PLAYBOY
INSAF
(Seleksi
cinta sejati)
(part
1)
Tuk
tuk tuk
Bunyi
derap sepatu turun dari tangga yang kokoh, seorang lelaki berlarian menuruni
setiap anak tangga, ia nampak tergesa-gesa. Ia menuju pintu rumah.
“Bagas,
kok buru-buru sih bro, nggak bareng Papi berangkatnya?” sergah seorang lelaki dewasa
memakai hem putih dibalut jas hitam dengan dasi bergaris warna putih donker.
Lelaki itu menghampiri Bagas.
“Bagas
hampir telat nih Pap, Bagas duluan ya,” ucap Bagas sembari menyambar tangan
kanan Papinya lalu menciumnya penuh takzim. “Ya sudah kalo gitu, kamu pake
motor Papi ya, Papi mau keluar kota jadi mau pake mobil,” kata sang Ayah lalu
mengambil kunci motor dari saku celananya dan memberikan pada Bagas.
Bagas
beranjak keluar. “Hey bro, ingat kalimat Papi?” tanya papinya. “Boleh ngebut
asal tau aturan,” sergah Bagas sebelum berlalu dengan motor hitam yang biasa
digunakan oleh Papinya.
Anakku
sudah besar, maafkan Papi Nak, tidak bisa memberikan Mami yang baik untuk kamu,
gara-gara kejahatan Papi dan keegoisan Mami kamu, kamu tidak bisa merasakan
kasih sayang orang tua secara utuh.
Andryos
Ananta nama lelaki yang tengah menatap sendu ke arah anak yang selama ini ia
besarkan seorang diri. Mereka begitu akrab hingga tak segan Andry memanggil
Bagas dengan sebutan Bro! ia sengaja melakukan itu, bukan untuk mendidik Bagas
sebagai anak yang kurang ajar atau tidak sopan pada orang tua, hanya saja ia
ingin memperkecil jarak di antara mereka, hingga tak ada yang harus di tutup-tutupi.
Ia ingin menjadi Ayah, sahabat bahkan Ibu untuk Bagas, ia selalu ingin Bagas
bahagia dengan keterbatasan yang ia miliki sebagai orang tua tunggal.
***
Sebuah
motor Yamaha tipe YZF-R6 terparkir rapi dengan deretan motor lainnya, hanya
saja motor ini paling mewah di antara motor-motor yang lain. 3 gadis berjalan
mendekati pemilik motor itu, wajah mereka sumbringah terlihat sangat senang. Mereka
berjalan berdampingan menuju kelas. “Kita satu kelas kan girls,” tanya
Bagas sembari menatap gadis yang menggaet tangan kanannya. “Pastinya dong
Beib,” jawabnya.
Safir
Univercity adalah kampus besar yang ada di salah satu Kota Pamekasan, tak ada
yang bisa menandingi megahnya kampus ini, segalanya serba lengkap. Dengan berbagai
Fakultas dan alat penunjang saat praktik.
“Bagas!”
seru cewek-cewek yang melihat Bagas dan ketiga gadisnya lewat.
“Ganteng
banget, pantesan ceweknya banyak, siapa sih dia?”
“Itu
pasti Kak Bagas yang playboy itu, uhh siapa yang nggak mau kalo dia ganteng
kayak gitu.”
Komentar-komentar
itulah yang keluar dari tiap pasang mata yang melihat Bagas dengan ketiga
gadisnya. Mahasiswa baru yang tak banyak tau tentang kampus ini dibuat takjub
dengan Bagas yang tampan dan memiliki tiga pacar sekaligus, asumsi mereka,
Bagas tengah menjalin hubungan pacaran dengan ketiga gadis itu, mereka takjub
pada Bagas yang bisa membuat akur ketiga gadisnya. Ada juga yang tidak suka
dengan sikap Bagas yang seolah-olah mempermainkan perempuan.
Bug!
Aww!
Suara
itu terdengar setelah seorang gadis yang tengah berlarian menabrak ketiga orang
yang hendak belok arah untuk menaiki tangga yang menuju gedung C, sedangkan
gadis yang berlarian tadi hendak keluar dari gedung C. terjadilah tabrakan yang
tak terhindarkan.
“Sorry,
Sorry, Sorry, gue nggak sengaja sumpah,” ucap gadis yang datang dari gedung
C sembari jari telunjuk dan jari tengahnya membentuk huruf V sedangkan jari
yang lain ditelungkupkan.
Bagas
dan ketiga gadisnya jatuh terjerembab ke lantai, ketiga gadis itu menatap geram
ke arah gadis yang menabrak mereka. gadis bertopi dengan rompi levis yang
menempel di tubuhnya berdiri menghampiri gadis penabrak, dan serta merta
menjambak rambutya. Gadis itu merintih lalu dengan gesit me-melintir(?) lengan
gadis yang menjambaknya, gantian gadis bertopi itu yang kesakitan.
“Heh!
Gue udah minta maaf, lo malah ngasarin gue!” ucap si penabrak lalu melepas
tangan gadis bertopi. “Lo udah salah nyolot ya,” tandas gadis yang memakai rok
mini, ia selalu tampil seksi. “Kok gue yang nyolot sih? ini nggak sengaja dan
gue udah minta maaf, masalah selesai!” ucap si penabrak lalu pergi begitu saja.
“Woy!
Jangan kabur lo!” sergah gadis bertopi, ia hendak mengejar namun dicegat oleh
Bagas. “udah Bell, nggak ada gunanya, lo nggak papakan? Chelsea? Salsa? Ada
yang sakit?” ucap Bagas, sembari mengabsen gadisnya apakah ada yang terluka.
“Gak papa, Gas,” sahut Chelsea dan Salsa.
Mereka
masih diam menatap ke mana gadis itu pergi, “Udah yuk Gas, ngapain liatin tuh
cewek,” ajak Chelsea sambil menarik lengan Bagas, Bagas hanya diam dengan tetap
memandang punggung gadis tadi.
“Ada
hubungan apa dia sama si kutu buku?” tanya Bella setelah melihat gadis yang
menabraknya mendekati teman sekelasnya di semester 1 dan 2 kemarin.
“Mungkin
adiknya? Mereka mirip banget, cuman si tengil itu lebih putih kulitnya.”
“Kita
sekelas sama dia lagi nggak Beib?” tanya Bagas pada ketiganya.
“Kayaknya
sih gitu Beib, kenapa emangnya? Jangan bilang kamu mau sama dia beib?”
“Dia
bukan tipe kamu kan Beib?”
“Gadis
culun yang ke mana-mana bawa buku, nggak banget.”
Bagas
hanya tersenyum misterius ke arah gadis yang dianggap cupu oleh gadis-gadisnya
itu. Ia rasa ada hubungan keluarga antara teman se-prodinya itu dengan cewek
yang tadi menabraknya.
***
“Tuh
cowok siapa sih Kak? Kok liatin kita kayak mau nerkam!” ucap gadis dengan topi
yang bercorak seragam Tentara. “Siapa?” tanya gadis yang mendekap buku di
dadanya. “Itu yang bareng tiga cewek sekaligus.”
“Itu
namanya Bagas, dia temen satu prodi dengan Kakak,” jawab gadis yang mendekap
buku, gadis berambut lurus sebahu memakai dress selutut berwarna Pink dengan
sepatu high-heels yang ia gunakan cukup membuatnya terlihat feminism.
“Jangan-jangan
dia naksir Kakak! Dengerin Nicole ya Kak, Kakak nggak boleh naksir sama cowok
kayak dia! Aku nggak setuju,” kata Nicole, gadis berambut sebahu. Ia memakai
celana jeans kaos hijau lumut dibalut hem kotak-kotak ala jokowi dan sepatu
kets hitam putih. Terkesan tomboy dan pemberani. Dia gadis yang menabrak Bagas
dan ketiga gadisnya.
“Kalo
cowok kayak kamu?” tanya gadis feminism yang bernama Cindai pada Nicole, mereka
kakak-adik. Umur mereka hanya beda 2 tahun. Nicole terlihat kaget. “Kok cowok
sih Kak? Nicole cewek woy!” sergah Nicole. Tampa menjawab apapun, Cindai
langsung pergi meninggalkan adiknya itu.
“Sialan
si Kakak, masa cantik-cantik begini dibilang cowok!” sungut
Nicole dalam hati, ia menatap punggung Kakaknya sampai hilang di balik
gedung-gedung yang menjulang tinggi sampai lantai 10.
Baru
saja ia menggerakkan kakinya satu langkah tiba-tiba seseorang menepuk bahunya.
“Nic, kita satu kelas loh!” ucap orang itu, Nicole menoleh, didapatinya seorang
lelaki yang lebih tinggi darinya. Lelaki bermata sipit berkulit kuning langsat
khas anak boyband korea. “Rrr, Zidan! Bisa nggak sih lo gak perlu ngagetin
gue?” sungut Nicole kesal.
“Abis
gue seneng satu kelas sama elo Nic,” kata Zidan, ia adalah teman SMA Nicole, ia
juga lelaki pertama yang berani mendekati Nicole dan bisa berteman baik
dengannya. “Gue yang nggak seneng satu kelas sama lo!” ucap Nicole ketus lalu
meninggalkan cowok itu.
“Kok
gitu sih Nic, banyak loh yang pengen sekelas sama gue, tapi gue pengennya
sekelas sama elo,” ucap cowok itu sambil menyamakan langkahnya dengan Nicole.
“Nic,
kita bisa duduk bareng. Lo di samping gue, gue nggak bakal ninggalin lo dengan
milih duduk sama orang lain.”
“Kita
harus cepet Nic, nyari tempat duduk paling depan!”
Ucap
Zidan namun tak ada sahutan dari Nicole. “Nic, abis kelas pertama kita ke
kantin yang deket sama taman utama ya Nic?” ucap Zidan lagi, dan lagi-lagi tak
ada respon dari Nicole. Akhirnya ia memilih diam dan tetap berjalan
berdampingan dengan Nicole. Nicole melirik Zidan, ia tersenyum menang, dalam
hatinya berkata, akhirnya berhenti juga nih anak. Ia memang tak pernah suka
meladeni cowok yang mengajaknya ini itu, ia lebih suka ngobrol dengan teman
cewek yang ia anggap sama dengannya, tomboy.
***
Computer,
kertas, dinding, itu saja yang bisa ia lihat di ruangan ini. Matanya terarah
pada satu bingkai foto yang tergambar dirinya dengan lelaki muda, keduanya
tersenyum lebar di lapangan basket. “Papi kangen kamu boy.” Lirihnya. Sudah 1
minggu ia meninggalkan Bagas—putra tunggalnya demi provesional pekerjaan.
Walaupun 5 kali dalam sehari ia menghubungi anaknya, namun rasa rindu itu tetap
ada. Apalagi jika ia teringat bahwa Bagas tak pernah merasakan pelukan hangat
seorang Ibu, hanya dialah satu-satunya sumber kebahagiaan Bagas. Tak terasa air
matanya turun memabasahi pipi, ia sungguh masuk dalam kesedihan ini.
Tok
tok tok. Suara ketukan pintu dari luar sontak mengagetkan lelaki ini. ia
langsung menghapus air matanya sembari berkata “siapa?”. “Saya Yuri, Pak,”
sahut suara dari luar. Setelah ia rasa dirinya cool seperti sediakala barulah
ia menyuruh Asistennya itu masuk.
“Maaf
Pak Andry, ada tamu ingin bertemu dengan Bapak, sudah menunggu di ruang
tunggu,” ucap Yuri dengan sopan. “Siapa?” “Atas nama Ibu Alyssa, Pak.”
Andry
terlihat lesu, meski di dalam dadanya ada gelora ingin bertemu dengan wanita
itu tapi ia tekan dalam-dalam rasa itu, baginya semua sudah selesai, tak ada
yang perlu dibicarakan. “Bilang, saya sibuk tidak bisa diganggu,” ucap Andry,
sang asisten hanya mengangguk paham lalu keluar dari ruangan.
“Untuk
apa kamu datang lagi Alyssa? Aku tidak akan membiarkanmu menemui Bagas! Tidak
akan.” Ujarnya dalam hati. Sebuah api yang dulu sudah
padam kini muncul ke permukaan, sebuah memori terputar kembali membuatnya
pusing dan kesal.
“Arght!”
STOP
!!!
Siapakah
Alyssa itu? Mengapa Andry tidak mau menemuinya? Masa lalu seperti apa yang
membuat Andry marah? Apa benar Chelsea Bella Salsa adalah pacar Bagas?
Tunggu
selengkapnya di TKP part 2 :* I lope yu rider….
Gimana?
Ditunggu komentar bawelnya ya gengs ;) kalo nggak komen, qween elsa sedih loh
*tuk. Ohiya gue sebenernya bukan PHP-in kalian tiap bikin cerbung ngak pernah
selesai :v bukan begitu :v ,, gue juga pengen nyelesein cerbung2 gue, tapi apa
daya tangan tak mengetik(?) kalo ada waktu senggang? Gue coba2 nyari ide buat
cerpen yang dulu2 dah :”
Yang
tertunda tuh?
Cahaya
dari Alyssa (ngaret setahun)
Lupa
Bawa Nyali
The
Modus
Kakakku
Angel (ngaret hampir 2tahun)
Penulis
macam apa gue ? :”V
#need
kritik yang pedes pake cabe sekilo :D
Komentar
Posting Komentar