BAB
2
Hari
Pertama Alyssa
Tempat
yang selalu menjadi favorite saat istirahat adalah kantin sekolah. Tak
ada yang bisa menandingi padatnya siswa di kantin saat jam istirahat begini,
tiap pemilik perut berlomba-lomba memenuhi panggilan perut yang menjadi hajat
hidup mereka. Tiga pasang kaki ini berjalan dengan terburu-buru seperti menargetkan
sesuatu yang harus dicapai sesegera mungkin.
Terik
matahari mendukung setiap pemilik kerongkongan untuk segera menyiramkan minuman
segar. Untuk memulihkan tenaga yang terkuras usai berpikir di dalam kelas. Bagi
para siswa berpikir adalah sesuatu yang sangat berat sama beratnya seperti
pekerjaan kuli bangunan mengangkat semen, bata, kayu yang membuat mereka
kelelahan dan butuh asupan minuman segar, untuk memulihkan kembali tenaga yang
keluar.
Via
tampak terburu-buru. Langkahnya lebar dan cepat, dia sampai menarik lengan
Alyssa supaya lebih cepat lagi.
“Emang
harus cepat ya, Vi?” tanya Alyssa di sela langkah terburu-buru mereka.
“Alyssa,
kalo nggak cepat kita nggak bakal kebagian meja, dan yang paling penting aku
takut nggak kebagian Bakso bakar yang sedap itu lho.” Via berujar sambil
melebarkan langkahnya.
Dua
lelaki menyalipnya dari samping. Langkah mereka lebar dan cepat, sama seperti
yang dilakukan Via dan Alyssa.
“Heh
Via, cepat lho! Bakso bakarnya kita sikat!” seru Bagas—satu dari dua lelaki
yang menyalip Via dan Alyssa.
Via
dan Bagas sama-sama penyuka bakso bakar. Tak jarang mereka berebut bakso yang
tinggal satu porsi. Pernah Via kehabisan bakso bakar, karena tidak bisa menahan
nafsu makan untuk bakso bakar, Via mencomot bakso milik Bagas. Dan hal itu
membuat mereka saling umpat karena Bagas tidak rela baksonya diambil Via
walaupun hanya satu.
“Oy!
Tungguin dong!” Via berlari mengejar Bagas dan Debo yang sudah jauh di depan.
“Via,”
lirih Alyssa dengan terpaksa dia kejar Via yang tengah berlarian dengan Bagas
dan Debo. Dan yups! Mereka berempat berada diurutan paling depan, belum banyak siswa
berdatangan.
Dengan mudah mereka memesan makanan. Saat
lengang begini kantin sudah seperti surga kecil yang ada di bumi. Tidak perlu
berdesak-desakan tidak perlu menunggu lama makanan sudah siap santap.
“Alyssa,
mau pesan apa? Tuh menunya.” Via menunjuk papan besar bertuliskan menu makanan
yang tesedia di kantin.
“Samain
aja, Via,” Alyssa memandang Via sejenak, kemudian mereka beranjak mencari
tempat duduk. Via menuju tempat duduk sama dengan meja Bagas dan Debo, di depan
mereka masih ada bangku kosong, karena tiap meja di kantin memang berisikan dua
kursi yang saling berhadapan.
“Via,
duduk di mana?” cegat Alyssa ketika melihat Via berjalan ke meja Bagas dan
Debo.
“Di
situ bareng duo rusuh.” Via menunjuk Debo dan Bagas.
“Kita duduk di sana saja ya?” ajak Alyssa
mengarah pada kursi pojok belakang.
“Waduh
kok di pojokan sih, Alyssa? Entar ada setannya lho.”
“Malah
kalau duduk di situ banyak setannya, Via.”
“Iya
bener! Kok kamu tau Bagas sama Debo udah kayak setan rusuh!” Via terpingkal
menyangka Alyssa mengata-ngatai Bagas dan Debo. Rupanya Via tidak mengerti arah pembicaraan
Alyssa. Mereka duduk di tempat yang Alyssa maksud.
“Via!
Duduk mana sih? Nggak lomba makan sama aku?” seru Bagas dari mejanya.
“Lain
kali ya, Bro aku mau makan baksoku dengan khidmat nih,” ucap Via dengan cengiran
khasnya.
“Gaya
banget kamu, Vi,” seru Bagas keduanya tertawa bersama. Terlebih Via, dia selalu
lepas saat tertawa tak mempedulikan telinga orang-orang yang risih mendengar
tawanya. Alyssa belum berani berkomentar, baru beberapa jam mereka bertemu
belum tepat untuk Alyssa yang pendiam mengutarakan apa yang dia ketahui dan dia
pikirkan.
Pesanan
datang, tidak sabar Via melahap bakso di depannya dengan nafsu makan tinggi
sedangkan Alyssa masih menunduk.
“Alyssa
ngapain? Baca mantra?” kata Via diiringi seringai jahil.
“Baca
doa,” jawab Alyssa setelah menyelesaikan bacaan doanya.
Mendengar
itu Via jadi menelan berat baksonya, dia
sadar tidak membaca doa makan. Hampir tak pernah dibacanya doa itu, doa yang
semasa kecil selalu diingatkan oleh kedua orang tuanya tiap kali dia hendak
makan harus membaca doa supaya berkah dan tidak dibarengi setan. Setidaknya
berdoa karena telah diberikan rezeki yang nikmat oleh Allah swt.
Banyak
orang mampu makan dengan nyamannya tapi mereka lupa dari mana datangnya rezeki
yang mereka makan. Kadang lupa untuk bersyukur dan selalu merasa kurang. Via melirik
Alyssa yang tengah malahap baksonya dengan pelan dan santai tak seperti dirinya
yang begitu tergesa-gesa. Sebelum kembali melanjutkan makan dia sempatkan
membaca doa itu dalam hatinya, Via berjanji akan selalu ingat untuk membaca doa
sebelum makan.
Terkadang
hal-hal kecil mudah terlupakan, padahal hal kecil itu begitu penting maknanya namun
terkalahkan oleh nafsu besar yang bersarang di setiap rongga dada dan pikiran
manusia.
“Via!
Aku udah nih!” seru Bagas dari bangkunya yang berjarak 5 bangku dari tempat Via
duduk.
“Nggak
kaget! Kamu mah penggiling rusak, Gas!” Jawab Via tentu dengan teriakan juga.
“Kayak
kamu enggak aja, Piak.”
“Nggak
baca doa tuh.”
“Emang
situ baca?”
“Bacalah!
Makanya tobat, Gas.”
Tak
tahan dengan percakapan Via dan Bagas yang berkomunikasi dengan
berteriak-teriak, banyak siswa yang melihat bahkan mencibir—Debo berucap, “Via,
bisa nggak sih kamu pindah tempat duduk, biar enak kalo mau debat sama Bagas!”
Memang
sih, Via dan Bagas adalah tipe orang yang cuek pada respon orang sekitar, bahkan
mereka tidak malu jika menjadi sorotan tiap pasang mata. Tapi Bagi Debo itu
sangat mengganggu. OK lah Bagas dan Via tidak malu tapi dia yang mendampingi
Bagas juga ikutan jadi lirikan sinis penghuni kantin.
“Apaan
sih, Deb! Bilang aja nggak mau jauh dari aku, sorry aja ya. Aku udah ada
yang punya.” tandas Via.
“Hih!
Siapa juga?!” ucap Debo sambil bergidik ngeri. Direspon tawa oleh Bagas dan
Via.
“Bukannya
apa-apa, Vi. Malu dilihat orang, emang dasar kadar malu kalian tuh minim,” ucap
Debo lagi terkesan menghina tapi sungguh tak ada niat untuk menghina di
hatinya. Bagas dan Via pun tak merasa dihina karena memang tipe bercandaan
mereka terlihat frontal dan nusuk. Mungkin karena terlalu akrabnya mereka.
Di
tempat duduknya sana Via kembali tertawa puas disusul oleh Bagas yang ada di samping
Debo, mereka menertawakan Debo.
“Eh
debu! Emang nggak sadar siapa yang ikutan treak-treak?!” telak Via.
Debo
melongo. Via benar, jatuh sudah image pemimpin berwibawa di diri Debo
gara-gara kedua temannya yang sering ia tuduh 'sedikit geser' itu.
“Haduh!
turun nih nilai jual gue sebagai cowok berwibawa,” keluh Debo menunduk menyembunyikan
wajahnya, ia lirik teman-teman di sekitarnya, mereka senyum-senyum tak jelas ke
arah Debo.
“Yaelah
bro udah nggak usah jaim, keluarin aja aslinya,” kata Bagas santai.
“Kamu
sama Via tuh biang rusuh, dasar!” Debo mengayunkan garpu ke wajah Bagas namun
Bagas langsung menghindar.
Alyssa
hanya mendengarkan ketiga temannya berbicara. Sungguh dia tak suka di posisi
ini. berada di tempat berpenghuni lelaki dan perempuan bercampur baur. Tapi dia
luruskan hatinya dengan berfikir logis ini adalah tempat umum—boleh laki-laki
dan perempuan bertemu dan berkomunikasi yang sewajarnya tanpa ada unsur masalah
pribadi. Ia mencoba membiasakan dirinya karena memang di sini hari-harinya akan
berjalan.
Dari
arah pintu masuk terlihat dua sejoli berjalan bergandengan tangan layaknya
orang kasmaran yang dimabuk cinta. mereka adalah Shilla dan Beril, hubunggan
mereka terjalin baru seminggu yang lalu, dengan begitu beraninya Beril
mengungkapkan isi hatinya kepada Shilla di depan siswa SMA Safir tepat pada
hari ulang tahun Shilla yang ke tujuh belas, tak kuasa dengan keaadaan Shilla
pun memberi jawaban terindah untuk Beril yang konon jawaban itu telah membuat
hancur hati para lelaki yang selama ini mengincar Shilla untuk dijadikan pacar,
dan hati para gadis yang mengharapkan Beril. Keduanya memang memiliki wajah
yang ma syaa allah Eloknya, banyak yang mengatakan mereka adalah
pasangan yang serasi, Cantik dan Tampan.
Mereka
berhenti di meja Debo dan Bagas.
“Tau
deh pasangan baru, nempel mulu kayak sepatu sama kaki,” celetuk Bagas wajahnya
terlihat masam.
“Cielah,
yang jomblo akut iri gitu,” jawab Shilla balik meledek Bagas dan membuat Bagas
panas karena mendengar harga dirinya diremehkan gara-gara tidak memiliki
kekasih. Padahal bukan karena dia tidak laku dikalangan cewek-cewek tapi,
karena tak ada yang mau padanya? Tidak, tidak. Bagas tengah menunggu seseorang
membuka hati padanya, dan yang paling penting Bagas tengah menunggu keberanian
muncul untuk menyatakan perasaan pada gadis itu, gadis yang istimewa, gadis
yang berbeda dengan dirinya, ada satu benteng kokoh yang selalu mengurungkan
niat yang lama ia pendam.
“Ee
sembarangan, kamu nggak tau, hah? Ariana Grande aja meleleh ngeliat aku!” ketus
Bagas dengan mantapnya ia berbicara seolah itu sungguhan.
“Es
batu kali meleleh. Yaudah, bye JoKut!
Jomblo Akut,” kata Shilla buru-buru dia menarik lengan Beril, takut Bagas
bersikap anarkis padanya karena telah mengolok-olok kejombloan Bagas. Shilla
menggandeng Beril mendekati bangku Via dan Alyssa.
“Via
tumben amat ambil pojokan? Biasanyakan kamu di depan biar enak nambah
baksonya,” sapa Shilla setelah sampai di depan meja Via dan Alyssa.
“Hih
Shilla mah, soalnya di depan banyak setannya, Shil, iya kan, Lyss?” jawab Via,
Alyssa yang sedari tadi menikmati baksonya kini beralih melihat siapa yang
diajak bicara oleh Via.
Sontak
Alyssa kaget. Kuah di mulutnya tertelan ke jalan yang salah. Kini hidung bagian
dalam Alyssa terasa panas, segera Via menyodorkan teh pada Alyssa. Alyssa
menunduk dalam dia sangat kaget ketika melihat Shilla yang bergelayut mesra pada
lelaki yang dirangkulnya.
“Kenapa
sih, Lys?” tanya Via panic.
Alyssa
tak menjawab.
“Sayang
kamu mau pesan apa?” tanya Beril.
“Samaain
deh, yang,” jawab Shilla.
“Yaudah
aku pesan dulu, ya?” ucap Beril sembari mengangkat kedua tangan shilla yang dia
genggam seolah akan berpisah lama, genggaman itu semakin kuat dan akhirnya
terlepas saat Beril pergi memesan makanan. Shilla menyeret dua kursi kemudian
duduk di depan Alyssa.
“Oiya
Al, kenalin tadi itu pacarku namanya Beril anak XI IPA 2, ganteng kan?” Shilla
memperkenalkan Beril pada Alyssa. Alyssa hanya tersenyum.
Tak
butuh waktu lama Beril datang membawa makanan.
“Selamat
makan,” ucap Shilla.
Ketiganya
melahap makanan dengan semangat, beda dengan Alyssa yang tengah gusar. Berada di
antara mereka dirinya tak tenang.
“Sayang
mau bakso? Yang ini nggak pedes,” kata Beril sambil memperlihatkan sepotong bakso
yang menancap di garpunya.
“Boleh,”
jawab Shilla, segera Beril menyuapi Shilla dengan mesranya.
“Tau
deh kantin cuma milik berdua yang lain ngontrak, woy ngontrak!” kata Via dia
sengaja mengeraskan suara. Via bahkan mengunyah baksonya dengan kasar.
“Iri,
ya Vi?” tanya Shilla santai.
“Hih,
ogah!” Via memalingkan wajahnya ke samping. Shilla tidak pernah malu mengumbar
kemesraan dengan lelaki yang berstatus sebagai pacarnya. Shilla berdalih
ngapain malu? toh kita saling suka dan nggak ngerugiin orang lain.
“Via,
aku mau ke toilet.” Alyssa berdiri. Menyudahi makan, menyodorkan uang dua puluh
ribu pada Via lalu beranjak meninggalkan meja makan.
“Mau
aku temenin, Lyss?” teriak Via melihat Alyssa yang setengah berlari.
Alyssa
hanya menggeleng dengan tergesa-gesa dia meninggalkan kantin yang membuatnya
sulit bernafas itu.
“Emang
dia tau jalan ke toilet?” tanya Via pada orang yang ada di depannya, serempak Beril
dan Shilla mengendikkan bahu pertanda mereka tak tau jawaban atas pertanyaan
Via.
©©©
Alyssa
berlari entah ke mana kaki akan membawanya. Dia tak mengenal tempat ini, dia
hanya ingin keluar dari kegelisahan yang menekan batinnya. Banyak pasang mata
melihat Alyssa heran. Penampilan Alyssa yang tak ada duanya itu begitu menyita perhatian,
Alyssa terus berlari tidak mempedulikan sayup-sayup kecil gunjingan yang
terdengar. Seperti kata ‘aneh’, ‘lebay’ dan kata negative lainnya.
Kakinya
berhenti di sebuah taman cukup luas. Warna hijau, merah, kuning, memeriahkan
taman ini. Bunga-bunga bermekaran terawat dengan baik. Alyssa memasuki taman
itu, dia cari tempat yang tak terjangkau mata memandang, dia duduk di balik pohon
cemara yang menjulang tinggi. Suasana teduh dan sejuk sedikit menetralisir
sesak yang Alyssa rasa. Dia menuangkan segela resah, kalut, kecewa dan takut
pada rerumputan yang menari-nari dibelai angin siang.
“Kenapa
aku harus dipindah ke tempat ini? Aku nggak suka tempat ini, dengan mudahnya
mereka ber-khalwat, dengan mudah mereka mengumbar kemesraan dengan orang
yang bukan mahromnya! Apa dengan ikatan pacaran mereka sah? Islam mana yang
mengajarkan seperti itu? Bahkan mereka tidak malu bermesraan di depan umum! Astagfirullahaladzim,
Astagfirullahaladzim,” terluapkan sudah gemuruh di hatinya walau hanya pada
pohon dan rumput yang tak mengerti setidaknya dia lega telah meluapkan
semuanya.
Kriiiiiiiiiinnnnngggggg!!!
Suara
deringan itu menyadarkan Alyssa untuk segera masuk kelas. Dia sadar tengah
berada di tempat yang tak pernah dia datangi sebelumnya, dia perhatikan
sekelilingnya kemana kaki harus melangkah? Di mana letak kelasnya? Dia tak
tahu. Dia berjalan ke arah di mana tadi berlari hingga di bentangkan tiga
kemungkinan kanan, kiri, lurus? Ia sudah tak ingat lagi terlebih dia berlari
dengan menunduk tak mengamati sekelilingnya.
“Astagfirullah
ini di mana? Ada pak satpam nggak, ya?” Alyssa gelisah, yang tadinya banyak
siswa berlalu lalang kini lenyap tak tersisa. Tertib sekali siswa di sini.
Dengan
ragu Alyssa melangkah ke arah kanan. Dia telusuri lorong di sana. Sejauh ini
tak ditemukan kelas bertulis XI IPA 1, hanya berjejer bangunan bertulis Lab IPA
yang terdiri dari 3 ruangan. Lelah dia putuskan untuk berhenti dan duduk di
kursi yang tersedia di depan Laboratorium Kimia.
Sepasang
mata menatap Alyssa lamat-lamat. Orang itu berada di balik gedung Laboratorium.
“Apaan
tuh?” desis lelaki yang masih bersembunyi di balik gedung, penampilannya tidak
rapi, kemeja putih keluar dari celana, tidak ada ikat pinggang, tidak ada dasi
dan memakai sepatu olahraga. Dua lelaki di belakangnya sedang waspada, menyapu
seluruh arah dengan matanya takut-takut ada yang memergoki mereka.
Depan
belakang aman. Tinggal sisi kanan dan kiri belum terdeteksi ada atau tidaknya
guru piket.
“Kanan
aman nggak, Rik?” desak orang yang berdiri di belakang lelaki memakai sepatu
olahraga. Lelaki yang dipanggil Rik itu menggeleng pelan. Dia menarik lengan
lelaki di belakangnya, menyeru untuk melihat apa yang dia lihat, seseorang
berkerung besar.
“Itu
apaan?” tanya Riki, dia masih bingung menentukan siapa atau apa yang dia lihat.
Khawatir yang dia lihat ada kamuflase Bu Jannah si guru BP. Guru itu suka
menyamarkan dirinya supaya tidak mudah ditemukan oleh siswa, terutama siswa
yang melakukan kesalahan. Guru ini juga paling rajin patroli terutama di pintu
belakang sekolah.
“Manusialah,
masa batu. Kakinya aja gerak, liat tuh dia pake putih abu-abu,” ucap lelaki
bersepatu futsal dominan warna hijau cerah.
“Buruan
cabut! Udah pasti aman,” ucap lelaki bersepatu hitam. Mereka bertiga
tergesa-gesa berlari meninggalkan laboratorium IPA.
Alyssa
memergoki gerak mereka. sekilas dilihatnya kode kelas di bagian lengan kanan
lelaki bersepatu hitam—muncul warna kuning—kode kelas untuk angkatannya. Alyssa
berdiri dan mulai menuju arah yang sama dengan ketiga lelaki itu. Alyssa pikir
ketiga lelaki itu akan masuk kelas. Namun apalah arti langkah kecil Alyssa. Dia
tidak bisa mengejar mereka. Alyssa terus berjalan lurus hingga terbentang di
sana halaman belakang sekolahnya. Ratusan sepeda motor terparkir rapi di sana.
Gerbang kokoh membentang membuat benteng antara wilayah sekolah dengan
perumahan warga.
Tepat
di gerbang itu Alyssa melihat tiga lelaki yang dia buntuti sedang bahu membahu
melompat pagar. Tas yang mereka gendong melayang ke luar pagar. Dua orang
membuat tangga dengan punggungnya. Satu orang naik sampai di atas pagar mereka
saling tarik menarik untuk melangkahi pagar setinggi dua meter itu.
Alyssa
tidak percaya yang dilihatnya. Aksi bolos itu kini nyata di depan mata, tidak
hanya ada dalam novel-novel yang dia baca di perpustakaan. Satu dari lelaki itu
menunjuk-nunjuk Alyssa dari kejauhan. Alyssa yang menyadari itu langsung
bersembunyi di balik tong sampah besar. Dia ngeri dengan tatapan itu. walaupun
tidak berbuat apa-apa tapi Alyssa bisa merasakan bahwa lelaki itu mencurigai
dirinya. Ahh Alyssa yang malang. Dia masih duduk di balik tong sampah besar.
..
.
JANGAN LPA KOMENNYA ya Dears.....

Mana lanjutannya kak?? Segera ya kak, sudah penasaran banget sama kisah Alyssa di sekolah.
BalasHapusSegera kak, insyaa allah besok ya kak. Terimakasih sudah membaca novel ini.
Hapus