BAB 2.B HARI PERTAMA ALYSSA

 



Di kantin sana Via, Shilla dan Beril masih menunggu Alyssa hingga datang guru penertib kantin mengusir mereka karena masuk jam pelajaran. Ketiganya berjalan pelan menuju kelas sambil lirik kanan kiri dalam pikiran mereka, siapa tahu Alyssa masih berkeliaran di luar.

“Alyssa ke mana sih? Apa dia kesasar? Sekolah kitakan luas banget,” kata Via wajahnya terlihat kebingungan.

“Nggak mungkin lah, toh tiap ruang ada tulisannya. Di taman depan ada peta sekolah kita kan. Aku rasa dia udah ada di kelas deh,” ucap Beril dan itu dijadikan kesimpulan oleh mereka.

Ketika melewati ruang guru mereka bertemu  yang Debo sibuk membawa buku tugas yang dia ambil dari ruang guru. Ketua kelas satu ini selalu sedia ketika dipanggil ke ruang guru atau berinisiatif sendiri untuk membantu guru terutama ketika harus mengumpulkan tugas teman-temannya. Mengeluh tidak pernah dia lakukan, selalu semangat dan tegas itulah ketua kelas sebelas IPA satu.

“Ciye, ketua kelas kita tanggung jawab sekali,” goda Via. Dia mencolek lengan Debo genit.

“Nggak usah sok asik kamu, Vi. Eh, si anak baru mana?” tanya Debo.

“Nggak tau, bisa jadi dia kesasar bisa jadi dia udah nyampek kelas.” Via memasang wajah cemas lagi.

“Terus kalian mau ke mana?”

“Masuk kelaslah, kamu nggak denger bell?”

Debo merenung sejenak.

“Via yang cantik, aku boleh titip buku-buku ini ke kelas? Tiba-tiba kebelet,” ucap Debo serta-merta menyodorkan tumpukan buku itu ke tangan Via, hingga Via kelimpungan memegangnya. Buku itu berjatuhan dan satu di antaranya mengenai kaki kanan Via.

“Debo! Ih, baru juga dipuji! Nggak tanggung jawab!” maki Via namun Debo sudah melejit ke arah kamar mandi. Via komat-kamit membuat sumpah serapah untuk Debo. Walau begitu tidak ada benci yang tertanam di hatinya. Beril dan Shilla membantu membawakan tumpukan buku itu ke kelas Via.

©©©

Debo menyusuri lorong demi lorong kelas dia tak benar-benar ke kamar mandi. Tujuan yang sebenarnya adalah mencari Alyssa karena dia yakin Alyssa masih di luar. Debo juga harus berhati-hati jangan sampai dia ketahuan guru piket yang berkeliling sekolah untuk mencari siswa yang diam-diam bolos belajar dan nongkrong di luar kelas. Jika sampai kepergok guru ini sudah pasti nasib Debo akan berakhir di lapangan bendera.

Tiba-tiba handphonenya bergetar di saku bajunya, dia cari tempat aman untuk membuka pesan masuk, bisa double hukumannya jika ketahuan menggunakan HP.

Deb! Tolong cariin Alyssa ya? kamu kan ada di luar, dia belum ada di kelas! Kalo aku keluar lagi nggak mungkin! Pak Reza udah ada di kelas, kalo pun kamu telat masuk, Pak Reza pasti percaya sama Alasan-alasan boong kamu! Please Deb kasihan Alyssa :(

Isi chat dari Via lengkap dengan emoticon sedih. Via sungguh merasa bersalah sudah membiarkan Alyssa pergi seorang diri.

Debo menggeleng pelan, “Dasar manusia ceroboh, dari dulu nggak berubah-berubah. Via, Via.”

Dia lanjutkan mencari Alyssa, langkahnya membawa ke gedung Laboratorium dia telusuri ruang demi ruang. Mulai dari Laboratorium Biologi, Fisika, Kimia gedung besar itu menghadap utara, dari beberapa pecahan gedung di sekolah ini, gedung laboratorium merupakan gedung yang paling kecil ukurannya dibangdingkan dengan gedung untuk guru dan karyawan, gedung IPA, gedung IPS dan Masjid. Dia jejaki gedung laboratorium itu hingga ditemukannya seseorang yang dia Cari. Alyssa!

“Itu dia tuh si kerudung lebar. Ngapain nyempil di tong sampah?” kata Debo bermonolog. Dia bahkan tertawa kecil melihat posisi Alyssa. Dia dekati Alyssa yang tengah duduk menunduk, kerudung panjangnya menutupi tubuhnya yang jongkok.

“Hey!” seru Debo sungguh mengagetkan Alyssa.

Buru-buru gadis ini menyeka air mata yang sedari tadi membentuk sungai kecil di pipi. Melihat mata sembab itu, sontak membuat Debo lebih mengencangkan tawanya, bukannya ikut prihatin. Debo menyimpulkan Alyssa menangis karena kesasar! Padahal tidak. Tawa itu membuat Alyssa memalingkan wajah untuk menyeka air mata sampai benar-benar habis kesat.

“Jadi, kamu nangis gara-gara nggak bisa balik ke kelas?” tanya Debo masih dengan tawa jahilnya. Wajahnya sampai merah akibat tawa yang terlalu berlebihan itu.

“Tidak.” Alyssa berdiri. Dia masih membelakangi Debo dan sibuk mengusap-usap pipi yang masih basah.

Alyssa meresa lega ketika melihat Debo di depannya. Dia cukup senang akhirnya bisa kembali ke kelas dan mengikuti pelajaran. Jika tidak ada Debo mungkin dia akan berdiam di sana untuk waktu yang lama atau bahkan sampai bell pulang sekolah dideringkan jika tidak ada orang yang menemukannya.

Risih dengan tawa Debo, Alyssa membawa dirinya melewati Debo dan berjalan perlahan.

“Eeh mau ke mana? Jangan bikin aku pusing nyari kamu lagi, ya,” cegat Debo, Alyssa berhenti sejenak.

“Suara kamu limit ya? Sariawan?” tanya Debo lagi, Alyssa hanya diam menunduk.

Debo mengembus nafas berat lalu mendahului Alyssa. Alyssa mengekor dari belakang sekitar satu meter jarak mereka. Hanya suara ketukan sepatu yang membentur lantai memeriahkan situasi antara mereka. Keduanya tak saling bersuara. Alyssa sibuk mengikuti langkah kaki Debo. Debo sibuk mencari alasan keterlambatannya kali ini. Apa yang akan dia sajikan sebagai dalih untuk menyelamatkan dirinya dan Alyssa dari kemarahan Pak Reza.

Debo melirik ke kiri tidak dia dapati Alyssa di sana. Menoleh ke samping kanan juga tidak ada Alyssa. Dia hentikan langkahnya dan berbalik arah. Didapatinya Alyssa berjalan agak jauh darinya.

“Bisa nggak sih kamu jalan di sampingku? Entar kalo kamu ilang aku repot lagi, pake jauh-jauhan segala,” ucap Debo sambil melihat Alyssa di belakang, Alyssa selalu menunduk menyembunyikan sorot matanya.

Beberapa langkah berlalu, Alyssa masih di jarak yang sama.

“Jalan di sampingku kenapa sih?” Suruh Debo sambil melambai-lambaikan tangan kanannya ke belakang. Agaknya Debo kesal karena sedari tadi Alyssa tak kunjung bersuara dan tidak mau mendengarkan perintahnya. Suara terakhir yang Debo dengar hanya kata ‘tidak!’ Sungguh Alyssa yang irit suara.

“Jawab dong!” Debo benar-benar jengkel.

“Nggak usah.” Akhirnya Alyssa menjawab pertanyaan Debo.

Debo menaikkan satu alisnya. “Kenapa?”

Tidak ada jawaban dari Alyssa.

“Kamu kenapa sih? Sakit gigi? Susah banget diajak ngobrol! Kamu nggak suka aku di sini?” kata Debo sungguh kesal atas respon dari Alyssa yang sangat dingin dan acuh.

“Kalau aku di samping kamu sangat tidak pantas kita berjalan berdampingan itu terlalu dekat. Jika aku berjalan di depanmu aku tidak tau arah, serta untuk menjaga pandanganmu dari hal yang tak seharusnya dilihat, seperti bentuk tubuh dan bagian lain. Jika aku berada di belakang in syaa allah menjaga semuanya.” Alyssa berucap tanpa melihat Debo.

Debo terpaku.

Alyssa menegakkan kepalanya dia pandangi Debo yang diam mematung, “Terimakasih sudah datang,” lanjut Alyssa.

Debo ternganga mendengar jawaban teman barunya ini. Hatinya takjub sedetail itu pemikiran Alyssa tentang suatu hal. Kini dia paham mengapa Alyssa tak mau berjalan berdampingan dengannya, tidak mau menjabat tangannya, dan selalu menunduk. Alyssa hanya ingin melindungi dirinya dari hal-hal yang kemungkinan mengancam dirinya. Walaupun di lain sisi Debo mengira bahwa Alyssa berburuk sangka padanya.

Bukannya itu sedikit berlebihan? Dia pikir aku cowok cabul? Aku yang nolong, kenapa dia yang punya banyak aturan? Debo bertanya-tanya hanya saja tidak ia sampaikan pada Alyssa. kesimpulan yang Debo buat adalah Alyssa tidak suka bergaul dengannya.

Mendapati Debo yang bengong tak bergerak, Alyssa langsung berjalan mendahuluinya tak memperdulikan Debo. Debo sadar kemudian mengejar Alyssa dan berjalan di depan sesuai perkataan Alyssa tadi bahwa, dia harus berjalan di depan untuk melindungi pandangannya dari hal-hal yang tidak seharusnya dilihat.

Lagian apa yang bisa dilihat? Pakaiannya serba tertutup! Debo masih berujar dengan dirinya sendiri.

Mereka tiba di kelas dengan waktu keterlambatan 10 menit 25 detik. Pelajaran sudah di mulai, Pak Reza sudah mempresentasikan materi yang telah dia siapkan sesuai dengan silabus yang dibuat jauh sebelum sekolah aktif kembali. Pak Reza menghentikan aktivitas melenggang di depan papan tulis. Dia menatap kedua siswa terlambat ini dengan penuh curiga.

“Coba jelaskan dari mana kalian?” kata Pak Reza dengan tenang.

“Begini, Pak. Alyssa kan murid baru, tadi dia sempat tersesat, saat bell masuk dia tidak ada di kelas, jadi sebagai ketua kelas, saya berinisiatif untuk mencari Alyssa, Pak,” jawab Debo. Pikirannya buntu.

Walau pun Via menyuruhnya berbohong dan mencari alasan lain atas keterlambatan mereka, Debo tidak bisa melakukan itu. Alasan pertama, karena dia sudah tidak tau lagi harus membuat alasan masuk akal apa untuk keterlambatan dirinya dengan Alyssa. Jika dia terlambat seorang diri mungkin saja otaknya berjalan lancar untuk mencari alasan-alasan. Sedangkan saat ini terlambat dengan seorang siswa baru yang berseragam serba tertutup.

Alasan kedua, dia sangat yakin bahwa Alyssa tidak suka berbohong atas keterlambatannya. Maka, mau tidak mau Debo mengatakan yang sesungguhnya. Kejujuran Debo ini mengundang tawa dari teman-teman.

“Kesasar?  Ya ampun dia pelupa kali yah?”

“Baru pertama kali masuk sekolah elit kali.”

Beberapa tudingan miring terlontar dari mulut-mulut usil teman-teman kelas. Mereka bahkan tidak segan-segan tertawa terpingkal-pingkal. Alyssa hanya diam.

“Debo sialan, udah aku bilang jangan permaluin Alyssa! Rese!” sungut Via sambil mengacung-acungkan sebuah tinju pada Debo. Melihat kehebohan Via, Debo hanya menyeringai.

“Diam, diam! Jangan tertawakan teman kalian, harusnya sebagai teman, kalian tidak membiarkan Alyssa berjalan seorang diri, Alyssa juga perlu MOS untuk mengetahui seluk-beluk sekolah ini.”

Giliran Debo mengepal tangannya dan dia tunjukkan pada Via yang ceroboh membiarkan Alyssa sendirian keluyuran di area sekolah yang belum pernah dia kunjungi sebelumnya. Via membalas dengan cengiran khas yang membuat pipinya lebih mengembung lagi.

“Alyssa, untuk beberapa hari bisa adaptasi dulu dengan sekolah, Debo bisa membantu kamu mengenalkan sudut-sudut sekolah nanti, betulkan, Debo?” tanya Pak Reza lagi.

“Betul, Pak!” seru Debo sekonyong-konyong, dia hanya mendengar kalimat terakhir Pak Reza karena sibuk bertelepati dengan Via.

“Silahkan kembali ke bangku kalian, jangan sampai terulang lagi, ya. Terlambat masuk kelas itu, kalian yang rugi loh, karena Bapak tidak akan mengulang penjelasan yang sudah bapak jelaskan.”

Pak Reza kembali melenggang mengambil kembali spidol yang dia gunakan untuk menggambar motif-motif yang dia contek dari buku pedoman miliknya, guru seni ini begitu lihai tangan dan mulutnya seakan bersinergi untuk menjelaskan materi kepada siswanya. Guru yang berkompetensi.

30 menit berlalu.

Pak Reza menghentikan penjelasannya, dia duduk dan membuka buku tebal yang ada di depannya. Para siswa sibuk mencatat apa yang Pak Reza tulis di whiteboard, sementara Pak Reza mencari-cari halaman, seorang siswa mengangkat tangan.

“Pak Reza, ada pertanyaan!” ujar siswa itu.

“Gloria, yang mana yang belum dipahami?” tanya Pak Reza antusias.

“Pak Reza belum kenalan secara resmi sama Alyssa, dari pada melanjutkan pelajaran mending sisanya buat perkenalan saja, Pak,” ujar siswa bernama Gloria itu sembari tersenyum lebar ke arah Pak Reza.

“Bener itu, Pak!” dukung siswa lain.

“Dari pada kamu menyebar virus malas ke teman yang lain, mending bantu Bapak membuat kelompok belajar. Ayo Gloria kamu bacakan kelompok yang Bapak buat.”

Gloria maju ke depan dengan lemas, karena dia tau akan ada PR yang bejibun ketika Pak Reza membentuk kelompok belajar. Gloria mulai membacakan nama-nama yang tertulis pada kertas yang diberikan Pak Reza.

“Kelompok satu, Via Sabella, Andrea Debo, Gloria Christa Larissa, Bagas Rahman, Denis Prasetya, Alyssa Nur Anisa,” seru Gloria dengan suara nyaring seperti titah dari Pak Reza.

“Kelompok 2, Zahra Nuralifa, Shilla Marina, Mario Santoso, Aldiansyah, Reni  Refalina.”

Gloria terus membaca hingga selesai dengan kelompok 6 sebagai kelompok terakhir. Dia kembali ke bangkunya.

“Tugas kalian ada di buku pegangan halaman 103, jika ada pertanyaan bisa hubungi Bapak langsung. Tapi, bukan sekarang. Karena, Bapak harus keluar lebih awal, ada sesuatu mendesak yang tidak bisa bapak tinggalkan,” ucap Pak Reza, guru muda ini langsung mengemasi buku-bukunya ke dalam tas.

Para siswa bersorak riang, mereka sangat senang jika ada jam kosong. Wajah lusuh itu berubah ceria seketika mendengar penuturan Pak Reza. Para siswa ini mulai membereskan meja, memasukkan buku.

“Walaupun Bapak keluar lebih awal, bukan berarti kalian boleh keluyuran, guru piket akan beroperasi di sekitar kelas ini untuk mengawasi kalian, jadi jangan keluar kelas, OK?!”

“OK, Pak!” seru para siswa.

Pak Reza benar-benar meninggalkan kelas sebelum waktunya. Para siswa ini merasa bebas dan mulai mengubah posisi duduk mereka, ada yang duduk lesehan di depan papan tulis, ada yang duduk di meja, serta ada yang membentuk kelompok-kelompok untuk membahas hal-hal yang menurut mereka menyenangkan—tentunya tidak membahas pelajaran.

“Yeay! Alyssa kita satu kelompok!” seru Via bersemangat, dia memandang Alyssa antusias. Matanya berbinar-binar.

“Menurutmu, kita kerja kelompok di mana? Di rumahmu gimana?” ucap Via setelah membuka halaman 103 dan membaca perintah yang tertulis di buku itu.

“Di rumahku?” Alyssa terlihat kaget. Dia memandang Via heran, baru kenal udah ngajak ke rumah.

“Iya, biar kita makin kenal, Lyss. Kita kan perlu pendekatan, Lyss.”

“Aku tanya Ummi aku dulu, ya.”

“Deb, Gas sini deh!” Via meneriaki Debo dan Bagas yang duduk berjarak 2 meja dari meja mereka.

“Apaan?” respon Bagas yang menghentikan aktivitas saling beradu panco dengan Rio dan Galih.

“Udah buruan sini, ribet banget tinggal maju doang!” Via merajuk.

Dengan patuh Debo dan Bagas datang ke meja Via dan Alyssa. Bagas langsung duduk di meja mereka, sedangkan Debo berdiri di samping Via. Alyssa menggeser duduknya sampai benar-benar terpojok di tembok. Dia mulai kesal dengan sikap Bagas yang duduk di mejanya. Bagi Alyssa itu sangatlah tidak sopan.

“Turun atau aku tarik?” ancam Debo sambil menarik lengan Bagas, Bagas menahan diri supaya tidak tertarik tangan Debo.

Jadilah tarik-menarik antara Debo dan Bagas. Meja Via sampai bergeser mengikuti kekuatan kedua pihak, Alyssa semakin panik, sedangkan Via bersikap biasa saja dan menunggu siapa di antara Debo dan Bagas yang akan memenangkan pertandingan dan akan dia hadiahi tampolan kecil karena membuat kerusuhan di bangkunya.

“Kenapa sih, Deb?” Bagas terlihat lesu namun tetap mempertahankan posisinya.

“Nggak sopan, turun, nggak?!” Debo bersikeras menarik Bagas.

Keduanya masih sengit hingga akhirnya Bagas dapat ditarik oleh Debo hingga posisiya tak lagi duduk di meja Via dan Alyssa. Namun naas untuk Via, bahunya menjadi tempat Bagas terhempas, seperti sedang berpelukan Via dan Bagas disoraki teman-teman yang melihat kejadian ini.

“Parah! Bagas kesempatan banget meluk Via.”

“Udah jadian, nih? PJ kali!”

“Switt, switt, enak nggak, Gas?”

Bermacam komentar terlontar untuk Bagas dan Via yang kini menjadi sorotan, mulai dari tudingan miring, komentar usil bahkan dukungan untuk hubungan mereka semua terlontar dan didengar jelas oleh Bagas dan Via. Keduanya jadi kikuk. Debo nyengir tak jelas dan perlahan menjauhkan diri dari Bagas. Bagas mencoba menenangkan teman-temannya yang sibuk berkicau tentang kejadian tadi.

Alyssa menjatuhkan bolpen yang dia genggam erat. Matanya membulat mendapati posisi Bagas seakan merengkuh Via.

 “Eh, jangan bikin gossip ya, tadi tuh nggak sengaja, sumpah! Tuh si Debo tuh biang keroknya,” kata Bagas mencoba meredam gossip.

“PJ, PJ!” seru Debo yang jauh di pojok kelas.

Bagas geram dengan tingkah usil Debo. Dia mengejar Debo terjadilah aksi saling kejar antara Debo dan Bagas. Kelas semakin riuh. Mereka berdua mengelilingi kelas, Debo menghindari Bagas dengan berlarian di antara meja dan bangku yang tertata rapi, sesekali membentur teman perempuan dan membuat mereka menjerit kesal dan mengumpat Debo dan Bagas.

“Temen-temen sekali lagi aku bilang, aku sama Via nggak ada apa-apa! Serius, jangan bikin gossip makin lebar, ya! Kita temen, seratus persen temenan doang!” seru Bagas berdiri di depan papa tulis. Ia jadi mirip dengan jubir kerajaan.

Bagas kembali ke meja Via, kali ini dia berdiri di depan meja itu.

“Kamu serius amat sih, Gas?” ucap Via. Matanya menyipit menatap Bagas penuh selidik.

“Kenapa?” Bagas balik bertanya.

“Kamu pikir mereka percaya kalo aku sama kamu pacaran? Ngotot banget ngebantah candaan mereka.” Via mencibir, harusnya dia yang panik karena merasa dirugikan, kenapa jadi Bagas yang repot. Untuk Via, ocehan teman kelas tidak ada pengaruhnya. Dia santai saja menanggapi apapun kata orang.

Candaan? Bagas tesadar. Ia berpikir sejenak, benar juga ya, tadikan cuman bercandaan, kenapa aku serius? Ahh bisa curiga nih bocah-bocah rese. Bagas membatin.

“Jangan-jangan ada yang kamu suka, ya di kelas ini?! ngaku!” sengit Via. Bagas tersentak.

“Hipotesis gagal! Gak ada!”

“Terus ngapain ngotot ngebantah?”

“Emangnya kamu suka kalo kita jadi bahan gossip? Jangan-jangan kamu naksir aku, Vi?” gantian Bagas memelototi Via penuh selidik.

“Aku? Suka sama kamu? Udah tabrakan kali bumi sama merkurius?” Via begidik ngeri.

Bagas memasang wajah masam. Debo hanya tertawa melihat kedua temannya berdebat hal-hal kecil yang tak seharusnya menjadi perdebatan.

“Udah-udah kayak anak TK aja,” lerai Debo. Dia merangkul pundak Bagas, “Ada apaan, Vi?” lanjut Debo.

“Jadi gini, kita kan satu kelompok nih, gimana kalo ngerjain tugasnya di rumah Alyssa?” kata Via.

Debo, Bagas dan Alyssa memandang Via bersamaan. Takjub. Rumah siswa baru yang bikin geger kelas karena penampilannya—Via ngajakin main ke rumah Alyssa!

“Serius?” ucap Debo dan Bagas nyaris bersamaan.

“Iya, tinggal nunggu izin dari Umminya Alyssa, iya kan, Lys?”

Alyssa memandang Via, Debo dan Bagas bergantian. Benarkah dia akan membawa teman barunya ini ke rumah? Dalam sejarah pendidikan Alyssa, dia tidak pernah mengajak teman mampir ke rumahnya. Sejak SD sampai SMA kelas sebelas, Alyssa hidup di lingkungan Pesantren. Keluar pesantren hanya untuk mengunjungi rumah Ummi dan neneknya itu pun sekali dalam setahun, hanya ketika hari raya idul fitri, selebihnya dia lewatkan waktunya di ruang asrama, masjid, perpustakaan dan terkadang di taman Pesantren.

Alyssa mengangguk.

“Waw! Aku nggak nyangka bakal main ke rumah siswa baru!” kata Bagas dengan wajah sumbringah.

“OK. Kita tunggu konfirmasi jadi nggaknya dari Alyssa. Kalo misalnya nggak jadi kita bisa ngerjain di rumahku, atau di sekolah setelah jam pulang.” Debo mengusulkan pendapat.

Via dan Alyssa mengangguk.

“Vi, sorry ya tadi.” Debo berujar sambil menepuk bahu Via.

“Santai,” jawab Via.

“Alyssa, sorry ya,” ucap Debo lagi. Namun kali ini untuk orang yang sedari tadi diam dan sama sekali tidak ikut serta dalam kerusuhan yang dibuat oleh Debo dan Bagas.

Via menatap Debo heran, dalam pikirannya ngapain juga Debo minta maaf pada Alyssa. Yang kena imbas hanya Via, Via berpikir tidak ada hubungannya sama sekali dengan Alyssa.

Alyssa memandang Debo tenang. Dia tidak tau bagaimana cara merespon ucapan dari teman lelakinya. Haruskah dia tersenyum, haruskan dia mengatakan sesuatu untuk mengakrabkan diri? dia bahkan tidak tau caranya mencairkan suasana.

©©©

Mas Bisma melebarkan langkahnya wajah panic mulai menguasai dan membuat suasana hati yang baik menjadi buruk. Dia menggenggam erat handphone genggamnya. Dalam hitungan detik dia sudah berada di depan ruang kerja sang Ummi. Dia ketuk pintu itu sembari berkata, “Bisma, Mi.”

“Masuk, nak,” ucap suara dari dalam ruangan.

Bisma mendorong pintu itu sampai terbuka, dia masuk dengan wajah panic. Didapatinya sang Ummi tengah duduk berhadapan dengan laptop, kedua tangannya lincah menekan keyboard.

“Ummi, Abi mengirim pesan. Abi memperingati kita lagi, Mi,” kata Bisma dia menyodorkan ponsel pada Umminya.

Dengan tenang sang Ummi membaca pesan singkat dari suaminya. Wajahnya tetap tenang walaupun hati dan pikirannya kacau. Dia hanya tidak ingin Bisma melihatnya terpuruk. Dia tidak ingin Bisma sedih.

“Nggak masalah, nak. Kamu tetap jaga Alyssa, jangan sampai terlambat menjemput dia,” ucap Ummi.

“Ummi baik-baik saja?” tanya Bisma. Dia merasa Umminya menutup-nutupi sesuatu, seperti ada kata yang tertahan dan sulit untuk diluapkan, Bisma bisa merasakan itu.

“Tak apa, nak. Ummi harus kembali membuat silabi.”

“Iya, Mi.” Bisma langsung ke luar kamar, dia menghibur hatinya yang tak tenang dengan beristigfar dan memuji Tuhannya. Selalu saja berhasil mengatasi gundah, gelisah yang mengganggu.

“Sekarang bukan waktu yang tepat! Aku ingin bersama anak-anakku.” Sang Ummi berujar. Ditutupnya laptop tempat dia menggarap tugas-tugas dan kini dia mengendalikan dirinya yang perlahan-lahan wajah tuanya dibanjiri airmata. Dia memegang dadanya. Sesuatu serius terjadi di sana membuatnya sedih, terancam dan takut kehilangan. 



Jangan lupa tinggalkan jejak ya dear.... 

Komentar