Bab
1
Bismillah,
Dunia Baru
Semburat
jingga menguasai ufuk timur bumi pertiwi. Kilau itu perlahan demi perlahan
semakin terang menembus titik-titik awan, menyapa daun-daun yang menggigil oleh
embun dini yang dingin. Memberi sedikit harapan hidup dengan hangat yang
perlahan membalut mahkluk bumi.
Suasana
kampung halaman yang sejuk dan penuh kehangatan keluarga—selalu menjadi daya
tarik tersendiri bagi sanak keluarga yang jauh dari tanah kelahiran. Jauh dari
orang-orang penuh jasa di masa lalu hingga dia sebesar ini.
Alyssa.
Gadis enam belas tahun ini sedang merenung di atas kasur yang telah lama dia
tinggalkan. Kasur yang hanya dia pakai ketika libur hari Raya. Sesuatu yang
agak asing, walau pun rutin setiap tahun dia kunjungi tempat ini, tetap saja
kalah nyaman dengan tempat yang menjadi kesehariannya.
Penjemputan
paksa atas dirinya dari Pondok Pesantren yang memberi segudang ilmu agama, membuat
kesal bukan kepalang. Dia sudah merasa nyaman di sana. Enam belas tahun tinggal
di lingkungan pesantren membuatnya enggan beranjak dan selalu ingin berada di
lingkungan hangat dan religious itu. Walaupun tidak dipungkiri ada rasa rindu
yang mendalam pada Ummi dan Kakaknya. Tapi, selalu terkalahkan dengan ilmu-ilmu
yang ditawarkan di Pesantren. Ilmu agama, ilmu alam bahkan ilmu hukum. Alyssa
adalah orang yang haus akan ilmu-ilmu itu.
“Masih
ingin mengkaji kitab! Masih ingin belajar bareng kalian,” lirih Alyssa dengan linangan air mata, tangannya memegangi
bingkai foto yang menggambarkan banyak gadis berkerudung merapat pada satu
wanita berseragam pegawai negeri, kenang-kenangan
ketika di Pesantren. Dielusnya foto itu penuh sayang.
Seorang
wanita memasuki kamar ia Ibunda Alyssa. Raut wajahnya terlihat suram mendapati wajah putri bungsunya meredup memendam tangis.
“Masih
ingat teman di Pesantren?” tanya Ummi Alyssa, Ummi menempatkan dirinya duduk di
samping Alyssa. Ia elus lembut pucuk kepala anaknya yang tertutup kerudung
panjang menjuntai sampai pinggang.
“Iya,
Mi.” Alyssa memandang Umminya sendu. Ia berusaha keras menghentikan laju
airmata yang turun begitu derasnya.
“Ikhlaskan
ya, sayang? Nanti Alyssa bakal dapat teman baru yang nggak kalah baik dari
teman-teman pesantren kok.”
“Bukan
hanya itu, Ummi. Alyssa masih ingin mengkaji kitab, masih banyak yang belum Alyssa
pahami tentang Islam. Mengapa harus diputus kegiatan positif Alyssa, Mi?” serang
Alyssa, sungguh sampai sekarang dia belum bisa menerima keputusan ini.
Alyssa mengungkapkan semua uneg-uneg yang ada
di kepalanya karena dia tahu umminya pasti menanggapi dengan kepala dingin.
Walau sedikit tersentak dengan ucapan Alyssa tadi tapi, Ummi mampu mengontrol
semua. Ia tahu betul cara menenangkan anak-anaknya.
“Alyssa.
Bukan maksud Ummi memutus kegiatan beragamu, nak. Sungguh, di luar Pesantren
juga bisakan mengkaji kitab? Bisa juga berbuat positif di luar Pesantren,
bukan? Sangat bisa! Bukankah Alyssa dulu pernah bilang ingin hidup di luar Pesantren?”
“Itu
dulu saat Alyssa masih suka bermain dari pada belajar. Sekarang Alyssa mau
tinggal di Pesantren, Lyssa nggak mau di pindah, Mi! Alyssa masih ingin
mendekatkan diri pada Allah!” Alyssa masih merajuk, setiap kata dari seseorang
yang membelanya untuk pindah sekolah selalu salah.
“Alyssa,
di luar sana juga bisa mendekatkan diri pada Allah, Lyssa tau Ustad Felix Siauw?
Beliau siapa? Mualaf yang dapat hidayah dari Allah, sekarang jadi pendakwah!
Kegiatannya selalu positif, bukan? Allah kan Mahatahu sayang, yang penting hati
dan niatnya benar, insyaallah berkah sayang. Ummi yakin di sini Lyssa
masih bisa disayang Allah, nak,” ucap Ummi. Jelas tidak benar hanya di Pesantren
saja yang bisa meraih Ridho Allah dan mendekatkan diri pada-Nya. Di luar sana
pun bisa. Asal ada niat dan kemauan yang kuat.
Alyssa
mencerna kata-kata Ummi.
“Maafkan
ketidaktahuan Alyssa, Mi. Lyssa hanya ingin belajar di Pesantren,” jawab Alyssa
hatinya mulai positif pada dunia luar.
“Dengan
ilmu yang Alyssa dapat dari Pesantren, bisa Lyssa sampaikan pada teman-teman.
Itukan lebih bermanfaat, nak? Sekalian amar ma'ruf nahi mungkar.”
Alyssa
menunduk. Dia cerna betul kalimat terakhir umminya. Benar sekali, Ibadah tidak
hanya bersujud dan bertahmid, kewajiban lain sebagai muslim ialah saling
mengingatkan akan kebaikan. Dan menyeimbangkan antara habluminallah, dan
habluminannas.
Habluminallah
merupakan hubungan yang harus dibangun antara manusia dengan sang penciptanya.
Hubungan manusia dengan Allah—seperti melaksanakan solat, berzikir, berdoa,
puasa, membaca Al-Quran dan segala aktivitas yang menghubungkan individu secara
vertikal dengan Allah swt.
Sedangkan
Habluminannas ialah hubungan baik yang harus dibangun antara manusia
dengan manusia lain, seperti tolong-menolong, tidak berkata kasar, saling
menyayangi, namun terkadang manusia salah memaknai Habluminannas. Mereka
berbondong-bondong membuat hubungan baik antara laki-laki dan perempuan tanpa
melihat dahulu aturan sebenarnya tentang hubungan antar lawan jenis. Banyak di antara
mereka yang menjalin kasih sayang dengan non-mahrom berlindung pada kalimat Habluminannas.
Tidak sesempit itu penjabaran tentang hubungan yang satu ini.
“Memangnya
Alyssa nggak kangen sama Ummi dan Mas Bisma?” lirih Ummi sambil memandangi
kedua manic mata putrinya.
Alyssa
tersenyum sendu. “Kangen, Mi.” alyssa memeluk Ummi lebih erat lagi. Dua rindu
itu mengganggu pikirannya. Rindu pesantren dan rindu kehangatan Ummi yang kini
bersamanya. Dia ingin pulang ke pesantren namun rindu, akan tempat ini juga
mendera. Ada Ummi dan Mas Bisma yang juga masuk dalam orang-orang yang dia
cintai.
Baru
aku sadari kepekaanku terhadap dunia ini sangat kecil. Engkau yang menciptakan berbagai
makhluk dan keadaan tak aku syukuri aku pandang sebelah mata bertambah sudah
butir dosa ini kian menumpuk menjadi gunung dosa. Dengan apa kumengurangi dosa
ini? dengan tasbih Kau ampuni yang terkecil.
©©©©
Seragam
baru, buku pelajaran cenderung ilmiah dari pada religius islamiyah. Tempat yang
sangat berbeda dengan Pesantren. Di sini semua berbaur lelaki dan perempuan berada
dalam satu gedung, tak ada tirai pemisah di antara mereka. Ini hari pertama
Alyssa datang ke sekolah barunya, ia
kembali gusar dengan keadaan seperti ini, hatinya tak terima berada di sini. Ia
amati keliling sekolah yang terlihat adalah perempuan dengan lelaki yang ber-ikhtilat
mereka tertawa gembira tanpa beban. Alyssa diantar oleh kakaknya yang biasa ia
panggil Mas Bisma. Mas Bisma menangkap keraguan pada langkah Alyssa.
“Kenapa?
Masih ragu?” tanya Mas Bisma. Ia berhenti melangkah lalu memandang adik
kecilnya itu dengan tatapan penuh kasih.
“Mereka...,
tidak seperti Pesantren,” lirih Alyssa lemas, wajahnya murung dia tak bisa
membayangkan bagaimana nanti dirinya saat berbaur dengan teman baru.
“Alyssa,
ini sekolah umum bukan Pesantren! Jadi wajar mereka begitu karena tak ada yang
memisah mereka,” jawab Mas bisma.
“Islam
yang memisah mereka, Mas!”
“Tapi
sistem di sekolah ini bukan seperti Pesantren, Lyssa. Di sini mengagungkan
kebebasan.”
“Bukankah
di sini ada guru agama? Kemana mereka?”
“Tentu
ada, tapi mereka bisa apa? Mereka hanya seorang guru? Mereka tentu
memprioritaskan sistem yang berlaku di sekolah ini. Sistem itu kuat dan
mengikat! Mau tidak mau harus diikuti, bukankah boleh ber-ikhtilat saat
jual beli, pengobatan, pendidikan?”
“—Positive
thinking dengan ini, Alyssa. bismillah, dunia baru ada dihadapanmu,” lanjut
Mas Bisma, ia cukup gregetan atas pertanyaan adiknya, kepolosan Alyssa tidak
cocok dengan tempat ini. Tapi apa boleh buat? Semua sudah terjadi, harapannya
kini semoga Alyssa bisa bergaul dengan teman barunya.
Alyssa
diam mengkaji dengan cermat kata-kata kakaknya tadi, untuk saat ini ia
membenarkan ucapan kakaknya. Ia selalu kalah berdebat dengan orang dewasa,
mungkin pemikirannya belum sempurna dan informasi yang masuk tak bisa
mengimbangi pikiran Kakaknya.
©©©©
Kakak
beradik ini tiba di ruang kelas bertuliskan XI IPA 1, mereka di temani wali
kelas. Alyssa mengamati ruang kelas barunya, tak ada yang menarik. Lebih-lebih dia
khawatir dengan keadaan yang campur baur antara siswa laki-laki dengan
perempuan. Alyssa duduk di barisan paling pinggir lurus dengan meja guru.
Wali
kelas dan Mas Bisma meninggalkan Alyssa di kelas dan berbincang di luar kelas. Dia
kembali teringat suasana kelas di Pesantren tak seperti ini, semua santri perempuan,
guru masuk mengenakan jilbab dan kerudung. Tidak seperti di sini, guru masuk
menggunakan konde kecil di kepalanya. Hanya segelintir saja yang memakai
kerudung.
Suara
dari samping telinga membuyarkan lamunan Alyssa, memaksanya sadar bahwa di sinilah
tempat ia menuntut ilmu, di SMA Safir.
“Hai!
Kamu anak baru, ya? Kenalin deh, namaku Via Sabella, Panggil Via aja,” ucap
seorang gadis manis yang kini duduk di sebelah bangkunya. Gadis ini terlihat chubby
dengan pipi yang tebal, rambut di gerai, hanya saja bagian samping kanan dan
kiri diikat kebelakang hingga tak ada rambut jatuh ke depan wajahnya.
Gadis
itu menjulurkan tangannya. Alyssa menjabat tangan Via seraya berucap, “Aku Alyssa.”
“Kamu
nggak perlu malu-malu, kita kan udah jadi teman sebangku.” Via berceloteh
dengan riang.
Alyssa
tak membalas ucapan Via, hanya membalas dengan senyum simpul. Dia berkesimpulan
bahwa Via adalah gadis yang mudah bergaul pasti dia periang tak mudah bersedih,
Alyssa cukup senang berkenalan dengan Via, setidaknya ada satu nama yang bisa
dicari saat butuh pertolongan.
“Pindahan
dari mana?” tanya Via lagi, dia begitu antusias atas kedatangan teman baru.
apalagi setelah melihat penampilan gadis yang duduk di sampingnya ini.
“Pesantren.”
Via
terpana. Baru kali ini dia bertemu dengan seorang yang pernah nyantri. “WOW!
Pantesan penampilanmu beda dari yang lain, kayak ada suasana-suana religius
gitu. Kamu ada kenalan di sini?”
“Tidak.”
Mendapat
jawaban singkat begitu tak membuat Via jera bertanya. Dia semakin penasaran
pada sosok Alyssa yang terlihat kalem. Via memandangi seragam Alyssa. lengan
panjang, rok panjang dan agak lebar serta kerudung yang Alyssa gunakan, Via
rasa terlalu berlebihan alias terlalu lebar. Beberapa siswa di sekolah ini ada
juga yang menggunakan kerudung, hanya saja tidak selebar yang Alyssa kenakan.
“Maklum
sih kitakan baru kenal, tapi kamu nggak usah sungkan, aku mah woles
anaknya!” kata Via bersahaja, dia seolah mengerti bahwa Alyssa masih canggung
untuk berbicara lebih.
Datang
lelaki berpostur tinggi, kulit kuning langsat, rambut klimis rapi, seragamnya
pun rapi, garis bekas setrika masih terlihat. Lelaki ini mencerminkan image keren anak SMA. Dia berdiri tepat
di depan meja Alyssa dan Via. Lurus dengan posisi duduk Alyssa.
“Hai!
Aku Debo, ketua kelas di kelas ini,” ucapnya sambil menjulurkan tangan kanan
pada Alyssa sama seperti yang dilakukan Via tadi.
Alyssa
memandangnya sekilas lalu kembali menunduk. Dia menyatukan kedua tangan di
depan dada lalu berucap, “Alyssa.”
Debo
jadi gelagapan sendiri dan cukup bingung pada Alyssa. Sebelum berpikir panjang
lebar dia amati tangan kanannya tak ada sesuatu yang mengotori. Dia cium tak
ada bau apa-apa, dalam pikirannya kini mengapa Alyssa tidak mau bersalaman
dengan dirinya?
“Heh!
Dia ini pindahan dari Pesantren, jangan asal todong gitu.” Via menepis tangan
kanan Debo yang masih menggantung di depan Alyssa. Ucapan Via menjawab
pertanyaan yang belum sempat Debo lontarkan pada Alyssa. Debo jadi teringat
guru ngaji-nya dulu yang mengatakan bahwa laki-laki dan perempuan dilarang
bersentuhan jika bukan dengan mahromnya.
“Oh,
sorry, semoga kita bisa bekerja sama dengan baik.” Debo menarik tangan
kanannya. Dia kembali ke bangkunya, walau masih banyak pertanyaan untuk Alyssa
tapi, melihat respon yang acuh tak acuh Debo jadi enggan bertanya lebih.
“Sstt,
dia siapa?” desis Bagas teman sebangku Debo. Bagas merangkul pundak Debo,
mereka bersahabat sejak MOS berlangsung. Singkat cerita, Bagas dan Debo berada
di kelompok yang sama, dan kebetulan mereka sama-sama tidak membawa
perlengkapan MOS jadilah mereka dihukum bersama membersihkan kamar mandi
laki-laki yang baunya nauzubillah
tidak akan ada yang betah berlama-lama. Diperintahkan bahwa kamar mandi itu
harus kinclong tidak boleh ada
kotoran sedikit pun. Jadilah Bagas dan Debo yang masih polos bahu-membahu
membersihkan toilet itu.
“Murid
baru,” jawab Debo singkat. Rupanya dia tak bersemangat menceritakan teman
barunya itu.
“Ya
tau, Deb namanya gitu?”
“Alyssa.”
“Yang
jelas kek, Deb. Aku liat sekilas kayaknya cantik deh? Model cewek-cewek
Pakistan gitu, ya nggak?” cerocos Bagas setelah mengetahui wajah Alyssa
sekilas, kecantikan yang dimiliki teman barunya itu membuatnya semangat menggali
informasi dan ingin cepat-cepat kenalan.
“Dia
Cuma bilang pindahan dari pesantren.”
“Pesantren?
Nggak nyambung kenapa pindah ke sekolah beginian?”
“Tanya
sendiri tuh sama orangnya, ya kali dijawab.”
“Emang
nggak bakal dijawab?”
Debo
mengendikkan bahu.
Seorang
guru muda memasuki kelas seketika itu juga menghentikan segala jenis aktivitas
siswa di kelas ini. kelas yang ramai seketika senyap, siswa yang berdiri, duduk
di lantai, duduk di meja kini rapi duduk di tempatnya masing-masing. Bagas yang
penasaran setengah mati menghentikan aksinya mencecar pertanyaan seputar Alyssa
pada Debo.
Para
siswa ini fokus pada guru berbalut kerudung coklat yang dimodel sedemikian rupa
sehingga kerudung itu menempel apik di kepala sampai lehernya, seragam sekolah
di jahit menjadi baju atas dan celana, guru ini terlihat modis, wajahnya teduh
dengan polesan soft makeup. Betul, ia baru saja lulus kuliah dan
langsung diangkat menjadi guru di sekolah ini karena ia merupakan mahasiswa
rajin, berpengalaman luas, pandai berinteraksi dan tentu saja lulus dengan
predikat cumlaud.
“Selamat
pagi anak-anak,” sapa guru ini.
“Pagi
Bu,” balas para siswa.
Alyssa
ikut menjawab dengan suara lirih, bahkan Via di sampingnya tidak akan
mendengar. Tidak ada assalamualaikum? Alyssa bertanya-tanya.
“Seperti
yang kalian ketahui, kalian kedatangan murid baru, sudah kenalan belum?”
“Belum
Bu.”
“Ok,
sebelum Alyssa memperkenalkan diri, ibu perkenalkan diri ibu dulu pada Alyssa,
Nama Ibu Fatin Rosmalina panggil saja Bu Fatin, guru matematika,” ucap Guru
yang bernama Bu Fatin itu ramah.
“Silahkan,
Nak kamu perkenalkan diri kamu,” titah Bu Fatin.
Alyssa
segera berdiri, mulai melangkah ke depan kelas. Seluruh pasang mata di kelas
itu menatap Alyssa, ada hal menarik yang membuat mereka melototi Alyssa, ada
pula yang memandangnya remeh.
“Itu
jilbab apa mukena?” sahut seorang siswi
yang duduk bersanding dengan teman lelaki, mendengar itu sontak seisi kelas
menertawakan penampilan Alyssa. Kerudung yang menjuntai sampai pinggang menjadi
patokan penglihatan mereka.
“Mau
sekolah apa mau pengajian tuh?” tambah anak lelaki yang duduk di sebelah gadis
tadi.
“Hentikan
Zahra, Aldi! Tunjukan kualitas kalian sebagai siswa unggul bukan siswa
celometan,” tegur Bu Fatin keduanya menunduk dalam.
“Nama
saya Alyssa Nur Anisa bisa dipanggil Alyssa, saya pindahan dari Pesantren
Raudatul Jannah,” Alyssa mengangkat wajahnya sekilas lalu menunduk kembali.
Menatap lantai berwarna putih itu.
“Kenapa
pindah ke sekolah ini?” tanya Bagas. Akhirnya kesempatan untuk menuangkan rasa
penasarannya tercapai.
“Saya
hanya ikut perintah orangtua.”
“Rumah
kamu di mana?” siswa lain bertanya.
“Di
Perum graha kencana indah no 246.”
“Kok
lo pakai jilbab panjang amat, kayak emak-emak mau pengajian dah.” sahut Zahra
memberanikan diri walau sudah ditegur tadi.
“Ini
bukan jilbab, ini kerudung,” jawab Alyssa sambil memegangi ujung kerudungnya
bermaksud menunjukkan pada mereka.
“Sama
aja kan!”
“Tidak
sama, jilbab adalah pakaian yang longgar yang menjulur dari bahu sampai kaki
tanpa ada potongan sama sekali, jilbab sama dengan jubah, sedang kerudung
adalah penutup kepala sampai dada, dan keduanya wajib digunakan oleh wanita
baligh.”
“Ngada-ngada
nih, dari dulu jilbab mah kerudung! Kerudung ya Jilbab!” Zahra ngotot karena
memang tidak pernah ia temukan perbedaan antara kerudung dan jilbab.
“Dijelaskan
dalam surat Al-Ahzab ayat 59 dan An-nur ayat 31.”
“Waaa.”
Serempak para siswa terpana.
“Apa
artinya?” kejar Zahra.
“Hai
Nabi, katakanlah pada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri
orang mukmin ‘hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka.’
yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk di kenal, karena itu mereka
tidak di ganggu dan Allah adalah maha pengampun lagi maha penyayang. An-nuur
31, hendaklah mereka menutup kain kudung ke dadanya.”
Sekali
lagi gema sorakan terpesona terdengar jelas seantero kelas.
“Dia
nggak ngibulin kita, kan?”
“Keren!
Dia hapal Al-Quran, ya?”
Suara
desas-desus para siswa mengepul mengganggu ketenangan telinga. Mereka tak percaya
bahwa yang selama ini mereka sebut jilbab dan kerudung bukan satu benda yang sama.
Perlu ditegaskan lagi bahwa kerudung adalah penutup kepala yang terjulur dari
kepala sampai bagian dada, sedang jilbab adalah pakaian yang terjulur ke
seluruh tubuh kecuali bagian tertentu yang bukan aurat seperti muka dan telapak
tangan.
Begitu
jauhnya ajaran islam di masyarakat hingga tak memahami hal kecil yang
sesungguhnya berakibat fatal atau dosa. Akibat dari ucapan Alyssa tadi sontak
membuat murid lain ternganga. Mereka kagum masih ada remaja seperti Alyssa.
Terlihat Bu Fatin merenung entah apa yang ada dalam pikirannya.
“Emang
nggak gerah ya, Alyssa?”
“Awal-awal
memakai memang gerah, tidak nyaman tapi jika niat memakai ini karena cinta pada
Allah. Semuanya jadi ringan.”
Mereka
terlihat mengangguk. Bisik-bisik tak jelas kembali terdengar riuh di telinga.
“Ada
yang mau bertanya lagi?” tanya Bu Fatin.
Hampir
seluruh siswa mengacungkan tangan. Antusias kedatangan Alyssa di kelas ini
sangat baik, entah apa yang akan mereka pertanyakan, seputar kehidupan Alyssa?
tentang aturan-aturan agama? Atau hanya untuk mengulur waktu supaya pelajaran
matematika segera berakhir? Alyssa sampai bengong melihat antusias
teman-temannya.
Bu
Fatin ikutan terpana dengan reaksi siswanya. Biasanya jika ia bertanya ada
pertanyaan atau tidak semua siswa ini diam seribu bahasa membuatnya bingung
entah mereka memahami pelajaran seutuhnya atau tidak paham sama sekali sehingga
tidak tau hendak bertanya apa.
“Untuk
saat ini cukup dulu ya perkenalan dari Alyssa, sekarang kita masuk pada
pelajaran. Kalian bisa berbincang-bincang dengan Alyssa saat jam istirahat atau
bisa main-main ke rumah Alyssa,” ucap Bu Fatin. Kelas XI IPA 1 kembali riuh
dengan seruan kecewa karena Bu Fatin menghentikan perkenalan dan memilih
melanjutkan pelajaran.
Bu
Fatin mulai melenggang di depan kelas. Menulis materi kemudian menjelaskan
dengan detail maksud dari angka-angka yang ia tulis. Bu Fatin memiliki gaya
mengajar yang khas. Dia memakai spidol warna-warni. Spidol merah untuk menulis
rumus, spidol hitam untuk menulis jawaban soal, spidol hijau untuk menulis
keterangan-keterangan. Terbukti tulisan warna warni di papan mengundang
perhatian siswanya untuk memperhatikan penjelasan guru muda ini.
“Alyssa,”
panggil Via, dia menyikut lengan Alyssa dengan lengannya. Alyssa menoleh pada
Via.
“Bu
Fatin ini guru paling ramah se SMA Safir, pernah jadi guru favorite juga.
selain cantik, baik dan ramah, Bu Fatin juga nggak pelit nilai. Serius! Nilaiku
aja bagus-bagus, padahal aku sering remedy.” Via menjelaskan dengan suara lirih
supaya tidak terdengar oleh bu Fatin.
Alyssa
mengangguk paham.
“Di
sini yang paling pinter itung-itungan tuh si ketua kelas, ada juga Denis terus
di Duwi, yang jadi langganan contekan itu si ketua kelas dia baik banget mau
ngasih contekan. Kalo Denis sama Duwi nggak bisa diarepin. Tapi, walaupun ketua
kelas, Debo itu orangnya rese terus
gila juga.” Via terus menjelaskan tanpa Alyssa minta. Tangan Via mencatat rumus
sedangkan mulutnya terus bercerita seputar kelas XI IPA 1.
Alyssa
masih setia mendengarkan. Walaupun sulit baginya membagi telinga pada dua objek
sekaligus. Ingin sekali Alyssa meyuruh Via berhenti cerita karena dia ingin
mendengarkan penjelasan Bu Fatin dengan tenang. Via terus bercerita, menyebut
satu per satu nama teman-teman kemudian menceritakan sikap dan sifat mereka.
“Dia
yang duduk di pojok kelas itu namanya Denis. Walaupun dia duduk di pojokan, dia
nggak nakal kok. tapi dia kuper alias kurang pergaulan, di kelas ini hampir
nggak ada yang akrab sama dia. Nggak asik banget kan tuh anak.”
Bu
Fatin melihat tingkah Via yang mengajak Alyssa berbicara. Tidak seperti guru
lain yang akan melempar spidol atau penghapus pada anak yang tidak konsentrasi,
Bu Fatin lebih suka menegur dengan tenang dan santai, walaupun begitu
tegurannya tetap di dengar dan di patuhi oleh siswanya seperti saat ini.
“Via,
sudah ngobrolnya? Nanti ibu sediakan tempat buat kamu bercerita pada Alyssa,”
kata Bu Fatin. Raut wajah penuh senyum itu tidak menakutkan tapi memaksa untuk
mendengarkan apa yang dimau. Via jadi tak kuasa melawan Bu Fatin, dia mulai
tenang dan kembali mendengarkan dengan serius. Walaupun masih banyak informasi
yang harus dia sampaikan pada siswa baru di sampingnya.
©©©©
Jam
kedua sesuai dengan jadwal tertulis adalah pelajaran Biologi. Alarm pergantian jam
berdering di masing-masing soundsistem yang terpasang di pojok atap kelas. Via
menggeliat merileksasikan otot-otot yang kaku karena terlalu lama duduk. Alyssa
masih berkutat dengan buku paket matematika, selagi guru Biologi belum datang
dia mencoba memahami kembali apa yang di jelaskan guru berkerudung tadi.
Via
menggeser bangkunya supaya lebih dekat dengan Alyssa. dia berniat menjelaskan
lebih detail tentang teman sekelasnya supaya Alyssa bisa beradaptasi dengan
cepat dan tidak terlalu canggung untuk bersosialisasi terutama dengan Via.
“Alyssa.
kamu boleh tanya apapun tentang sekolah ini ke aku, bakal aku jawab. Aku tau
banyak lho,” ujar Via sambil memandangi Alyssa yang membaca buku. Alyssa
menutup buku paketnya lalu mengalihkan pandangan pada Via si gadis periang yang
menjadi teman sebangkunya.
Alyssa
berpikir sejenak, “Siapa yang mengatur tempat duduk di sini, Via?” pertanyaan
pertama dari Alyssa.
“Nggak
ada. Bebas kok, mau duduk dimana juga guru nggak bakal peduli, tapi Bu Fatin
nggak suka kalo kita pindah-pindah tempat. Emangnya kenapa? Kamu mau pindah
tempat? Nggak ada tempat lain kecuali di sono,” celoteh Via menjawab pertanyaan
Alyssa. dia membawa pandangan Alyssa pada tempat duduk kosong di belakang dan
paling pojok. tempat duduk cowok bernama Denis yang Via sebut pendiam.
Alyssa
buru-buru menggeleng. “Laki-laki sama perempuan memang di campur dalam satu
kelas?” tanya Via lagi.
“Iyalah,
Lyssa. Kelas tanpa anak cowok tuh emang tentram, tapi keberadaan mereka juga
menyenangkan kok, aku malah nggak ngebayangin kalo sekelas isinya cewek semua.
Pasti garing banget.”
Alyssa
speechless.
“Ketua
OSIS di sini namanya Darma, anak kelas XI IPA 2. Dia nggak keren-keren banget
sih, tapi banyak yang naksir dia, mungkin karena jabatan ketua OSIS-nya kali
yah. Wakil OSIS-nya tuh si Debo. Aku juga nggak ngerti kok bisa dia jadi
wakilnya Darma. Mereka nggak deket tapi udah saling gaet jadi partner.” Via kembali menjelaskan tanpa diminta.
“Sama
halnya di sekolah-sekolah lain, di sekolah ini juga ada gengster! Namanya Riki,
Puri, Jaka dan banyak lagi, aku lupa namanya. Nyebelin banget tau nggak sih,
mereka suka gangguin orang-orang tak berdosa! Mereka ini anak asuh dari mantan gangster
yang udah lulus tahun kemarin. Riki diangkat jadi ketua preman karena dia yang
paling jago berkelahi. Tau nggak, Lyssa? Bagas pernah dibuat nangis sama Riki
and Geng!” dengan semangat empat lima Via mengajari Alyssa track record sekolah tercintanya.
“Selain
gangster ngeselin kayak Riki, di sini juga ada akademikus yang keren parah. Harta
Fahrezi, si jenius yang memenangkan olimpiade Fisika tingkat Nasional dan masuk
nominasi sepuluh besar sebagai peserta Olimpiade Fisika se-ASIA tenggara! Keren
kan?!” Alyssa mendengarkan dengan tenang. Ada rasa ingin tahu lebih tentang
sekolah barunya. Bahkan dia berharap Via akan menceritakan semuanya, dan
membuat dirinya tidak menyesal masuk di sekolah ini serta bisa segera melupakan
kesedihannya dipindah paksa dari pesantren tercintanya.
Pergantian
jam sudah lewat sepuluh menit. Pak Jamal guru biologi tak kunjung datang,
anak-anak ini mulai semerawut mengembangkan diri, seperti halnya anak-anak
bangku tengah yang membentuk lingkaran menyanyikan lagu-lagu hits seperti lagu
Virgoun Surat Kecil Untuk Strala, sambil bernyanyi mereka membuat music dengan
menggebrak-gebrak meja dan bertepuk tangan yang menurut mereka melodinya cocok
dengan lagu yang dinyanyikan. Padahal sama sekali tidak masuk.
Ada
yang duduk tenang dengan buku yang dibacanya, Duwi gadis paling pandai di kelas
serta paling pelit. Dia akan datang pas dengan bell berbunyi ketika banyak PR.
Dia sangat benci jika PR-nya dicontek. Banyak yang tidak menyukai Duwi. Bagi
teman-teman, kepintaran Duwi ini sangat tidak bermanfaat karena tidak memberi
mereka contekan.
Tok-tok-tok seseorang mengetuk papan tulis dengan
penghapus menghasilkan bunyi yang cukup membuat seisi kelas menghentikan
aktivitas dan memperhatikan orang yang berdiri di depan. Mengetok papan tulis
adalah trik Debo untuk mendapat perhatian dari teman-temannya, jika sudah
begini berarti Debo memiliki pengumuman untuk di sampaikan.
“Hari
ini Pak Jamal nggak bisa masuk kelas—,” kalimat Debo terpotong akibat hysteria
anak buahnya menyambut berita akan ada jam kosong karena guru biologi mereka
absen.
Debo
menulis sesuatu di whiteboard.
Setelah hysteria mereda barulah dia menjelaskan bahwa Pak Jamal meninggalkan
pesan untuk mengerjakan tugas pada halaman yang Debo catat di papan tulis.
Walaupun tahu ada tugas tetap saja mereka kembali pada kegiatan pengembangan
diri mereka. tugas yang dibawa Debo bisa mereka kerjakan di rumah.
“Pak
Jamal emang sering nggak masuk, Lyssa. Karena beliau ini menjabat sebagai wakil
kepala sekolah, jadi sering diajak kepala sekolah keluar kota.,” ujar Via,
kembali menjelaskan tanpa diminta. “Kacau, emang keadaan kelas kalo lagi jam
kosong tuh kacau,” Via meracau, dia terlihat frustasi melihat teman sekelasnya
membuat kegaduhan.
Seseorang
mendekati meja Alyssa dan Via. Cowok berkulit hitam manis menyapa Via dengan
senyum lebar.
“Apa
kau?” ketus Via menjawab sapaan cowok tadi.
Lelaki
itu menatap Via lalu melirik-lirik Alyssa dengan sengaja. Tentu saja Via
mengerti maksud lelaki itu, dia ingin Via mengenalkannya pada Alyssa.
“Alyssa,
ini lho Bagas yang pernah nangis gara-gara diancam sama Riki and Geng,” ujar Via sengaja menggoda
Bagas. Bagas membulatkan matanya menatap Via benci. Tega sekali temannya ini
membuka aib pada siswa baru.
Bagas
terkesiap mendengar ucapan Via. “Kampret! Sumpah jangan percaya, cewek
gila dasar,” cerca Bagas yang mendadak malu karena mendapati Alyssa menatapnya
sekilas.
“Aku
nggak bohong, kan? Ada saksinya kok—,” Via mengedarkan pandangannya lalu
berteriak memanggil satu nama,
“Debo!
Sini deh,” seru Via. Debo asik ngobrol dengan Satria seputar lomba basket yang
disiarkan televisi swasta kemarin.
Debo
beranjak mendekati Via. “Apaan,” ucapnya berdiri di dekat meja Via.
“Kamu
liat sendiri kan, waktu itu Bagas nangis gara-gara diancem sama Riki and Geng?” Via masih memperkuat
ucapannya tadi.
Debo
mengangguk padahal Bagas telah menembaknya dengan kode-kode supaya tidak
membeberkan aib pada teman barunya ini.
“Iya
bener, sampek nggak mau ke kantin dua hari gara-gara takut sama Riki.” Debo membuka
aib kedua Bagas. Terlihat sudah bahwa Bagas adalah cowok yang mudah ketakutan.
Tidak berani menghadapi mereka yang lebih kuat dari dirinya. Walau begitu Bagas
suka sok jagoan dengan sedikit menggertak lawan.
Dan
gara-gara Bagas juga, Debo sampai kehilangan jatah lapangan Basket selama
seminggu. Dia bernegosiasi dengan Riki supaya melupakan masalahnya dengan
Bagas. Riki yang gemar bermain basket pun setuju dengan tawaran Debo membiarkan
Riki and geng menggunakan lapangan
basket selama seminggu. Walaupun gemar bermain basket, Riki tidak pernah mau
masuk tim basket, dia lebih suka bermain basket ketika kegiatan belajar
mengajar berlangsung, menyalahi aturan. Memang, selain basket hobi Riki adalah
membuat guru marah. Kerap kali Riki and geng mengganggu jadwal latihan tim
basket dengan ikut bermain di lapangan basket mengacaukan latihan tim. Aksi
Riki ini tentu saja mendapat hukuman dari pelatih tim basket, Pak Amir. Serta
menimbulkan gesekan panas yang kerap tercipta ketika dua kubu ini bertemu. Tim Basket
yang di pimpin Debo dan geng basket bayangan yang dipelopori Riki.
Bagas
terbakar emosi. Bisa-bisanya kedua sahabatnya ini bersekongkol menurunkan nilai
jualnya pada gadis-gadis. Bagas melompat ke arah Debo, mengetuk-ngetuk kepala
Debo, tangan kanannya mencekal leher Debo. Aksi yang hanya bisa Bagas lakukan
pada Debo, tidak berani dia lakukan pada orang lain.
Alyssa
kaget. Dia mengira akan terjadi perkelahian antara Bagas dan ketua kelasnya.
“Tenang aja, Alyssa. Mereka nggak berantem kok, biasalah para cowok-cowok rempong kalo disatuan emang suka gitu,”
ujar Via santai dan berhasil meredakan kegelisahan di hati Alyssa.
Alyssa
memandangi satu persatu kegiatan teman-temannya. Hanya dua orang yang tidak ribut.
Lelaki yang duduk di pojok kelas dan Duwi si gadis pintar yang Via kleim
sebagai orang paling pelit. Selebihnya sedang asik membuat kegaduhan. Dia jadi
ingat ketika ada jam kosong di pesantren akan dia gunakan untuk menghafal
Al-Quran. Tapi kali ini, Alyssa mencoba menghafal nama-nama teman sekelasnya.
Serta mengingat-ingat ucapan Via tentang sifat-sifat teman-temannya.
“Alyssa.
kamu mau ikut eskul apa?” Via memulai percakapan kembali.
“Ada
apa saja?”
“Banyak.
Basket, Volly, Futsal, Karate, cheer
leader, apa lagi ya? Lupa aku, nanti biar si Debo yang ngasih tau kamu
macem-macem eskul. Dia tau banyak tentang eskull.”
Alyssa
hanya mengangguk kecil. Dia kembali ingat pesantren, eskul yang dia ikuti
adalah kajian hadits. Kitab-kitab tebal berisi hadis berbagai perawi dia kaji
bersama seorang ustadzah cantik. Tapi sekarang eskull yang dia dengar semua
berhubungan dengan olahraga.

Penasaran banget semangat lanjut novelnya kak...
BalasHapus