Chelsea dari tadi pagi, siapa tau neng Chelsea-nya itu mau makan. Tak sia-sia ia memasak untuk Chelsea.
Via menyuapi adiknya, ia heran, rasa sayang yang selama ini tertutup kesibukan mulai muncul ke permukan hatinya, ia senang sekali bisa sedekat ini dengan adik semata wayangnya itu. Ada setetes air mata rindu yang keluar dari hati lewat matanya.
“Kakak janji bakalan ada untuk Chelsea?”
“Janji, tapi ada syaratnya”
“Apa kak?”
“Kamu gak boleh pacar-pacaran lagi, kakak gak suka ngeliat kamu gonta-ganti pacar dan morotin anak orang! Kakak mau, kamu jadi Chelsea yang manis kayak dulu”
“Bilang aja takut di rebut Chelsea, Chelsea kan lebih cantik dari kakak” tandas Chelsea.
“Bisa aja kamu, gak level ah saingan sama saudara sendiri”
Keduanya larut dalam bahagia. Mereka sadar iinilah yang mereka cari selama ini, kehangatan keluarga yang tak pernah mereka dapat setelah bisnis mama dan papa mereka maju pesat. Tak ada lagi pertengkaran, yang ada hanya kebersamaan yang kental.


TAMAT

Butuh kritik dan saran ;) penulis masih miskin akan ilmu sastra, terimakasih yang bagi yang sudah membaca ;) SORRY ngaret sehari ,XD baru isi Quota Internet nih *curcol XD jangan apa-apain gue yak :”V 
perlu di garis bawahi, cerita ini hanya FIKTIF BELAKA. 
follow penulis di
twitter, Line, Instagram : @YuyunShovia
Facebook: Yuvinaz & Yuyun Shoviana
Blog : mutiariyuyun.blogspot.com
Wattpad : YuyunShovianaIR

HEHE :V 

Komentar

  1. Terima kasih infonya gan, mantabbbsss.
    Ditunggu postingan2 lainnya.

    Gema Parfum :
    Parfum Terbaik Wanita.

    -------------

    BalasHapus
  2. Bagus. Cerpen.nya..
    Lain kali buat dong yang Chelsea sama Bagas.nya. hhehe

    BalasHapus

Posting Komentar