Dia (Milikku)
Duniaku seakan terbagi,
ada seseorang yang menyerupai diriku—dia yang selalu mengerti maksud hati ingin
kemana. Bersamanya aku tenang, tak peduli aral melintang aku dan dia cukup
berpegang tangan—kesusahan pun hilang. Kusebut dia sahabat, karena selalu ada
dalam dua sisi hidupku, ketika kuberada di bawah dan patah dia ada dengan
segenap obat penenang. Ketika kuterbang dengan bangganya, ia ada dan terus
mendorongku lebih jauh memetik bintang.
Namanya Chelsea, orang
bilang kita seperti terkena lem super, kemana-mana selalu berdua. Hidup dengan
Chelsea begini sangat menyenangkan, aku menceritakan banyak hal padanya
termasuk urusan asmara.
“Noh, Prince Charming
lu,” ujar Chelsea menunjuk dengan dagunya.
Aku melihat ke arah
pandangnya, benar-benar muncul makhluk luar biasa yang bisa mengendalikan
control emosiku. Mataku tak mau lepas darinya, hingga kusadari dia melangkah
mendekat ke tempatku duduk. Aku mulai kehilangan konsentrasi. Kuputuskan untuk
menundukkan pandangan.
Namaku Cindai Lagio, bisa
dibilang pengangum rahasia Bagas. panggilan sayangku untuknya, Prince
Charming karena dia sungguh-sungguh seperti pangeran yang gagah, tampan dan
berwibawa. Aku selalu merasakan hal aneh ketika melihat Bagas, merasakan
dentuman keras bergejolak di relung dada terdalam, dan seketika panas-dingin
bergantian menggerogoti pertahanan tubuhku—Hanya ketika melihat Bagas aku
merasakan hal-hal aneh dan kusebut itu cinta.
“Kok malah nunduk sih?
Kesempatan buat ngobrol sama Bagas, Ndai,” ucap Chelsea sembari menatap kesal
padaku.
“Kalo aku bisa juga bakal
aku ajak ngobrol, Chels! Masalahnya dia tuh Bagas, loh, Prince Charming,
dan lidahku kelu saat ingin menyapanya,” jawabku.
“Ah sok puitis lu,”
sungut Chelsea.
“Kalo gitu sapain dong,
kali aja dia mau duduk di sini?”
“OK, tapi jangan salahin
aku kalo dia suka sama aku, haha.”
“Emangnya suka sama orang
segampang itu? lagian aku nyuruh kamu nyapa bukan ngegoda.”
Kami sama-sama tersenyum,
Chelsea mulai mencari Bagas. Bagas lagi-lagi mendekati meja kami, kebetulan
yang sangat manis.
“Bagas! Mau kemana?
Gabung yuk, bell masuk masih lama lagi,” ujar Chelsea, dia tersenyum ramah pada
Bagas.
Bagas melirik kanan-kiri,
mungkin dia heran tiba-tiba Chelsea menyapanya, karena memang seorang Bagas
jarang berbicara dengan anak perempuan, kecuali pada Marsha si wakil ketua
kelas. Kurasa dengan malas hati Bagas duduk di depan Chelsea. Wajahnya masih
tetap kaku.
“Gas, kamu sombong banget
sih. Kitakan satu kelas, tapi kamu gak pernah nyapa kita. Iakan, Ndai?” kata
Chelsea, aku tak menyangka Chelsea akan se-to the point ini.
Kulihat ekspresi Bagas,
dia Nampak kaget mendengar penuturan blak-blakan Chelsea. Namun perlahan
airwajahnya berubah.
“Aku hanya malu untuk
menyapa kalian, aku tidak bisa berbaur dengan perempuan,” jawabnya.
Mendengar jawaban itu aku
mulai mempercayai statement Salma yang mengatakan bahwa Bagas tidak
pernah pacaran sebelumnya. Aku tersenyum tipis, Bagas semakin masuk kategori
lelaki idamanku.
“Rumah kamu di mana sih,
Gas?”
“Jalan Trunojoyo gang empat,
Chels.”
Keduanya ngobrol ngalor-ngidul,
dan perlahan-lahan mencairkan aura beku pada wajah Bagas. Ia lebih banyak
tersenyum dari pada memasang wajah kaku. Aku menyukai perubahan itu, akhirnya
aku bisa melihat sisi lain dari sifat dingin seorang Bagas. Walaupun saat ini
aku tak bicara sepatah kata pun, aku cukup senang duduk sedekat ini dengan
Bagas, biasanya aku hanya melihat dari jauh. Berkat Chelsea aku bisa melihat
Bagas dari dekat.
Sejak saat itu, Bagas tak
pernah absen menyapa, tersenyum dan bersenda tawa dengan Chelsea. Perlu digaris
bawahi, Hanya dengan Chelsea. Dan Chelsea tampak menikmati kebersamaan
itu, tertawa bebas dengan Bagas, berandai-andai dengan Bagas, membuat lelucon
dengan Bagas, itu bisa dilakukan Chelsea dengan mudahnya. Aku bahkan tidak
punya ruang untuk menyapanya, apalagi ikut cair dalam gelak tawa buatan mereka.
“Seneng banget ya, bisa
tertawa sama Bagas,” ujarku mulai agak sinis.
“Iya, eh Ndai, aku gak
nyangka Bagas se-gokil itu,”
“Jadi kamu suka sama
Bagas?”
“Apaan sih? Eh Bagas itu
bukan tipe aku, aku gak suka cowok kurus kayak dia, aku lebih suka cowok yang
tinggi dan berisi, mamaku juga gak bakalan suka liat Bagas yang cungkring
begitu.”
“Tapi gimana kalo Bagas
yang suka sama kamu?”
“Oh jelas dong, siapa sih
yang gak tertarik sama Chelsea?”
“Eh serius, gimana kalo
si Bagas suka sama kamu?”
“Ow, nanti kita bakal
jadian dan kamu pasti sakit hati.”
“Dan aku gak bakalan
nyapa kamu lagi.”
“Yaelah, Ndai baper
banget dah, aku juga tau diri kali gak bakal ngambil gebetan temen, udah santai
aja. Kita cuman berteman kok.”
Aku selalu percaya pada
ucapan Chelsea, walaupun ia suka menggodaku tapi ia tak pernah menjilat omongan
yang serius. Lagi pula aku dan Chelsea tidak akan pernah saling menusuk, tidak
akan pernah.
******
Ada satu ketika dimana
hati harus berperang dengan dirinya sendiri, meniadakan yang ada memunculkan
yang tak ada. Ada satu ketika di mana airmata dilarang meleleh dan bibir
dipaksa merekah. Ketika itulah kebohongan muncul untuk menutupi kebohongan
lainnya. Merenung sudah terlalu sering, meratap hampir saja tak penting, kini
tinggal pasrahkan segalanya pada sang pemegang hati.
Bagas sama Chelsea
taken yah? Mereka emang cocok sih, yang satu manis yang satu tampan.
Bisik-bisik itu akhirnya
sampai juga di telingaku. Firasat yang selama ini mengganggu akhirnya
benar-benar menusuk dan membuatku terpuruk. Namun masih kutepis semua kabar
miring itu karena aku lebih percaya pada Chelsea. Aku butuh pengakuan dari
Chelsea langsung.
Aku melihat Chelsea yang
berbeda, Chelsea yang mengatakan tak punya rahasia dariku, kini mulai membuat
batas denganku. Chelsea yang biasanya terang-terangan ketika chatting
dengan seseorang kini menyembunyikan semua dariku. Dengan sikap seperti ini
saja aku sudah paham.
Pertanyaan besar muncul
begitu saja menguasai kepalaku, kapan mereka mulai dekat? Kapan proses
pendekatan itu berlangsung? Mereka bertemu tanpa sepengetahuanku? Mereka
membuat janji satu sama lain? hingga akhirnya benih cinta itu muncul di antara
mereka.
“Chels, nanti pulang
bareng siapa?” tanya Rafli teman yang rumahnya searah dengan Chelsea.
“Ada sama orang,” jawab
Chelsea.
Mendengar jawaban itu
saja, sudah membuat desiran panas muncul di balik hati.
“Siapa sih, Chels?” desak
Rafli.
“Ada pokoknya, Raf.”
“Siapa Chels? Bagas?”
sergahku untuk memastikan kekhawatiranku adalah benar.
Chelsea mengangguk. Aku
tersenyum pada Rafli, Rafli siap-siap menggoda Chelsea yang hendak pulang
sekolah dengan Bagas.
“Oh jadi sekarang sama
Bagas? Ciye ada pasangan baru nih, PJ kali,” goda Rafli dengan riangnya.
“Mereka cocok kan, ndai?” tanya Rafli kemudian.
Aku hanya mengangguk
pasrah dengan senyum tipis untuk menutupi gelisah yang mulai menyala. Separuh
hatiku terkoyak.
******
“Chels, kamu
sungguh-sungguh pacaran dengan Bagas?” aku memberanikan diri bertanya pada
Chelsea.
“Kita gak pacaran, Ndai,
sungguh,” jawab Chelsea.
“Pacaran itu cuman
status, status kalian memang tidak pacaran, tapi kegiatan kalian layaknya orang
pacaran, lalu apa bedanya?”
“Yang jelas kita gak pacaran,
kita cuman ngejalanin apa adanya aja, aku tau kamu sakit hati, aku salah Ndai,
aku rela jika kamu memang mau berubah padaku.”
“Tapi aku harap kamu gak
berubah,” lirihnya lagi.
“Aku juga tidak tau
hendak seperti apa, Chels. Sebisa mungkin aku akan tetap seperti ini.”
Kalimat itu benar-benar
menusukku, bahkan setelah tau aku sakit karenanya, dia tak berbuat apa-apa
untuk menyembuhkan lukaku, ia hanya pasrah jika aku hendak melepasnya. Ia lebih
suka melepas tanganku dari pada melepas genggaman tangan Bagas. Tali
persahabatan kami tergadaikan.
Aku yang pertama
menyukainya, aku yang mengisahkan seorang Bagas padanya, namun dengan
keterbatasanku aku tak mampu menyapa Bagas, aku tak mampu berterus terang
tentang perasaanku. Aku kalah dengan dia yang mampu berbicara, yang mampu
tersenyum dengan manisnya, dia dengan sejuta pesona dengan mudahnya menjerat
hati prince charming-ku. Dia, sahabatku.
*******
Ucapan Chelsea kembali
terngiang di telingaku, pengakuan bahwa ia tidak akan merebut orang yang
kusayang, pengakuan bahwa Bagas bukan tipe-nya kini menjadi omong kosong saja.
Aku masih di dalam kelas, selera makanku hilang beberapa hari ini, aku tak
mengindahkan ajakan teman-teman untuk sekedar mengisi perut di kantin, aku
lebih memilih sendirian menenangkan pikiran yang lesu.
Terasa ada yang bergetar
dari kolong meja, kulihat handphone Chelsea menyala, ada Line masuk. Kulirik
handphone itu, rasa ingin tau menjalar menggelitik pikiranku untuk melihat dari
siapa pesan itu.
Bagas Ran Jangan lupa
makan yang bikin kenyang, jangan cuman ngemil, Dinda.
Kalimat itu terpampang di
layar handphone Chelsea. Dia bilang apa? Dinda? Kubaca seluruh pesan yang ada
di Linenya, sangat mengagetkan, sangat mencengangkan. Dalam kurun waktu tidak
sampai satu minggu mereka sudah sedekat ini, bahkan tak canggung membuat emoticon
hug, kiss pada chat. Hubungan mereka benar-benar serius.
Yang paling kusesali dari Chelsea, ia seperti tak merasa bersalah padaku. Ia
seperti tak pernah memiliki sahabat yang menyukai Bagas hampir setengah mati.
Dinda dan Kanda, sungguh romantic kisah mereka.
“Cindai!” suara itu
menggema ketika kelas kosong.
Chelsea datang dengan
tergopoh-gopoh melihatku memegang handphone-nya. Wajahnya panic, ia merenggut
paksa handphone itu.
“Kamu gak boleh nyentuh
barang orang sembarangan!” seru Chelsea.
“Sejak kapan ada aturan
seperti itu di antara kita? Sejak kamu dekat dengan Bagas?” ketusku.
Tak perlu mendengar
penjelasan Chelsea, aku langsung pergi. Ingin sekali aku mengirim Chelsea ke
Pluto, sungguh aku tak ingin melihat wajahnya.
Jelas sudah semuanya.
Kumunculkan satu tanya pada diriku sendiri, apa yang akan kulakukan setelah
mengetahui ini? menghindari Chelsea? Mengutuk Bagas dengan sumpah serapah?
Membuat Chelsea menyesali perbuatannya? untuk saat ini harus ku-control
semuanya. Aku tidak akan berbuat konyol dan gegabah. Semua masih bisa
dipikirkan dengan kepala dingin, dan hati yang tenang. Ini bukan akhir dari
segalanya, keep calm, Cindai.
******
Sekeras apapun aku
perfikir jawabannya tetap sama, aku kesal pada kedua orang itu. aku kecewa pada
Chelsea, orang yang kusangka sangat mengerti diriku ternyata ialah orang yang menghianatiku
dan merendahkan perasaanku. Aku tak lagi suka melihat Bagas, dulu wajahnya
seakan bunga yang menebarkan aroma-aroma bahagia ketika melihat saja, sekarang?
Ia tak lebih dari duri yang menusuk-nusuk ketika aku melihatnya saja.
Pagi yang cukup cerah
untuk hatiku yang mendung, sedikit memberi kehangatan dan kecerian. Aku sedikit
semangat mengawali hari sebelum kulihat dua orang tengah berbicang dengan riang
di pojok kelas, seakan merenda kasih tak bisa terpisahkan. Pagiku yang cerah
didatangi kabut hitam pekat.
Bagas dan Chelsea duduk
berdua di pojok ruangan, walau banyak siswa lain tak membuat mereka jera memadu
asmara. Aku harus bagaimana? Menghentikan perasaan tak semudah membalikkan
telapak tangan.
“Setega itukah Chelsea
padaku? Sedangkal itukah persahabatan ini sampai dia tak melihat perasaanku?
Teganya dia melakukan ini padaku!” aku terbakar kemarahan. Kali ini semua tak
terkendali, perasaan benci itu muncul dan mendesak diluapkan.
Sebelum amarah itu
benar-benar meledak dan membuat keributan di kelas yang mulai ramai, kuambil
headset kusambungkan dengan handphone dan mulai terdengar suara penyiar radio
yang mendayu-dayu.
Baiklah para pendengar
setia radio Badai static 280,0 FM dimanapun kalian berada, sekarang princess
akan menyuguhkan sebuah lagu yang mengisahkan cinta segitiga yang melibatkan
sahabatnya, emh… pasti bakal ada yang nyesek minta ampun nih, yaudah yuks
langsung aja, selamat menikmati. Yura Yunita Feat Glenn Fredly Cinta dan
Rahasia.
Suara penyiar yang
menyebut dirinya Princess itu menghilang seiring kemunculan music
bernada sendu, aku memasang telinga dengan ogah-ogahan rasanya lagu ini akan
memprovokasiku dengan Chelsea.
Lagu perlahan terdengar.
Terakhir
ku tatap mata indahmu
Di bawah
bintang-bintang
Terbelah
hatiku
Antara
cinta dan Rahasia
Kucinta
padamu namun
Kau milik
sahabatku
Dilema
hatiku
Andai
kubisa berkata sejujurnya
Jangan kau
pilih dia
Pilihlah
aku
Yang mampu
mencintamu lebih dari dia
Bukan ku
ingin merebutmu dari sahabatku
Namun kau
tau
Cinta tak
bisa
Tak bisa
kau salahkan
Satu kalimat dalam lirik
lagu itu sedikit menamparku ‘Cinta tak bisa kau salahkan’. Lantas? Aku salah membenci
Chelsea? Benarkah bahwa yang egois di sini adalah aku? Aku membenarkan lirik
itu, tapi tetap saja aku tidak bisa menerima jika Chelsea merebut pujaan
hatiku.
Aku lelah berputar dalam
masalah ini, aku tidak tau lagi harus berbuat apa.
Aku bisa apa ketika dua
orang yang kusayangi bersatu mengenyampingkan diriku? Aku bisa apa untuk
memperjuangkan kasih putih ini untuknya? Aku bisa apa ketika nama yang
kupelihara dalam doa diam-diam memelihara nama lain dalam doanya? Aku hanya
orang pesakitan cinta yang tak bertuan, aku hanya gadis yang menanti cinta
bukan dinanti cinta. Aku mulai sadar bahwa aku bukan apa-apa di hadapan Bagas,
bahkan ia tak pernah melirikku barang sedetik.
Sekarang aku tahu
segalanya, apa yang menjadi bahagia sahabatku dan apa yang menjadi bahagia prince
charming-ku. Aku hanya bisa merelakan semuanya, merelakan cintaku
berbahagia dengan cinta yang lain. karena cinta tak bisa disalahkan.
Sebuah pesan masuk
membuyarkan lamunanku tentang lirik lagu itu. kutatap layar handphone muncul
nama Chelsea, dengan malas kubuka pesan darinya.
“Ndai, aku tau
sakitnya dirimu. Setelah dipikir-pikir akulah yang salah, maafin aku, Ndai.”
Kalimat itu muncul
sebagai pesan teks dari Chelsea. Aku membacanya dengan gemetar, tak menyangka
persahabatan yang kita pupuk dengan cinta berakhir dengan memperebutkan satu
cinta.
“Kamu gak salah,
Chels. Bagas milikmu, Prince Charming tetap milikku. Dia milikku, Chels. Prince
Charming, bukan Bagas.”
Kalimat itu kusampaikan
pada Chelsea dengan hati yang ditabah-tabahkan, dengan airmata yang dipaksa
menetap dan tak boleh keluar. Dengan persahabatan penuh duka kumencoba memahami
situasi ini, membesarkan hati bahwa Bagas bukanlah lelaki yang baik untukku.
Membesarkan hati bahwa Chelsea tetaplah sahabat terbaikku walau dengan rasa
sakit yang menjerit-jerit aku mempertahankan persahabatan ini. aku mengalah
demi mereka yang kusayangi, biarlah aku yang memikul duka seorang diri.
.
.
.
.
END~
Gimana-gimana??? Gak kecewakan?? :D
Inikan Cindai POV, rencananya mau
bikin Chelsea POV dan Bagas POV. Biar megupas tuntas seperti apa perihnya cinta
segitiga itu tapi sayangnya tugas kuliah gue gak bisa dinomor duakan :” .
Walaupun terkesan mainstream tapi
cinta segitiga itu sangat menyakitkan loh, dan gak bisa diremehkan. Orang yang
berada dalam garis cinta segitiga perlu diapresiasi bisa jadi dia sebagai
pesakitan cinta atau dia berada digaris beruntung bisa memiliki cinta, tapi
dilain sisi ia juga sakit melihat sahabatnya terluka karena dirinya. yang punya
garis cinta segitiga dengan sahabatnya, pasti setuju bahwa cinta segitiga itu
menyakitkan, sangat menyakitkan. ;)
.
Ditunggu komentarnya, guys!! ^_^
Jangan lupa mampir-mampir di blog gue
mutiariyuyun.blogspot.com disuguhkan aneka cerpen dan editan foto anak ICIL loh.
Twitter @YuyunShovia wattpad @YuyunShovianaIR.
INI CUMA FIKSI LOH YA!!!
http://nalurerenewws.blogspot.com/2018/08/taipanqq-bahaya-bila-area-kewanitaan.html
BalasHapusTaipanbiru
TAIPANBIRU . COM | QQTAIPAN .NET | ASIATAIPAN . COM |
-KARTU BOLEH BANDING, SERVICE JANGAN TANDING !-
Jangan Menunda Kemenangan Bermain Anda ! Segera Daftarkan User ID terbaik nya & Mainkan Kartu Bagusnya.
Dengan minimal Deposit hanya Rp 20.000,-
1 user ID sudah bisa bermain 8 Permainan.
• BandarQ
• AduQ
• Capsasusun
• Domino99
• Poker
• BandarPoker
• Sakong
• Bandar66
Kami juga akan memudahkan anda untuk pembuatan ID dengan registrasi secara gratis.
Untuk proses DEPO & WITHDRAW langsung ditangani oleh
customer service kami yang profesional dan ramah.
NO SYSTEM ROBOT!!! 100 % PLAYER Vs PLAYER
Anda Juga Dapat Memainkannya Via Android / IPhone / IPad
Untuk info lebih jelas silahkan hubungi CS kami-Online 24jam !!
• WA: +62 813 8217 0873
• BB : E314EED5
Daftar taipanqq
Taipanqq
taipanqq.com
Agen BandarQ
Kartu Online
Taipan1945
Judi Online
AgenSakong