PLAYBOY PENSIUN
(Seleksi Cinta Sejati)
Part 2
“OK, lima menit lagi!”
Batin gadis yang duduk di urutan paling
depan dekat dengan meja dosen. Ia menunduk sesekali menatap orang-orang di
sekelilingnya dengan sinis.
“Apa yang mereka bicarakan? Tidak cukup di luar kelas membahas
hal-hal bodoh itu? Kalau aku jadi dosen mereka, akan kuberi mereka tugas yang
banyak!” ia kembali mengutuk teman sekelasnya
yang sedaritadi ramai karena sang dosen belum kunjung datang.
10 menit berlalu begitu saja. Ini sudah lewat dari jadwal yang
tertera pada catatan akademik, gadis itu bangkit dari duduknya lalu menghampiri
lelaki yang tengah bercengkrama dengan para gadis. “Living, Pak Zen di mana?
Udah lewat 10 menit dari jadwal,” tanya gadis itu pada Living sang ketua kelas.
“Santai aja lagi Ndai, kali aja Pak Zen lagi kejebak macet,” jawab
Living santai, ia memandang Cindai dengan wajah penuh senyuman khasnya.
“Coba lo telfon Pak Zen deh, kali aja nggak jadi ngajar.”
“Ciah, Cindai seneng juga kalo dosen nggak masuk?”
“Bukan gitu, kalo emang Pak Zen nggak dateng, aku bisa langsung ke
perpustakaan buat nyari refrensi tugas Dasar-Dasar Manajemen.”
“Itu masih seminggu lagi Ndai.”
“Cepat telfon Living!” Cindai menatap Living geram, membuat Living
mengangkat sisi kanan bibirnya pertanda ngeri dengan perubahan ekspresi Cindai.
Ia segera mengambil handphonenya lalu menelpon sang dosen.
Cindai kembali ke bangkunya, di sana duduk seorang lelaki berkulit
putih dengan jambul menjulang tegak, membuatnya terlihat ke korea-korea-an.
Kata cewek-cewek sih tuh cowok cool abis dan kece parah! Tapi
baginya dia biasa-biasa saja.
Pandangan mereka bertemu, Cindai memandang Bagas, Bagas memandang
Cindai. Cindai seolah meminta penjelasan Bagas untuk apa dia duduk di
bangkunya.
“Silahkan duduk Ndai,” ucap Bagas setelah menyingkir dari bangku
Cindai dan mempersilahkan si pemilik bangku untuk duduk.
“Pak Zen nggak masuk ya Ndai? Gue sedih banget kalo Pak Zen nggak
masuk, mata kuliah favorite gue soalnya,” ucap Bagas sambil senyam-senyum
ke arah Cindai. Cindai hanya memandang tampa ekspresi.
“Sejak kapan kamu peduli sama pelajaran?” jawab Cindai, ia cukup
tau Bagas, ia satu sekolah dengan Bagas sejak SMP. Jadi, dia hapal betul
tindak-tanduk Bagas, walaupun tak semua hal ia ketahui. Yang jelas, Bagas
adalah cowok yang tidak pernah peduli dengan pelajaran.
Diserang begitu membuat Bagas kikuk, rencananya menggombali Cindai
gagal lagi. Sudah terlalu sering gadis itu membuat Bagas gagal menebar
nafas-nafas asmara untuknya, seolah-olah Cindai adalah menara tinggi yang tak
dapat Bagas rengkuh.
“Tapikan, semua orang bisa berubah Ndai, termasuk aku, sekarang
udah perhatian sama pelajaran dan fokus pada kuliah,” jawab Bagas sebisanya.
Tiba-tiba saja ia kehilangan akal untuk menjawab Cindai.
“Beib, ngapain sih deket-deket sama kutu kupret, eh kutu
buku maksud gue,” kata Bella yang mendekat dengan Salsa ke arah Bagas.
“Beib, mau belajar cari muka sama dosen yah? Kok ngomong
sama Cindai sih?” timpal Salsa.
“Bener banget, Cindai kan sering carmuk sama dosen, ckck
orang yang tepat Beib,” Bella lagi.
Bagas memandang kedua gadisnya itu, ia berisyarat supaya mereka
pergi, namun keduanya tak mengubris. Cindai hanya diam, baginya tidak terlalu
penting merespon ucapan Bella dan Salsa yang selalu berkata tidak baik atas
dirinya. Entah apa salahnya pada mereka.
“Pak Zen gak masuk guys! Kita bebas!” teriak Living disambut
riuh senang dari seisi kelas, satu per satu dari mereka meninggalkan kelas.
Wajah mereka diliputi bahagia.
“Ndai, mau kemana?” cegat Bagas saat Cindai hendak pergi.
“Bukan urusan kamu Gas,” jawab Cindai tampa menoleh ke arah Bagas.
Ia langsung pergi begitu saja tampa mempedulikan Bagas yang memandangnya.
***
Gadis ini berjalan sendirian, tujuannya kali ini adalah kantin.
Tempat yang selalu jadi tujuan keduanya jika tak ada latihan anggar, basket
atau karate, ia selalu memakai topi khas laki-laki, ia sangat menggemari apasaja
yang berhubungan dengan laki-laki. Sebagian besar baju kuliahnya adalah baju
laki-laki yang tak ada manis-manisnya jika dipakai perempuan. Ia sadar ia
seorang perempuan, namun seleranya akan aksesoris wanita sangat minim, hampir
tidak tertarik sama sekali.
Lantas, apakah Nicole tidak pernah merasakan indahnya menjadi
seorang perempuan? Tentu saja pernah, ia pernah jatuh cinta pada pelatih muda
saat di club basket SMA-nya. Itu pertama kalinya ia jatuh cinta, hanya saja
tidak sampai ada hubungan special, yang sering disebut ‘pacaran’.
Sebagian besar waktunya digunakan untuk latihan, latihan dan
latihan. Entah itu anggar, basket atau karate. Nicole adalah atlet andalan Safir
High School dalam kejuaraan Olahraga, tak heran jika mahasiswa baru seperti
dirinya bisa langsung menjadi tim inti di bidang olahraga Safir Univercity.
Nicole memang berhak mendapatkan itu.
“Hai Nic,” sapa Zidan yang tiba-tiba muncul di depan Nicole.
Bug!
Pukulan khas anak karate dirasa begitu menyakitkan di pipi Zidan. Ia
pegangi pipinya kemudian lidahnya menelusuri satu persatu deretan giginya takut
ada yang lepas akibat pukulan dari Nicole.
Nicole terkejut. Ia lihat Zidan meringis kesakitan, di sekitar kaki
Zidan banyak nasi berceceran di mana-mana. “Lo ngapain sih Dan?! Lo mau daftar
jadi babu gue? tiap hari bawain gue nasi, lo pikir gue nggak mampu beli makanan
di kantin?” tukas Nicole, tangan kanannya menunjuk ke wajah Zidan.
“Bukan gitu Nic, gue cuman…” ucap Zidan gugup
“Nggak penting banget sih.”
Nicole pergi, selalu saja rasa kesal itu muncul ketika Zidan
menemuinya. Bagi Nicole, Zidan adalah lelaki yang ‘kurang sopan’ saat datang ia
selalu mengejutkannya dan saat pergi selalu tak ada yang tau dia pergi.
Jangan-jangan dia adalah titisan Prabu Siliwangi?
“Nggak penting banget? Gue masakin ini buat lo Nic, kapan kata
‘Nggak’ kamu hapus dan menjadi kalimat yang indah ‘penting banget’,” batin Zidan, ia masih berdiri sambil menatap nanar ke nasi yang
kini menyatu dengan tanah.
****
Tenang, tak ada suara yang timbul dari mulut orang-orang yang
berada di tempat ini, semua orang menunduk memfokuskan pandangannya pada buku
yang mereka pegang. Sama halnya dengan Cindai, ia tengah asik membaca buku
berjudul Planning dan sesekali mengetik sesuatu ke laptopnya.
Usai mengetik ia mencari buku yang ia baca tadi, tak ada di samping
laptopnya. Dan taraa! Buku itu menggantung di depan wajahnya, ia tatap orang di
balik semua ini, Bagas. Lelaki itu tengah tersenyum tampa dosa sambil
mengayun-ayunkan buku di wajah Cindai.
Dengan gerak cepat Cindai merampas buku itu lalu membuka halaman
yang tadi ia baca dan mencoba mengabaikan makhluk aneh di sampingnya.
“Ndai, gue mau ngomong sesuatu,” bisik Bagas di dekat telinga
Cindai.
Cindai diam. Namun Bagas tak kehabisan ide untuk mencuri perhatian
Cindai, ia duduk di meja Cindai sambil mengetuk-ngetuk meja dengan jarinya. Menimbulkan
bunyi yang cukup keras, apalagi di tempat sepi begini.
Cindai mengambil nafas berat, ia lirik orang-orang di
sekelilingnya, mereka menatap sinis ke arahnya. Cindai berdiri, memandang Bagas
dengan pandangan yang sulit untuk diartikan. Ia tutup laptopnya dan
menyimpannya dalam tas lalu pergi begitu saja.
Bagas tersenyum menang, ia ikuti kaki Cindai melangkah hingga
sampai di samping gedung perpustakaan. “Ada apa?” tanya Cindai.
Bagas masih memerkan deretan gigi putih dan wajah yang cukup ceria.
“Lo manis banget sih,” ujarnya.
Mata Cindai melebar, bukan terpesona dengan pujian Bagas. Ia sesali
keadaannya saat ini, ia harus keluar dari perpustakaan hanya untuk mendengar
pengakuan Bagas yang tidak cukup penting untuk di bahas dalam makalahnya.
“Bagas, bisa serius nggak? Banyak tugas yang belum aku kerjakan,
dan kamu hanya mengatakan itu?” sergah Cindai.
“Hanya itu? Emh… gue pengen ngajak lo dinner, nanti malem
jam 8 di caffee Anita. Gimana?”
“Nggak punya waktu!”
“Bagas!” seru kedua perempuan yang berlarian mendekati Bagas.
Salsa dan Bella, mereka langsung merangkul lengan Bagas, Salsa di
lengan kiri dan Bella di lengan kanan. Cindai merasa geli melihat kelakuan dua
temannya ini.
“Lagi ngapain sih Gas sama kutu buku?” tanya Bella sambil
bergelayut manja di bahu Bagas.
“Mending ngantin yuk Gas, bareng gue,” ujar Salsa sembari menarik
lengan Bagas untuk pergi dengannya.
Bella tak mau kalah, ia tarik lebih kencang lengan Bagas ke arahnya.
Dan terjadilah insiden memperebutkan Bagas.
“Hentikan, Salsa, Bella!” bentak Bagas, namun keduanya masih sengit
berduel, sampai-sampai lengan Bagas terasa ngilu.
“Bagas ini milik gue! lo tuh cuman selir doang!” tandas Salsa pada
Bella.
“Gue cuman selir? Hello?! Sejak kapan Bagas jadian sama lo ha?”
lawan Bella.
“Emang belom, tapi liat aja nanti. Lo bakal nangis-nangis karna
Bagas lebih milih gue dari pada elo!”
“Mimpi!”
“Hentikan!!” teriak Bagas dan menghempas tangannya sekuat tenanga
untuk terlepas dari cengkraman gadis-gadisnya.
“Kalian berdua dengerin gue ya, gue bukan milik kalian! Gue masih
jomblo, gue bebas nyari cewek manapun yang gue suka! Kalo kalian masih ingin
bareng sama gue, stop ngerebutin gue! karena sampai kapanpun gue nggak bakalan
milih satu di antara kalian!!” ucap Bagas, kalimatnya begitu lugas dengan emosi
yang meluap-luap.
“Jangan bilang gitu Gas, gue yakin gue bisa bikin lo jatuh cinta
sama gue,” tandas Salsa, air matanya meleleh perlahan.
“Mungkin lo nggak bisa suka sama gue Gas, tapi gue masih ingin sama
lo,” kata Bella lalu tersenyum kearah Bagas.
Bagas pergi meninggalkan kedua gadis yang selama ini selalu
mengikutinya ke mana-mana. Bahkan ia tidak peduli pada air mata Salsa yang
jatuh gara-gara perkataannya. Ia tidak sadar bahwa ia sudah menggores luka di
hati kedua gadis itu.
****
Langit malam itu memamerkan berjuta gugusan bintang yang memanjakan
mata siapapun yang melihatnya. Kedua insan manusia tengah menikmati hamparan
langit pada malam itu. Mereka duduk di teras rumah dengan secangkir kopi susu
hangat di tangan mereka.
“Gue udah males banget sama Salsa, Bella, Chels!” ucap lelaki yang
duduk membelakangi seorang gadis berambut panjang sepinggang, mereka
bersenderan.
“Mereka berantem lagi?” tanya Chelsea, gadis yang bersama Bagas.
“Iya, gue pengen banget mereka pergi dari hidup gue, mereka tuh
ngerasa kalo gue tuh milik mereka, mereka nggak tau aja berapa cewek yang deket
sama gue selain mereka!”
“Nggak nyesel kehilangan Salsa, Bella?”
“Gue pasti bahagia, asal bukan lo yang ninggalin gue.”
Chelsea berdiri lalu berjalan mendekati pot bunga besar yang ada di
samping pilar kokoh berwarna putih.
“Gue nggak bakal ninggalin lo Gas. Gue takut lo yang bakal
ninggalin gue!” ucap Chelsea
dalam hati. Sorot matanya lurus tertuju pada bunga mawar merah yang tumbuh di
dalam pot itu.
“Kok diem sih? Chels, you OK?”
“Gas, mau sampai kapan kamu mainin anak orang? Kamu nggak sadar
kalo kamu PHP-in mereka, kalo mereka jatuh hati sama kamu? Terus nggak mau pisah
sama kamu gimana?”
“Ya, ini emang salah gue sih. Salah kegantengan gue dan salah Papi
gue yang menurunkan ketampanannya buat gue, ya kan Chels?”
Chelsea tersenyum miring, ia sangat paham dengan sikap Bagas yang
tak pernah serius. Sikap seperti itu yang membuatnya susah mengubah sikap
Bagas.
“Dengerin ya Gas, gue emang nggak tau kenapa lo bersikap sebegini
kejam sama perempuan, harusnya lo bisa mikir mana yang baik dan buruk, lo
pernah denger nggak kalo perasaan perempuan itu sangat sensitive, sekali aja lo
ngelukai mereka, nggak akan pernah mereka lupain Gas.”
“Kalo gue sebegitu mengerikannya buat mereka, kenapa masih banyak
cewek-cewek yang mau sama gue? termasuk lo, kenapa lo mau jadi sahabat seorang
playboy kayak gue?”
Chelsea bungkam, ia palingkan pandangannya dari Bagas. Ia mencerna
kembali kalimat Bagas, mengapa dia mau berteman dengan playboy seperti Bagas?
Padahal dia sangat tau betapa ‘nakal’nya seorang Bagas. Mantan pacarnya saja
ada di mana-mana, bisa jadi seluruh gadis-gadis seangkatan dan adik tingkat
kenal Bagas karena pernah menjalin hubungan special dengannya.
“Udah malem, gue masuk dulu,” ucap Chelsea, sembari masuk dan
menutup pintu rumahnya.
Bagas menaikkan satu alisnya, ia bingung dengan Chelsea yang
tiba-tiba pergi. Biasanya mereka berbincang dalam waktu yang lama, ia lirik jam
tangannya masih menunjuk jam 8 malam. “Aneh,” desisnya.
STOP!!!
Emh… seperti apa ya rasa sakit yang dialami Salsa? Kayaknya Bella
tetap tegar tuh, ada apa dengan sikap aneh Chelsea?
Tunggu selengkapnya di TKP 3 :*
I loves you ders, :*
Jangan lupa tinggalkan jejak petualang(?) ;) kunjungi juga my blog
mutiariyuyun.blogspot.com ada editan foto icil juga loh :’v
LINK 2 https://www.facebook.com/notes/yuvinaz/playboy-pensiun-seleksi-cinta-sejati-part-2/1629754560646882
Komentar
Posting Komentar