Di
kantin sana Via, Shilla dan Beril masih menunggu Alyssa hingga datang guru
penertib kantin mengusir mereka karena masuk jam pelajaran. Ketiganya berjalan
pelan menuju kelas sambil lirik kanan kiri dalam pikiran mereka, siapa tahu
Alyssa masih berkeliaran di luar.
“Alyssa
ke mana sih? Apa dia kesasar? Sekolah kitakan luas banget,” kata Via wajahnya
terlihat kebingungan.
“Nggak
mungkin lah, toh tiap ruang ada tulisannya. Di taman depan ada peta sekolah
kita kan. Aku rasa dia udah ada di kelas deh,” ucap Beril dan itu dijadikan
kesimpulan oleh mereka.
Ketika
melewati ruang guru mereka bertemu yang Debo
sibuk membawa buku tugas yang dia ambil dari ruang guru. Ketua kelas satu ini selalu
sedia ketika dipanggil ke ruang guru atau berinisiatif sendiri untuk membantu
guru terutama ketika harus mengumpulkan tugas teman-temannya. Mengeluh tidak
pernah dia lakukan, selalu semangat dan tegas itulah ketua kelas sebelas IPA
satu.
“Ciye,
ketua kelas kita tanggung jawab sekali,” goda Via. Dia mencolek lengan Debo
genit.
“Nggak
usah sok asik kamu, Vi. Eh, si anak baru mana?” tanya Debo.
“Nggak
tau, bisa jadi dia kesasar bisa jadi dia udah nyampek kelas.” Via memasang
wajah cemas lagi.
“Terus
kalian mau ke mana?”
“Masuk
kelaslah, kamu nggak denger bell?”
Debo
merenung sejenak.
“Via
yang cantik, aku boleh titip buku-buku ini ke kelas? Tiba-tiba kebelet,” ucap
Debo serta-merta menyodorkan tumpukan buku itu ke tangan Via, hingga Via
kelimpungan memegangnya. Buku itu berjatuhan dan satu di antaranya mengenai
kaki kanan Via.
“Debo!
Ih, baru juga dipuji! Nggak tanggung jawab!” maki Via namun Debo sudah melejit
ke arah kamar mandi. Via komat-kamit membuat sumpah serapah untuk Debo. Walau
begitu tidak ada benci yang tertanam di hatinya. Beril dan Shilla membantu
membawakan tumpukan buku itu ke kelas Via.
©©©
Debo
menyusuri lorong demi lorong kelas dia tak benar-benar ke kamar mandi. Tujuan
yang sebenarnya adalah mencari Alyssa karena dia yakin Alyssa masih di luar.
Debo juga harus berhati-hati jangan sampai dia ketahuan guru piket yang
berkeliling sekolah untuk mencari siswa yang diam-diam bolos belajar dan
nongkrong di luar kelas. Jika sampai kepergok guru ini sudah pasti nasib Debo
akan berakhir di lapangan bendera.
Tiba-tiba
handphonenya bergetar di saku bajunya, dia cari tempat aman untuk membuka pesan
masuk, bisa double hukumannya jika
ketahuan menggunakan HP.
Deb! Tolong cariin Alyssa ya? kamu kan ada di luar,
dia belum ada di kelas! Kalo aku keluar lagi nggak mungkin! Pak Reza udah ada
di kelas, kalo pun kamu telat masuk, Pak Reza pasti percaya sama Alasan-alasan
boong kamu! Please Deb kasihan Alyssa :(
Isi
chat dari Via lengkap dengan emoticon sedih. Via sungguh merasa
bersalah sudah membiarkan Alyssa pergi seorang diri.
Debo
menggeleng pelan, “Dasar manusia ceroboh, dari dulu nggak berubah-berubah. Via,
Via.”
Dia
lanjutkan mencari Alyssa, langkahnya membawa ke gedung Laboratorium dia
telusuri ruang demi ruang. Mulai dari Laboratorium Biologi, Fisika, Kimia gedung
besar itu menghadap utara, dari beberapa pecahan gedung di sekolah ini, gedung
laboratorium merupakan gedung yang paling kecil ukurannya dibangdingkan dengan gedung
untuk guru dan karyawan, gedung IPA, gedung IPS dan Masjid. Dia jejaki gedung
laboratorium itu hingga ditemukannya seseorang yang dia Cari. Alyssa!
“Itu
dia tuh si kerudung lebar. Ngapain nyempil di tong sampah?” kata Debo bermonolog.
Dia bahkan tertawa kecil melihat posisi Alyssa. Dia dekati Alyssa yang tengah
duduk menunduk, kerudung panjangnya menutupi tubuhnya yang jongkok.
“Hey!”
seru Debo sungguh mengagetkan Alyssa.
Buru-buru
gadis ini menyeka air mata yang sedari tadi membentuk sungai kecil di pipi. Melihat
mata sembab itu, sontak membuat Debo lebih mengencangkan tawanya, bukannya ikut
prihatin. Debo menyimpulkan Alyssa menangis karena kesasar! Padahal tidak. Tawa
itu membuat Alyssa memalingkan wajah untuk menyeka air mata sampai benar-benar
habis kesat.
“Jadi,
kamu nangis gara-gara nggak bisa balik ke kelas?” tanya Debo masih dengan tawa
jahilnya. Wajahnya sampai merah akibat tawa yang terlalu berlebihan itu.
“Tidak.”
Alyssa berdiri. Dia masih membelakangi Debo dan sibuk mengusap-usap pipi yang
masih basah.
Alyssa
meresa lega ketika melihat Debo di depannya. Dia cukup senang akhirnya bisa
kembali ke kelas dan mengikuti pelajaran. Jika tidak ada Debo mungkin dia akan
berdiam di sana untuk waktu yang lama atau bahkan sampai bell pulang sekolah
dideringkan jika tidak ada orang yang menemukannya.
Risih
dengan tawa Debo, Alyssa membawa dirinya melewati Debo dan berjalan perlahan.
“Eeh
mau ke mana? Jangan bikin aku pusing nyari kamu lagi, ya,” cegat Debo, Alyssa
berhenti sejenak.
“Suara
kamu limit ya? Sariawan?” tanya Debo lagi, Alyssa hanya diam menunduk.
Debo
mengembus nafas berat lalu mendahului Alyssa. Alyssa mengekor dari belakang
sekitar satu meter jarak mereka. Hanya suara ketukan sepatu yang membentur
lantai memeriahkan situasi antara mereka. Keduanya tak saling bersuara. Alyssa
sibuk mengikuti langkah kaki Debo. Debo sibuk mencari alasan keterlambatannya
kali ini. Apa yang akan dia sajikan sebagai dalih untuk menyelamatkan dirinya
dan Alyssa dari kemarahan Pak Reza.
Debo
melirik ke kiri tidak dia dapati Alyssa di sana. Menoleh ke samping kanan juga
tidak ada Alyssa. Dia hentikan langkahnya dan berbalik arah. Didapatinya Alyssa
berjalan agak jauh darinya.
“Bisa
nggak sih kamu jalan di sampingku? Entar kalo kamu ilang aku repot lagi, pake
jauh-jauhan segala,” ucap Debo sambil melihat Alyssa di belakang, Alyssa selalu
menunduk menyembunyikan sorot matanya.
Beberapa
langkah berlalu, Alyssa masih di jarak yang sama.
“Jalan
di sampingku kenapa sih?” Suruh Debo sambil melambai-lambaikan tangan kanannya
ke belakang. Agaknya Debo kesal karena sedari tadi Alyssa tak kunjung bersuara
dan tidak mau mendengarkan perintahnya. Suara terakhir yang Debo dengar hanya
kata ‘tidak!’ Sungguh Alyssa yang irit suara.
“Jawab
dong!” Debo benar-benar jengkel.
“Nggak
usah.” Akhirnya Alyssa menjawab pertanyaan Debo.
Debo
menaikkan satu alisnya. “Kenapa?”
Tidak
ada jawaban dari Alyssa.
“Kamu
kenapa sih? Sakit gigi? Susah banget diajak ngobrol! Kamu nggak suka aku di
sini?” kata Debo sungguh kesal atas respon dari Alyssa yang sangat dingin dan
acuh.
“Kalau
aku di samping kamu sangat tidak pantas kita berjalan berdampingan itu terlalu
dekat. Jika aku berjalan di depanmu aku tidak tau arah, serta untuk menjaga
pandanganmu dari hal yang tak seharusnya dilihat, seperti bentuk tubuh dan
bagian lain. Jika aku berada di belakang in syaa allah menjaga semuanya.”
Alyssa berucap tanpa melihat Debo.
Debo
terpaku.
Alyssa
menegakkan kepalanya dia pandangi Debo yang diam mematung, “Terimakasih sudah
datang,” lanjut Alyssa.
Debo
ternganga mendengar jawaban teman barunya ini. Hatinya takjub sedetail itu
pemikiran Alyssa tentang suatu hal. Kini dia paham mengapa Alyssa tak mau berjalan
berdampingan dengannya, tidak mau menjabat tangannya, dan selalu menunduk.
Alyssa hanya ingin melindungi dirinya dari hal-hal yang kemungkinan mengancam
dirinya. Walaupun di lain sisi Debo mengira bahwa Alyssa berburuk sangka
padanya.
Bukannya
itu sedikit berlebihan? Dia pikir aku cowok cabul? Aku yang nolong, kenapa dia
yang punya banyak aturan? Debo bertanya-tanya hanya saja
tidak ia sampaikan pada Alyssa. kesimpulan yang Debo buat adalah Alyssa tidak
suka bergaul dengannya.
Mendapati
Debo yang bengong tak bergerak, Alyssa langsung berjalan mendahuluinya tak
memperdulikan Debo. Debo sadar kemudian mengejar Alyssa dan berjalan di depan
sesuai perkataan Alyssa tadi bahwa, dia harus berjalan di depan untuk
melindungi pandangannya dari hal-hal yang tidak seharusnya dilihat.
Lagian
apa
yang bisa dilihat? Pakaiannya serba tertutup! Debo masih berujar dengan
dirinya sendiri.
Mereka
tiba di kelas dengan waktu keterlambatan 10 menit 25 detik. Pelajaran sudah di
mulai, Pak Reza sudah mempresentasikan materi yang telah dia siapkan sesuai
dengan silabus yang dibuat jauh sebelum sekolah aktif kembali. Pak Reza
menghentikan aktivitas melenggang di depan papan tulis. Dia menatap kedua siswa
terlambat ini dengan penuh curiga.
“Coba
jelaskan dari mana kalian?” kata Pak Reza dengan tenang.
“Begini,
Pak. Alyssa kan murid baru, tadi dia sempat tersesat, saat bell masuk dia tidak
ada di kelas, jadi sebagai ketua kelas, saya berinisiatif untuk mencari Alyssa,
Pak,” jawab Debo. Pikirannya buntu.
Walau
pun Via menyuruhnya berbohong dan mencari alasan lain atas keterlambatan mereka,
Debo tidak bisa melakukan itu. Alasan pertama, karena dia sudah tidak tau lagi
harus membuat alasan masuk akal apa untuk keterlambatan dirinya dengan Alyssa.
Jika dia terlambat seorang diri mungkin saja otaknya berjalan lancar untuk
mencari alasan-alasan. Sedangkan saat ini terlambat dengan seorang siswa baru
yang berseragam serba tertutup.
Alasan
kedua, dia sangat yakin bahwa Alyssa tidak suka berbohong atas
keterlambatannya. Maka, mau tidak mau Debo mengatakan yang sesungguhnya.
Kejujuran Debo ini mengundang tawa dari teman-teman.
“Kesasar? Ya ampun dia pelupa kali yah?”
“Baru
pertama kali masuk sekolah elit kali.”
Beberapa
tudingan miring terlontar dari mulut-mulut usil teman-teman kelas. Mereka bahkan
tidak segan-segan tertawa terpingkal-pingkal. Alyssa hanya diam.
“Debo sialan, udah aku bilang jangan permaluin
Alyssa! Rese!” sungut Via sambil mengacung-acungkan sebuah tinju
pada Debo. Melihat kehebohan Via, Debo hanya menyeringai.
“Diam,
diam! Jangan tertawakan teman kalian, harusnya sebagai teman, kalian tidak
membiarkan Alyssa berjalan seorang diri, Alyssa juga perlu MOS untuk mengetahui
seluk-beluk sekolah ini.”
Giliran
Debo mengepal tangannya dan dia tunjukkan pada Via yang ceroboh membiarkan
Alyssa sendirian keluyuran di area sekolah yang belum pernah dia kunjungi
sebelumnya. Via membalas dengan cengiran khas yang membuat pipinya lebih
mengembung lagi.
“Alyssa,
untuk beberapa hari bisa adaptasi dulu dengan sekolah, Debo bisa membantu kamu
mengenalkan sudut-sudut sekolah nanti, betulkan, Debo?” tanya Pak Reza lagi.
“Betul,
Pak!” seru Debo sekonyong-konyong, dia hanya mendengar kalimat terakhir Pak
Reza karena sibuk bertelepati dengan Via.
“Silahkan
kembali ke bangku kalian, jangan sampai terulang lagi, ya. Terlambat masuk
kelas itu, kalian yang rugi loh, karena Bapak tidak akan mengulang penjelasan
yang sudah bapak jelaskan.”
Pak
Reza kembali melenggang mengambil kembali spidol yang dia gunakan untuk menggambar
motif-motif yang dia contek dari buku pedoman miliknya, guru seni ini begitu
lihai tangan dan mulutnya seakan bersinergi untuk menjelaskan materi kepada
siswanya. Guru yang berkompetensi.
30
menit berlalu.
Pak
Reza menghentikan penjelasannya, dia duduk dan membuka buku tebal yang ada di
depannya. Para siswa sibuk mencatat apa yang Pak Reza tulis di whiteboard, sementara Pak Reza
mencari-cari halaman, seorang siswa mengangkat tangan.
“Pak
Reza, ada pertanyaan!” ujar siswa itu.
“Gloria,
yang mana yang belum dipahami?” tanya Pak Reza antusias.
“Pak
Reza belum kenalan secara resmi sama Alyssa, dari pada melanjutkan pelajaran
mending sisanya buat perkenalan saja, Pak,” ujar siswa bernama Gloria itu
sembari tersenyum lebar ke arah Pak Reza.
“Bener
itu, Pak!” dukung siswa lain.
“Dari
pada kamu menyebar virus malas ke teman yang lain, mending bantu Bapak membuat
kelompok belajar. Ayo Gloria kamu bacakan kelompok yang Bapak buat.”
Gloria
maju ke depan dengan lemas, karena dia tau akan ada PR yang bejibun ketika Pak
Reza membentuk kelompok belajar. Gloria mulai membacakan nama-nama yang
tertulis pada kertas yang diberikan Pak Reza.
“Kelompok
satu, Via Sabella, Andrea Debo, Gloria Christa Larissa, Bagas Rahman, Denis
Prasetya, Alyssa Nur Anisa,” seru Gloria dengan suara nyaring seperti titah
dari Pak Reza.
“Kelompok
2, Zahra Nuralifa, Shilla Marina, Mario Santoso, Aldiansyah, Reni Refalina.”
Gloria
terus membaca hingga selesai dengan kelompok 6 sebagai kelompok terakhir. Dia kembali
ke bangkunya.
“Tugas
kalian ada di buku pegangan halaman 103, jika ada pertanyaan bisa hubungi Bapak
langsung. Tapi, bukan sekarang. Karena, Bapak harus keluar lebih awal, ada
sesuatu mendesak yang tidak bisa bapak tinggalkan,” ucap Pak Reza, guru muda
ini langsung mengemasi buku-bukunya ke dalam tas.
Para
siswa bersorak riang, mereka sangat senang jika ada jam kosong. Wajah lusuh itu
berubah ceria seketika mendengar penuturan Pak Reza. Para siswa ini mulai
membereskan meja, memasukkan buku.
“Walaupun
Bapak keluar lebih awal, bukan berarti kalian boleh keluyuran, guru piket akan
beroperasi di sekitar kelas ini untuk mengawasi kalian, jadi jangan keluar
kelas, OK?!”
“OK,
Pak!” seru para siswa.
Pak
Reza benar-benar meninggalkan kelas sebelum waktunya. Para siswa ini merasa
bebas dan mulai mengubah posisi duduk mereka, ada yang duduk lesehan di depan
papan tulis, ada yang duduk di meja, serta ada yang membentuk kelompok-kelompok
untuk membahas hal-hal yang menurut mereka menyenangkan—tentunya tidak membahas
pelajaran.
“Yeay!
Alyssa kita satu kelompok!” seru Via bersemangat, dia memandang Alyssa
antusias. Matanya berbinar-binar.
“Menurutmu,
kita kerja kelompok di mana? Di rumahmu gimana?” ucap Via setelah membuka
halaman 103 dan membaca perintah yang tertulis di buku itu.
“Di
rumahku?” Alyssa terlihat kaget. Dia memandang Via heran, baru kenal udah
ngajak ke rumah.
“Iya,
biar kita makin kenal, Lyss. Kita kan perlu pendekatan, Lyss.”
“Aku
tanya Ummi aku dulu, ya.”
“Deb,
Gas sini deh!” Via meneriaki Debo dan Bagas yang duduk berjarak 2 meja dari
meja mereka.
“Apaan?”
respon Bagas yang menghentikan aktivitas saling beradu panco dengan Rio dan Galih.
“Udah
buruan sini, ribet banget tinggal maju doang!” Via merajuk.
Dengan
patuh Debo dan Bagas datang ke meja Via dan Alyssa. Bagas langsung duduk di
meja mereka, sedangkan Debo berdiri di samping Via. Alyssa menggeser duduknya
sampai benar-benar terpojok di tembok. Dia mulai kesal dengan sikap Bagas yang
duduk di mejanya. Bagi Alyssa itu sangatlah tidak sopan.
“Turun
atau aku tarik?” ancam Debo sambil menarik lengan Bagas, Bagas menahan diri
supaya tidak tertarik tangan Debo.
Jadilah
tarik-menarik antara Debo dan Bagas. Meja Via sampai bergeser mengikuti
kekuatan kedua pihak, Alyssa semakin panik, sedangkan Via bersikap biasa saja
dan menunggu siapa di antara Debo dan Bagas yang akan memenangkan pertandingan
dan akan dia hadiahi tampolan kecil karena membuat kerusuhan di bangkunya.
“Kenapa
sih, Deb?” Bagas terlihat lesu namun tetap mempertahankan posisinya.
“Nggak
sopan, turun, nggak?!” Debo bersikeras menarik Bagas.
Keduanya
masih sengit hingga akhirnya Bagas dapat ditarik oleh Debo hingga posisiya tak
lagi duduk di meja Via dan Alyssa. Namun naas untuk Via, bahunya menjadi tempat
Bagas terhempas, seperti sedang berpelukan Via dan Bagas disoraki teman-teman
yang melihat kejadian ini.
“Parah!
Bagas kesempatan banget meluk Via.”
“Udah
jadian, nih? PJ kali!”
“Switt, switt, enak nggak, Gas?”
Bermacam
komentar terlontar untuk Bagas dan Via yang kini menjadi sorotan, mulai dari
tudingan miring, komentar usil bahkan dukungan untuk hubungan mereka semua
terlontar dan didengar jelas oleh Bagas dan Via. Keduanya jadi kikuk. Debo
nyengir tak jelas dan perlahan menjauhkan diri dari Bagas. Bagas mencoba
menenangkan teman-temannya yang sibuk berkicau tentang kejadian tadi.
Alyssa
menjatuhkan bolpen yang dia genggam erat. Matanya membulat mendapati posisi
Bagas seakan merengkuh Via.
“Eh, jangan bikin gossip ya, tadi tuh nggak
sengaja, sumpah! Tuh si Debo tuh biang keroknya,” kata Bagas mencoba meredam
gossip.
“PJ,
PJ!” seru Debo yang jauh di pojok kelas.
Bagas
geram dengan tingkah usil Debo. Dia mengejar Debo terjadilah aksi saling kejar
antara Debo dan Bagas. Kelas semakin riuh. Mereka berdua mengelilingi kelas,
Debo menghindari Bagas dengan berlarian di antara meja dan bangku yang tertata
rapi, sesekali membentur teman perempuan dan membuat mereka menjerit kesal dan
mengumpat Debo dan Bagas.
“Temen-temen
sekali lagi aku bilang, aku sama Via nggak ada apa-apa! Serius, jangan bikin
gossip makin lebar, ya! Kita temen, seratus persen temenan doang!” seru Bagas
berdiri di depan papa tulis. Ia jadi mirip dengan jubir kerajaan.
Bagas
kembali ke meja Via, kali ini dia berdiri di depan meja itu.
“Kamu
serius amat sih, Gas?” ucap Via. Matanya menyipit menatap Bagas penuh selidik.
“Kenapa?”
Bagas balik bertanya.
“Kamu
pikir mereka percaya kalo aku sama kamu pacaran? Ngotot banget ngebantah
candaan mereka.” Via mencibir, harusnya dia yang panik karena merasa dirugikan,
kenapa jadi Bagas yang repot. Untuk Via, ocehan teman kelas tidak ada
pengaruhnya. Dia santai saja menanggapi apapun kata orang.
Candaan?
Bagas tesadar. Ia berpikir sejenak, benar juga ya, tadikan cuman bercandaan,
kenapa aku serius? Ahh bisa curiga nih bocah-bocah rese. Bagas membatin.
“Jangan-jangan
ada yang kamu suka, ya di kelas ini?! ngaku!” sengit Via. Bagas tersentak.
“Hipotesis
gagal! Gak ada!”
“Terus
ngapain ngotot ngebantah?”
“Emangnya
kamu suka kalo kita jadi bahan gossip? Jangan-jangan kamu naksir aku, Vi?” gantian
Bagas memelototi Via penuh selidik.
“Aku?
Suka sama kamu? Udah tabrakan kali bumi sama merkurius?” Via begidik ngeri.
Bagas
memasang wajah masam. Debo hanya tertawa melihat kedua temannya berdebat
hal-hal kecil yang tak seharusnya menjadi perdebatan.
“Udah-udah
kayak anak TK aja,” lerai Debo. Dia merangkul pundak Bagas, “Ada apaan, Vi?” lanjut
Debo.
“Jadi
gini, kita kan satu kelompok nih, gimana kalo ngerjain tugasnya di rumah
Alyssa?” kata Via.
Debo,
Bagas dan Alyssa memandang Via bersamaan. Takjub. Rumah siswa baru yang bikin geger
kelas karena penampilannya—Via ngajakin main ke rumah Alyssa!
“Serius?”
ucap Debo dan Bagas nyaris bersamaan.
“Iya,
tinggal nunggu izin dari Umminya Alyssa, iya kan, Lys?”
Alyssa
memandang Via, Debo dan Bagas bergantian. Benarkah dia akan membawa teman
barunya ini ke rumah? Dalam sejarah pendidikan Alyssa, dia tidak pernah
mengajak teman mampir ke rumahnya. Sejak SD sampai SMA kelas sebelas, Alyssa
hidup di lingkungan Pesantren. Keluar pesantren hanya untuk mengunjungi rumah
Ummi dan neneknya itu pun sekali dalam setahun, hanya ketika hari raya idul
fitri, selebihnya dia lewatkan waktunya di ruang asrama, masjid, perpustakaan
dan terkadang di taman Pesantren.
Alyssa
mengangguk.
“Waw!
Aku nggak nyangka bakal main ke rumah siswa baru!” kata Bagas dengan wajah
sumbringah.
“OK.
Kita tunggu konfirmasi jadi nggaknya dari Alyssa. Kalo misalnya nggak jadi kita
bisa ngerjain di rumahku, atau di sekolah setelah jam pulang.” Debo mengusulkan
pendapat.
Via
dan Alyssa mengangguk.
“Vi,
sorry ya tadi.” Debo berujar sambil menepuk bahu Via.
“Santai,”
jawab Via.
“Alyssa,
sorry ya,” ucap Debo lagi. Namun kali ini untuk orang yang sedari tadi
diam dan sama sekali tidak ikut serta dalam kerusuhan yang dibuat oleh Debo dan
Bagas.
Via
menatap Debo heran, dalam pikirannya ngapain juga Debo minta maaf pada Alyssa.
Yang kena imbas hanya Via, Via berpikir tidak ada hubungannya sama sekali
dengan Alyssa.
Alyssa
memandang Debo tenang. Dia tidak tau bagaimana cara merespon ucapan dari teman
lelakinya. Haruskah dia tersenyum, haruskan dia mengatakan sesuatu untuk
mengakrabkan diri? dia bahkan tidak tau caranya mencairkan suasana.
©©©
Mas
Bisma melebarkan langkahnya wajah panic mulai menguasai dan membuat suasana
hati yang baik menjadi buruk. Dia menggenggam erat handphone genggamnya. Dalam
hitungan detik dia sudah berada di depan ruang kerja sang Ummi. Dia ketuk pintu
itu sembari berkata, “Bisma, Mi.”
“Masuk,
nak,” ucap suara dari dalam ruangan.
Bisma
mendorong pintu itu sampai terbuka, dia masuk dengan wajah panic. Didapatinya
sang Ummi tengah duduk berhadapan dengan laptop, kedua tangannya lincah menekan
keyboard.
“Ummi,
Abi mengirim pesan. Abi memperingati kita lagi, Mi,” kata Bisma dia menyodorkan
ponsel pada Umminya.
Dengan
tenang sang Ummi membaca pesan singkat dari suaminya. Wajahnya tetap tenang
walaupun hati dan pikirannya kacau. Dia hanya tidak ingin Bisma melihatnya
terpuruk. Dia tidak ingin Bisma sedih.
“Nggak
masalah, nak. Kamu tetap jaga Alyssa, jangan sampai terlambat menjemput dia,”
ucap Ummi.
“Ummi
baik-baik saja?” tanya Bisma. Dia merasa Umminya menutup-nutupi sesuatu,
seperti ada kata yang tertahan dan sulit untuk diluapkan, Bisma bisa merasakan
itu.
“Tak
apa, nak. Ummi harus kembali membuat silabi.”
“Iya,
Mi.” Bisma langsung ke luar kamar, dia menghibur hatinya yang tak tenang dengan
beristigfar dan memuji Tuhannya. Selalu saja berhasil mengatasi gundah, gelisah
yang mengganggu.
“Sekarang
bukan waktu yang tepat! Aku ingin bersama anak-anakku.” Sang Ummi berujar.
Ditutupnya laptop tempat dia menggarap tugas-tugas dan kini dia mengendalikan
dirinya yang perlahan-lahan wajah tuanya dibanjiri airmata. Dia memegang
dadanya. Sesuatu serius terjadi di sana membuatnya sedih, terancam dan takut
kehilangan.
Jangan lupa tinggalkan jejak ya dear....

Komentar
Posting Komentar